
Sesampainya di tempat latihan, di mana tempat itu berada di hutan tepatnya di sisi utara kota Hakka. Lin Yuan mulai mempersiapkan latihan apa aja yang di lakukan oleh Li Bai nanti.
Kali ini latihannya tidak seperti dulu lagi yang menyuruh Li Bai untuk melakukan sesuatu yang sangat berat. Latihan kali ini hanya berfokus pada keseimbangan dan ketenangan. Lin Yuan melihat Li Bai sering melakukan kesalahan saat bertarung dengan pendekar bertopeng kemarin. Kesalahan yang di lakukan Li Bai yaitu kurang tenang dalam hal bertarung. Yang namanya pertarungan kunci utama untuk menang adalah selalu bersikap tenang di setiap hal.
Lin Yuan mulai mengambil kendi yang berisikan air. Lalu Lin Yuan menyuruh Li Bai untuk menaruhnya di kepala dia.
"Ambil kendi itu terus taruh di kepalamu." ucap Lin Yuan memerintah.
Li Bai belum tahu metode apa yang di lakukan kakeknya kali ini. Dengan terpaksa ia menuruti perintah kakeknya. Di ambilnya kendi itu di depannya kemudian ia taruh di atas kepala.
"Kok aku di suruh begini kek? Terus jurus baru yang kakek ajarkan mana?" ucap Li Bai dengan wajah bingung.
"Ya itu jurus yang akan kakek ajarkan. Jurus dalam hal ketenangan." kata Lin Yuan santai yang membuat Li Bai tersedak nafas.
"Terus tadi kenapa kakek bilangnya mau mengajarkan jurus, kalau sebenarnya metode kali ini bukan masalah jurus." Li Bai sedikit kesal sama kakeknya tapi dirinya tidak ingin membantah. Li Bai tahu semua yang di ajarkan oleh kakeknya bukan semata-mata ingin mengerjai dirinya tapi pasti ada maksud tertentu.
"Ish, kau ini. Apa kau tidak menyadari setiap kali kau bertarung kau selalu saja tidak bisa bersikap tenang. Bahkan waktu pertandingan yang terakhir kau hampir saja kalah."
"Ingat cucuku, yang namanya sebuah pertarungan kunci utama untuk bisa menang adalah selalu bertindak dengan tenang dalam situasi apapun." ucap Lin Yuan panjang lebar yang membuat Li Bai merenungi perkataan kakeknya barusan.
"Ya kek, aku menyadari itu. Aku sering melakukan kesalahan saat diriku sedang bertarung."
"Bagus!! kalau kau sudah mengerti."
__ADS_1
"Sekarang bangun dan kita mulai latihan. Latihan kali ini sangat gampang, kau hanya perlu menghindar dari serangan ku tapi kendi yang di atas kepalamu jangan sampai jatuh."
"Tenang... aku tidak bakal serius melawanmu..."
"Kakek, yang benar saja. Mana bisa kendi yang di atas kepalaku tidak jatuh jika kakek akan menyerangku." protes Li Bai karena merasa latihan kali ini benar-benar sangat aneh.
"Mangkanya kau harus fokus cucuku, fokus pada serangan musuh yang akan datang dan fokus pada keseimbangan."
"Sudah jangan protes lagi, sekarang kita mulai latihan."
Tanpa bisa berkomentar lagi Li Bai akhirnya memulai latihan yang menurut dirinya latihan kali ini benar-benar aneh.
"Ingat kau harus fokus..."
"Aku akan mulai menyerang, kau hanya perlu menghindar dari seranganku." ucap Lin Yuan yang di jawab anggukan sama Li Bai.
Pyar ~suara pecah~
Baru tiga serangan Lin Yuan menyerang Li Bai, kendi yang di atas Li Bai sudah jatuh dan pecah.
"Baru juga tiga serangan kendi sudah jatuh, ingat kau harus fokus..." Lin Yuan mengibaskan tangannya lalu muncul kendi baru yang sudah berisikan air. Sebelum dirinya memulai latihan Lin Yuan sudah mempersiapkan lebih dari 100 kendi yang dia simpan di Cincin Samudera.
"Ya kek, maaf!!" Hanya kata-kata maaf yang terucap dari mulut Li Bai. Benar-benar sulit pikirnya menjaga kendi agar tidak jatuh sambil dirinya menghindari serangan.
__ADS_1
"Ambil kendi itu lagi, kita lanjutkan latihan."
Mereka kembali memulai latihan, dan kali ini Li Bai bisa bertahan lebih dari 7 serangan."
"Ingat fokus... fokus...." Lin Yuan kembali menasehati Li Bai. Tapi lagi-lagi Li Bai masih kesulitan menjaga kendi sambil dirinya menghindar dari serangan Lin Yuan.
* *
Menit demi menit. Jam demi jam. Kini sudah hampir tiga jam Li Bai berlatih bersama Lin Yuan, namun sampai detik ini Li Bai masih kesulitan menjaga kendi sambil dirinya menghindar. Sudah tidak terhitung berapa kali dirinya memecahkan kendi sampai-sampai Lin Yuan di buat kesal sendiri oleh Li Bai.
"Sudah di bilangin dari tadi, kamu itu harus fokus sama serangan musuh dan keseimbangan."
"Kamu ini sebenarnya merhatiin apa tidak si!!" Lin Yuan geleng-geleng kepala melihat Li Bai yang sulit di latih.
"Ish, susah kakek... Aku sudah mencobanya tapi tetap saja aku tidak bisa fokus... malah fokusku terpecah akan dua hal." ucap Li Bai ngos-ngosan. Ia merasa latihan kali ini benar-benar percuma.
"Kamu harus ingat, kunci untuk bisa menjaga keseimbangan adalah kamu harus bisa tenang. Yang aku lihat kamu bukan tenang tapi ketakutan." ucap Lin Yuan ngasih saran.
Li Bai mulai merenungi perkataan Lin Yuan barusan. Tiga menit Li Bai diam akhirnya dirinya paham dan dia langsung bangkit berdiri.
"Ah.. Aku mulai paham sama omongan kakek, ayo kita lanjutkan latihan lagi." ucap Li Bai langsung semangat. Ia akhirnya tahu untuk bisa selalu bersikap tenang di pertarungan yaitu jangan pernah takut akan namanya kematian.
"Hahaha, mari kita lanjutkan latihan lagi. Semoga kamu bisa berhasil kali ini."
__ADS_1
Mereka akhirnya memulai latihan lagi. Seperti yang di harapkan sama Li Bai sebelumnya, akhirnya dia berhasil menjaga kendi tetap di atas sambil dirinya menghindar dari serangan Lin Yuan. Bahkan Li Bai sendiri bisa menjaga kendi lebih dari 30 menit. Ternyata benar untuk bersikap selalu tenang jangan pernah takut akan namanya kematian.
"Akhirnya kau bisa bersikap tenang." Lin Yuan tersenyum ke arah Li Bai akhirnya dirinya berhasil.