
"Kakek, latihan untuk selanjutnya apa lagi? Apa masih sama seperti yang tadi?" Li Bai bertanya setelah dirinya selesai makan daging ayam hasil buruan Lin Yuan.
"Kita tetap melakukan seperti yang tadi, sampai kamu benar-benar berhasil bersikap tenang."
"Untuk kali ini kakek akan menggunakan senjata dan kamu juga boleh ikut menyerang kakek."
"Tenang... kakek tidak akan serius menyerang tapi kamu boleh serius menyerang kakek. Tunjukan semua kekuatan yang kamu punya tapi ingat kendi tetap tidak boleh jatuh."
.
Li Bai mengangguk mengerti.
"Sekarang kita lanjutkan latihan, sudah cukup untuk istirahat."
"Baik kek." jawab Li Bai secara singkat. Ia berdiri lalu merenggangkan badan.
Kini Li Bai memulai latihan lagi seperti sebelumnya, tapi kini ia boleh menyerang Lin Yuan. Latihan kali ini Li Bai sudah tidak susah seperti sebelumnya, Li Bai sudah bersikap tenang meskipun dalam kondisi bertarung sambil membawa kendi.
Namun semakin lama Lin Yuan melatih Li Bai, Lin Yuan terus mengejek Li Bai sambil dirinya menghindari serangan.
"Cuma segini aja kekuatanmu, bahkan aku bisa menghindar sambil tutup mata."
"Ayolah.. mana kekuatan yang kamu banggakan tadi. kerahkan semua kekuatanmu anak muda... masa kalah sama orangtua seperti aku."
"Sungguh memalukan!!" kata Lin Yuan mengejek, ia hanya ingin membuat Li Bai marah dan menyerang dirinya secara membabi buta.
Li Bai panas di telinga karena sering di ejek sama kakeknya. Dan benar saja sama perkiraan Lin Yuan, serangan Li Bai makin lama makin tidak terarah.
Li Bai telah mempercepat gerakannya dalam menyerang, tapi ia sendiri tidak sadar jika Lin Yuan hanya ingin memancing dirinya. Semakin Li Bai menyerang Lin Yuan, ia semakin tidak bersikap tenang dan kendi yang di atas jatuh.
Pyarr ~suara pecah~
Lin Yuan menggelengkan kepala, "Dalam setiap pertarungan jangan pernah sekali-kali terpancing sama ucapan musuh. Kau harus bisa tenang anggap ucapan musuhmu hanya angin yang lewat."
Tanpa di sadari tenyata Li Bai lagi-lagi melakukan kesalahan. "Ya kek, maaf."
"Mari lanjutkan lagi, jangan ada kesalahan lagi setelah ini."
__ADS_1
Satu jam semakin berlalu kini mereka saling bertarung satu sama lain, di sisi itu Lin Yuan tersenyum puas ke arah Li Bai. Tapi ini baru permulaan bagi dia, latihan yang sesungguhnya akan segera di mulai untuk Li Bai.
*Bagus! bagus! kau akhirnya makin bisa bersikap tenang."
"Sudah cukup! Kita akhiri latihan ini, kita lanjutkan besok pagi."
"Baik kek."
* *
Udara demakin dingin Li Bai dan Lin Yuan
mengayunkan kakinya menuju ke penginapan. Hari ini cukup sudah latihan untuk Li Bai.
Lin Yuan merasa cukup puas atas prestasi yang di dapat Li Bai. Walaupun tidak sesempurna pendekar yang ternama tapi Lin Yuan merasa Li Bai setelah tumbuh dewasa pasti akan menjadi pendekar tangguh seperti dirinya.
Langit semburat merah, sebentar lagi malam akan menyelimuti mereka. Suara hewan malam saling menyapa. Li Bai merasa bulu kuduknya tumben berdiri. Tidak biasanya dia
begitu. Karena Li Bai sudah sering menjumpai segala binatang di dalam perjalanannya.
"Li Bai, kakek mau mandi ke pancuran, kamu nyalakan lampu minyaknya," kata kakek langsung menuju ke pancuran air.
"Maaf koko, ini ada 2 roti dan 1 kendi air dari pemilik penginapan tolong diambil," kata seoran gadis kecil menghampiri Li Bai dengan bahasa Tionghoa.
"Terimakasih xiao me, sampaikan salamku kepada Pe Bu," sahut Li Bai mengambil Nampan dari tangan Xiao Me.
Li Bai masuk ke Kamar menaruh nampan dan menyalakan lampu minyak. Hatinya sangat puas mendapat tambahan ilmu dar Lin yuan.
Pikirannya melayang ke pertandingan Final yang akan di adakan minggu depan. Bayangan peserta bertopeng yang sangat kuat dan berilmu tinggi menari-nari di kepalanya. Dulu Li Bai masih merasa khawatir tapi sekarang tidak lagi.
"Mandilah Li Bai, hari sudah bertambah gelap. aku akan meminta 2 mangkok soup panas dan air panas untuk memanaskan badan Kita," kata Lin Yuan nongol di Kamar Li Bai.
"Ya Kakek, Aku akan mandi dulu," sahut Li Bai mengambil jubah nya.
"Cari aku di gazebo penginapan setelah kamu habis mandi," kata Kakek lagi.
"Ya Kek, Aku nanti menyusul," sahut Li Bai pergi ke kamar mandi. Malam ini dia sekalian mencuci jubahnya karena akan di pake seminggu lagi.
__ADS_1
Lin Yuan berjalan menuju gazebo. Sudah
banyak penghuni penginapan berada disitu.
Para pendekar utama dan para pendekar kedua saling bersenda gurau. Lin Yuan duduk di pojok sambil memperhatikan pendekar yang akan bertanding minggu depan.
"Kakak Lin Yuan dimana cucumu," sapa pendekar yang baru datang.
"Oohh adik Beng, kiranya ada juga disini. Li Bai masih di kamar mandi."
Sekilas Beng San ini pengunjung yang sudah duluan menginap di penginapan ini. Dan dia juga kebetulan seorang pendekar.
"Apakah Li Bai akan mengikuti Final nanti?, atau sudah menyerah kalah," kata Beng san tertawa.
"Aku akan ikut Paman, dan menjadi yang terbaik dalam pertandingan ini," sahut Li Bai datang ke gazebo ia lalu memberi hormat ke paman Beng San.
"Kamu memang anak yang berbakat, semoga kamu menang Li Bai," sahut Beng San tersenyum.
Merekapun mulai makan dan minum sepuasnya. Li Bai menolak ketika Beng San menawarkan 1 botol arak.
"Terimakasih Paman aku belum bisa minum arak," sahut Li Bai sopan. Pada saat Lin Yuan asyik berbincang-bincang datanglah 5 orang pendekar.
Mereka adalah kelompok bandit serigala hitam yang terdiri dari SIaw Chin, Bu tok Pai, Lin chi Su, Kho Tek Wan dan Kat Khi Mie. Mereka rata-rata memakai jarum beracun saat sedang berkelahi.
"Hei kalian yang ada di sini! beri kami arak dan sekantong emas, atau kalian ingin merasakan jarum racunku," kata Bu tok pai dengan suara yang lantang.
Para pendekar yang berada di gazebo semua
bergumam. kelompok bandit ini memang suka semena-mena dan sering mencari keributan di kota ini.
"Serigala hitam jangan membuat keributan disini, kami sangat menghormati saudara, tapi yang kalian minta tidak ada disini," sahut Li Bai tiba-tiba berdiri.
"Aih anak kecil ternyata kamu punya nyali juga, sehingga berani menantang Kami," sahut Shiaw Chin berdiri.
"Li Bai duduklah," kata paman Beng san heran melihat keberanian Li Bai.
"Tidak Paman, manusia ini terlalu sombong tidak semua orang takut padanya. Ingat diatas langit masih ada langit. Langit tanpa tanah tidaklah berarti," sahut Li Bai dengan perasaan marah.
__ADS_1
"******** tengik marilah bermain-main sejurus 2 jurus denganku," teriak Shiaw Chin melompat keluar gazebo menuju tanah lapang.
"Siapa takut!!"