
"Iya tentu, aku sudah lama tinggal di Kekaisaran ini, tidak ku sangka desa Zeko akan mengikuti pertandingan juga. Seperti nya cucuku akan sedikit sulit untuk memenangkan pertandingan entar, hahaha." ucap Lin Yuan terkekeh.
Terlihat Li Bai cuma meringis melihat kakeknya tertawa, sambil matanya mencuri-curi pandangan ke arah Hiroshi yang berada di samping Denjiro.
Plakk..
Lagi-lagi Lin Yuan memukul kepala Li Bai, "Matanya lihat ke arah mana? Sudah di bilang jaga sikap, kalau mau ngobrol ya ngobrol saja."
"Uhuk.. Uhuk..." Denjiro sampai batuk pelan, ia sudah tahu Li Bai dari tadi sering mencuri pandangan ke arah anaknya, tetapi tidak enak untuk mengatakannya.
Di sisi lain terlihat rona pipi Hiroshi sedikit memerah saat melihat kepala Li Bai di pukul sama Lin Yuan, kemudian mulutnya sedikit membentuk lengkungan seperti sedang tersenyum ke arahnya.
Li Bai mengelus kepalanya, ia merasa sangat malu, lalu dengan segera ia berdiri dari duduknya, "Maaf kek, aku tidur dulu kek, mataku sudah ngantuk." ucap Li Bai yang ingin segera kabur dari situasinya, ia merasa benar-benar malu.
"Kau mau ke mana? Kau tumben sudah ingin tidur, biasanya tidak seperti ini?" tanya Lin Yuan seakan mengejek Li Bai.
"Hehehe, Benaran kek, mataku sudah ngantuk," jawab Li Bai sambil tersenyum canggung ke arah Lin Yuan, ia merasa kakeknya sedang mengejeknya di depan Hiroshi.
"Oh ya sudah sana tidur..."
* *
Saat berada di tengah malam Li Bai terbangun dari tidurnya karena merasa ia ingin buang air kencing, ia dengan segera mencari tempat yang agak jauh untuk membuangnya. Saat akan balik ke tempat asalnya untuk tidur kembali, ia mendengar seseorang seperti sedang berlatih.
"Hoamm.. Seperti ada orang yang sedang latihan, apa cuma khayalan ku saja?" gumam Li Bai sambil menguap karena dirinya masih mengantuk.
Dengan segera Li Bai langsung mencari asal suara itu untuk memastikan benar atau tidak. Saat sedikit agak ke dalam hutan suara itu semakin terdengar di telinganya.
"Ternyata benar suara itu berasal dari seseorang yang sedang berlatih, tapi siapa yang berlatih di tengah malam hari? Apa kakek? ah kurasa tidak mungkin." gumamnya lagi.
__ADS_1
Li Bai langsung melompat ke atas pohon yang sangat tinggi untuk memastikannya, dengan kualitas otot besi dan tulang emasnya kini lompatan Li Bai lebih dari 5 meter bahkan hampir menyentuh ke 10 meter.
Li Bai langsung memfokuskan pandangannya ke sekeliling untuk mencari siapa yang sebenarnya berlatih di malam hari. Seketika itu jantung Li Bai seperti ingin copot saat matanya melihat Hiroshi sedang berlatih dengan sebuah pedangnya.
"Apa yang dia lakukan dengan berlatih di malam hari seperti ini?"
"Apa dia benar-benar ingin menang di pertandingan entar, sampai-sampai ia juga berlatih di malam hari juga."
Seribu pertanyaan langsung terlintas di pikiran Li Bai, ia pun memandang Hiroshi dengan tatapan yang benar-benar tajam.
Tapi setiap detik dan berganti menit kini Li Bai berganti merasa takjub akan kebolehan Hiroshi memainkan sebilah pedang. Gerakannya dalam memainkan sebuah pedang benar-benar sangat anggun, tapi di setiap serangannya tidak sedikitpun lemah malahan sangat kuat.
Tiba-tiba Krakk..
Ranting yang di pegang Li Bai patah menimbulkan suara yang membuat Hiroshi menjadi waspada.
"Siapa di sana? keluarlah kau!" ucap Hiroshi dengan tatapan ke sekelilingnya.
"Tenang nona Hiroshi, Ini aku Li Bai, maaf tadi tidak sengaja aku melihatmu sedang berlatih di sini."
Hiroshi langsung menurunkan senjatanya yang sejenak di acungkan ke Li Bai, ia lalu menyipitkan matanya, "Apa kau yakin tidak sengaja melihat ku sedang berlatih? atau kau jangan-jangan ingin memata-mataiku agar kau dengan mudah bisa menang melawanku di pertandingan entar?" tanya Hiroshi yang langsung nyerocos ke arahnya.
Li Bai sampai tersedak nafas sendiri, bisa-bisanya ia berfikiran seperti itu, "Tidak, tidak, nona Hiroshi aku bukan maksud seperti itu, aku beneran tidak sengaja melihatmu sedang berlatih."
"Terserah kau saja, tapi yang kau ingat.. aku tidak akan sedikitpun menyerah di pertandingan entar, dan akulah yang akan memenangkan pertandingan itu."
Li Bai cuma bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia lalu tersenyum pahit ke arah Hiroshi, "Apa benar, ini anak benar-benar ingin memenangkan pertandingan itu?" batin Li Bai.
Tapi sesaat kemudian kewaspadaan Li Bai langsung meningkat 100℅, ia seperti melihat bahaya yang sedang mendekat ke arahnya. Ia pun dengan kecepatan gerak langsung berada di depan Hiroshi.
__ADS_1
"Apa yang kau..." Belum selesai Hiroshi bertanya, Li Bai sudah memotongnya.
"Tutup mulut mu! kita sedang di awasi oleh sesuatu!" bentak Li Bai meninggi ke arah Hiroshi.
Dan benar saja dari arah balik pohon muncul 3 siluman serigala yang mendekat ke arah mereka.
"Sial..." Li Bai mendengus kesal melihatnya.
Para siluman serigala itu mendekat sambil menyeringai dengan wajah mereka yang menakutkan, mereka menunjukkan gigi mereka yang tajam sambil air liur mereka menetes dari sela giginya, mereka seperti sedang menemukan makanan yang sangat enak.
"Nona Hiroshi boleh aku meminjam pedangmu itu," pinta Li Bai sejenak ke arah Hiroshi.
"Apa kau ingin melawan mereka," tanyanya.
"Iya benar..."
"Jika begitu aku akan membantumu juga," ucap Hiroshi yang mencoba membantunya.
"Jangan bodoh, kita tidak mungkin bisa menang melawan mereka. Aku akan membuka ruang, kau lekaslah pergi dari sini dan menemui kakekku atau ayahmu untuk meminta bantuan ke mereka," jawab Li Bai yang langsung menolak usulannya.
"Tidak..."
"Tidak ada kata tidak, setiap detik nyawa kita berarti, cepat! mana pedangmu!" Li Bai semakin berteriak meninggi ke arah Hiroshi.
Sejenak Hiroshi menggigit bibir bawahnya sendiri, ia pun dengan segera memberikan pedangnya ke arah Li Bai.
"Jika aku bilang kabur, kau lekaslah kabur dan jangan lihat ke belakang, kau mengerti!" nyerocos Li Bai langsung ke arahnya.
Di sisi samping terlihat Hiroshi hanya menganggukkan kepala, seperti mengerti akan perkataan Li Bai yang barusan.
__ADS_1
Para siluman serigala itu mengaum masing-masing seperti mengerti akan perkataan Li Bai dan Hiroshi yang barusan. Dengan segera mereka langsung mengitari tubuh Li Bai dan Hiroshi dari semua sisi seperti tidak ingin membuat salah satunya kabur.
"Auuummm...."