
Iblis Racun langsung melesat menyerang Dewa Mabuk, sesaat di ambilnya tongkat dari dalam Cincin Samudera. Walaupun hanya sekedar tongkat biasa, tapi jangan terkecoh karena di ujung tongkat tersebut bersemayam Racun Iblis Neraka.
Sekedar informasi Jika salah satu Pendekar ada yang terkena sama Racun tersebut walaupun tingkat prakteknya sudah di tingkat Langit, bisa di pastikan akhirat adalah tempat selanjutnya. Tubuh pendekar tersebut akan mengering seperti mumi dan langsung mati.
Iblis Racun dengan sekali hentakan kaki, dia sudah ada di depan Dewa Mabuk. Di pukulnya tongkat tersebut keras-keras ke badan Dewa Mabuk.
Bledar...
Dewa Mabuk masih sempat bergerak menghindar secepat kilat sesaat tongkat tersebut mengenai tubuhnya. Tongkat tersebut mengenai pendekar aliran hitam yang berada di sampingnya dan ia terpental sejauh 10 meter.
Seperti yang di ketahui ia langsung meronta-ronta di tanah seperti sedang kesakitan, dan dalam sekejap tarikan nafas 3 kali pendekar tersebut mati dengan mata melotot serta tubuh mengering bagaikan mumi.
Dewa Mabuk memandang Iblis Racun lalu berkata, "Terimakasih Iblis Racun, kau sudah mau membantuku dengan membunuh salah satu pendekar aliran hitam." Ia tersenyum dan seakan-akan sedang mengejeknya.
Iblis Racun mendengus kesal, sesaat otot-ototnya mengeras seperti besi, ia lalu merapatkan giginya dengan ekspresi marah, "Ku bunuh kau Dewa Mabuk! hari ini juga aku akan mengambil kepalamu dan ku pajang di gerbang depan sekteku."
"Cui," Dewa Mabuk meludah ke depan, "Kalau kau bisa.. dengan senang hati silahkan bawa kepalaku."
"Baiklah, Matilah kau neraka! Tongkat Iblis Membelah Udara." Iblis Racun dengan kecepatan tinggi menyerang Dewa Mabuk, sejenak tongkatnya di arahkan ke belakang dengan lurus lalu di ayunkan kuat-kuat ke depan menuju ke kepala Dewa Mabuk.
Sring...
Serangannya hanya mengenai udara kosong, sejenak suara udara yang terbelah terdengar sangat nyaring. Dewa Mabuk menundukkan kepala dengan kecepatan di luar nalar manusia, "Ilmu totok: Menembus Perut Bumi." Kemudian tangan kanannya ia bentuk dua jari ke depan dan di tusukan kuat-kuat ke tubuh Iblis Racun.
Trankkk....
__ADS_1
Badom...
Sejenak Ledakan udara kecil terjadi setelah itu, suara seperti dua senjata saling beradu terdengar memekikkan semua telinga para pendekar yang sedang bertempur di sana. Semua para pendekar menghentikan pertarungan mereka dan langsung menengokkan kepala mereka masing-masing mencari asal suara tersebut.
Dan tanpa di duga mereka semua tersedak nafas masing-masing sesaat setelah melihat Iblis Racun sedang bertempur dengan Dewa Mabuk. Mereka semua melongo dan baru kali ini melihat 8 pendekar maut saling bertarung satu sama lain.
Setelah Iblis Racun menghalang serangan tadi dengan sebilah tongkatnya ia lalu mundur sejauh 3 meter dan, "Tongkat Iblis Menusuk Raga." Ia melesat lagi dengan kecepatan tinggi, sejenak tongkatnya di arahkan dengan lurus ke depan seperti ingin menusuk.
"Ilmu Totok: Membelah Gunung." Tak mau kalah Dewa Mabuk juga melesat maju, sejenak tangan kanannya membentuk empat jari lurus dan di arahkan setengah lurus ke depan.
Trankkk...
Badoom...
Ke ujung empat jari saling berbenturan lurus dengan tongkat Iblis Racun. Ledakan udara kecil terjadi lagi, suara dua senjata yang saling beradu kembali terdengar semakin meninggi dan semakin memekikkan telinga.
Pendekar Gila serta Tapak Setan melihat mereka bertarung hanya tersenyum tipis sambil ke dua tangan mereka di lipat ke depan.
"Hei, Hei, apakah kita hanya menonton mereka dan tak ingin bertarung juga dengan Iblis Racun." Pendekar Gila berucap sambil matanya melirik ke arah Tapak Setan.
Tapak Setan menaikan alisnya dari dalam topeng, "Apa kau ingin membantu Iblis Racun juga?"
"Tidak, aku hanya tidak mau lama-lama kita berada di sini, jika kita bertarung secara bersamaan kita dengan mudah membunuhnya."
Sejenak mata Tapak Setan berkeliling menyusuri pertarungan yang ada di depan kemudian dia menganggukan kepala, "Kau benar, semakin lama kita di sini akan semakin bahaya jika ada bantuan yang datang untuk membantu mereka." Lalu Tapak Setan menunjuk ke arah Iblis Racun, "Kau bantulah Iblis Racun, aku akan membunuh Kaisar Yin Zi."
__ADS_1
Pendekar Gila hanya menganggukan kepala dan dengan sekali tarikan nafas, ia sudah menghilang di samping Tapak Setan.
* * * *
Kembali Flashback sesudah Dewa Mabuk keluar dari ruang perjamuan.
Setelah Dewa Mabuk keluar dari ruangan tersebut, Gui Tong beserta 25 pendekar dari Partai Pengemis berjalan menuju ke kamar Kaisar Yin Zi. Mereka membantu mengamankan Yang Mulia beserta keluarga mereka agar aman dari penyerangan tersebut.
"Yang Mulia tetap di sini, kalian akan aman.." Sejenak Gui Tong berucap, ia mencoba menenangkan keluarga mereka yang seperti ketakutan. Setelah itu Gui Tong menghela nafas panjang, "Tak di sangka aliran hitam benar-benar membantu pangeran kedua... dan mereka sangat berani menyerang istana Kekaisaran secara terang-terangan..." membatin Gui Tong yang awalnya malas membantu bangsawan kini ia terseret akan masalah mereka.
Brakk..
Sejenak pintu di banting dengan sangat keras dan terlihat 10 pendekar aliran hitam muncul dari arah pintu tersebut.
"Hahaha.. Kini kepala Kaisar Yin Zi akan menjadi milik kami pendekar aliran Hitam." Salah satu pendekar tersebut berucap sambil menunjukkan wajah yang bercodet dan bermuka sangar layaknya preman.
"Cui." Gui Tong meludah ke mereka, "Langkahin dulu mayat kami, jika ingin membunuh sang Kaisar..."
.
.
.
.
__ADS_1
Jika kamu merasa suka membaca novel saya, silakan berikan vote seikhlasnya untuk saya semakin bersemangat meneruskan novel ini sampai tamat.