Legenda 7 Bintang

Legenda 7 Bintang
Ch 65. Pertandingan Beladiri - part 6


__ADS_3

Sebelum memulai pertandingan Nagato dan Kiran sudah melakukan sebuah rencana untuk tidak saling bertarung namun saling membantu. Mereka berpikiran dengan saling berkerjasama kemungkinan untuk bisa lolos di pertandingan kali ini ada. Walaupun salah satu harus ada yang tidak lolos tapi itu lebih baik daripada kedua-duanya tidak lolos.


Tapi kesalahan terbesar mereka adalah mereka belum mengukur pasti sejauh mana kekuatan dari pendekar bertopeng ataupun kekuatan dari masing-masing para peserta yang ada di arena.


"Kiran, jangan jauh-jauh dariku!! usahakan kita tidak langsung bertarung dengan pendekar bertopeng," ucap Nagato di belakang Kiran, pandangan matanya tidak lepas dari keadaan sekitar. Nagato berpikiran kalau langsung bertanding dengan pendekar bertopeng kemungkinan untuk menang adalah nol. Tapi jika bertanding di akhir pertempuran kemungkinan menang ada, karena pendekar bertopeng pasti sudah kehabisan tenaga.


"Kiran!! awas! di atasmu," teriak Nagato yang membuat Kiran kaget. Kiran langsung reflek menghindar dengan cara membanting dirinya ke tanah.


Bamm...


Seperkian detik muncul peserta berpakaian coklat mendarat di tanah. Wajahnya menunjukkan kengerian seperti macam psikopat. Di tangan kirinya menggenggam senjata berupa Sabit.


"Sungguh sangat hebat, kalian bisa merasakan bahaya meskipun aku sudah berhati-hati dalam melakukan serangan," ucap salah satu peserta yang baru saja melakukan serangan, ia lalu mundur sejauh 3 meter dan bersiaga dengan sabit yang di arahkan ke depan.


Dalam namanya beladiri kesigapan adalah kunci utama dalam menenangkan pertempuran. Semua para pendekar pasti sudah tahu.


Ternyata keputusan Kiran untuk langsung menghindar adalah keputusan yang tepat. Sekian detik saja dia tidak menghindar kemungkinan dia sudah langsung kalah.


"Kiran dia menggunakan senjata sabit, biar aku saja yang menghadapinya langsung. Kamu cukup bantu aku dari jauh." Nagato berbicara pelan, Kiran menjawab dengan anggukan.


"Oh, dua lawan satu. Boleh, siapa takut?" Dengan entengnya musuh berbicara seperti itu. Sedikitpun dirinya tidak takut malah bersemangat. Emang cocok di sebut psikopat yang haus pertempuran.


"Ck, kau seperti menghina akan kekuatan kami. Kau pikir kami berdua tidak bisa mengalahkan dirimu." Nagato terpancing.


"Kenyataannya memang begitu, walaupun kalian menyerang aku sekaligus belum tentu kalian bisa menang dari aku," ucapnya dengan tersenyum sinis.


"Keparat!! Ingin sekali ku tendang bokongnya. Kiran jangan ikut campur akan pertempuran ini. Biar aku sendiri yang akan menghadapinya," ucap Nagato, ia langsung melesat maju. Sesaat di ambilnya senjata berubah sabit di balik punggungnya.


Trankk..


Mereka sama-sama beradu dua senjata sabit.


"Lumayan, tapi masih kurang bertenaga,"


"Ini masih belum selesai." Kemudian Nagato melayangkan kaki kanannya ke samping untuk menendang.


Wushhh..


Serangan Nagato hanya mengenai udara kosong. Dengan sigap musuh itu mundur ke belakang.


Melihat dari senjatanya yang berupa sabit tentu lawan bukanlah dari Kekaisaran ini, melainkan dari seberang seperti dirinya. Saat ini Nagato menyarungkan kembali sabitnya lalu dia mengeluarkan Toya, senjata batangan berbentuk besi sepanjang satu meter yang biasa di pakai untuk bertempur.


Nagato memasang kuda-kuda dan mulai memutar-mutar Toyanya.

__ADS_1


"Apakah Toyamu bisa mengalahkan sabitku " ejek lawan dengan wajah sinis.


"Akan ku hancurkan sabitmu dengan toyaku," teriak Nagato melompat tinggi, kemudian mencoba memukul kepala musuh dengan toyanya.


Trankk..


Dengan mudah musuh menghalau serangan Nagato dengan sabitnya. Kemudian ia mundur untuk memberi jarak.


Setelah mundur kini dirinya yang berganti untuk menyerang Nagato.


"Hajar terus jangan dikasi kendor," teriak penonton riuh. Mendapat serangan yang ganas Nagato cepat berkelit dan menangkis sabit dengan Toyanya.


Bleesss...shettt.....wussss


Suara sabit beradu dengan toya menimbulkan suara yang berlawanan.


Nagato langsung mengeluarkan jurusnya, matanya tiba-tiba berubah putih dan kecepatan geraknya semakin bertambah.


Tidak hanya Nagato, lawan juga mengeluarkan jurus baru. Mereka kembali bersiap untuk mengadu kekuatan.


Kini Nagato memutar Toyanya dengan cepat, saking cepatnya kelihatan Nagato seperti menari. Semakin kencang putarannya suaranya semakin melengking.


Ngingggg.........


Penonton yang mendengar sampai menutup telinga.


Wusss...


Nagato jumpalitan, kaki kirinya menendang sabit kearah lawan. Dengan enteng lawan melompat tinggi dan mengambil sabitnya dengan sempurna.


Terdengar penonton bertepuk tangan melihat kehindahan permainan mereka berdua.


"Ayo Nagato hajar," teriak kiran membuat Nagato sempat lengah dan lengan bajunya kena sabetan sabit.


"Kurang ajar rasain ini," teriak Nagato marah, ia menghujani lawan dengan toya sampai lawan sempat kewalahan.


Seketika lawan mengeluarkan tenaga dalamĀ  dan menggiring pikiran Nagato supaya melemah.


Nagato yang tahu kehendak lawan mencoba memutar otak dan cepat-cepat menyerang lawan.


Brughh..


Sabetan Toya mengenai pas punggung lawan, ia langsung mengeluarkan darah kental dari mulutnya.

__ADS_1


Uhukk.. uhukk..


"Jangan senang dulu kawan, aku akan memotong-motong toyamu sampai kau lupa akan nyawamu," teriak lawan marah. Dan benar saja sabit langsung dilempar memutar dan mengenai pinggang Nagato. Penonton berteriak histeriss dan Nagato tersungkur....


Beruntung pinggang Nagato hanya tergores sedikit, ia cepat berguling dan melompat lagi untuk menyerang lawan.


"Besar juga nyalimu kawan," teriak lawan mendapat serangan dari toya Nagato.


Hiaaattt....


Mereka kembali bertempur.


Suara Toya dan sabit kembali terdengar layaknya orang menari. Namun sayang kecepatan Nagato lebih unggul daripada lawan. Setiap serangan dari lawan bisa di patahkan oleh Nagato. Rasa putus asa sempat membuat lawan berkecil hati.


"Hidup Nagato...hidup Nagato,"


"Serang... serang Nagato," terdengar teriakan dari penonton.


Lawan merasa panas kupingnya karena penonton terus memuji permainan Nagato. Akhirnya lawan kembali mengeluarkan jurusnya, Jurus Sabit Neraka. Sesaat sabitnya di aliri oleh tenaga dalam kemudian di ayunkan ke badan Nagato.


Nagato melihat serangan itu, di hadang serangan itu dengan toyanya.


Brughh..


Nagato terlempar ke penonton, tapi cepat dia menguasai diri dan balik menyerang lawan.


Kembali pertempuran memanas. Tenaga Nagato sudah terasa lemah, begitupun lawan serangannya sudah semakin lamban.


Nagato kembali memainkan toyanya dan menyerang lawan. Lawan berkelit dan balas menyerang. Senjata mereka berdua terlempar dan mereka berdua sekarang memakai tangan kosong. Pertarungan tambah seru penonton semakin senang dan mengeluarkan yel-yel.


Brughh..


Pukulan Nagato tepat mengenai dada lawan. Lawan memuntahkan darah, Nagato melihat ada kesempatan langsung di lancarkan serangan penghabisan menggunakan kaki kanannya.


Brughh...


Lawan ambruk.. tendangan Nagato tepat mengenai kepala lawan.


Nagato ngos-ngosan, staminanya habis. Belum sempat Nagato menyuarakan kemenangan tiba-tiba muncul pendekar bertopeng.


"Bagus.. bagus.. aku jadi tidak repot untuk mengalahkanmu."


Pendekar bertopeng tiba-tiba sudah ada di depan Nagato. Di arahkan telapak tangannya ke arah perut Nagato.

__ADS_1


Tapak Dewa.


Boomm...


__ADS_2