Legenda 7 Bintang

Legenda 7 Bintang
Ch24. Kekuatan Dewa Mabuk


__ADS_3

Suara Dewa Mabuk menggetarkan seisi Istana, semua Partai Pengemis dan prajurit yang berjaga di dalam Istana langsung bergerak keluar sesaat Dewa Mabuk berteriak. Semua aliran hitam langsung bersiaga masing-masing sesaat suara tersebut menggelegar di mana-mana. 


Pendekar Gila, Iblis Racun serta Tapak Setan langsung mengenali akan suara sosok tersebut.


"Tetap waspada itu suara Dewa Mabuk!" ucap Pendekar Gila.


Sesaat kemudian dari arah dalam Istana Dewa Mabuk keluar bersama hampir separuh lebih pendekar dari Partai Pengemis. Mereka berjalan dengan Dewa Mabuk yang di depan sambil tangannya ia di taruh di belakang. Di belakang ia juga terdapat prajurit berkisar 500 yang siap membantu partai pengemis. 


"Wah, Wah, Wah, ada juga orang bodoh yang terang-terangan menyerang Istana Kekaisaran." Dewa Mabuk berucap sambil di iringi tenaga dalam agar mereka semua mendengarnya.


Iblis Racun langsung meloncat sekali ke depan dan sesaat itu ia sudah ada di depan para pendekar dari Partai Pengemis. Iblis Racun menunjukkan wajah menyeringai dan Berkata," Tak ku sangka Partai Pengemis yang biasanya terkenal tidak suka sama Bangsawan, kini sekarang membantu Kekaisaran, Apa kalian di berikan sesuatu sampai mau membantu?"


Dewa Mabuk tak mau kalah, ia juga tersenyum dengan nada mengejek, "Hahaha.. Iblis Racun! kau sendiri membantu pangeran kedua untuk mendapatkan kursi Kekaisaran, tapi aku tahu aliran hitam seperti kalian tidak mungkin mau membantu jika tidak menguntungkan kalian, aku tebak pasti kalian mempunyai niatan tersendiri."


"Hahaha seperti yang kau duga Dewa Mabuk, kami aliran hitam punya niatan tersendiri. Sehabis kami membunuh Kaisar Yin Zi kami akan bergerak untuk menyerang semua sekte aliran putih." 


"Tapi kau lupa satu hal Iblis Racun.. aku tak akan membiarkan kalian bertindak seenaknya di Istana ini, terima ini Ilmu Totok: Menembus Tulang." Sesaat jari telunjuknya mengeluarkan cahaya putih dan cahaya tadi melesat cepat seperti peluru serta menuju ke kepala Iblis Racun.

__ADS_1


Iblis Racun tak ingin menghindar dan hanya memiringkan kepala ke kiri, kemudian cahaya tadi mengenai ke pendekar yang ada di belakang. 


Brughh.. 


Pendekar yang di belakang jatuh ke tanah dengan kepala bolong di tengah.


"Kau masih saja main-main dengan jurus itu." Iblis racun hanya menggelengkan kepala kemudian berteriak, "serang!" Iblis Racun kembali meloncat ke belakang dan semua pendekar langsung bergerak menyerang maju. 


Dewa Mabuk hanya menggigit bibirnya, tak di sangka malam pertama di istana menjadi malam pertempuran, "serang.." Dia juga berteriak menyerukan untuk berperang. 


Partai Pengemis serta prajurit jiwanya berkobar-kobar, mereka maju ke depan laksana tank yang tak kenal akan rintangan. Sejenak suara dentingan senjata, teriakan suara terdengar di mana-mana. Kini di depan istana seperti medan pertempuran, tubuh mayat prajurit dan pendekar berjatuhan di tanah, ada yang mengeluarkan otak dari kepala, ada usus yang terburai-burai keluar dari perut. Sejenak bau anyir darah langsung membuat sesak nafas di hidung. sungguh pemandangan yang sangat menjijikkan.


"Ayo kita penggal kepala Dewa Mabuk dengan begitu ketua akan senang terhadap kita," ucap salah satu yang sedang mengelilinginya, mereka adalah pendekar dari sekte Jurang Iblis, sekte terbesar aliran hitam. 


Mereka semua mengangguk tanda mengerti dan salah satu pendekar tingkat Ahli mencoba menyerang duluan, "Ilmu Pedang: Hujan Badai." Sejenak pedang yang digunakan seperti berubah menjadi ratusan pedang. Pedang tersebut seperti ingin mengoyak-ngoyak tubuh Dewa Mabuk menjadi bagian kecil.  


Dewa Mabuk hanya tersenyum setelah itu ia melompat ke atas dengan sangat tinggi, bahkan tingginya hampir menyentuh 5 meter, "Ilmu Totok: Mengunci Lawan." Sesaat kelima jari Dewa Mabuk melesat cahaya putih, cahaya putih tadi seperti mempunyai pikiran sendiri dan menusuk cepat ke arah belakang leher setiap pendekar Jurang Iblis yang ada di bawah. 

__ADS_1


Kelima-limanya ambruk ke tanah, tubuhnya sangat kaku untuk di gerakkan, bahkan untuk sekedar menggerakkan sebatas jarinya saja sepertinya sangat sulit. 


Dewa Mabuk kembali mendarat di tanah, "Siapa yang masih ingin menyerang aku lagi?" Dia tersenyum dengan wajah yang menakutkan, sekarang Dewa Mabuk seperti Dewa Kematian yang sedang ingin mengambil nyawa seseorang. 


Beberapa pendekar terlihat ragu untuk menyerang dia lagi, sesaat setelah ia dengan mudah melumpuhkan kelima temannya hanya dengan satu jurus. Mereka saling melirik satu sama sama lain, dan terlihat jelas salah satu pendekar ada yang sedang mengangguk. 


Kemudian, "Jurus Racun: Nafas Racun Api." Sesaat pendekar tersebut tidak segan-segan mengeluarkan racun di pertarungan ini, ia tidak berfikir sekalipun jika racun tersebut bisa mengenai temannya sendiri. Racun tersebut seperti asap yang ingin mengelilingi Dewa Mabuk agar tidak bisa menghindar. 


"Pusaran Angin." Dewa Mabuk bergerak melingkar secara cepat, sesaat kemudian hembusan angin tercipta setelah itu, hembusan angin tersebut menyapu bersih racun yang ada di udara. 


Wush.. ia melesat ke udara, "Ilmu Totok: Hujan Darah." Ia mengangkat ke dua tangannya ke atas, kesepuluh jarinya melesat cahaya putih dan menembus tubuh para pendekar yang ada di bawah, sejenak darah mereka memuncrat-muncrat ke luar dari tubuhnya. Benar-benar pemandangan yang sangat menjijikan. 


Tak jauh dari tempat itu Iblis Racun, Pendekar Gila, dan Tapak Setan memandang pertarungan mereka. 


"Hei, Apakah tidak sebaiknya kita segera menyerang Dewa Mabuk? kalau di biarkan terus-menerus, kita akan mengalami kerugian yang besar dengan kehilangan para pendekar kita." ucap Iblis Racun dengan mendengus kesal karena banyak korban yang mati dari pihak sektenya.


Pendekar Gila tersenyum dengan wajah puas, "Hahaha... biarkan saja, yang terpenting bukan pendekar dari pihak sekteku."

__ADS_1


"Persetan dengan kau!" Iblis Racun langsung melesat menyerang Dewa Mabuk.


__ADS_2