Legenda 7 Bintang

Legenda 7 Bintang
Ch42. Tiba di Kota Hakka


__ADS_3

Li Bai lalu mencoba berdiri, "Sejauh ini tidak apa-apa, cuma sedikit lu..." Belum selesai Li Bai berbicara, Terlihat Hiroshi langsung berlari ke arahnya kemudian memeluk tubuhnya dengan sangat kuat sambil dirinya menangis hebat.


"Hiskk.. Hiskk.. saudara Li, saudara Li, sukurlah kau selamat.. Aku takut.. Aku takut kau kenapa-kenapa.." menangis kencang Hiroshi, ia semakin kuat memeluk tubuh Li Bai.


Di sisi samping Terlihat Li Bai sampai kesulitan bernafas di buatnya, "Nona Hiroshi, nona Hiroshi, uhukk.. Uhukk.. Kau memelukku terlalu kuat.. Aku kesulitan bernafas..."


Hiroshi menjadi terkejut, ia pun dengan segera melepaskan pelukannya ke arah Li Bai, "Ah, maaf suadara Li.." ucap Hiroshi yang awalnya menangis kini berganti malu di dirinya. 


"Nona Hiroshi, maaf pedangmu yang aku pinjam tadi kini patah menjadi dua.. Aku janji, aku akan mengganti pedangmu yang patah itu..." ucap Li Bai merasa tidak enak dengan Hiroshi.


Hiroshi terlihat menggelengkan kepalanya, "kau sungguh bodoh, kau masih memikirkan pedangku. Aku lebih khawatir tentang keadaan mu yang sekarang ini." ucap Hiroshi setelah itu, ia melihat tubuh Li Bai sudah tidak berbentuk lagi. Banyak lebam di sekujur tubuhnya, baju yang kini compang-camping dan luka sayatan yang masih belum sembuh.


"Ah ini tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan luka seperti ini," jawab Li Bai dengan bangganya di depan Hiroshi, ia seperti ingin membuat Hiroshi terkesima olehnya. 


Namun di sisi lain, "Hahaha.. Kau pintar menyembunyikan sesuatu," ucap Lin Yuan memotong, ia pun dengan santainya menyentuh belakang punggung Li Bai. 


"Ata... Ata... sakit kakek!" teriak keras Li Bai, ia langsung memprotes ke arah Lin Yuan karena telah menyentuh bagian yang sakit.


Lin Yuan lalu melemparkan sesuatu ke arah mulut Li Bai, "Kau telanlah pil itu, pil itu akan semakin cepat menyembuhkan lukamu."


Li Bai menganggukkan kepala, ia lalu menelan pil itu kemudian bersila untuk membuatnya semakin relax. 15 menit telah berlalu terlihat rona wajah Li Bai kembali cerah, luka lebam dan luka sayatan yang berada di tubuhnya kini semakin menghilang. Li Bai sekarang sudah seperti sebelumnya, cuma tinggal bajunya yang kini banyak sobekan. 


Tidak lama setelah itu datang denjiro yang datang telat ke mereka. Sebenarnya saat Hiroshi mencoba meminta tolong, ia hanya mencoba membangunkan Lin Yuan yang sedang tertidur dengan bersila. Hiroshi sendiri pun tidak sempat membangunkan Denjiro karena terlalu khawatir dengan keadaan Li Bai. 


"Senior apa yang terjadi? Dan kenapa Li Bai seperti seorang gembel sekarang?" Dengan santainya Denjiro bertanya seperti itu ke mereka bertiga. 


Di sisi lain Hiroshi mendengus kesal, ia lalu mendekat dan mencubit pinggang Denjiro karena merasa sangat kesal dengannya, "Ayah kalau tidak tahu apa-apa, ya sudah diam saja, jangan banyak bicara."

__ADS_1


Denjiro hanya meringis setelah itu, memang dirinya tidak tahu apa-apa. Kemudian ia mengelus bekas cubitan yang sangat sakit di pinggangnya. 


"Senior, tadi ada siluman hewan yang berniat menyerangku dan Hiroshi," jawab Li Bai memberitahu.


Seketika itu denjiro langsung siap di posisi siaga, ia lalu mencabut pedang yang tersarung rapi di samping pinggangnya, "Di mana, di mana mereka sekarang?" tanyanya dengan mata berkeliling ke sekitar.


Hiroshi mencubit pinggang Denjiro lagi, "Hewan silumannya sudah tidak ada ayah..."


"Oh, sukurlah kalau tidak ada." Denjiro bernafas lega, ia lalu menyarungkan kembali pedang yang sempat di keluarkan nya.


"Sebaiknya kalian beristirahatlah, aku akan menjaga kalian setelah ini." Kini giliran Lin Yuan membuka suara. 


Li Bai menganggukkan kepala, setelah pertarungan itu memang dirinya butuh istirahat. Walaupun lukanya kini sudah sembuh tapi luka mentalnya tidak...


* *


"Oh, kau ingin menang di pertandingan itu hanya untuk ingin masuk ke sekte Pedang Hitam. Emang apa yang kau inginkan di sekte itu?" Hiroshi bertanya di saat mereka beristirahat sehabis berlari jauh.


"Tidak banyak, hanya untuk memastikan saja nona Hiroshi," jawab Li Bai sambil tersenyum ke arahnya, ia tidak mungkin bercerita jika dirinya punya tanda 7 bintang di dalam punggungnya. Lin Yuan sendiri sudah pernah mengingatkan untuk tidak bercerita jika dirinya punya tanda itu, karena akan berbahaya jika sampai orang tahu.


"Sudah berapa kali ku bilang jangan panggil aku nona Hiroshi, panggil Hiroshi saja," ucapnya kini dengan nada kesal ke arah Li Bai. 


"Tapi kau lebih tua dua tahun dari aku..."


"Tidak ada tapi-tapian, atau kau mau merasakan cubitan ku lagi sekarang." Hiroshi Melototkan matanya ke arah Li Bai.


Li Bai menelan ludah seketika itu, waktu di perjalanan dirinya pernah di cubit sekali sama Hiroshi, saat itu ia tidak sengaja mengambil jatah makannya. Rasanya benar-benar sakit, bahkan lebih sakit saat ketika dirinya di pukul sama Lin Yuan.

__ADS_1


"Baik nona, maksudku Hiroshi, hehehe." Li Bai tersenyum canggung.


Hiroshi mendengus kesal, ia lalu menjauh dari Li Bai dan duduk di samping Denjiro.


* *


Setelah memakan waktu sehari penuh lagi, kini mereka sudah melihat pintu gerbang Kota Hakka. Dengan segera mereka berjalan semakin mendekat, dan saat akan masuk terlihat antrianya sangat panjang bahkan lebih dari 30 meter.


"Ci, antriannya sangat panjang sekali." gerutu Li Bai.


"Sepertinya kali ini benar, di pertandingan entar tidak hanya uang hadiahnya, melainkan mendapatkan senjata, pil serta anak itu bisa bebas masuk ke sekte manapun. Mungkin itu yang membuat banyak sekali yang ingin masuk ke Kota ini," ucap Denjiro setelah itu.


Terlihat Lin Yuan hanya menganggukkan kepalanya.


Mereka ber-empat langsung ikut mengantri, setelah hampir kurang dari setengah jam, mereka akhirnya masuk ke Kota tersebut.


"Saudara Denjiro, maaf aku dan cucuku akan berpisah dengan kalian. Semoga kita entar bisa bertemu lagi di pertandingan itu," ucap Lin Yuan setelah mereka masuk.


"Senior Lin terlalu sungkan, aku akan menanti kalian di pertandingan itu," ucap Denjiro dengan wajah berseri-seri.


Di samping itu juga terlihat Li Bai sedang mengucapkan salam perpisahan dengan Hiroshi.


"Hiroshi, maaf kali ini kita berpisah. Semoga kita bisa bertemu di dalam arena entar," ucap Li Bai.


"Hahaha, aku akan selalu menunggu waktu itu, aku juga ingin bertarung denganmu," ucap Hiroshi dengan mengedipkan mata kirinya, seperti sedang memberikan kode ke arah Li bai.


Terlihat Li Bai langsung mematung di buatnya.

__ADS_1


__ADS_2