Legenda 7 Bintang

Legenda 7 Bintang
Ch60. Pertandingan Beladiri


__ADS_3

Sebelumnya saya Mr Crabb ingin mengucapkan terlebih dahulu. minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. 


__________________________________________


"Jierui aku punya tugas untukmu," ucap Lin Yuan, kini keduanya sudah tidak lagi berada di kediaman Bangsawan Xin melainkan sedang berjalan di tengah-tengah kota Hakka.


Jierui menolehkan kepalanya, ia lalu memasang wajah serius dari balik topengnya, "Tugas apa senior?"


"Kau menyelinap lah ke sekte aliran hitam dan laporkan kepadaku apa yang sedang mereka rencanakan selama ini," jawab Lin Yuan.


"Baik, segera aku laksanakan."


"Bagus, jangan sampai ketahuan."


Jierui mengangguk kecil. Kemudian mereka berdua langsung berjalan berpisah.


* *


Langit yang hitam lama-kelamaan berubah menjadi warna biru, tidak lama sinar sang surya mulai tampak dari tempat persembunyian. Kicauan burung-burung mulai terdengar dengan merdunya seolah mereka sedang menunggu kedatangan dari sinar sang surya.


Bagi sebagian besar orang di Kekaisaran Weng, pagi hari adalah waktu yang sangat istimewa. Bukan hanya karena sinar matahari yang cantik dan udara yang segar, namun pagi hari juga merupakan permulaan yang sangat menentukan bagaimana seseorang menjalani harinya hingga petang.


Jika di pagi hari seseorang dilimpahi dengan perasaan bahagia dan energi positif maka bisa dibilang seseorang tersebut akan menjalani hari dengan bahagia hingga petang. Meski banyak orang yang menyukai suasana pagi tidak jarang pula yang tidak menyukainya, seperti di tempat kediaman Bangsawan Xin. Kedua anaknya Xin Zetian beserta Xin Yuwen melihat ayahnya sudah terbaring kaku di lantai dengan seruling yang menancap di dahinya.


"Keparat! Siapa yang membunuh ayahku dengan sangat keji seperti ini!" Dengan nafas yang memburu, Xin Zetian lalu memanggil semua orang yang ada di sana.


"Bawa semua orang kemari!" teriak Xin Zetian ke arah pelayan sampingnya.


Dengan tergesa-gesa pelayanan itu langsung keluar dari ruangan itu. Tidak butuh waktu lama untuk semua orang berkumpul, sekitar 2 menit ruangan itu menjadi penuh dengan orang.

__ADS_1


"Cepat katakan! siapa di antara kalian yang melihat ayahku di bunuh?"


Satupun tidak ada yang bersuara, lalu terlihat seseorang maju ke arah Xin Zetian dan Xin Yuwen.


"Sebelumnya saya minta maaf Tuan Muda, sebelumnya saat malam ada seorang kakek yang datang ke tempat ini. Tapi maaf, kami tidak bisa menghentikan kakek itu karena kakek itu sangat kuat," ucapnya dengan tubuh yang gemetar hebat, karena dirinya pasti yakin Tuannya akan marah besar.


"Bodoh!! Kenapa tidak memberitahukan kepadaku sebelumnya." Dengan meluapkan emosinya Xin Zetian mengambil pedang di samping pinggangnya. Lalu di sabetnya pedang itu ke batang lehernya.


Jreettt.. Darah langsung menyembur seperti air mancur, detik itu pun kepalanya terpisah dari badannya.


"Bagaimanapun caranya, cepat! cari kakek itu dan bawa kemari!"


* *


Pagi menjelang siang di arena Colosseum, kini tempat tersebut telah di penuhi oleh para penonton lagi. sudah jelas mereka para penonton ingin melihat pertandingan beladiri untuk hari yang kedua.


"Apa benar? tapi itu bagus juga si, aku juga tidak suka dengan Bangsawan seperti mereka," jawab temannya.


"Tapi yang menjadi pertanyaan, Siapa orang yang telah berani membunuhnya?" Kini temannya itu yang berganti bertanya.


"Entahlah, tapi yang aku dengar, pelakunya adalah seorang Kakek?"


Temannya menaikkan alis kirinya, "Kakek, Apa kau tidak salah informasi?"


"Benar, informasi ini sangat akurat."


Kemudian temannya menggelengkan kepala, "Ah sudahlah, aku juga tidak terlalu peduli dengan Bangsawan seperti mereka. Daripada membicarakan mereka, mending kita membicarakan para peserta yang sebentar lagi akan bertarung. Kira-kira siapa anak yang akan memenangkan pertandingan beladiri ini?" ucap temannya yang kini berganti topik.


"Sepertinya salah satu ketiga anak kemarin yang menggunakan topeng, tapi anak yang tidak mempunyai tenaga dalam juga sangat kuat," jawabnya.

__ADS_1


"Sepertinya akan sedikit sulit untuk menentukan siapa yang menang, semoga di pertandingan kali ini, lebih menarik dari yang kemaren," ucap temannya.


Setelah menunggu hampir setengah jam kini Colosseum sudah penuh dengan para penonton. Setelahnya Wang Li terlihat masuk ke dalam arena pertarungan.


"Selamat pagi menjelang siang buat para penonton yang telah hadir di tempat ini."


"Sebelumnya perkenalkan namaku Wang Li murid inti dari sekte Harimau Merah. Saya di sini menggantikan senior Yin Song karena dirinya tidak bisa hadir di pertandingan kali ini."


"Untuk pertandingan hari yang kedua, pertandingannya seperti sebelumnya. Tapi hanya ada 10 peserta anak yang bertanding di dalam arena. Mereka harus saling bartarung satu sama lain dan hanya menyisakan 1 peserta yang masih berdiri."


"Langsung saja, di harapkan untuk semua peserta di harapkan masuk ke dalam arena untuk mendapatkan nomer pertandingan," ucap Wang Li lagi.


Setelah dirinya berbicara seperti itu, tidak lama bermunculan para peserta yang keluar dari dalam ruang Colosseum. Mereka dengan segera langsung membentuk baris lurus memanjang dengan Wang Li yang di berada di hadapan mereka.


"Aku ingatkan sekali lagi untuk pertandingan kali ini akan di pilih dengan secara acak." Setelah Wang Li berbicara, terlihat salah satu pria masuk ke dalam arena dengan membawa baskom terbuat dari kaca. Di dalam baskom tersebut terdapat nomer angka dari 1 sampai dengan angka 110.


"Kalian semua ambil nomer di dalam ini, satu peserta hanya boleh mengambil 1 nomer," ucap dirinya.


Semua peserta menganggukkan kepala, kemudian mereka mengantri untuk mengambil nomer. Kini giliran Li Bai yang mengambil nomer, saat melihat nomer itu dirinya melihat angka 7.


"Hm, angka 7. Sepertinya aku langsung bertarung." gumam Li Bai.


Setelah semua peserta sudah mengambil nomer, mereka kembali berbaris rapi lagi di hadapan Wang Li.


"Kecuali peserta yang mendapatkan nomer satu sampai sepuluh, segera tinggalkan arena ini dan kembali ke ruang tunggu," ucap Wang Li memberi perintah.


"Li Bai berjuanglah, jangan sampai kau kalah," ucap Hiroshi, dirinya tidak menyangka Li Bai langsung bertanding di pertandingan pertama.


"Hahaha, tenang.. aku pasti akan lolos di pertandingan ini."

__ADS_1


__ADS_2