Legenda 7 Bintang

Legenda 7 Bintang
Ch56. Identitas Si Pencuri Roti -part 2-


__ADS_3

"Namaku Li Bai, sebaiknya kau telan obat ini, ini akan mempercepat penyembuhan luka lebam yang ada di tubuhmu," ucap Li Bai, ia lalu mengeluarkan pil berwarna hijau dalam kantong bajunya dan di sodorkan pil itu di depan Ichigo.


"Maaf, Tuan Li Bai.. Aku tidak bisa menerimanya, Tuan sudah menolongku saja aku sudah sangat bersukur," jawab Ichigo menggelengkan kepala.


"Sudah telan saja," ucap Li Bai semakin menyodorkan pil itu hingga ke depan wajahnya.


Ichigo diam menatap pil tersebut, dirinya terlihat ragu sama Li Bai. Ia lalu mengambil pil itu dan menelannya.


Sekitar 10 menit luka lebam yang ada di tubuh Ichigo kembali hilang, rona wajahnya kembali cerah, ia lalu tersenyum senang ke arah Li Bai.


"Terimakasih Tuan..." ucap Ichigo.


"Simpan terimakasih ku, apakah kau tahu di mama restoran yang menyediakan makanan yang enak tapi tidak terlalu mahal?" tanya Li Bai.


"Sebenarnya aku tahu Tuan, restoran itu tidak jauh dari tempat ini. Yang aku dengar kualitas makanannya terkenal sangat enak tapi soal harganya sangat bersahabat," jawab Ichigo.


"Baik antarkan aku restoran itu."


"Baik Tuan.."


Setelah itu mereka berdua berjalan dengan Ichigo yang di depan sebagai penunjuk jalan. 5 menit berlalu akhirnya mereka telah sampai di tempat restoran yang di maksud oleh Ichigo.


Li Bai sendiri langsung menangkap tempat yang tidak terlalu besar dengan gaya yang sangat sederhana tapi pengunjung di tempat tersebut sangat ramai. Jika di tempat kita sekarang mungkin namanya rumah makan sederhana.


"Ini Tuan, tempatnya yang aku maksud." ucap Ichigo dengan menunjuk tempat tersebut.


Li Bai sendiri menganggukkan kepala dengan tersenyum, "Mari kita masuk..." ucapnya memberi perintah.


"Maaf Tuan, tapi..."


"Tidak ada tapi-tapian." jawab Li Bai langsung memotong.


"Kalau kau ingin melihat adikmu makan yang enak, mari kita masuk, akan ku berikan makanan buat adikmu," ucap Li Bai lagi.

__ADS_1


Ichigo diam mencerna omongan Li Bai yang barusan, ia pun tidak punya pilihan lain. Ichigo ingin sekali membawa makanan buat adiknya, sudah dari kemarin dirinya dan adiknya belum makan. Ichigo lalu mengangguk kecil.


Setelah dirinya masuk ke dalam restoran itu, banyak tatapan mata yang tertuju kearah Ichigo. Bagaimana tidak, pakaian Ichigo seperti seorang gembel dengan banyak jahitan di mana-mana.


Ichigo yang melihatnya pun menjadi pesimis, "Maaf Tuan, aku tunggu di luar saja," ucapnya dengan menunduk.


"Sudah tidak apa-apa, jangan di hiraukan," jawab Li Bai dengan mendorong tubuh Ichigo.


"Pelayan berikan kami makanan yang enak," ucap Li Bai saat mereka berdua sudah duduk di meja. Ia lalu mengeluarkan 3 keping emas dan di tunjukkan ke pelayan yang di depan.


"Apa 3 keping emas cukup?" tanya Li Bai lagi.


"Ini malah kebanyakan anak muda, makanan di sini seporsi nya hanya 50 keping perunggu," jawab pelayan itu dengan tersenyum.


"Oh, tidak apa-apa, sisanya di bungkus saja," ucap Li Bai.


1 keping perak \= 100 keping perunggu.


1 keping emas \= 100 keping perak.


Tidak butuh waktu lama untuk Li Bai dan Ichigo menunggu makanan tiba, sekitar 3 menit makanan sudah ada di atas meja.


Ichigo baru pertama kali ini melihat langsung bentuk makanan itu dari kedua matanya, biasanya hanya sekedar masuk lewat telinga. Terlihat jelas dirinya menelan ludah sambil mulutnya melebar kecil. Sebenarnya Ichigo mau langsung menyantap makanan itu tapi tidak enak dengan Li Bai.


Di sisi lain Li Bai seperti mengerti akan pikiran Ichigo, ia lalu menyuruhnya makan, "Sudah mari makan, jika kurang kita nambah lagi," ucapnya.


Secara reflek dengan perkataan Li Bai barusan, Ichigo langsung memakan makanan itu. Bahkan makannya secara terburu-buru seperti takut akan kehabisan. Baru ada enam suapan, Ichigo langsung tersedak nasi.


"Uhuk.. Uhuk..."


Li Bai yang melihatnya langsung tertawa terpingkal-pingkal, "Hahaha, makanya kalau makan jangan terburu-buru, ini minum," ucap Li Bai dengan menyodorkan air minum. 


"Tenang.. kalau kurang bisa nambah lagi," ucap Li Bai lagi. 

__ADS_1


IIchigo pun menundukkan kepala, dirinya merasa sangat malu, ia lalu mengambil air minum itu dan meminumnya. 


Setelah mereka selesai makan, terlihat pelayan itu kembali mendatangi mereka berdua dengan membawa bingkisan. 


"Tuan muda, ini makanannya," ucapnya dengan menaruh bingkisan hitam itu di atas meja. 


"Oh, terimakasih senior," jawab Li Bai tersenyum. 


* *


"Ichigo di mana tempat tinggalmu, aku ingin mampir dan melihat adikmu," ucap Li Bai, kini mereka terlihat berjalan di jalanan kota Hebi dan tidak lagi berada di tempat makan.


"Rumahku berada di ujung Kota sini Tuan, mungkin berjalan sekitar 20 menit kita akan sampai," jawab Ichigo dengan senang, karena di tangannya kini membawa bingkisan makanan hasil di kasih sama Li Bai.


"Tapi rumahku kecil Tuan, aku takut Tuan tidak betah di sana," ucap Ichigo lagi.


"Hahaha, tenang saja aku sudah terbiasa," jawab Li Bai tersenyum, dirinya tidak masalah akan itu. bahkan tempat tinggal Lin Yuan saja biasa-biasa saja tidak terlalu besar.


"Kalau Tuan, tidak keberatan.. mari aku tunjukkin."


Sekitar 20 menit kurang mereka berjalan, akhirnya mereka telah sampai di rumah Ichigo


Li Bai sendiri langsung menangkap rumah kecil dengan lebar luas sekitar 5×4 meter. Di dinding rumah tersebut hanya berdinding kayu bekas dengan beratapkan jerami. Jika di sebut rumah mungkin tidak cocok tapi lebih cocoknya di sebut gubuk.


Saat mereka akan masuk, tiba-tiba keluar anak perempuan kecil yang berumur sekitar 5 tahun, ia langsung berlari ke arah Ichigo dan memeluknya dengan sangat erat.


"Kakak..."


"Ah, Yu'er..." ucap Ichigo dengan mengelus kepalanya.


"Kakak siapa anak itu?" tanya Yu'er dengan mendongakkan kepalanya ke atas karena tubuhnya sangat kecil tidak sebanding dengan tubuh Ichigo.


"Dia Tuan Li Bai, cepat beri hormat, dia sudah memberikan makanan kepada kita," ucap Ichigo memberi perintah.

__ADS_1


"Baik, kak Ichigo." Yu'er lalu membungkukkan badan ke arah Li Bai.


"Tuan, maaf, namaku Qi Yu'er...."


__ADS_2