Legenda 7 Bintang

Legenda 7 Bintang
Ch7. Desa Mati


__ADS_3

Setelah kejadian pertarungan antara bangsawan Xin melawan Lin Yuan, Xin Zetian tidak jadi menemui Walikota Zang dan memutuskan untuk pulang ke rumah menemui ayahnya. 


"Ayah.." Xin Zetian membanting pintu sekuat tenaga. 


"Hei, hei, anakku, kenapa kau datang langsung marah-marah? apa kau tidak punya sopan santun sama ayahmu sendiri?" ucap Xin Huang yang langsung berdiri dari kursi ruang kerja. 


"Bukan begitu ayah, aku ke sini untuk mengasih tahu kepada ayah? Saat aku akan masuk ke kota Zang, tiba-tiba aku di serang sama seseorang kakek. Dan kakek tersebut mengatakan tidak takut sama sekali sama keluarga bangsawan seperti kita," jawab Xin Zetian yang mencoba menjelaskan.


"Kurang ajar!" Di gebraknya meja yang di depan, sejenak ke empat kaki meja itu ambruk menyentuh lantai, "Siapa orang yang berani mengatakan seperti itu?" ucapnya Xin Huang dengan ekspresi marah.


Xin Zetian langsung menelan ludah sendiri, baru pertama kali ini melihat ayahnya benar-benar marah. Biasanya ayahnya bersikap tenang, meskipun terkena suatu masalah. 


"Bisa kau ceritakan kejadian yang sebenarnya? Dan seperti apa ciri-ciri kakek tersebut?" ucapnya lagi.


Xin Zetian lalu menceritakan kejadian yang sesungguhnya dari A sampai Z, tapi tidak mengatakan kejadian saat ingin memenggal kepala anak kecil.


Xin Huang hanya mengangguk, "Apa kau sudah mendengarnya." Dari bayangan Xin Huang muncul seorang pendekar berbaju hitam sambil memakai topeng. 


"Saya sudah mendengarkan ceritanya."


Xin Zetian sampai kaget dan bergerak ke belakang, ternyata benar selama ini ayahnya menyewa seorang pendekar buat perlindungan diri. 


"Segera bawa kepala kakek tersebut kehadapan ku, aku akan membayarmu 2 kali lipat dari sebelumnya."

__ADS_1


"Tentu, aku akan membawakan kepala kakek tersebut dengan cepat," ucap sosok tadi dengan perasaan senang. 


* * * *


Setelah meninggalkan kota Zang, Lin Yuan telah bergerak seharian penuh tanpa beristirahat sedikitpun dan hanya berhenti saat Li Bai mulai menangis. 


"Hm, sepertinya aku harus mencari susu lagi buat cucuku." Lin Yuan merasa Lin Bai sudah mulai kelaparan. 


Lin Yuan lalu memandang sekitar, ia melihat sebuah desa kecil yang tak jauh dari tempat dia tadi berdiri. 


"Semoga di desa sana, ada yang bisa memberikan susu buat cucuku."


Lin Yuan lalu berjalan kaki menuju desa tersebut, ia tidak ingin bergerak terlalu cepat agar tidak terjadi kehebohan di sana.


"Maaf anak muda, kakek ini lagi mencari susu buat cucuku ini... Dan hanya melihat desa ini yang berada di sekitar sini," jawab Lin Yuan yang langsung menolak usulan pemuda tersebut untuk pergi dari desanya.


"Kalau kau sayang sama cucumu, sebaiknya kau lekas pergi dari sini sebelum terlambat!" ucapnya lagi yang semakin marah ke arah Lin Yuan, ia takut kakek yang di depannya akan menjadi korban selanjutnya.


"Maaf anak muda, kakek ini tidak akan pergi sebelum menemukan susu buat cucuku ini."


"Sudahlah biarkan saja dia lewat.. setidaknya kita sudah mengingatkan dia," ucap pemuda lainnya yang berada di samping pemuda tadi.


Pemuda tadi mendengus kesal, kemudian dia kembali menoleh ke arah Lin Yuan, "Baiklah kakek tua, kau bisa lewat, tapi jangan menyesal kalau kau beserta cucumu entar kenapa-kenapa."

__ADS_1


"Terimakasih anak muda.." ucapnya Lin Yuan sambil tersenyum, ia merasa desa ini telah terjadi sesuatu.


* * * *


Lin Yuan lalu berjalan menyusuri desa tersebut untuk mencari restoran. Alangkah terkejutnya melihat desa ini yang seperti desa mati, banyak bangunan yang rusak seperti habis terkena cakaran, darah-darah yang masih berceceran di jalan dan belum di bersihkan.


"Hm, Apa yang terjadi sama desa ini? Bahkan desa ini seperti desa mati," ucap Lin Yuan sambil menggelengkan kepala, tidak satupun melihat orang beraktivitas di desa tersebut. 


Lin Yuan lalu masuk ke restoran sederhana, dengan segera ia langsung duduk di kursi, "Pelayan.. Aku pesan makanan beserta susu buat cucuku ini."


Pemilik restoran kaget ada pengunjung yang masuk ke restorannya, dengan terburu-buru ia langsung menghampiri Lin Yuan, "Maaf yang sebesar-besarnya senior, kami tidak punya satupun bahan makanan di restoran kami, setelah Siluman serigala menghantui desa ini. Bahkan kami sendiri belum makan selama 3 hari," ucapnya yang mencoba menjelaskan.


"Siluman Serigala." Lin Yuan menaikkan alis kirinya, "Oh, pantas.. desa ini seperti desa mati? bisa kau ceritakan lebih jelasnya?"


"Sebenarnya Siluman serigala ini sudah menghantui kami selama sebulan lebih, dan mereka sering menyerang bersamaan saat mencari mangsa. Sebagian banyak warga desa ini yang mati saat melawan siluman tersebut," ucap pemilik restoran.


"Kenapa tidak pindah saja dari desa ini, setidaknya akan aman dari siluman tersebut," tanya Lin Yuan.


"Maaf senior desa ini adalah tanah kelahiran kami, kami para warga desa ini lebih memilih mati saat melawan siluman tersebut dari pada harus pergi dari sini," jawab pemilik restoran.


Lin Yuan hanya bisa menggelengkan kepala, ia merasa para warga desa ini lebih sayang tanah kelahiran daripada nyawa sendiri, "Apakah kalian sudah memberitahukan masalah desa kalian ke sekte sekitar sini," tanya Lin Yuan lagi.


Sang pemilik restoran cuma menghela nafas, "3 minggu yang lalu sebagian para warga sudah memberitahukan masalah desa ini ke sekte sekitar sini, tapi sampai saat ini belum ada pendekar yang datang untuk membantu desa ini."

__ADS_1


Lin Yuan lalu mengernyitkan dahinya, ia merasa sekte-sekte sekarang akan menggerakkan pendekar nya jika itu menguntungkan mereka, "Aku akan membantu desa ini tapi sebagai imbalannya berikan susu untuk cucuku ini."


__ADS_2