Legenda 7 Bintang

Legenda 7 Bintang
Ch58. Pembalasan


__ADS_3

Malam ini benar-benar malam sangat damai di sekitar kota Hakka. Bulan bersinar dengan terangnya seperti lampu sorot yang menyinari bumi. Bintang berkelap-kelip dengan indahnya seperti lampu hias yang berada di taman. Suara lolongan anjing sekali-kali terdengar memecahkan kesunyian malam.


Benar-benar malam ini sangat cocok untuk para warga di kota tersebut untuk tidur dengan pulasnya. Tapi itu tidak berlaku di kediaman Bangsawan Xin tepatnya di rumah Xin Huang, karena sebentar lagi akan ada kejadian yang sangat besar.


Sekitar 50 meter dari kediaman Bangsawan tersebut, terlihat Lin Yuan berjalan dengan sangat santainya menuju tempat mereka tinggal. Sudah jelas tujuannya ingin membalas dendam akan perbuatan mereka yang telah di lakukannya dulu sekitar 10 tahun yang lalu.


Bangsawan Xin benar-benar sangat bodoh, mereka telah berani memancing kemarahan Lin Yuan. Bahkan sekte-sekte saja tidak mau berurusan dengan dirinya karena sudah pasti akan repot.


"Bangsawan Xin, tunggu diriku," ucapnya dengan berjalan dengan santainya sambil kedua tangannya di lipat kebelakang.


* *


"Siapa kau kakek tua, kau di larang masuk kemari," tanya salah satu petugas yang sedang berjaga di gerbang kediaman Xin. Mereka melihat seorang kakek berusia sekitar 60 tahun sedang ingin masuk ke dalam rumah tempat kediaman Tuan mereka.


"Jika kalian masih sayang akan nyawa kalian, segera lekas buka gerbang ini," tanya Lin Yuan santai, ia masih melipat kedua tangannya ke belakang seperti seorang bos dengan pangkat yang sangat tinggi.


"Hahaha, Kakek tidak waras, cepat kau menghindar dari tempat ini sebelum aku keluar dan menendang bokongmu!" Gelak tawa terdengar oleh salah satu penjaga tempat tersebut, dirinya benar-benar berfikir kakek itu sedang kehilangan akal akibat usianya.


"Hahaha, menendang bokongku, yang benar saja. Sebelum kakikmu menyentuh bokongku kakimu sudah patah duluan," jawab Lin Yuan lagi dengan santainya, sedikitpun dia tidak takut dengan gertakan nya.


"Ci, kakek sudah bau tanah masih saja bersikap sombong," ucap dirinya marah, dengan sekali lompatan ia langsung berada di depan Lin Yuan dengan jarak kurang dari setengah meter.


Lin Yuan sendiri dengan sangat santainya bergerak dengan kecepatan tinggi dan tahu-tahu dirinya sudah ada di belakang dia.

__ADS_1


Kretek..


"Ataaa... Kakiku...." Tiba-tiba petugas itu langsung berguling-guling di tanah sambil kedua tangannya memegang kaki kanannya.


"Apa? Apa yang terjadi?" Mereka yang melihat kejadian ini langsung tersedak nafas masing-masing.


"Jika kalian tidak ingin merasakan seperti dia, cepat buka tempat ini!" teriak Lin Yuan, kini dirinya berbicara ke orang-orang yang masih berjaga di gerbang itu. Dirinya bisa saja melompat dari gerbang tersebut yang tingginya kurang dari 3 meter tapi Lin Yuan sedang malas untuk melompat.


Ke empat petugas itu saling melirik satu sama lain, mereka tidak menyangka kakek yang di depannya adalah seorang pendekar dengan tingkat yang sangat tinggi. Padahal temannya tadi berada di tingkat pendekar Ahli, tapi kakek tersebut dengan mudahnya mematahkan tulang kakinya seperti mematahkan ranting.


Mereka pasti berfikir kakek itu tingkatannya sudah berada di pendekar Raja atau mungkin pendekar Langit.


Ke empat petugas tersebut tidak punya pilihan lain, sedikitpun mereka tidak ingin merasakan yang namanya patah tulang. Dengan segera salah satu petugas yang paling senior memberi perintah untuk segera membuka pintu gerbang.


Detik itu juga mereka langsung membuka pintu gerbang itu, mereka sedikitpun tidak membantah atas perintah dari seniornya.


"Bagus, itu pilihan yang sangat bijak," ucap Lin Yuan lagi. Dirinya lalu mengambil sebuah pil dari dalam kantong bajunya dan di lemparkan pil itu ke arah petugas yang paling senior.


"Berikan pil itu kepada temanmu, kakinya akan normal lagi," ucap Lin Yuan datar, ia lalu masuk ke dalam tempat tersebut.


"Haaa... Semoga Tuan Xin, baik-baik saja," ucap petugas yang paling senior dengan menghela nafas panjang, ia lalu mendekat ke arah temannya yang sedang berguling di tanah dan di sodorkan pil itu ke arahnya untuk menyembuhkan kakinya yang sedang patah.


* *

__ADS_1


"Sial.. Banyak sekali laporan yang harus aku kerjakan malam ini," Mendengus kesal Xin Huang karena malam ini dirinya harus lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Setelah dia berbicara seperti itu, tidak lama muncul seorang kakek dari balik pintu yang tidak lain adalah Lin Yuan.


"Wah, wah, Apakah dia yang namanya Xin Huang kepala keluarga bangsawan Xin yang ada di tempat ini?" ucap Lin Yuan, tanpa basa-basi ia langsung duduk di kursi tanpa menunggu sebuah perintah darinya.


"Keparat! Siapa kau kakek tua!" teriak Xin Huang marah, baru pertama kali ini mendapatkan tamu yang benar-benar tidak sopan bagi dirinya.


"Apakah aku harus menunjukkan nama terlebih dahulu," ucap Lin Yuan sambil melirik ke arah pojokkan, ia melirik bukan tanpa alasan karena dirinya tahu ada seorang pendekar yag sedang bersembunyi di balik sebuah bayangan.


"Keluarlah, tidak perlu kau bersembunyi," ucap Lin Yuan lagi ke arah pendekar tersebut.


Sebelumnya pendekar tersebut belum tahu sama sosok kakek yang baru masuk ke dalam ruangan tersebut. Dirinya lalu keluar dari tempat persembunyiannya dan langsung berdiri di samping Xin Huang untuk menjaga dirinya. 


"Kau, kau, kau bukannya kakek yang dulu..." Matanya langsung melebar dengan tinggi saat melihat raut wajahnya, dia masih ingat sama seorang kakek yang pernah ingin di bunuh nya sepuluh tahun silam. 


"Tidak kuduga kita bertemu lagi, Apa kabar pendekar pengguna ilusi?" jawab Lin Yuan santai, ia lalu mencomot satu buah anggur yang ada di atas meja dan di masukkan buat itu ke dalam mulutnya. 


"Hm, anggur impor," ucap Lin Yuan lagi.


"Keparat! Siapa kau sebenarnya?" tanya Xin Huang lagi dengan sangat marah. Dirinya merasa tidak di anggap sama kakek yang di depannya walaupun dia sendiri adalah tuan rumah di tempat situ. 


"Kalau kau tidak tahu aku, tanyakan sama pendekar yang ada di sampingmu, dia pasti akan tahu..."

__ADS_1


__ADS_2