Legenda 7 Bintang

Legenda 7 Bintang
Ch 63. Pertandingan beladiri-part 4


__ADS_3

Bab.63.


Sudah hampir 20 menit Li Bai dan peserta


bertopeng bertarung memperebutkan slot kursi untuk melanjutkan ke pertandingan selanjutnya. Terlihat Li Bai semakin lamban bergerak, keringat bercucuran deras membasahi bajunya. Kini Li Bai menghapus keringat di wajahnya dengan ujung lengan bajunya.


Pertempuran tadi dengan peserta Bertopeng sungguh membuat tenaganya terkuras habis karena banyak menggunakan serangan fisik. Li Bai melihat peserta Bertopeng, keadaan peserta bertopeng kelihatannya lebih lemah darinya. Li Bai paham peserta bertopeng banyak memakai kekuatan fisik dan tenaga dalam saat bertarung dengannya.


"Mari Kita akhiri pertarungan ini dengan memakai serangan terakhir," ucap Li Bai sambil mengatur nafas.


"Aku akan menghabisi mu dan melanjutkan ke babak selanjutnya," teriak peserta bertopeng mulai memasang kuda-kuda. Wajahnya yang tadi pucat kembali kelihatan memerah. Peserta Bertopeng mulai memainkan pedangnya dengan Jurus Burung Elang mematuk Ular. Jurus ini adalah jurus andalannya karena dengan sekali mengeluarkan, musuh di bawah tingkatannya akan bergelimpangan di tanah.


Tapi Li Bai tidak mau kalah, dengan sigap dia juga mengeluarkan jurus andalan yang pernah di latih di Pulau Neraka yaitu Jurus Pedang Suci Mengguncang Bumi.


Li Bai mulai pasang kuda-kuda dan memutar badannya ke kiri. Pedangnya kelihatan berkilau saking tajamnya. Saat Li Bai memutar pedangnya, dia memakai tenaga fisik yang benar-benar menguras semua tenaganya yang dia punya.


Peserta Bertopeng memajukan langkahnya dan melompat tinggi, kaki kanannya maju menendang li Bai.


"Ciiaaatttt....ciiaaattt....


"Ahit....wuussss....


"Tang...ting....tang....


Suara pedang saling berbenturan disertai suara angin. Penonton yang mengikuti jalannya pertandingan itu mulai menahan nafas. Mereka semua kagum melihat permainan pedang tingkat tinggi. Namun sayang kedua peserta sudah semakin melemah karena tenaga mereka yang semakin terkuras habis.


"Keparat...trimalah ini," teriak peserta Bertopeng mengayunkan pedangnya kembali.


Dengan cepat Li Bai menepis pedang lawan dengan pedangnya. Kembali terjadi pertempuran yang sengit.


"Pedang Suci Membasmi Iblis," teriak Li Bai.


Li Bai menyabet lawan dengan pedangnya. Kaki kirinya berputar menyerupai angin tornado dan menendang punggung lawan. Peserta bertopeng berkelit sambil jumpalitan.


Tapi sayang pedang Li Bai hanya merobek lengan bajunya. Seketika kemarahan peserta Bertopeng semakin memuncak habis hingga ke ubun-ubun.

__ADS_1


Hiaaattt.....


Kembali kedua peserta mengganas dan pedang mereka mengeluarkan suara yang membuat penonton ngeri.


"Keparat terimalah ini," seru peserta Bertopeng mengayunkan kembali pedangnya.


"Jangan sungkan-sungkan kawan, keluarkan semua jurusmu...hahaha....," sahut Li Bai merasa diatas angin.


"Terimalah ini!!" teriak peserta Bertopeng dengan mengayunkan pedangnya ke tubuh Li Bai.


Kembali Li Bai mengerahkan kekuatannya untuk menangkis pedang lawan. Tidak bisa di pungkiri lagi kehebatan pertarungan mereka tidak bisa di anggap sepele. Keinginan mereka untuk saling mengalahkan tidak bisa terwujud. Tapi sayang tenaga mereka sudah sangat lemah.


"Kita akhiri permainan ini," kata peserta Bertopeng sambil menancapkan pedangnya ketanah. Dia lalu duduk bersila mengatur nafas.


Di sisi lain tadinya Li Bai mau terus melanjutkan permainan pedangnya, tapi mengingat tenaganya juga mulai kendor akhirnya Li Bai mengikuti saran peserta bertopeng dengan cara ikut beristirahat.


Li Bai mengatur nafas dan memulihkan Tenaga fisiknya. Terdengar teriakan dari penonton yang merasa kecewa karena pertarungan berhenti.


Kemudian terdengar suara Wang Li dari arah samping lapangan yang memerintahkan kedua peserta untuk segera kembali melanjutkan pertarungan setelah jeda beberapa menit. Karena pertarungan antara Li Bai dan peserta Bertopeng belum mempunyai nilai positif alias Seri.


"Untuk memenangkan pertandingan ini tentu harus ada yang menang dan kalah, untuk itu kalian berdua harus segera bertarung lagi," kata Wang Li lantang. Sorak sorai penonton memenuhi Podium.


Li Bai menatap peserta bertopeng dengan tajam seolah mengukur kekuatan lawan. Li Bai masih ingat pesan kakeknya Lin Yuan, kalau ingin menang duduklah bersila, tarik nafas sedalam mungkin dan kumpulkan didada kemudian hembuskan secara pelan-pelan.


Tapi saat ini Li Bai tidak mau melakukan itu karena suara Wang Li kembali berkumandang menyuruhnya kembali bertanding.


Li Bai dan peserta Bertopeng bersamaan meloncat berdiri. Sepertinya Mereka berdua sudah siap kembali bertempur. Li Bai mengambil ancang-ancang serta mencabut pedangnya.


"Siapkan dirimu untuk melawan hembusan angin pedangku," teriak peserta Bertopeng sinis.


"Jangan banyak bacot!!, keluarkan semua jurusmu aku akan babat dengan Jurusku yang kedua," bentak Li Bai tidak mau kalah.


"Hahaha....apa kau masih punya nyali untuk mengimbangi permainanku Li Bai?!,"


"Jangan khawatir kawan, aku akan membiarkan kamu tetap bernafas untuk melihat kemenanganku," sahut Li Bai enteng.

__ADS_1


"Jangan menepuk air di sungai nanti kamu akan kecipratan,"


"Lihat saja nanti siapa yang lebih unggul," teriak Li Bai maju ke tengah dan menantang lawan. Peserta bertopeng yang sudah siap sedia menyambut pedang Li Bai dengan terjangan jurus Bidadari Iblis.


Trank..trink....wushh....suara benturan pedang dan hembusan tenaga dalam berseliweran. Kedua peserta mulai mengeluarkan jurus andalannya.


Li Bai mencoba mengecoh lawannya dengan menusukkan pedangnya ke Badan lawan, sehingga peserta Bertopeng berkelit ke kiri, kesempatan itu di pakai oleh Li Bai untuk menendang badan peserta Bertopeng dengan Kaki kanan nya.


"Hiiaaatttt.......bruuggg....," peserta Bertopeng jatuh tersungkur. Sorak sorai penonton memenuhi Podium.


"Hajar....hajar....," teriak penonton.


Li Bai kembali mau menendangnya, tapi dengan cepat Peserta Bertopeng menghindar dengan bergulingan di tanah. Secara reflek cepat-cepat Li Bai menarik kakinya lagi dan mencoba jurus lainnya dan kaki Li Bai


menyapu badan lawan.


Namun Peserta Bertopeng tidak mau gegabah, cepat dia berkelit dari sapuan kaki Li Bai dan meloncat ke atas kemudian menukit seperti Burung Elang yang mematok ular.


"Rasain sabetanku," teriak peserta Bertopeng kembali lincah.


"Jangan sombong kawan, jurusmu tidak bisa mematahkan semangatku," sahut Li Bai berusaha mengimbangi ke ganasan peserta Bertopeng. Entah tenaga darimana sehingga peserta Bertopeng kembali meladeninya dengan lincah. Padahal Li Bai sudah merasa sangat letih.


"Aku akan akhiri pertempuran ini dengan kemenanganku," ejek peserta Bertopeng kembali memasang kuda-kuda.


"Siapa takut!!, Aku akan membuatmu menggantungkan pedangmu seumur hidup," sahut Li Bai kembali mengayunkan pedangnya. Mereka bertarung dengan sengit.


Tidak bisa dibohongi lagi kemampuan Li Bai lebih tingggi dari peserta Bertopeng. Dengan tenaga penghabisan Li Bai menendang  peserta Bertopeng dan menyabetkan pedangnya berbarengan.


Brakkk....


Seketika itu Peserta Bertopeng ambruk ke tanah.


______________________________________


Setelah melihat beberapa komentar yang merasa kecewa karena novel ini tamat di tengah jalan. akhirnya aku putuskan untuk meneruskan novel ini sampai benar-benar end.

__ADS_1


Bagaimana teman-teman?


__ADS_2