Legenda 7 Bintang

Legenda 7 Bintang
Ch6. Bangsawan Xin III


__ADS_3

"Kau.. Kau.. kakek tua! Apa kau tau kesalahanmu? Dengan kau berbicara seperti itu, kau sudah menentang Keluarga Bangsawan Xin." Xin Zetian merasa Kakek ini sudah kehilangan akal akibat usianya. 


"Hahaha anak muda, anda terlalu percaya diri... Andai kau tahu, aku sama sekali tidak takut sama keluarga Bangsawan Xin." Kakek Lin Yuan tersenyum mengejek. 


"Kau.... Kau... Detik ini juga kepalamu akan bergelinding , Semua Prajurit! Serang!." Mereka semua mengangguk dan langsung mengambil senjata masing-masing. 


"Hahaha sudah di bilang anda terlalu percaya diri, Jurus Naga: Naga Menghantam Bumi."


"Uugh.." Para prajurit diam tak bergerak, tubuh mereka seperti di tindih oleh batu yang sangat berat.


"Prajurit! cepat! Bunuh dia!" Xin Zetian berteriak marah, merasa prajuritnya tidak ada satupun yang menjalankan perintah. 


"Tuan muda Xin... tubuh kami tidak bisa bergerak..." Salah satu prajurit langsung membuka suara, ia tidak ingin salah paham ke tuan mudanya.


Sebagian prajurit ada yang mengumpat kesal atas kebodohan tuan mudanya, yang langsung mengambil tindakan tanpa melihat siapa lawannya. Tidak ada orang yang bodoh yang berani terang-terangan menantang keluarga bangsawan, apalagi kakek ini dengan mudah mematahkan sebuah pedang hanya dengan satu tangan. 


Tidak jauh dari tempat tadi, Wang Li yang melihat Bangsawan Xin ingin membunuh Lin Yuan hanya bisa menggelengkan kepala, "Hm, bangsawan Xin sungguh bodoh, mereka salah memilih lawan. Bahkan Gurunya sendiri belum tentu bisa menang saat berhadapan dengan kakek ini."


"Kakek tua... Sihir apa yang kau lakukan pada prajuritku?" Xin Zetian merasa kakek ini menggunakan sihir untuk membuat prajuritnya tidak bergerak.


"Hahaha, sama seperti yang aku lakukan sama kuda tadi, cuma yang ini agak berbeda," ucap Lin Yuan sambil tertawa puas karena telah membuatnya marah.


"Ci, berarti kau yang membuat kuda tadi tidak bergerak, mati kau..." Dengan segera Xin Zetian menyerang Lin Yuan tanpa tahu dia akan menang atau kalah.


Terlihat Lin Yuan hanya menghindar tanpa memberi serangan, "Ayolah... Apa cuma segini ilmumu anak muda? Kakek ini bahkan bisa menghindar tanpa melihat," ucapnya dengan nada mengejek ke arah Xin Zetian.


Xin Zetian semakin kesal, "Kakek busuk, cepat mati kau ke akhirat! Ilmu Pedang: Tebasan Melingkar."

__ADS_1


Lin Yuan hanya bergerak ke samping, "Hohoho.. Tidak buruk, tapi penguasaan ilmu pedangmu masih belum sempurna."


"Sial, sial, sial, sial..." Xin Zetian mendengus kesal, ia merasa serangannya sama sekali tidak ada yang mengenai tubuh kakek itu, bahkan dengan menggunakan jurus sekalipun.


* * * *


Sudah satu jam Xin Zetian terus menyerang Lin Yuan tapi sedikitpun Lin Yuan tidak merasakan kecapekan, tapi di sisi lain Xin Zetian sendiri yang merasa kehabisan tenaga.


"Apa kau sudah mau menyerah anak muda, seranganmu makin lama semakin lambat," ucap Lin Yuan, ia merasa Xin Zetian sudah tidak sanggup untuk bertarung lagi.


Kemudian Brughh..


Hueekk...


Lin Yuan memukul perutnya, Xin Zetian langsung jatuh ke tanah dan mengeluarkan isi perutnya. 


Dengan segera Lin Yuan menghentikan jurus Naga Menghantam Bumi, "Kalian Cepat! bawa tuan muda kalian pergi dari sini!" ucapnya ke arah prajurit.


"Terimakasih... sudah menyelamatkan anakku," ucap Ibu tadi, ia lalu bersujud bersama anak tadi ke arah Lin Yuan.


"Sudahlah tidak perlu bersujud, aku juga tidak suka sama sikap anak muda tadi," jawab Lin Yuan, dengan segera ia membangunkan mereka berdua. 


"Maaf, Apakah ada suatu hal yang bisa kami berikan untuk membalas kebaikan Senior?" ucap ibu tadi, ia merasa telah berhutang nyawa ke Lin Yuan, bahkan dengan memberikan sekantong koin emas sekalipun belum tentu cukup untuk membalas kebaikannya.


"Sudahlah... tidak perlu memberikan apapun kepadaku," ucap Lin Yuan sambil menggelengkan kepala, ia merasa tidak perlu untuk mereka membayarnya.


"Maaf Senior, kami masih belum bisa senang saat belum membalas kebaikan senior," ucapnya lagi sang ibu tadi, ia masih ngotot akan memberikan sesuatu.

__ADS_1


Kakek Lin diam berfikir, kemudian ia memanggil Wang Li, "Anak muda Wang.. kemarilah."


"Apa kau bisa memberikan air susu buat cucuku ini?" ucap Lin Yuan sambil menunjuk ke arah Li Bai. 


"Bisa senior, sini aku gendong cucunya."


"Ah, terimakasih.. Setidaknya untuk saat ini, aku tidak harus mencari susu buat cucuku," jawab Lin Yuan dengan tersenyum puas, akhirnya Li Bai bisa mendapatkan susu.


Sang ibu tadi langsung mencoba menjauh dari mereka, ia lalu memberikan asi ke Li Bai.


"Dan kau anak kecil, siapa namamu?" tanya Lin Yuan sambil memandang anak perempuan yang ada di depannya. 


Terlihat Anak tersebut langsung membungkuk ke arah Lin Yuan, "Xiu Juan senior."


"Nama yang bagus, lain kali jangan bertindak kayak begitu lagi," ucapnya Lin Yuan sambil mengelus kepalanya. 


Xiu Juan hanya menangguk merasa sangat bersalah. seandainya Kakek ini tidak menolongnya mungkin dia sudah kehilangan nyawa.


* * * *


"Senior ini cucunya... Dia sudah ku beri Asi, setidaknya cucu senior tidak akan kelaparan lagi sampai besok," ucap Ibu tadi yang terlihat menghampiri Lin Yuan.


"Ai, terimakasih sudah menolong cucuku."


Ibu tersebut hanya menggelengkan kepalanya, "Seharusnya aku yang mengucapkan terimakasih kepada Senior."


Lin Yuan lalu menoleh kearah Wang Li, "Anak muda Wang, maaf kita harus berpisah dari sini. Aku harus melanjutkan perjalanan pulang ke rumah."

__ADS_1


"Senior Lin, terlalu sungkan... semoga kita bisa bertemu lagi," jawab Wang Li dengan tersenyum ke arahnya.


Lin Yuan hanya menangguk kemudian ia meninggalkan mereka bertiga dan tidak jadi masuk ke kota Zang.


__ADS_2