
"Yoshh.. Sekarang giliranku." ucap Li Bai dengan semangat. Ia lalu keluar dari ruangan dan bergerak menuju tengah arena untuk berkumpul dengan ke 100 peserta yang ada.
Setelah berkumpulnya ke semua 100 peserta, Yin Song lalu menjelaskan semua aturan yang tidak boleh di lakukan saat mereka bertanding.
"Sudah tidak perlu lama lagi, kalian semuanya segera bersiap-siap dan aku akan menghitung dari 1 sampai 10," ucap Yin Song.
Li Bai dan ke semua peserta mengerti akan perkataan Yin Song, dengan segera mereka bergerak dengan berjauhan dan sebagian ada yang langsung membentuk kelompok masing-masing.
Di sisi lain, Li Bai dengan santainya berdiri di ujung arena dan tidak membentuk kelompok dengan para peserta. Bahkan Li Bai sendiri seakan tidak ingin membentuk kelompok seperti peserta lain.
"Mulai!!" Setelah itu Yin Song berteriak tinggi yang menandakan pertandingan ke empat telah di mulai.
"Yosh.. Kemarilah kalian para peserta, aku akan melawan kalian dengan senang hati," ucap Li Bai dengan semangat.
Berganti ke sisi penonton, sebagian ada yang membicarakan diri Li Bai karena dirinya berani mengikuti pertandingan beladiri.
"Hei, hei, lihat anak itu yang berdiri di pojokkan arena. Dia sedikitpun tidak punya tenaga dalam, tapi anak itu berani mengikuti pertandingan ini," ucap salah satu penonton yang sedang berbicara ke teman samping duduknya.
"Mana? Mana?" jawab temannya itu, ia dengan segera memusatkan perhatiannya ke semua arena pertandingan.
"itu lihat...." Dia menunjuk ke arah timur, yang tidak lain adalah Li Bai yang sedang di tunjuk nya.
"Ci, Kau benar. Anak itu sedikitpun tidak punya tenaga dalam. Apa anak itu benar-benar waras?" jawabannya dengan sedikit menggelengkan kepala.
Setelah kedua penonton itu memusatkan perhatian ke arah Li Bai. Kini terlihat Li Bai sedang di dekati oleh 3 musuh dengan tingkat mereka paling tinggi di Bumi tahap awal.
"Hahaha, baru juga di omongin. Anak itu sudah di dekati musuh saja. Sudah ucapkan selamat ting..." Sebelum dirinya menyelesaikan ucapannya, nafasnya langsung tersedak saat melihat Li Bai dengan mudahnya menendang tubuh salah satu peserta tersebut hingga membuatnya pingsan seketika.
"Gila! Apa aku sedang bermimpi?" ucapnya dengan menampar pipinya. Bahkan dirinya sendiri belum tentu bisa melakukan seperti itu.
Berganti ke sisi Li Bai sendiri, "Yo.. Kalian berdua maju sini, jangan diam saja di sana." ucap Li Bai dengan sedikit meloncat-loncat sambil jempol tangannya menyentuh hidungnya. Gerakan ini seperti gerakan aktor Bruce Lee yang sedang melakukan duel pertarungan.
__ADS_1
Kedua pesertaitu diam sejenak, lalu mata mereka saling melirik satu sama lain.
"Ci, mungkin teman kita saja yang terlalu lemah," ucap musuh tersebut yang sempat menepis pikirannya. Ia lalu mengambil senjata berupa golok yang ada di samping pinggangnya.
"Kita serang bersamaan, tidak mungkin dia bisa menghadapi kita berdua," ucapnya lagi.
Teman sampingnya mengangguk kecil, ia pun mengambil golok juga dari samping pinggangnya. Kemudian kedua musuh itu menyerang Li Bai yang hanya berdiri seorang diri.
Li Bai terlihat sedikit tersenyum ke mereka berdua, "Saatnya membuktikan pedang terhebat dalam sejarah dunia persilatan," membatin sejenak Li Bai, ia lalu mengambil Pedang Pencabut Nyawa yang ada di samping pinggangnya.
Sss...
Udara sedikit berhembus saat pedang itu di cabut dari sarung putihnya.
Musuh yang menggunakan senjata golok terlihat menyerang Li Bai duluan dari arah kiri. Saat akan menjangkau tubuh Li Bai, dirinya langsung mengayunkan golok nya setengah horizontal secara kuat-kuat.
"Enyah kau! Golok Nyawa!" teriaknya dengan sedikit meninggi.
Trankk...
"Ah, cuma segini doang serangan golokmu, sama sekali tidak bertenaga." mengejek Li Bai ke arahnya, ia lalu menjulurkan lidahnya ke depan seperti ingin membuatnya marah.
Terlihat musuh yang satunya tidak tinggal diam, ia juga menyerang Li Bai dari arah kanan. Li Bai sejenak melirik ke arahnya kemudian dia bergerak ke belakang dengan ber salto untuk menghindar.
Wush...
"Keparat! jangan cuma bisa menghindar kayak tikus kau!" Geram musuh itu yang akan menyerang Li Bai dari arah kanan.
"Siapa yang ingin menghindar?" tanya Li Bai setelah dirinya ber salto.
"Kau saja yang terlalu lambat dalam menyerangku," ucap Li Bai lagi dengan mengacungkan Pedang Pencabut Nyawa ke mereka berdua.
__ADS_1
"Ci!!" Dirinya benar-benar mendengus kesal ke arah Li Bai.
"Mari serang dia lagi." Ajak teman yang satunya. Ia juga kesal sama Li Bai karena telah mengejeknya dan di bilang serangannya terlalu lemah.
Dia mengangguk setuju, lalu kedua peserta itu melesat menyerang Li Bai lagi dengan senjata golok nya. Tapi dengan mudahnya Li Bai menangkis setiap golok itu yang ingin menjangkau tubunya.
Trinkk.. Trinkk.. Trinkk..
Li Bai menahan serangan kedua golok itu sambil dirinya bergerak mundur ke belakang.
Percikan api sering timbul saat Pedang Pencabut Nyawa saling berbenturan dengan senjata kedua golok itu.
"Kalian berdua ini seperti tong kosong nyaring bunyinya, gede di omong tapi aslinya nol," ucap Li Bai dengan santai. Ia lalu berganti dirinya yang semakin mempercepat gerakan dalam mengayunkan pedangnya.
Trinkk... Trinkk.. Trinkk..
Terlihat kini berganti, kedua peserta itu yang bergerak mundur sambil menahan serangan dari arah Li Bai.
Sekitar 3 menit mereka menahan serangan dari arah Li Bai, tiba-tiba..
Crakk... Crakk.. Crakk..
Senjata golok mereka semakin lama semakin retak karena terlalu lama menahan serangan yang di tunjukkan oleh Li Bai. Senjata golok mereka juga hanya berada di kualitas senjata biasa dan tidak sebanding dengan ketajaman dari Pedang Pencabut Nyawa.
Crakk..
Sekitar ayunan Pedang Pencabut Nyawa yang ke 100, kedua golok itu benar-benar hancur dan hanya menyisakan pegangannya saja.
Dengan cepat Li Bai langsung mengacungkan Pedang Pencabut Nyawa di depan wajah mereka.
"Menyerah? Apa kalian berdua ingin merasakan ketajaman dari pedangku saat akan menggores kulit kalian?"
__ADS_1