
Pagi pagi sekali aku sudah mandi, setelah sholat subuh aku langsung berganti pakaian dan membereskan kembali perlengkapan yang hendak kubawa.
Aku hanya memakai celana jeans dan kaus street warna kuning, kemudian memoles sedikit wajahku dengan make up.
" Hhhhmmm cantik sekali kamu Ve ", gumamku, ditambah dengan bodyku yang tinggi semampai.
Aku tak puas puasnya memandangi tubuhku di depan cermin.
Tiba tiba pintuku kamarku diketuk dari luar, ternyata Bima sudah datang, dia memang tipe orang yang sangat disiplin masalah waktu. Hari ini dia terlihat santai hanya dengan memakai celana jeans dan kaus warna hitam, tidak seperti biasanya yang selalu memakai kemeja dan terlihat rapih, identik dengan orang kantoran.
" Hhhmmm ganteng sekali dia, tapi sayang....", bathinku.
" Cantik sekali kamu Ve...".
Kata Bima memujiku.
" Baru nyadar ya kalau punya pacar cantik ?"
" Ya enggaklah, kalau nggak cantik mana mungkin aku jadiin pacar ".
" Kalau ada yang lebih cantik lagi berarti aku diputusin dong....", sahutku sambil tersenyum.
" Ya enggaklah sayanggg....", sembari mencubit pipiku.
" Hhhhhh coba aja kalau kamu semanis ini tiap hari Bim, pasti aku betah sama kamu ", bathinku.
" Udah siap semua kan ? ayo berangkat, mana bawaan kamu ?"
Kukeluarkan tasku dari dalam kamar, kemudian dibawa Bima masuk ke dalam bagasi mobilnya.
" Tunggu sebentar Bim, aku pamitan Dinda dulu ya ?"
Bima mengangguk.
Kemudian Kuketuk kamar Dinda.
" Din....Dinda...Dinn....kamu masih tidur ya...?"
Perlahan Dinda membuka pintu kamarnya.
" Ih kebo jam segini belum bangun, nggak kerja kamu ?"
" Kerjalah Din, bentar lagi masih jam 7 ini nyantai ".
" Nyantai nyantai ntar kalau waktunya udah mepet baru deh buru buru. Ya udah aku berangkat dulu ya ?"
" Udah mau pergi to ? Iya deh hati hati ya, mana Bima ?"
" Itu udah nunggu di mobil ".
" Ya udah mandi dulu sana, nanti telat lho kamu ".
" Iya iya....inget jangan berantem di mobil ya Ve hehehe ".
Aku cuma nyengir aja menanggapi ejekannya.
Kemudian kutinggalkan Dinda, dan masuk ke dalam mobil Bima.
" Kamu udah sarapan Ve ?"
" Belum Bim ".
" Ya udah nanti kita mampir ke rumah makan dulu ya ? Pengen makan apa kamu ?"
" Terserah deh apa aja ".
" Hhhhhh pakai nanya makan apa? basa basi banget sih, mana mau dia kalau aku ajak makan sesuai dengan keinginanku ", kataku dalam hati.
Kemudian Elmo menghentikan mobilnya di sebuah rumah makan padang.
" Makan di sini aja ya ?"
" Iya terserah deh ".
Sebenarnya aku males pagi pagi begini makan masakan padang, menunya kebanyakan santan. Aku aja udah malas membayangkannya, lebih enak makan bubur ayam , atau nasi sayur, tapi pasti Elmo nggak mau itu, apalagi kalau tempatnya di pinggir jalan, yang joroklah, yang nggak ditutuplah, yang banyak debulah, 1001 alasan buat dia menolaknya.
" Kok cuma makan itu aja Ve ? ini sayurnya nggak dimakan ?"
" Nggak Bim udah cukup ini aja ".
Aku cuma ambil ayam goreng aja, malas rasanya makan yang lainnya.
Selesai makan Bima langsung membayarnya di kasir, kemudian kami beranjak pergi melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Jalanan terlihat ramai, apalagi sepagi ini berbarengan dengan orang orang yang berangkat kerja juga berangkat sekolah.
Terdengar Bima mulai menggerutu kesal, karena merasa perjalanannya terhambat.
Aku tersenyum ingat kata kata Dinda semalam kalau Bima bakalan uring uringan kena macet begini.
" Kamu kok senyum senyum sendiri kenapa Ve ?"
" Nggak nggak papa Bim ".
" Seneng ya ngeliat pacarnya kejebak macet gini ".
" Ih yang kejebak macet kan bukan cuma kamu Bim, kalau nggak mau macet ya terbang aja ", sahutku sebal.
" Hehhhhh....!!!" Bima menggerutu.
" Tau gini tadi kita berangkat lebih pagi Ve ".
" Siapa juga yang ngajak pergi jam 7, udah tau jam 7 bareng sama orang berangkat kerja, sama berangkat sekolah ".
" Udah deh jangan mulai lagi !!"
" Yeee siapa juga yang mulai pertama ", bathinku.
" Hhhhh... masih juga baru aja berangkat ehhh udah uring uringan aja nih orang, heran pasti kecilnya emaknya ngidam mercon, makanya bawaannya marah marah terus ", kataku dalam hati.
Akhirnya kami keluar juga dari lokasi kemacetan.
" Hehhhh akhirnya...", gumam Bima.
" Kita mau kemana sih Bim ?"
" Kamu penasaran ?"
" Iyalah Bim, dari kemarin aku nanya ke kamu tapi belum dijawab jawab ".
" Emang kenapa ?"
" Aku takutlah siapa tau kamu mau bawa aku kabur ".
" Kabur kok pakai prepare segala ".
" Ya siapa tau, aku kan nggak tau apa yang kamu pikirin ".
" Ya mau kemana kita ? kalau nggak aku turun nih ", kataku.
" Udah deh jangan kayak malem itu lagi Ve ".
" Habis kamu tuh nyebelin banget, aku kan nggak suka pakai rahasia rahasiaan gini ".
" Iya deh...aku mau ngajak kamu ke Surabaya Ve ".
" Ke Surabaya ? tempat siapa ?"
" Ke Surabaya kok ke tempat siapa ? ya ke rumah orang tuaku Ve ".
" Ke rumah orang tuamu ?"
" Iya, mereka pengen kenalan sama kamu, kita kan udah lama pacaran, tapi aku belum pernah ngenalin kamu ke mereka ".
" Aduhhh mati aku ", bathinku.
" Heiii kok malah diem, kenapa ? nggak seneng ?"
" Eh egh nggak aku seneng kok Bim ".
Heran kenapa kok perasaanku justru nggak seneng gini ya Bima mengajakku untuk bertemu orang tuanya.
" Ve aku tuh ngajak kamu kesana berarti aku serius sama kamu, dan nggak mau kita pacaran lama lama lagi ".
" Maksudmu ?"
" Ya kita itu udah sama sama dewasa Ve, buat apa pacaran lagi ?"
" Lalu ?"
" Kok malah lalu sih, ya nikah Ve, kamu tuh kok malah kayak orang bingung gitu ".
" Aduhhhh kenapa kok Bima nggak bilang bilang kalau dia mau ngajak aku ke rumah orang tuanya, mana ngomongin masalah nikah lagi, padahal aku sendiri udah nggak nyaman banget sama dia ", kataku dalam hati.
" Ve, aku tuh anak yang paling tua, dan kalau kita menikah nanti kamu harus jadi contoh yang baik buat dua adikku, ada Shania dan Helena di rumah, kamu harus bersikap dewasa ya, jangan sedikit sedikit ngambek kayak biasanya ".
" Siapa juga yang sedikit sedikit ngambek, kalau kamunya nggak buat gara gara aku juga nggak akan marah kok ".
__ADS_1
" Udah deh....tuh mau ngambek lagi kan ".
" Aku heran sama kamu Ve, sekarang kamu gampang banget marah sama aku, beda banget sama dulu, dulu kamu gampang memaafkan ".
" Ya kamu pikir aja sendiri Bim ".
" Kok malah aku disuruh mikir sendiri, emangnya aku tau apa yang kamu rasain Ve ".
" Itulah karena kamu tuh cuma mikirin diri sendiri, jadinya kamu nggak pernah perduli sama orang lain, kalau menurut kamu itu benar ya udah kamu masa bodoh dengan orang di sekitarmu ".
" Kamu tuh ngomong apa sih Ve ?"
" Aku udah pernah bilang Bim, perbaiki hati kamu Bim jangan cuma penampilan luar aja ".
" Orang itu akan suka dengan kita kalau hati kita itu baik Bim ".
" Jadi kamu mau bilang kalau aku nggak baik gitu ?"
" Harusnya kamu harus bisa lebih mendengar pendapat orang lain Bim ".
" Sekali kali kamu tanya sama temanmu yang kamu percaya dan kamu anggap baik, suruh mereka jujur untuk menilai kekurangan kamu, jangan boleh ada yang ditutup tutupi, kamu dengar kata mereka, perhatikan masukkannya ".
" Kamu mau mengajari aku Ve ?"
" Nggak Bim aku nggak ngajari kamu , aku tuh apa sih dibanding kamu. Kepandaian aku mungkin hanya seujung jari kukumu, nggak mungkin aku mau ngajari seorang dokter spesialis sepertimu, cuma harusnya kamu nggak usah melihat siapa yang sedang berbicara di depanmu saat ini, tapi yang kamu pertimbangin apa yang dia bicarakan Bim.
Pejabat hebat aja belum tentu lho lebih bijak dari seorang tukang sampah sekalipun ".
" Ahhh sudah Ve cukup jangan ngajak aku berdebat lagi ".
" Kamu tuh selalu nggak bisa menerima pendapat orang lain, percuma otakmu pinter, wajahmu ganteng, tapi sifatmu angkuh, orang nggak bakalan betah di samping kamu lama lama ".
Tiba tiba Bima menepikan mobilnya di pinggir jalan.
" Ooohhh aku tau sekarang, jadi ini sebabnya kamu berubah Ve ? Kamu udah nggak betah sama aku ?"
" Aku nggak bilang kalau itu aku !!" jawabku ketus.
" Kamu pikir aku bodoh Ve ?"
" Aku bisa ambil kesimpulan dari pembicaraan kamu ini Ve".
Aku diam saja dan membuang pandanganku ke jendela menghindari tatapannya.
" Sini lihat aku ", sambil menarik tubuhku menghadapnya.
" Sekarang apa mau kamu ?"
" Apa mauku ?"
" Iya apa mau kamu ?"
" Kamu mau kita putus Ve ?"
" Ok kita putus sekarang ".
" Terserah kamu ", kataku mulai emosi.
" Ya ya ya...sekarang juga aku telfon ibumu, bahwa kita sudah putus dan kamulah penyebab hubungan kita putus ".
" Hei kamu jangan melibatkan ibu aku ya ?"
" Kenapa ? kamu takut disalahin ?"
" Nggak, aku sama sekali nggak takut disalahin, aku cuma nggak mau nambah beban pikiran ibu ".
" Lalu maumu apa sekarang ?"
" Oke oke aku minta maaf ", kataku.
" Minta maaf apa ?"
" Minta maaf sudah membuatmu kesal Dokter Bima Arya Prayoga ".
" Aku tuh cuma pengen kamu nurut aja Ve nggak lebih ".
" Ya udah jadi pergi nggak ini ?"
" Terserah kamu Bim ".
Bima selalu saja begitu, selalu mengancam dan mengancam, masih kekanak kanakan dia, bagaimana jika kita menikah nanti, apakah dia masih seperti ini ?
Kemudian Bima menghidupkan lagi mesin mobilnya, dan melanjutkan perjalanan, srdangkan aku memilih tidur agar tidak terlalu sering mendengar omongannya.
__ADS_1
" Hahaha ternyata benar tebakan Dinda semalam, sialan tuh anak, tau aja dia...!!