Lelaki Imamku

Lelaki Imamku
Bima meminta maaf


__ADS_3

Bima terus mencari Anya menyusuri sepanjang jalan.


" Ah mungkin dia di alun alun ", bathin Bima.


Kemudian Bima membelokkan mobilnya ke arah alun alun, semua jalan di alun alun sudah dilewatinya, namun Bima tetap tidak menemukan Vero.


" Ya ampun Vero dimana kamu sayang ?"


Kata Bima, wajahnya terlihat khawatir sekali akan keselamatan kekasihnya.


Kemudian Bima menelfon Dinda.


" Din gimana Vero udah pulang belum ?"


" Belum Bim ".


" Ya udah Din makasih ya ".


" Vero ada apa sih dengan kamu, kamu sekarang dimana ?" bisik Dinda khawatir. Kemudian Dinda mencoba menghubungi hp Vero tapi ternyata tidak aktif.


" Semoga kamu baik baik aja Ve", kata Dinda dalam hati.


Hingga hari gelap Vero tetap belum pulang ke kos, Bima bahkan sudah berkali kali menelfon Dinda menanyakan apakah Vero sudah pulang apa belum.


Sementara itu Vero masih berada di cafe siang tadi. Selesai sholat magrib Vero keluar dari cafe kemudian menghentikan sebuah taksi di pinggir jalan.


" Ke alun alun kidul ya pak ", kata Vero pada supir taksi.


" Iya mbak ".


Taxipun membawa Vero ke arah alun alun.


" Sepanjang jalan Vero hanya diam saja dan berusaha melupakan kejadian siang tadi, namun bayangan wajah Anya dan Bima yang sedang bersenda gurau tetap tidak hilang dari ingatannya, sehingga tanpa sadar Vero memukul jog mobil dengan keras. Supir taxi sampai terkejut.


" Mbak, mbak nggak kenapa napa kan ?"


" Ohhh nggak pak ", kataku sedikit terkejut.


" Kenapa sih kenapa aku nggak bisa nguasain emosiku saat ini ", bathinku.


Sampai di alun alun kidul aku turun dan berjalan agak masuk ke dalam


Kemudian aku duduk di atas rumput yang sedikit rimbun dan menyaksikan orang orang yang sedang bersenda gurau di depan 2 pohon di hadapanku.


Tiba tiba aku menitikkan air mata, aku ingat saat aku dan Bima melewati 2 pohon itu, aku bahagia sekali saat itu, karena berhasil melewati 2 pohon beringin tersebut, namun ternyata saat ini aku duduk di sini sendiri tanpa ditemani Bima.


Aku terus menangis dan menelungkupkan wajah di kedua lututku.


Aku nggak perduli banyak orang yang melihatku, yang jelas saat ini aku hanya ingin sendiri di tempat ini.


kulirik arloji sudah menunjukkan pukul 11 malam, aku memutuskan untuk pulang. Aku berjalan lunglai menuju jalan raya. Rasanya aku ingin segera sampai di kosku dan kemudian tidur agar bisa melupakan semua masalahku.


Kuhentikan sebuah taxi, dan kemudian memberitahukan supir untuk mengantarkan ke kosku.


Tak lama kemudian aku sudah sampai di depan gerbang kos, kulihat ada mobil Bima di sana.


Aku terus berjalan lunglai masuk ke dalam.


Kulihat Bima sedang duduk berdua bersama Dinda, tapi mereka hanya diam saja tanpa berbicara sepatah katapun.


Ternyata Bima dan Dinda menyadari kedatanganku.


" Vero kamu dari mana sayang ? kamu baik baik saja kan ?"


Aku tidak menjawab sepatah katapun pertanyaan Bima.


Aku terus berjalan masuk ke dalam kamarku, bahkan Dinda pun tidak kutegur.


" Ve aku mau bicara sebentar pleas ".


Bima berusaha menarik tanganku, tapi kemudian kutepiskan.


" Ve aku mohon ".


Aku tidak perduli dengan teriakan Bima, aku langsung masuk ke kamar dan kukunci pintu kamarku. Lalu aku menangis di atas kasurku.


Aku mendengar teriakan Bima memohon agar membukakan pintu untuknya, tapi tetap kubiarkan dia.


" Udah Bim, ini udah malem biarin Vero istirahat dulu, mungkin dia butuh waktu buat sendiri ".


" Iya Din, tapi ....".


" Percaya sama aku nggak akan terjadi apa apa sama dia ".


" Ya udah Din, titip Vero ya besok aku kesini lagi ".


" Iya Bim pulanglah ".


Aku terus menangis hingga tertidur dan bangun keesokan paginya.


Sampai jam 07.30 pagi aku masih belum keluar dari kamarku.


" Ve kamu udah bangun Ve ?"


Kudengar panggilan Dinda dari luar kamarku, kemudian kubuka pintu kamarku, dan kembali ke tempat tidurku.


" Kamu nggak kerja Ve ?"


" Nggak Din aku nggak enak badan ".


Dinda memegang kepala Vero.

__ADS_1


" Badan kamu panad Ve mau aku beliin obat ?"


" Nggak usah Din, aku pengen tidur aja ".


" Nggak makan dulu Ve ?"


" Gampang, nanti aku bisa beli sendiri kok ".


" Kamu udah ijin kantormu ?"


" Udah kok Din, tadi pagi aku udah telfon atasanku kok ", sambil terus memejamkan mata menahan kepalaku yang terasa pusing.


" Kamu yakin nggak papa Ve ?"


" Iya Din pergilah aku nggak papa ".


" Ya udah aku tinggal kerja ya Ve ?"


" Iya hati hati di jalan ".


Kemudian Dinda meninggalkan kamarku. Aku berusaha untuk tidur namun tetap tidak bisa.


Sementara itu Bima menelfon Dinda dari kantornya.


" Hallo Din gimana Vero ? kok hpnya masih belum aktif sampai sekarang ".


" Dia nggak masuk kerja Bim ".


" Kenapa Din ?"


" Sakit Bim tadi aku ke kamarnya kupegang badannya panas ".


" Ya udah Din aku ke kosnya sekarang, cuma panas kan Din ? "


" Kayaknya sih pusing juga Bim ".


" Eh Bim, belikan dia makan dulu, soalnya tadi aku tawarin makan nggak mau ".


" Iya Din makasih ya ".


Kemudian Bima buru buru meninggalkan ruangannya dengan terlebih dulu pesan kepada susternya agar menghubungi Dokter Firman, untuk menggantikan tugasnya sementara waktu dia pergi.


Bima memacu kendaraaannya dengan lebih kencang agar segera sampai di kos Vero, namun sebelumnya Bima mampir ke warung makan dulu untuk membeli makanan buat Vero.


Tak lama kemudia Bimapun sudah sampai di kos Vero.


Bima mengetuk ngetuk kamar Vero berkali kali namun tidak ada jawaban, akhirnya Bima mencoba menarik handel pintu kamar Vero, dan ternyata tidak dikunci. Bima masuk ke dalam, dilihatnya Vero sedang meringkuk di dalam selimut tebalnya.


" Ahhh aku harus ijin dengan teman Vero dulu agar diperbolehkan masuk ke dalam kamar Vero ", bathin Bima.


Dilihatnya ada seorang penghuni kos yang sepertinya mau pergi ke kampus.


Dipegangnya dahi Vero


" Ya Alloh sayang panas sekali tubuh kamu ". bisiknya.


Dibangunkannya Vero dengan pelan.


" Sayang bangun ini aku Bima ".


Dalam keadaan sadar dan tidak Vero seperti mendengar suara Bima, tapi benarkah dia ? bathin Vero, ahhh mungkin aku sedang bermimpi, kemudian Vero tidur lagi karena kepalanya amatlah pusing.


Bima membangunkan Veto lagi.


" Sayang bangun ini aku ".


" Ya ampun tapi ini seperti nyata aku mendengar Bima ".


Namun aku masih tetap memejamkan mata.


" Vero bangun sayang..."


Akhirnya Vero yakin bahwa suara yang didengarnya adalah suara Bima.


Perlahan lahan Vero membuka kedua matanya.


Benar saja ada Bima yang sedang duduk di depan kasurnya.


Ve langsung bangun tapi karena kondisi kepalanya yang pusing, Vero hanya bersandar di dinding dan menelungkupkan wajahnya di atas kedua lututnya yang ditekuk.


" Kamu ngapain ke sini Bim, kenapa bisa masuk ke kamarku ?, tanya Vero dengan suaranya yang lemah.


" Aku tadi telfon Dinda dan katanya kamu sakit, makanya aku kesini, pintu kamarmu tadi nggak dikunci Ve ", aku baru ingat tadi setelah Dinda keluar dari kamarku aku lupa tidak menguncinya kembali, sampai aku tertidur.


" Pergilah Bim, kepalaku pusing ".


" Nggak Ve kamu harus makan dulu ".


" Aku nggak lapar Bim ?"


" Ayolah Ve sedikit aja ", kata Bima sambil berusaha menyuapiku.


" Aku nggak mau Bima, pergilah dari sini Bim ".


" Kamu masih marah Ve ".


" Aku nggak mau bahas itu pergilah sekarang cepatttt.......!!!!!" teriakku, emosiku seperti tak terkendali dan akupun menangis keras sambil menelungkupkan wajahku di atas bantal yang ada di pangkuanku.


" Sssttt tenang Ve tenang kontrol emosi kamu, maafin aku, aku salah sama kamu pleas maafin aku Ve ". Kata Bima sambil berusaha membangunkan tubuhku.


Aku terus saja menangis dengan keras, Bima menarik tubuhku dan kemudian memelukku.

__ADS_1


" Maaf sayang maaf...!!!"


Aku berontak dan berusaha lepas dari pelukan Bima, aku marah sekali saat itu.


" Lepasin aku Bim, lepasin....pergi kamu dari sini, aku nggak mau melihat kamu lagi ".


Bima justru semakin mempererat pelukannya.


" Iya aku akui aku salah aku minta maaf ".


Ve memukul dada Bima dengan kedua tangannya, dan terus memukulnya.


" Pukul terus Ve, nggak papa selama kamu merasa bahwa ini bisa untuk membayar kesalahanku sama kamu, nggak papa pukul terus ", kata Bima setengah berteriak.


Akhirnya Vero kelelahan dan dia sudah tidak kuat lagi untuk memukul dada Bima, dia hanya pasrah saat Bima kembali memeluk tubuhnya. Ve terus menangis di pelukan Bima.


" Bim aku bodoh terlalu bodoh, aku terlalu berharap bisa mendapatkan tempat di hati kamu, bisa menggantikan sesosok Anya yang ternyata sangat sempurna dibanding aku, bermimpi suatu hari bisa menikah dan punya anak sama kamu, ternyata itu semua sia sia Bim, kamu bahkan tadi siang nggak menganggap aku ada Bim, kamu tau betapa terlihat bodohnya aku di hadapan Anya saat itu, seharusnya aku meninggalkan kalian berdua semenjak pertama kalian bertemu tadi, bukannya malah seperti seseorang yang bodoh berdiri di samping kamu dan tidak kamu hiraukan sama sekali Bim ", kataku sambil menangis.


" Ve maafin aku, maafin aku ".


" Bim katakan sama aku, aku harus berbuat apa agar kamu bisa melupakan Anya, katakan Bim, katakan ", jeritku.


" Apakah aku harus merelakan kamu kembali lagi sama Anya Bim, pleas Bim katakan ".


" Mungkin benar Bim aku harus merelakan kamu kembali pada Anya Bim, ya kan Bim ?"


" Nggak Ve nggak aku nggak mau kehilangan kamu Ve, aku mencintai kamu ".


" Nggak Bim, kamu itu hanya terbiasa bersamaku, tapi tidak mencintaiku ".


" Pergilah Bim tinggalkan aku, kembalilah pada Anya dia yang lebih pantas untukmu ".


" Nggak Ve ", teriak Bima tiba tiba dan dia melepaskan pelukannya.


" Dengar Vero, aku itu mencintai kamu aku nggak mau kehilangan kamu ".


" Tapi buktinya tadi siang Bima ? apa harus aku ingatkan lagi sama kamu betapa terlihat bodohnya aku saat itu ".


" Ve maafin aku maafin aku Ve ".


" Vero kalau kamu nggak percaya lihat ini ". sambil mengambil hp dari saku celananya


" Apa maksud kamu Bima ?"


" Aku akan menelfon ibu kamu dan aku akan bilang hari ini ibumu harus datang ke Yogya karena aku akan menikahi kamu secepatnya Vero ".


" Kamu gila Bima ", jangan libatkan ibuku.


" Aku nggak libatkan ibumu Vero, aku hanya ingin meyakinkan kamu bahwa aku benar benar mencintai kamu Vero, aku akan lakukan apapun untuk bisa bersama dengan kamu ".


" Lalu sikap kamu ke Anya kemarin apa Bim ?"


" Ya itu aku akui salah Ve karena saat itu aku begitu gembira bisa bertemu lagi dengan Anya, percaya sama aku Ve aku cinta kamu, pleas Vero maafin aku ya ". Kulihat Bima menitikkan air matanya, apakah benar laki laki ini mencintaiku ? bathinku.


Aku membiarkan Bima memeluk tubuhku, yang aku tau saat itu aku hanya ingin menangis dan terus menangis.


" Vero dengerin aku sayang ", kata Bima sambil memegang kedua pipiku dan menghapus air mata yang membasahinya ".


" Aku cinta kamu dan nggak ada yang menggantikan posisi itu di hati aku Vero ", katanya sambil menatap kedua mataku.


Aku diam saja tak menjawab sepatah katapun kalimat darinya, karena tiba tiba saja hatiku kosong dan aku seperti baru saja kehilangan sesuatu yang tidak bisa aku sebutkan apakah itu wujudnya.


Kemudian Bima memegang dahiku.


" Ya ampun Ve badanmu tambah panas, kamu tidur di rumahku aja ya, biar aku bisa merawat kamu, aku janji kamu akan baik baik aja disana jangan khawatir Ve aku akan menjaga kamu.


Aku menurut saja apa kata Bima, setelah bima membatunku memasukkan baju gantiku ke dalam tas, kemudian Bima menggandeng tanganku masuk ke dalam mobilnya.


Bima kemudian menjalankan mobilnya.


Aku terus memejamkan mataku berusaha menahan pusing yang semakin menjadi jadi.


Sesampainya di rumah Bima, dia langsung membantuku tidur di kamarnya


" Kamu tiduran di sini aja dulu ya, aku mau ke rumah sakit ambil obat obatan buat kamu ya, nanti aku panggilin bibik buat nemenin kamu ".


Kemudia Bima keluar dari kamarku.


Seorang asisten rumah tangga memberiku minuman hangat dan membantuku meminumnya.


" Makasih ya Bik ?"


" Iya non sama sama ".


" Ya Alloh non panas banget badan non Vero ", katanya setelah menyentuh dahiku.


" Iya Bik pusing banget kepalaku", jawabku.


Kemudian bibik memijit kepalaku, sampai aku tertidur.


Siang hari baru aku terbangun, tapi panas badanku belum juga turun, kulihat Bima sedang duduk di kursi dekat jendela kamar ini dan sedang membaca buku.


Perlahan aku bangun.


" Mau kemana sayang kata Bima ?"


" Aku mau sholat dhuhur Bim ", jawabku.


Kemudian Bima membantuku mengantar ke kamar mandi untuk berwudhu.


Selesai wudhu aku langsung sholat.

__ADS_1


__ADS_2