
Jam istirahat kerja, Bima hanya di dalam ruangannya, rasanya malas untuk keluar makan, maka dia hanya memanggil OB untuk membelikannya makan siang.
Saat baru saja ingin menikmati makanan di depannya, tiba tiba Hpnya berbunyi.
Dilihatnya rupanya Anya yang menelfon.
" Ada apa Nya?"
" Kamu dimana Bim?" kata Anya lembut.
" Aku masih di rumah sakit Nya."
" Bim, maafin ya...aku kemarin emosi sama kamu, aku merasa cemburu dengan Vero, sepertinya kamu benar benar mencintai dia Bim."
" Sudahlah nggak usah diperpanjang, aku juga minta maaf, kemarin aku pusing sekali Nya memikirkan masalahku, aku harus menjelaskan bagaimana dengan kedua orang tuaku nanti."
" Iya Bim aku ngerti kok, kamu ada waktu nggak nanti malam?" kata Anya mencoba bijak.
" Memangnya kenapa Nya?"
" Kalau kamu ada waktu aku ingin kamu datang ke kamarku nanti jam 8 malam Bim."
" Baik Nya, nanti malam aku ke tempatmu."
" Sampai nanti malam ya Bim?"
" Ok Nya ", kemudian Bima menutup telfonnya.
Sementara Anya tersenyum penuh kemenangan karena sudah berhasil merayu Bima kembali.
Lalu Bima melanjutkan makan siangnya.
Tak lama setelah makanannya habis, hpnya kembali berdering, kali ini mama Bima yang menelfon.
" Gawat mama telfon, pasti mau tanya masalah pertunanganku dengan Ve, aku harus jelasin apa sama mama?" Bathin Bima.
Bima sedikit ragu untuk mengangkat telfonnya, namun kemudian diberanikanlah dirinya untuk mengangkat hpnya itu.
" Hallo Ma?"
" Hallo Bima, bagaimana kabarmu nak?"
" Alhamdulillah ma aku sehat."
" Ve sehat juga kan?"
Bima terdiam, dia sudah menebaknya pasti mama akan menanyakan kabar Ve juga seperti biasanya.
" Bim...?"
__ADS_1
" Kok diam? Ve baik baik aja kan?"
" Eh ehm iya ma Ve baik."
" Syukurlah, kamu nggak lagi sibuk kan?"
" Oh enggak mah, ini aku sedang istirahat."
" Ini mama mau membicarakan masalah pertunangan kalian, kemarin kamu bilang acaranya kan tanggal 21, mamah sama papa udah sepakat kalau....."
Bima sesak sekali mendengar mamanya begitu antusias membicarakan pertunangannya dengan Vero.
" Ma....", panggil Bima.
" Iya nak, kenapa?"
Bima diam tidak menjawab pertanyaan mamanya, rasanya tidak tega menyakiti hati wanita yang sudah melahirkannya itu.
" Bima ada apa? Kalian baik baik aja kan? cerita sama mama nak?"
" Mah.....aku dan Vero tidak jadi bertunangan."
" Hah....kenapa Bima??" Tanya mama Bima sedikit terkejut.
" Kami sudah putus beberapa hari yang lalu mah ", kata Bima lirih.
" Ya ampun Bima ada apa? Kenapa bisa terjadi seperti itu?"
" Anya anak itu lagi! Kenapa selalu membawa masalah besar dalam hidup kamu Bim? Kenapa kamu masih belum bisa melupakan dia? kamu tau kan dulu kamu terpuruk begitu lama gara gara dia? dan dia sudah merubah semua kepribadianmu menjadi lebih buruk! Jauhi Anya Bim! Hidupmu akan kembali hancur kalau dekat-dekat dengan dia lagi! Kamu udah menyakiti hati perempuan yang baik dan setulus Vero."
" Iya mah, Bima tau itu, Bima sudah berusaha mah, tapi sulit."
" Tidak sulit Bim, gunakan akal sehatmu. Apa kelebihan Anya sehingga membuatmu begitu tergila gila dengannya? Apakah dia cantik? Vero juga tidak kalah cantik hanya saja Vero lebih sederhana dibanding Anya yang glamor. Apakah karena Anya lebih menyenangkan dan lincah? Apakah sifat lembut Vero kepadamu tidak lebih menyenangkan Bim? Pikirkan itu, kembalilah dengan Vero nak!"
" Mah...Bima sudah berusaha meminta maaf pada Vero, tapi dia tidak memaafkan Mah. Mungkin ini terlalu menyakitkan buat dia, tapi aku paham apa yang Vero rasakan, karena aku sudah sangat keterlaluan dengannya mah."
" Ya udah Bim, kamu tenangin diri kamu dulu ya, mama nanti akan coba telfon Vero, semoga dia mau mendengar kata kata mama."
" Iya ma, makasih ya?"
" Iya nak? Ya udah kamu jaga diri baik baik ya? dan ingat jauhi Anya."
" Iya ma Bima akan berusaha ", kemudian Bima menutup telfonnya.
##########
Malam ini Bima sudah bersiap menemui Anya di hotelnya, dia berjanji akan berbicara tegas dengan Anya agar mulai hari ini tidak lagi menghubunginya, dan Bima akan mencoba melupakan Anya dalam hidupnya.
Diketuknya pintu kamar Anya.
__ADS_1
Anya segera beranjak dari tempat duduknya dan melihat penampilannya sebentar di depan cermin, dia tersenyum puas, lalu segera membukakan pintu untuk Bima
" Masuk Bim ".
Malam ini Anya hanya memakai terusan selutut warna merah tanpa lengan, kulit bahunya yang putih terlihat menawan di bawah sinar lampu kamarnya yang yang sedikit remang-remang. Yah malam ini Anya sengaja menyiapkan makan malam romantis di dalam kamarnya, untuk menyambut kedatangan Bima. Beberapa makanan sudah dipesannya tadi sebelum Bima datang, dan diletakkan di atas meja yang dihiasi sebuah lilin.
" Masuk Bim kenapa bengong? sini!" Ajak Anya sambil menarik tangan Bima masuk ke kamarnya, dan tidak lupa mengunci kamarnya kembali.
" Bim, aku menyiapkan ini semua, sebagai bentuk permintamaafan aku sama kamu kemarin."
" Nya harusnya kamu nggak perlu seperti ini kalau hanya untuk meminta maaf."
" Enggak Bim, karena moment ini amat berharga buatku Bim."
" Ayo duduklah di sini!"
Bima duduk di kursi yang telah disediakan Anya. lalu Anya mengambilkan piring dan menuangkan minuman ke dalam gelas Bima, kemudian mengambilkan nasi untuk Bima.
" Cukup Nya ", kata Bima.
" Ayo Bim, jangan sungkan sungkan. Tadi aku memesannya sendiri makanan ini khusus buat kamu, kamu suka kan?"
" Iya Nya aku suka."
Bima lupa tujuan awal tadi dia menemui Anya. Perlakuan Anya malam ini membuat Bima kembali luluh di hadapan perempuan yang sepertinya sudah amat berpengalaman ini, sehingga Bima benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa jika sudah di depannya.
" Ayo Bim duduk sini!" Kata Anya setelah mereka berdua selesai makan.
Anya menggandeng tangan Bima duduk di sofa panjang yang ada di kamar Anya. Bima menurut saja seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.
" Bim....", kata Anya sambil memegang tangan Bima.
" Kamu masih marah denganku? Aku kemarin benar- benar khawatir kamu akan membiarkan aku seorang diri di sini. Hanya kamu satu satunya orang yang kukenal di Yogya ini, jangan tinggalin aku lagi ya Bim, aku takut kehilangan kamu ", kata Anya sambil memeluk tubuh Bima.
Ada sedikit getar di dada Bima saat bersentuhan dengan kulit Anya yang halus.
" Anya rasanya aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa di depan kamu ", bathin Bima.
" Bim aku masih mencintai kamu, sangat mencintai kamu seperti dulu. Bim buatlah aku jadi pengganti Vero di hati kamu, lupakanlah dia Bim ", kata Anya sambil menatap mata Bima begitu dekat.
Bima tidak mampu berkata kata. Bima seperti tersihir oleh pesona Anya. Aroma parfum yang keluar dari tubuh Anya semakin membuatnya lupa semua yang telah dipesankan mamanya tadi siang. Akhirnya Bima menyerah, dan dalam waktu singkat mereka telah berciuman. Bima telah kalah oleh rayuan Anya yang mampu menghipnotis alam sadarnya.
Bima tidak ingat lagi, bahwa Dia sudah benar-benar dikuasai oleh wanita yang pernah menghianatinya itu hingga dia terpuruk dalam waktu yang lama.
Tak lama Bima kemudian pulang, Anya mencium pipi Bima di depan pintu. Bima hanya tersenyum membalas perlakuan Anya barusan.
" Hati hati di jalan Ya Bim ", Bima menganggukkan kepalanya, kemudian segera berlalu dari hadapan Anya.
Sepeninggal Bima, Anya tertawa kegirangan.
__ADS_1
" Hahaha Bima, Bima akhirnya kamu jatuh ke pelukanku lagi. Jangan sebut Anya jika tidak bisa membuatmu kembali padaku. Vero maafin aku sayaaanggg, aku rebut kembali milikku yang telah lama aku buang, mulai hari ini silahkan meratapi nasib kamu yang mengenaskan itu Vero hahahaha....!!!"