
Malam minggu setelah sholat magrib Bima dan Vero menemui desainer sahabat Bima, untuk mencoba baju di acara pertunangan mereka nanti.
" Bagaimana Ve menurut kamu cocok nggak?"
" Cocok Bim, cuma celana bawahnya terlalu lebar Bim."
Kemudian Bima memanggil temannya.
" Lin, ini celananya bagian bawah tolong dikecilin dikit ya! Soalnya terlalu lebar."
" Ok siap nanti aku kerjakan Bim."
Setelah itu giliran Vero yang mencoba bajunya.
Bima sedikit gelisah karena Vero sepertinya masih mengobrol dengan temannya itu, sementara Anya sudah menelfonnya terus.
" Bim siapa sih? Angkat dong telfonnya nggak papa kok ", kata Vero.
" Ya udah sebentar ya sayang ", kata Bima.
Kemudian Bima beranjak dari duduknya, karena tidak mau Vero menaruh curiga padanya, maka dia hanya berdiri di dekat pintu tidak jauh dari Vero.
Saat diangkat terdengar Anya marah marah di telfon.
" Lama banget sih Bim? Aku udah siap dari tadi nih, jadi apa nggak? kalau kamu bohong aku akan telfon hp Vero, karena aku memiliki nomornya."
Kata Anya mengancamnya.
Bima terkejut dengan kalimat Anya.
" Pasti dia sudah mendapatkan nomor hp Vero dari hpku ", bathin Bima.
" Ohhh iya pak, baik, saya kesana sekarang ", kata Bima seolah menjawab telfon dari seorang laki laki, agar Vero tidak mencurigainya.
" Sayang udah selesai belum?"
" Belum Bim, ini masih banyak yang harus diperbaiki, kenapa Bim?"
" Ini tadi rekanku telfon, dia minta aku segera datang ke rumah sakit, karena ada operasi mendadak."
" Oh ya sudah Bim, pergilah nanti aku bisa naik taksi kok."
" Bener sayang?"
" Iya bener aku kan biasa pergi sendiri. Pergilah! ada sebuah nyawa yang butuh pertolongan kamu."
jawab Vero menenangkan Bima.
" Makasih ya sayang ", kata Bima sambil mencium kedua tangan Vero.
" Hati hati ya ", kata Bima lagi.
Vero mengangguk sambil tersenyum.
" Lin sorry aku tinggal dulu ya? Titip calon istriku ya?"
" Ok tenang aja Bim."
Kemudian Bima buru buru pergi meninggalkan Vero sendirian.
" Maafin aku Ve, maafin aku ", kata Bima dalam hati.
Bima menambah kecepatan mobilnya, jalanan sedikit macet, apalagi ini malam minggu. Anya terus menelfon hpnya.
" Iya Nya, aku masih di jalan, sebentar lagi sampai."
Sampai di hotel, Anya terlihat sudah berdiri di depan hotel.
" Lama banget sih kamu?" kata Anya ketus.
__ADS_1
" Aku sedang pergi dengan Vero Nya fitting baju di tempat temanku."
" Hhhhhhh menyebalkan."
" Kamu mau aku anterin kemana?"
" Terserah, yang penting aku mau makan ", sahut Anya ketus.
" Sekarang Vero dimana? kamu udah antar ke kosnya?"
" Belumlah, gara-gara kamu telfon tadi aku tinggalin dia sendiri, dan harus pulang naik taksi."
" Baguslah..."
" Kok bagus sih Nya?"
" Ya bagus, karena kamu kan udah janji sama aku."
Bima menarik nafas panjang.
" Ternyata Anya masih saja egois seperti dulu, tapi kenapa aku masih saja tetap menuruti kemauan Anya?" Tanya Bima dalam hati.
Kemudian Bima menghentikan mobilnya di sebuah restoran Jepang kesukaan Anya.
" Kamu pasti masih suka makan yang seperti ini kan Nya?"
Anya langsung gembira.
" Kamu masih ingat hobbyku Bim?"
Bima hanya tersenyum.
Kemudian Anya dan Bima memilih tempat duduk, lalu segera memesan menu makanan.
Sementara itu Vero baru saja keluar dari dalam rumah teman Bima.
Lalu Vero memesan ojeg dari aplikasi di hpnya.
Tak berapa lama ojeg yang dipesannya sudah datang .
" Pak lewat dalem aja ya, kalau lewat luar pasti macet banget ", kata Vero.
" Baik mbak ", jawab pengemudi ojeg.
Kemudian motor mulai meluncur menuju kos Vero.
Namun saat melalui sebuah restoran jepang, Anya melihat mobil Bima parkir di depan restoran itu, dia hafal sekali plat mobil Bima
" Bukankah Bima tadi bilang mau ke rumah sakit? kok dia ada di sini?" Tanya Vero dalam hati.
" Stop pak berhenti sini aja pak!!"
" Lho mbak kan tujuannya masih jauh?"
" Udah nggak apa apa pak ini uangnya." Kata Vero sambil membayar sejumlah uang yang telah disepakati tadi.
Vero segera masuk ke dalam restoran itu.
Dia menengok ke kiri dan ke kanan, tiba tiba dia melihat seseorang mirip dengan Bima sedang duduk berhadap hadapan dengan seorang wanita, Vero berjalan sambil menutupi wajahnya dengan masker yang dipakainya tadi saat naik ojeg.
" Benar itu Bima dan wanita itu Anya!" Kata Vero dalam hati.
Namun sepertinya Bima dan Anya tidak menyadari kedatangannya, padahal Vero duduk membelakangi Bima.
" Bim jujurlah dengan diri kamu sendiri, kamu masih mencintaiku kan ?" tanya Anya sambil memegang tangan Bima.
" Nya aku.....??"
" Kamu itu nggak bisa membohongi aku Bim, aku tau kamu. Bim...aku mau kita seperti dulu lagi, kita mulai semuanya dari awal Bim."
__ADS_1
" Tapi Nya aku akan bertunangan dengan Vero."
" Baru akan Bim, semuanya belum terjadi, kamu masih bisa membatalkannya, itu hak kamu Bim untuk memilih wanita yang lebih baik dari Vero."
" Bim benar kan kamu masih mencintaiku?" tanya Anya.
" Iya Nya aku masih mencintaimu...tapi.....!!!!"
Tiba tiba Vero berdiri dan menghampiri Bima, Vero menatap tajam Bima dengan matanya yang merah karena menahan amarah, sedari tadi mendengarkan pembicaraan Bima dan Anya.
" Vero kamu.....???" Bima kaget dan langsung berdiri dari kursinya.
" Bim...kamu nggak perlu repot-repot memutuskan pertunangan kita, karena mulai detik ini juga, aku yang akan memutuskan kamu Bim."
Kemudian Vero melemparkan kalung yang sedari tadi dia lepaskan.
" Ini...aku dulu bilang akan menjaganya, maaf aku kembalikan lagi padamu."
" Ve.. Ve...kamu salah paham Ve." Sambil mengambil kalung yang dilemparkan Vero tadi.
" Bima, aku tidak bodoh untuk bisa mencerna kata kata kamu! Aku cukup jelas mendengarkan obrolan kalian dari tadi, dan kamu Anya! Silahkan kamu ambil lagi laki-laki yang pernah kamu buang dulu, dan semoga kamu tidak dicampakkan lagi oleh wanita ini Bima ", kata Vero, kemudian langsung berlari meninggalkan mereka berdua.
" Ve tunggu...!!" Teriak Bima mengejar Vero.
" Vero tunggu aku Ve! Aku akan jelaskan sama kamu ", kata Bima sambil menarik tangan Vero.
Air mata Vero jatuh tanpa bisa dibendung lagi.
Vero langsung menepiskan tangannya.
" Lepaskan tanganku, aku paling benci dikhianati Bima, kamu tau itu kan?"
" Ya aku tau Ve, tapi ini harus kita selesaikan dengan kepala dingin Ve!"
" Semuanya udah selesai Bim, aku dan kamu selesai, cukup Bim! Terimakasih untuk semuanya, perhatian kamu, kasih sayang kamu dan pengkhianatan kamu Dokter Bima!!"
" Ve maafin aku Ve maafin aku...!!"
" Harus berapa kali lagi aku maafin kamu Bim? sampai kapan Bim ? Sampai kamu benar-benar tertawa melihat kebodohanku? Benar begitu Bim?"
" Enggak Ve, aku mohon maafin aku!!"
Tiba tiba Bima memeluk tubuh Vero.
" Jangan tinggalin aku Ve, aku mohon jangan tinggalin aku!"
" Lepasin aku Bim! lepasin!"
" Nggak, aku nggak akan lepasin kamu!!"
" Lepasin kataku!!" Kemudian Vero berontak sekuatnya, dan setelah berhasil lepas Vero langsung menampar pipi Bima.
" Itu pembalasanku buat kamu Bim, tapi jangan khawatir karena sakitnya akan segera hilang, tapi sakitku mungkin tidak akan pernah hilang Bim. Kamu dan Anya memang cocok untuk bersatu, karena kalian sama sama penghianat!!" Teriak Vero, kemudian Vero segera berlari meninggalkan Bima.
" Vero jangan tinggalin aku Ve...!! Veroooo...!!" Teriak Bima.
Bima sampai bersimpuh di pinggir trotoar dan meneriakan nama Vero, Bima tidak perduli banyak mata memandangnya iba.
" Vero....", panggil Bima pelan.
Tiba-tiba Anya datang menghampiri Bima.
" Udah Bim ayo kita pulang ", ajak Anya.
Bima segera tersadar.
" Nggak Nya aku harus menyusul Vero ", kata Bima dan kemudian bangkit lalu berlari meninggalkan Anya sendirian.
Ganti Anya yang mengumpat ngumpat kesal karena ditinggal pergi oleh Bima.
__ADS_1