Lelaki Imamku

Lelaki Imamku
Pertemuan Yang Tak Disengaja


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Hubungan Elmo dan Vero semakin baik, Vero sudah menguasai semua pelajaran yang diberikan oleh Elmo berkaitan dengan usaha yang mereka urus bersama. Pertunanganpun sudah dilaksanakan secara resmi di rumah orang tua Vero bulan lalu, persiapkan mereka sudah mencapai 50%, dan akan segera melaksanakan akad nikah 2 bulan lagi.


Sementara itu Bima mengalami perubahan yang luar biasa setelah kehilangan Vero. Walaupun sempat mengalami kehilangan yang amat sangat, namun semua itu dijadikan pelajaran dan merubah sifatnya untuk menjadi lebih baik lagi. Bima semakin religius, dan sering mengikuti kajian kajian Islami di lingkungan kerjanya dan sekitarnya. Karirnyapun semakin melesat, dan cita citanya untuk memiliki klinik sendiri hampir selesai 90 %. Namun semua itu ternyata tidak sesukses kehidupan asmaranya. Dia tetap bertahan dengan kesendiriannya, karena ternyata hatinya masih belum bisa berpaling dari Vero, orang yang dulu sempat disia siakannya demi wanita lain.


Siang ini Vero pergi ke toko kain di kawasan Malioboro, dia ingin membeli beberapa bahan kebaya untuk seragam keluarganya di Sumatra di acara pernikahannya nanti.


Vero asyik memilih milih sambil menelfon Elmo calon suaminya, untuk meminta pendapatnya.


" El...kamu masih sibuk nggak?"


" Nggak sayang, ini aku masih memeriksa beberapa berkas saja, apa kamu sudah dapat bahannya?"


" Belum El, makanya aku mau minta pendapatmu ini, bahannya bagus bagus banget, tapi aku bingung warnanya."


" Kalau soal warna udah terserah kamu aja, mana yang kamu suka, aku bagian bendaharanya aja sayang ", kata Elmo sambil bercanda.


" Iiihhh kamu tuh dimintain pendapat bercanda melulu."


" Lho beneran aku nggak bakalan protes kok, yang penting pantas buat keluargamu, jangan terlalu mikir soal harga ya?"


" Beneran El? Kamu kan udah ngeluarin biaya banyak buat pernikahan kita nanti? Belum lagi nanti kamu harus menyewa hotel lagi untuk rombonganmu menginap di Sumatra."


" Kamu tuh nggak perlu mikirin itu, itu udah aku persiapkan semuanya, jangan khawatir. Apa perlu aku kasih tau saldo nominal tabunganku ke kamu nih?"


" Hehehe nggak perlu kok, aku percaya. Cuma aku nggak enak aja kalau kamu harus mengeluarkan uang besar untuk biaya seragam keluargaku."


" Vero...keluargamu itu nantinya akan jadi keluargaku juga, jadi kamu nggak boleh sungkan ya?"


" Iya sayaanggg makasih ya?"


" Iyaaa...Ya udah pilih sesuka kamu ya ", jawab Elmo lembut.


Kemudian Telfon ditutup oleh Vero.


Dan Vero kembali asyik memilih milih kembali.


Setelah selesai memilih beberapa bahan, Vero segera memberikannya pada pegawai toko dan kemudian membayarnya. Setelah itu Vero keluar dari toko tersebut, dengan membawa beberapa kantong besar berisi kain kebaya dan beberapa bahan lainnya.


Dia terus berjalan menuju parkiran, kemudian berhenti sejenak untuk menelfon supir Elmo yang mengantarnya tadi. Sebenarnya Vero ingin mengendarai motor saja, namun Elmo tidak mengijinkannya, dengan alasan akan sulit membawa barang belanjaan sebanyak itu dengan sepeda motor. Nafas Vero turun naik, benar kata Elmo sangat berat membawa belanjaan ini, untung tak berapa lama supir Elmo segera datang menjemputnya.


" Pak tolong bawa belanjaan ini ke mobil ya, tunggu sebentar ya? masih ada beberapa barang yang ingin saya beli."


" Baik mbak ", jawab supir Elmo.


Kemudian Vero berjalan kembali menuju ke mall, rencananya dia ingin membelikan sebuah dasi untuk diberikannya kepada kekasihnya itu.


Vero kemudian melewati sebuah pintu masuk dan segera naik eskalator untuk menuju lantai atas. Vero terus berjalan pelan, sambil sesekali melihat lihat barang barang yang dipajang di sekelilingnya.


Vero masuk ke bagian baju cowok, kemudian dia meminta petunjuk kepada penjaga yang ada di dekatnya untuk memberitahukan letak barang yang dicarinya. Setelah diberitahu penjaga itu, Vero langsung menuju tempat yang disebut tadi.


Tak lama kemudian dia menemukan benda yang dicarinya dari tadi.

__ADS_1


Vero terus mengamati dasi dasi di depannya, bermacam macam warna dan berbagai macam harga, mulai dari yang paling murah, sampai yang paling mahal. Vero terus asyik memilih milih, dan tanpa sadar ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya.


" Vero? Apakah dia Vero? Apakah dia sekarang sudah berjilbab?" Tanya seorang pria pada diri sendiri.


Dia terus mendekati posisi Vero, untuk melihatnya lebih jelas lagi.


" Ya Alloh benar itu Vero, dia lebih terlihat anggun dan cantik. Vero sudah hampir dua tahun aku tidak melihatmu, dan perubahanmu ini membuatku hampir tidak mengenalimu."


Lalu dengan sekuat hati pria itu langsung mendekati Vero dan memanggilnya.


" Ve....", panggilnya pelan.


Vero amat terkejut dengan panggilan itu. Suara itu seperti tidak asing di telinganya, namun Vero setengah tidak percaya, apa benar pria itu yang dia maksud.


" Ve..." Dia mengulangi panggilannya.


Setelah dirasa benar benar yakin dengan suara laki laki yang dikenalnya itu, Vero segera memalingkan muka ke arah suara tersebut.


" Bima...?" Panggilnya pelan.


" Iya Ve, bagaimana kabar kamu?"


Tanya Bima.


" Alhamdulillah baik Bim, kamu?"


" Aku baik Ve."


Ada getar hebat dalam diri Bima, setelah 2 tahun terakhir ini tidak pernah bertemu Vero, ternyata rasa itu masih ada dan tidak pernah berubah.


" Kebetulan tadi aku habis ada rapat di luar, dan pulangnya mampir sebentar kesini."


" Kamu sendiri apa udah nggak kerja lagi?"


" Aku masih kerja Bim, tapi bukan di tempat itu lagi, aku sekarang bersama sama Elmo mengurus perusahaannya."


" Perusahaan? jadi dia seorang pengusaha Ve?"


" Iya, dan aku baru tau itu setelah dia melamarku, karena selama kita pacaran dia selalu merahasiakannya padaku."


Bima diam, ternyata laki laki yang dulu dia anggap sebelah mata, justru sesosok orang hebat yang mampu menyembunyikan jati dirinya di hadapan orang lain, tidak seperti dirinya dulu yang sempat sombong dengan titel dan kepintaran yang dimilikinya.


" Kamu berubah sekarang Ve?"


" Aku masih tetap seperti yang dulu Bim, cuma penampilanku saja yang berubah."


" Ya aku tau...tidak ada yang perlu dirubah dalam diri kamu, karena kamu itu sudah cukup baik Ve."


" Cuma orang lain yang bisa menilai diri kita Bim."


" Bagaimana kabar orang tuamu?"

__ADS_1


" Alhamdulillah baik Ve."


" Ya aku tidak pernah menelfonnya lagi semenjak kita putus, karena aku takut jika menelfon mereka hanya menguak luka lama saja, padahal aku sangat sayang dan rindu dengan mereka." Kata Vero.


" Ya Ve, mereka juga sering menanyakanmu. Adik adikku juga, mamah yang paling gencar ingin selalu menelfonmu tapi aku larang, karena aku takut kamu belum bisa melupakan sakit hatimu denganku."


" Sudahlah Bim nggak usah dibahas, itu kan cuma masa lalu kita, dan aku lihat ada sedikit perubahan dalam diri kamu?" Vero memperhatikan tampilan Bima yang sedikit berubah, dia memelihara jenggotnya, dan baju koko yang dikenakannya.


" Ah aku hanya sedang belajar memperbaiki diri saja Ve, seperti kata kamu dulu, jangan terlalu sibuk memperbaiki fisik kita saja, tapi perbaiki hati kita juga karena itu lebih penting."


" Kamu masih ingat Bim?" Kata Vero sambil tersenyum.


" Ya...aku masih ingat semuanya tentang kamu Ve, dan aku nggak akan mungkin melupakannya."


Vero menunduk sambil membuang rasa groginya. Walaupun Vero sudah melupakannya dan mengganti posisinya dengan Elmo di hatinya, namun kenangan tentang Bima tentu tidak bisa hilang begitu saja, apalagi sosoknya ada di depannya saat ini. Dan dia hanya perlu menata perasaannya saja, agar tidak hanyut dalam kenangan masa lalu itu.


" Ve?" Panggil Bima.


" Iya ", jawab Vero sambil mengangkat wajahnya.


" Bagaimana hubungan kamu dengan Elmo?"


" Alhamdulillah hubungan kami baik baik saja, baru bulan kemarin kami mengadakan pertunangan, dan insyaalloh 2 bulan lagi kami akan menikah Bim."


Ada perasaan sakit di dada Bima mendengar kabar Elmo akan segera menikahi Vero.


" Selamat ya Ve, seandainya aku tidak membuat kesalahan waktu itu..."


" Udahlah Bim tolong jangan dibahas lagi ya?"


" Ternyata benar ya waktu di alun alun itu, kamu berhasil melewatinya sedangkan aku tidak. Ternyata kamu akan segera berbahagia dengan calon suami kamu, sedangkan aku masih tetap seperti ini ", kata Bima pelan.


" Jangan percaya tahayul Bim, mungkin itu hanya kebetulan saja."


" Ya...kebetulan yang menjadi nyata."


" Anya bagaimana Bim?" Tanya Vero berusaha mengalihkan pembicaraan.


" Setelah aku tinggalin itu, aku nggak pernah berhubungan lagi dengannya, karena aku langsung mengganti nomor hpku. Kabar terakhir yang aku terima dari temanku di Surabaya, dia rujuk kembali dengan suaminya, tapi kali ini posisi dia menjadi istri kedua."


" Rujuk kembali? bukankah dia bilang dulu suaminya menghianatinya?"


" Ya benar, tapi mana mungkin dia bisa benar benar melepaskan mantan suaminya yang kaya raya itu Ve, dia itu rela mengorbankan harga dirinya demi sebuah harta."


" Yah semoga kali ini dia benar benar bahagia dan tidak akan mengganggumu lagi."


Sesaat kemudian Vero melihat arlojinya, dia ingat janji dengan Elmo untuk menjemputnya pulang.


" Eh maaf Bim, aku duluan ya, sebentar lagi Elmo pulang, dan aku janji akan menjemputnya."


" Oh silahkan Ve, salam buat Elmo ya, hati hati di jalan."

__ADS_1


Kemudian Vero segera berlalu dari hadapan Bima, Bima terus menatap kepergian Vero hingga hilang dari pandangannya.


" Vero kamu benar benar sudah melupakanku, semoga kamu bahagia dengan Elmo Ve ", bisik Bima, kemudian menarik nafas panjang, dan membatalkan niatnya untuk membeli sebuah kemeja, karena moodnya tiba tiba saja hilang.


__ADS_2