
Selesai sholat Magrib kami langsung pergi makan malam.
" Makan di lesehan aja ya sekali kali ?"
Aku menatap Bima tak percaya.
" Biasanya kan dia nggak mau makan di tempat seperti itu, apalagi letaknya di pinggir jalan, kok ini dia ngajak aku makan di sana ".
" Beneran Bim ?"
" Ya iyalah sayang emang aku bohongan ?"
" Tapi nyari yang tempatnya enak ya ?"
" Ok deh terserah kamu ".
Kami terus menyusuri jalan, dan kemudian Bima menghentikan mobilnya di sebuah warung lesehan yang memiliki parkiran luas, tempatnya terlihat bersih dan menunya sepertinya lengkap.
" Makan apa Ve ?"
" Bebek goreng aja Bim ".
" Minumnya ?"
" Es jeruk aja ".
Kemudian kami memilih tempat duduk di pojokan.
" Biasanya kamu nggak pernah mau makan di tempat kayak gini Bim ?"
" Ya sekarang kan aku harus mulai belajar untuk memikirkan kemauan kamu, bukan kemauan aku sendiri lagi Ve ".
" Ya ya ya baguslah Bim mulai belajar nggak egois ".
Terlihat segerombolan pengamen mendekati kami, dan menyanyikan sebuah lagu Yogyakarta milik Katon Bagaskara, aku larut dalam alunan musik mereka. Untungnya alat musik mereka cukup lengkap, dan suara penyanyinya lumayan bagus, jadi tidak merusak suasana makan kami, terlebih merusak suasana mood Bima makan di tempat seperti ini.
Selesai menyanyi kuberikan selembar uang 5000an dan kemudian mereka beranjak pergi.
" Inilah Bim yang aku kangen suasana makan di pinggiran, terkadang kita dideketin pengamen yang bagus kayak mereka, terkadang juga hancur bikin gendang telinga kita tuli, dan terkadang ada yang lucu bikin kita tertawa ".
" Pantesan kamu seneng banget ya makan di tempat beginian ".
" Sebenernya kalau kita bawa enjoy aja, nggak masalah sih Bim ".
" Tapi kan terkadang tempatnya kotor banyak debu Ve, itu kan bawa penyakit ".
" Ya itu mungkin salah satu faktor, debu itu bisa bawa penyakit. Tapi kamu jangan lupa yang bawa penyakit terbesar itu bukan debu Bim, tapi pikiran dan hati kita, kalau pikiran dan hati kita kotor, itu yang buat penyakit berdatangan. Tuh buktinya orang gila jarang yang sakit kan, padahal makanannya dari tempat sampah, kenapa coba ? Orang gila hati sama pikirannya bersih, nggak banyak kemauan ".
" Iya bu ustadzah saya paham ".
" Ihhh dibilangin kok malah ngeledek sih ".
" Nggak ngeledek sayang, iya omonganmu itu bener. Maaf ya selama ini aku tuh egois banget cuma mikirin kemauan sendiri ".
" Iya Bim, maafin aku juga nggak bisa sabar sama kamu ".
" Iya Ve kita perbaiki semuanya dari awal ya ?"
Akupun mengangguk. Tak berapa lama pesanan kami datang.
" Habis ini kemana Ve ?"
" Ke alun alun kidul yuk ?"
" Kita belum pernah kesana kan ?"
" Ngapain disana ?"
" Ya nongkrong Bim, asyik lho...kamu tuh jangan terlalu serius jalanin hidup Bim, nyantai aja, waktunya kerja ya kerja waktunya nongkrong ya nongkrong jangan terlalu tegang nanti cepet tua lho "
" Emang kalau cepet tua kenapa ?"
" Kalau cepet tua kan keriput, rambutnya putih, terus jelek, akunya masih cantik ".
" Terus kalau masih cantik ??"
" Ya tar aku nyari yang ganteng lagi hahaha ".
" Hoooo mulai berani genit ya ".
" Makanya jangan keburu tua ".
" Ya nanti dikasih formalin ya biar muda terus ".
__ADS_1
Selesai makan kami langsung menuju alun alun.
Bima memarkirkan mobilnya, dan kemudian kami turun.
" Kamu sering kesini Ve ?" sambil menggandeng tanganku.
" Dulu jaman kuliah sering banget sama temen temen ku ".
" Cowok apa cewek ?"
" Cowok ceweklah ".
" Ngapain ?"
" Ya cuma nongkrong aja sambil makan jagung bakar, duduk duduk disini ngeliatin orang lewat ".
" Seru pasti ya ?"
" Seru bangetlah Bim ".
" Terus temen temen kuliahmu pada kemana ?"
" Udah pisah semua Bim, kebanyakan temen yang akrab sama aku itu pendatang, jadi ya udah pulang ke daerahnya, yang asli sini sih masih banyak cuma ya nggak terlalu akrab ".
" Emang kamu selama di sini nggak pernah nongkrong di alun alun Bim ? sebelum pacaran sama aku lho ?"
" Paling paling cuma lewat Ve, tau sendiri kan gimana kerjaku, kalau libur paling paling cuma diem di rumah , temen kerjaku kan banyak yang udah berkeluarga Ve, paling nongkrongnya ya di cafe gitu ".
" Eh kita nyoba itu yuk ?"
Sambil narik tangan Bima.
" Kita nyoba jalan di tengah pohon ini ya ? katanya sih kalau bisa ngelewatin di tengah pohon ini sambil merem, keinginan kita bisa terkabul lho Bim ".
" Ahhh tahayul ".
" Emang tahayul tapi buat seneng seneng aja yuk ".
" Aku nyoba duluan ya, kamu ngikutin di belakangku nanti gantian, tapi jangan ditinggalin iya ".
" Iya tenang aja ".
Kemudian aku memejamkan mata dan mulai konsentrasi berjalan melewati 2 pohon di depanku.
" Aku di sini Ve, ayo jalan lagi nggak boleh ngintip ya ?"
" masih jauh nggak ?"
" Nggak ? udah cepetan jalan ".
Kemudian kulanjutkan langkahku.
" Bim udah nyampe belum ?"
" Belum sayang, ayo jalan lagi kalau udah nyampe aku bilangin ".
Aku terus berjalan.
" Buka matanya Ve udah nyampe ".
Aku mengerjap ngerjapkan mataku dan kupandangi sekelilingku.
" Yeeeee berhasil....", kataku gembira.
" Emang kamu tadi minta apa Ve ?"
" Aku minta nanti setelah menikah hidupku bahagia, suamiku sayang sama aku ".
" Emang suamimu siapa ?"
" Waduhhh iya aku lupa nyebutin tadi sama siapa ?"
" Huuuu oon do'a kok nanggung ", sambil mengacak ngacak rambutku.
" Ahhh biarin yang penting aku berhasil lewat sini, ayo gantian kamu sekarang Bim ".
Bima menurut dan kami berbalik arah ke tempat aku star pertama tadi.
" Ayo udah tutup mata kamu Bim, nggak boleh ngintip lho ".
" Iya bawel ".
Kemudia Bima mulai melangkahkan kakinya.
__ADS_1
" Ve masih jauh nggak ?"
" Ihhhh barusan jalan kok nanya masih jauh nggak, udah jalan terus ".
Bima kembali melanjutkan langkahnya.
" Ve...?"
" Iya terus jalan hahaha ".
" Kok ketawa sih jangan ngerjain ya ?"
" Ngerjain gimana ? aku kan cuma ngikuti di belakang kamu Bim ".
" Hahaha....", Ve kembali tertawa.
" Ve kenapa sih ?"
" Hahaha....", Ve semakin tertawa terpingkal pingkal.
" Kenapa sih Ve, udah ah kamu ngerjain aku ya ".
Kemudian Bima membuka kedua matanya dan memutar badan melihat sekelilingnya.
Dilihatnya Ve tertawa terbahak bahak di depannya.
" Lho Ve aku kok bisa nyampe sini ? kok jalanku berbalik arah gini Ve ?"
" Hahaha bukan cuma kamu Bim, tuh lihat orang itu ". Sambil menunjuk 2 orang yang sedang tertawa terbahak bahak juga karena jalannya salah arah.
" Ahhhh pasti kamu ngerjain aku nih ".
" Ngarjain apanya ? dari tadi lho aku di belakangmu diem aja ".
" Ahhhh udah ah duduk di sana aja yuk", kata Bima sambil merengut kesal.
" Hahaha Ve " tetap tertawa terbahak bahak.
Kemudian aku mengikuti langkah Bima di belakangnya dan duduk di pinggir alun alun.
" Kok merengut kesal gitu ?"
" Iyalah kesel banget ?"
" Emang kenapa ?"
" Tau nggak aku tadi minta agar aku bisa menikah dengan kamu secepatnya, lancar dan nggak ada halangan apapun, nggak taunya malah salah jalan ", masih dengan mukanya yang bete.
" Hahaha Bima Bima, kamu sendiri yang bilang kalau ini cuma tahayul, jadi jangan dipercaya, ayo dong ketawa ".
" Hhhhh....", Bima menarik nafas kesal.
" Bim, yang jalanin hubungan itu kita, jadi kita yang jaga hubungan ini biar lancar ke depannya ".
" Yang penting kita saling percaya Bim ".
" Janji ya kita saling menjaga ya Ve ".
" Iya Bim yang penting kamu tetep mau berusaha berubah Bim ".
" Insyaalloh Ve ".
Kemudian Bima mengajakku pulang karena hari sudah larut malam.
" Ve besok aku nggak kesini ya ? besok aku jadwal operasi sore ".
" Iya Bim nggak papa ".
" Besok aku telfon ya sayang ".
Aku mengangguk, kemudian Bima mencium keningku.
" Langsung tidur ya sayang, jangan kebanyakan begadang ".
" Iya...paling paling tidurnya pagi hehehe ".
" Hei bandel ya ", sambil menarik hidungku.
" I love you Ve ".
" I love you Dokter Bima ".
Kemudian turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke kosku.
__ADS_1