
Hari pernikahan hampir tiba, dan Vero sudah melupakan pertemuannya dengan Bima karena waktunya selalu disibukkan oleh persiapan pernikahannya. Mulai dari fitting baju, memesan souvenir, memesan undangan, hingga membuat foto prawedding. Semua itu sangat menguras pikirannya. Sebenarnya Elmo sudah menyuruhnya untuk menyerahkannya pada even organizer, tapi Vero menolaknya, Vero ingin dia sendiri yang menentukkan semua bahan yang berkaitan dengan hari spesialnya nanti. Dia sibuk sekali, mulai dari menelfon semua pihak yang bersedia untuk menyediakan segala perlengkapan yang dibutuhkan di pestanya nanti, sampai menghubungi saudara yang dipercaya untuk mengurusi semua keperluan di rumah nanti.
" Sayaangg...", panggil Elmo saat sedang memperhatikan Vero begitu sibuk memilih foto prawedding yang akan di pajang di pestanya nanti.
" Hmmm.....", jawab Vero singkat tanpa beralih dari foto foto yang dijajarnya di lantai kosnya.
" Serius banget sih....masak aku dicuekin, lihat nih makanannya keburu nggak enak lho ", sambil menyodorkan makanan di piring yang diambilkan Elmo sedari tadi tapi belum sedikitpun disentuh Vero.
" Iya...nanti pasti aku makan, sebentar ya aku memilih satu foto lagi ", jawab Vero.
" Ya udah aku suapin ya ", kata Elmo sambil menyodorkan satu sendok penuh makanan ke mulut Vero.
" Ayo buka mulut kamu ", pinta Elmo.
Vero menurut dan suapan pertama sudah berada di mulut Vero. Elmo terus menyuapi Vero dengan sabar hingga makanan itu hampir habis.
Elmo tersenyum melihat calon istrinya yang sedikit manja ini, namun sangat mandiri. Dia terus memandangi Vero sambil tersenyum. Vero tidak sadar diperhatikan Elmo sedari tadi.
" Huaaaaaa....akhirnya selesai juga El, aku udah pilih foto foto kita yang paling bagus, buat di pajang di pernikahan nanti, aku udah pilih 4 buah foto El ", Kata Vero.
Elmo diam saja, dan masih tetap tersenyum memperhatikan tingkah Vero
" El kok diam aja sih diajak ngomong ", kata Vero sambil menengok ke arah Elmo, ternyata yang diajak berbicara sedang memperhatikannya sambil senyum senyum sendiri.
" Ihhh Elmo kok ngeliatin aku sambil senyum senyum gitu sih?"
__ADS_1
" Lucu lihat kamu serius gitu, lihat nih nasi di piring sampai habispun, kamu masih serius sama pekerjaan itu."
" Aku kan pengen yang terbaik buat pesta kita nanti El."
" Iya sayang aku tau kok, aku cuma nggak mau kamu tuh terlalu memforsir tenaga kamu, aku takut nanti kamu bisa jatuh sakit ", kata Elmo.
" Doain aku aja, biar sehat terus sayangg ", kata Vero manja.
" Ve....aku tuh bahagiaaa banget, sebentar lagi kita akan menikah. Aku nggak pernah menyangka bahwa aku itu bisa memiliki kamu, setelah kamu sempat gagal bertunangan dengan Bima."
" Aku juga nggak menyangka mendapatkan seorang calon suami konglomerat muda, ganteng lagi kayak kamu El. Jangankan berharap jadi istri kamu, membayangkan untuk jadi pacar kamu aja dulu aku takut, karena aku pikir dulu kamu cuma menganggapku teman biasa El."
" Ve, aku mau kamu janji akan selalu setia denganku ya, sampai kapanpun, sampai maut yang memisahkan kita berdua?"
Sementara itu Bima amat gelisah di dalam kamarnya, dia tau mungkin dalam hitungan hari Vero akan segera menikah dengan Elmo, walaupun dia tidak pernah tau kapan tanggal tepatnya. Hatinya tiba tiba amat sedih, setelah perjumpaannya terakhir di mall itu, Bima semakin tidak bisa melupakan sosok Vero.
Akhirnya Bima menelfon ibunya.
" Assalamualaikum Bim."
" Wa'alaikum salam mah."
" Sehat kamu nak?"
" Iya mah Bima sehat, mama sehat juga kan?"
__ADS_1
" Iya Bim mamah sehat kok."
" Tumben kamu telfon malam malam? Biasanya siang kalau nggak sore Bim."
Bima diam saja, ada kegelisahan dalam hatinya yang tidak bisa diungkapkannya, dan dia bingung harus berbicara dengan siapa.
" Bima? kamu baik baik saja kan nak?"
" Mah Vero sebentar lagi akan menikah ", tiba tiba kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Bima tanpa disadarinya.
" Bima kamu masih memikirkan Vero nak?"
" Iya mah, aku masih belum bisa melupakannya."
" Bima...mamah tau rasa bersalah kamu terhadap Vero pasti besar, begitu juga rasa sayang kamu, sehingga sampai hari inipun kamu masih belum dapat melupakannya. Tapi hidup harus terus berjalan Bima, kamu harus melupakannya, dan harus mencoba mencari penggantinya. Bukankah Vero juga sudah mendapat pengganti kamu?"
" Iya mah Bima sudah coba, tapi amat sulit, seperti sulitnya saat Bima melupakan Anya, dan ini lebih sakit mah."
" Bima percayalah sama mama, suatu hari Alloh pasti mengirimkan pendamping terbaik buat kamu, berikhtiarlah dan jangan berhenti berdoa."
" Iya mah, terimakasih, doakan Bima terus ya mah?"
" Iya nak mamah akan selalu mendoakan yang terbaik buat kamu, sabar ya nak, jangan siksa dirimu dengan memikirkan Vero terus."
" Iya mah insyaalloh ", kemudian Bima menutup telfonnya, dan membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil menerawangkan wajahnya ke langit langit kamar.
__ADS_1