
Selesai mandi aku menghias wajahku di cermin, kusisir rambutku yang basah dan memakai bedak tipis, serta sedikit lipstik. Kemudian aku keluar menuju tempat yang disebutkan adik adik Bima tadi. Aku celingak celinguk berjalan ke arah belakang.
" Dimana kolam renangnya ? " bathinku. Aku terus berjalan ke belakang, di ruang makan aku bertemu 2 orang wanita, sepertinya mereka asisten rumah tangga di sini.
" Eh mbak Vero ya ?" tanya salah seorang dari mereka.
" Iya mbak ", kataku sambil tersenyum kemudian menyalami mereka berdua.
" Mas Bima di depan kolam renang mbak, ayo saya anterin ", kata salah satunya.
" Iya makasih ", sahutku sembari mengikuti di belakangnya.
" Itu mbak jalan aja ke sana, mas Bima ada disana ".
Kudengar samar samar suara tertawa mereka dari tempatku berdiri, kemudian aku berjalan mendekati arah suara itu.
Kulihat Bima, bersama kedua orang tuanya dan juga adiknya sedang bercengkerama sambil menikmati minuman.
" Heiii Vero sini nak ", kata mama Bima.
" Nih pah calon mantu papa, cantik kan ?"
" Ohhhh ini Vero yang pernah kamu ceritain Bim ?"
" Iya Pah, dia Vero..."
" Hahaha seleramu ternyata seperti papa nak, cantik seperti mamamu ".
Aku hanya tersenyum kecil menanggapi pembicaraan papah Bima.
" Asal kamu mana nak ?" tanya papa Bima.
" Saya berasal dari Sumatra om, tapi aslinya suku Jawa ".
" Kok panggil om sih panggil aja papa sama mama gitu nggak usah sungkan ya ". kata papa Bima.
" Jadi kapan kamu melamar Vero Bim ?"
" Ya nanti mah nunggu waktu yang tepat dulu ", jawab Bima sambil melirikku.
" Hahhhh gila kok malah jadi ngomongin lamaran sih ", bathinku.
" Vero....anak mama yang cowok ini sangat keras kepala, mama udah hafal watak dia, jadi kamu harus sabar ya ngadepin dia ".
" Kalau nggak sabar mana betah ma berlama lama sama Dokter Bima ini ", sahut Helena sembari tertawa pelan.
" Iya untung Kak Bima ganteng, kalau nggak mana ada yang mau sama dia ya Hel ?".
" Hei kalian ya anak kecil tau apa ?" Sahut Bima.
" Tuh tuh kan kak Ve apa kubilang, baru aja ketemu adiknya belum ada 1 hari galaknya udah mulai dateng tuh hihihi ".
" Helena...Shania nggak boleh gitu ah sama kakakmu ", kata papa Bima begitu sabar.
" Heran papa dan mama Bima kalau aku lihat adalah sosok yang ramah dan baik, kok bisa punya anak segarang ini, jangan jangan anak nemu di selokan ", bathinku.
" Nanti malam kita makan di luar aja gimana ma ? sambil menyambut kedatangan vero ".
" Iya pa ide bagus itu, di cafe langganan kita itu ya yang ada live musiknya seru pa ", teriak adik adik Bima.
Aku tertawa melihat tingkah kekanak kanakan 2 adik Bima, keluarga ini begitu hangat, nyaman sekali berada di antara mereka, tapi sayang sifat Bima berbeda jauh dengan keluarganya.
" Udah siap Ve ?" Bima masuk ke dalam kamar.
" Sini kak lihat cantik banget ya Kak Vero, aku lho yang pakein make up ".
" Dan itu bajuku kak, aku yang nyuruh pakai lihat kayak model kan ?" Kata Helena.
Bima memandangku dari atas ke bawah.
" Iya Ve kamu sempurna banget, sumpah kamu cantik ".
" Heeee udah udah keluar sana, nanti kakak nafsu lagi ngeliatin kak Vero ", kata Shania sambil mendorong tubuh Bima.
__ADS_1
" Iya iya buruan ya udah ditunggu papa mama di depan lho ".
" Iya udah sana bawel ".
" Kalian udah siap kan ?" tanya Vero.
" Udah kak ".
" Ya udah yuk buruan, kasian papa mama kelamaan nunggu ". Kata Vero lagi.
" Kalau papa mama sih nggak masalah, kalau kak Bima tuh, pasti udah ngomel ngomel dia mirip emak emak hihihi". Sahut Shania.
" Husss nggak boleh gitu ah dosa ngomongin Kak Bima terus ". Kata Vero.
Kemudian kami melangkah keluar.
" Hhhhhhh lama banget sih kalian ? kayak putri keraton aja ".
" Tuhhhh kan kak bener nggak ", kata Helena.
Kemudian kami tertawa bertiga, sembari mengikuti Bima di belakangnya.
Bima kemudian menghidupkan mobilnya.
Aku lalu berjalan hendak membuka pintu belakang mobil.
" Lho ko duduk sini ? kamu di depan sana sama Bima ". Kata mama Bima.
" Bukan papa atau mama aja yang di depan, biar saya yang di belakang ".
" Udah sana nggah usah sungkan sungkan ", kata mama Bima sambil mendorong pelan tubuhku
" Udah sini Ve kok malah musyawarah di situ lho ", kata Bima.
" Iiiihhh nggak sabaran banget sih nih orang ", sambil ngedumel dalam hati.
" Kamu udah berapa kali Ve ke Surabaya ?"
" Baru sekali ini pa ", kataku.
" Solo pa, tapi udah nggak ada saudara yang di sana, dulu kakek sama nenek yang transmigran Ke Sumatra, kakek saya seorang pensiunan angkatan darat ".
" Ohhhh anak tentara !!!" Helena menimpali dari arah belakang.
" Iya kalau angkatan darat sekarang kan nggak kayak dulu, kalau dulu menurut cerita ibu buat makan aja sulit, apakagi buat sekolah ".
" Iya nak kalau jaman dulu emang jarang orang sekolah tinggi, makanya tuh kalian berdua bersyukur bisa sekolah tinggi, bawa mobil, uang jajannya nggak pernah telat lagi ".
" Iya maaaaa ", sahut Helena dan Shania berbarengan.
Aku tertawa kecil melihat keakraban mereka.
" Lalu orang tuamu kegiatannya apa Ve ", tanya mama.
" Ibu saya seorang guru SD, sedangkan papa saya sudah meninggal waktu saya masih kelas 2 SMA mah, keluarga saya cuma orang sederhana kok ma ".
" Heiii kamu nggak boleh berkecil hati gitu, kami nggak pernah mempermasalahkan siapa pacar Bima, yang penting dia anak keluarga baik baik dan seiman ya pah ?"
" Iya Ve kami semua menerima kamu dengan tangan terbuka kok ", jawab papa.
" Iya kak yang paling terbuka kak Bima tuh udah punya pacar cantik, baik, sabar, jangan aja Kak Vero keburu sadar terus tau tau nggak mau sama Kak Bima ".
" Dasar awas kalian ya, kalian nggak sadar ya punya kakak ganteng ". Kata Bima.
" Iya ganteng tapi galak kayak singa ya ma hiiiii....", sahut Shania lagi.
" Heiiii kalian jangan ngeledek kakaknya terus ya....!!!" Jawab mama Bima.
" Ya ampun Bima, orang tua dan adik adikmu aja sebaik ini, bahkan mereka tidak masalah anaknya punya pacar kayak aku, sedangkan kamu ? hhhhh...", bathinku sembari menarik nafas panjang.
Tak lama kami sudah sampai di tempat tujuan.
Kami turun satu persatu di sebuah cafe yang terlihat mewah dan berkelas.
__ADS_1
" Hei Bim ?"
Seorang pria tiba tiba menegur Bima saat kami baru saja berjalan masuk.
"Leo....?"
" Hahaha gimana kabar kamu, kita udah lama nggak ketemu ya ?" kata Bima sambil menyalami temannya.
" Kamu di sini Bim ?"
" Katanya kamu tinggal di Yogya dan udah jadi dokter spesialis sekarang ?"
" Iya , liburanlah pengen ketemu orang tua bos ".
" Ini siapa Bim ? pacar ?"
Sambil melirik ke arahku.
" Iya kenalin ini Vero, Ver ini Leo temen SMAku dulu ".
Kemudian aku mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri.
" Udah nggak usah lama lama salamannya ", sembari menarik tanganku.
" Kamu tuh Bim nggak suka lihat orang seneng aja ".
" Hati hati Ve, Leo ini mantan play boy, dulu pacarnya banyak, apalagi sekarang hahaha ".
Aku cuma tersenyum kecil.
" Udah deh jangan bongkar bongkar aib teman hehehe ", sahut Leo.
" Kamu ngapain disini ?" tanya Bima.
" Ini tadi ketemu sebentar sama temen, biasa bisnis ".
" Kok cepet banget ?"
" Yang penting kan hasilnya Bim ".
" Ya udah aku pulang dulu ya, mampir ke rumah kalau ada waktu ".
" Nggak janji brow Minggu kami udah pulang ".
" Ya udah nggak papa kapan kapan aja ".
" Eh bro pacar kamu cantik, kalau dia punya kembaran mau dong satu hehehe !" Bisik Leo ke Bima.
" Hah kamu tuh masih nggak berubah rupanya ".
" Ya udah ya, Ve kalau kamu udah nggak betah sama Bima, aku mau kok sama kamu ", sambil tertawa ngakak.
" Awas kamu ya ", sahut Bima sambil tertawa.
Kemudian Leo meninggalkan kami berdua.
" Ayo Ve masuk ", ajak Bima.
Kemudian aku masuk ke dalam menyusul keluarga Bima yang sudah duluan.
" Siapa tadi Bim ", tanya mama Bima.
" Ya ampun masak mama lupa itu kan Leo mah ".
" Hah masak si Leo ? berubah banget dia sekarang tambah ganteng kayaknya ".
" Iyalah mah udah pinter cari duit dia sekarang ".
" Kerja dimana dia sekarang ?"
" Kayaknya nerusin usaha orang tuanya mah, papahnya kan udah meninggal ".
" Oohhhhh, ya udah buruan kalian pesen makanan, kami semua sudah ".
__ADS_1
Aku dan Bima kemudian membaca menu makanan yang ada di depan kami.
Setelah cukup lama makan dan ngobrol di cafe itu, kemudian kamipun pulang. Sampai di rumah akupun langsung tertidur karena badanku cukup lelah setelah perjalanan tadi siang.