Lelaki Imamku

Lelaki Imamku
Vero sakit


__ADS_3

Saat aku sedang sholat kudengar Bima menerima telfon dari seseorang dari depan kamar.


###############


" Hallo ini siapa ya ?", kata Bima.


" Ini kan nomor dulu yang pernah nelfon aku ? tapi nggak ada suaranya waktu ada Vero itu, siapa sih ?"


Bathin Bima dan Bima masih simpan nomor itu.


" Hallo tolong jangan ngerjain ya ?"


" Hallo ", tiba tiba ada suara perempuan di seberang sana.


" Hallo siapa ini ?"


" Aku Anya Bim ".


" Waduh kenapa Anya telfon aku, bisa jadi masalah ini kalau Vero tau ", bathin Bima.


Kemudia Bima keluar menjauh dari posisinya sekarang, agar tidak didengar Vero.


" Iya Nya ada apa ?"


" Nggak Bim pengen telfon aja, kamu lagi ngapain ?"


" Oh aku lagi di rumah sakit Nya ". Kata Bima berbohong.


" Kamu dimana ?"


" Ini masih di hotel Bim ".


" Emang nggak kemana mana ?"


" Nggak tau nanti, kalau nggak males ya jalan jalan kalau males di hotel aja ".


" Ohhh....."


" Bim kapan ada waktu ? aku pengen ngobrol sama kamu, udah lama kan kita nggak ngobrol ".


" Hhhhhh....Anya kenapa kamu harus muncul lagi di depanku ?"


" Hallo Bim ?"


" Eh ehm iya Nya nanti kalau ada waktu aku hubungin kamu aja ", sahut Bima.


" Ya udah Bim, aku tunggu ya ?"


" Iya Nya ", kemudian telfon ditutup.


" Hehhhhhhh....", Bima menarik nafas panjang.


Kemudian dia ingat Vero, lalu masuk ke dalam kamar lagi. Dilihatnya Vero sudah selesai sholat dan kembali tidur dibalik selimut tebal.


" Semoga dia tidak tau kalau aku sedang telfonan dengan Anya ", bathin Bima.


" Sayang makan dulu ya ? udah siang ini, kamu dari tadi pagi kan belum makan ".


" Malas Bim, mulutku pahit ", sahut Vero masih dengan mata terpejam.


" Nggak boleh gitu, kamu kan masih sakit kalau nggak ada asupan makanan fisik kamu bisa semakin lemah, ayo makan dulu ", sambil berusaha membangunkan Vero. Akhirnya Vero bangun dan duduk bersadar pada ranjang tempat tidur.


" Nih tadi dibuatin bibik bubur, aku suapin ya ".


Kemudian Bima menyuapi Vero dengan sabar.


" Udah Bim, perutku mual ", kata Vero.


" Ya udah nggak papa, jangan tidur dulu ya nggak baik habis makan tidur ".


Vero menurut dan tetap duduk di atas kasur.


" Tadi siapa yang menelfon Bim ".


" Ohh itu tadi temen kantor Ve ", kata Bima berdusta.


" Penting banget kayaknya, makanya kamu sampai di luar nelfonnya ", selidik Vero.

__ADS_1


" Aduhhh mudah mudahan Vero nggak curiga ", bathin Bima.


" Ya tadi kamu kan lagi sholat, aku nggak mau suaraku mengganggu konsentrasimu tadi, makanya aku pindah keluar ".


" Ohhhhh....", jawab Vero singkat.


" Huffffffff....", untung Vero percaya, kata Bima dalam hati.


" Bim...tolong kamu telfon Dinda ya, takutnya nanti dia nyariin aku di kamar ".


" Iya Ve nanti aku telfon Dinda ".


" Kamu nggak berangkat kerja Bim ?"


" Nggak Ve aku tadi udah nyuruh temenku untuk gantiin aku, aku mau nungguin kamu di sini Ve ".


" Ve, kamu udah nggak marah kan ?"


Vero diam saja.


" Ve....kamu masih belum maafin aku ?"


" Aku maafin kamu Bim, tapi ini kesempatan terakhir buat kamu dan seandainya ada kejadian yang kedua kalinya aku nggak akan pernah lagi memaafkan kamu, dan lebih baik kita sendiri sendiri aja Bim ".


" Iya Ve aku janji sama kamu ".


" Bim aku tau....tau banget saat kamu bertemu dengan Anya kemarin, kamu sepertinya masih mencintai Anya, dan kamu nggak bisa berbohong sama aku lagi ".


" Bim lebih baik kamu fikirkan dua kali lagi sebelum kamu melamar aku, belum terlambat kok Bim untuk membatalkan semua rencana kita ".


" Ve pleas aku tuh serius sama kamu ".


" Tapi kamu belum melupakan Anya Bim ?"


" Aku janji akan berusaha melupakan dia Ve "


" Semoga itu benar Bim ", jawabku pelan


" Kamu minum obat dulu ya Ve ?"


Kemudian Bima mengambil obat yang diambilnya dari rumah sakit tadi.


" Nah sekarang kamu tidur lagi ya ? istirahat aja, aku ke depan dulu mau nelfon Dinda ", kemudian Bima mencium kening Vero dan merapikan selimut di tubuh Vero.


Setelah itu Bima keluar dari kamar dan mengambil hpnya untuk menelfon Dinda.


" Hallo Din ".


" Iya Bim ada apa ?"


" Aku ganggu nggak ini Din ?"


" Eh nggak nyantai aja, gimana Bim ?"


" Vero ada di rumahku, aku tadi yang bawa dia, soalnya badan dia panas banget Din aku khawatir ".


" Oh iya Bim nggak papa kok, dia nginep tempatmu ?"


" Iya Din, takutnya nanti malam tambah panas dan kamu nanti bingung nungguin dia sendirian ".


" Iya Bim, kamu kan dokter pasti lebih tau cara menangani Vero ".


" Ya udah Din kalau badan Dinda udah enakan baru aku antar ke kos lagi ".


" Iya Bim makasih ya udah nelfon aku ".


" Iya Din sama sama ".


Kemudian telfon ditutup.


Bima kembali ke kamar Vero, dilihatnya Vero sudah terlelap dalam tidurnya, karena obat yang diberikan Bima tadi mengandung obat tidur, sehingga dalam waktu singkat Vero sudah nyenyak sekali.


Bima kemudian mendekati Vero, dibelainya rambut Vero.


" Vero maafin aku, bukannya aku tidak ingin melupakan Anya, tapi aku tidak bisa melupakan dia Ve, Anya cinta pertamaku, dia pernah mengukir kisah dalam hidupku, dia wanita pertama yang pernah mengisi hatiku jauh sebelum kamu, walaupun pada kenyataannya dia pergi meninggalkanku demi laki laki yang lebih segalanya dariku. Aku sadar itu, benar katamu, untuk sesaat aku bisa melupakannya, tapi setelah di hadapannya aku seperti terbius dengan pesonanya, pesona yang sempat membuatku jatuh cinta padanya. Ve maafkan aku, bukannya aku ingin menduakanmu tapi hatiku tidak bisa berbohong. Ve harus dengan cara apalagi aku bisa pergi dari bayangan Anya, bahkan aku meninggalkan kota asalku demi untuk melupakannya, bahkan aku sudah menggantikan posisinya dengan dirimu Ve, tapi ternyata kemarin semuanya terjadi di luar kontrolku, aku amat bahagia bertemu dengan Anya, sampai aku melupakan kamu, dan aku tau itu sangat menyakitkan buatmu. Ve semoga setelah ini aku bisa mengendalikan semuanya, semua rasa yang ada pada diriku terhadap Anya, karena aku memilih kamu Ve untuk jadi wanitaku ".


Begitu lama Bima memandangi wajah Vero yang tertidur sambil membelai rambutnya.

__ADS_1


Kemudian Bima pindah ke sebuah sofa panjang yang ada di dalam kamarnya, dia duduk di sana sambil memperhatikan pemandangan dari balik jendela kamarnya.


Tiba tiba ingatannya melayang kembali ke Anya. Dia dan Anya putus saat mereka kuliah semester akhir. Waktu yang begitu lama menjalin hubungan terpisah begitu saja, karena Anya terbius oleh pesona seorang laki laki yang baru dikenalnya dari seorang teman. Seorang pengusaha yang tinggal di luar negri, menjanjikan masa depan yang lebih cerah dibandingkan Bima yang saat itu sedang menyusun skripsi.


Anya tiba tiba memutuskan hubungan mereka tanpa alasan yang jelas. Yang kemudian Bima tau, ternyata Anya sudah memiliki kekasih lain saat masih bersamanya. Sungguh menyakitkan Buat Bima, hingga kemudian Bima memutuskan untuk pergi dari kota kelahirannya, dan mengadu nasib di kota Yogya. Tidak butuh waktu lama untuknya mendapatkan sebuah pekerjaan. Dalam waktu singkat dia sudah diterima di Rumah Sakit tempatnya bekerja sekarang.


Butuh waktu yang lama untuk Bima bisa move on, hingga kemudian dia terpesona oleh kecantikkan salah satu pasien yang sedang berobat dengannya. Gadis itu adalah Vero. Setelah mendapatkan no hp Vero, Bima memberanikan diri untuk menghubungi Vero, ternyata Vero menyambutnya dengan baik, sehingga tidak lama kemudian mereka resmi berpacaran.


Namun sekarang setelah sekian lama Bima tidak bertemu dengan Anya, tiba tiba saja kemarin Anya ada di hadapannya, dan membuat perasaan Bima kembali tidak menentu seperti beberapa tahun yang lalu.


Diliriknya arloji di tangannya.


" Ahhhh sudah sore rupanya ", ternyata Bima cukup lama melamun di depan jendelanya sehingga tidak sadar hari sudah semakin sore.


Kemudian dia beranjak dari duduknya. Dilihatnya Vero masih tertidur pulas.


Bima tersenyum sendiri melihat wajah Vero yang polos dan begitu manis dibalik selimut tebalnya.


"Ahhh nanti saja dia kubangunkan setelah aku selesai mandi dan sholat ", kata Bima dalam hati.


Selesai mandi Bima mendekati Vero lagi, disentuhnya dahi Vero.


" Alhamdulillah panasnya sudah sedikit turun ".


Kemudian Bima membangunkan Vero.


" Sayang bangun yuk udah sore ", kata bima sambil membelai pipi Vero.


Kemudian Vero terbangun.


" Jam berapa ini Bim ?"


" Jam 5 kurang Ve ".


" Nyenyak sekali tidurku ".


" Iya tadi obatnya ada obat tidurnya Ve biar kamu bisa istirahat ".


" Aku pengen mandi Bim ".


" Apa lebih baik jangan dulu Ve, badanmu kan masih sedikit panas ".


" Nggak papa Bim, rasanya tubuhku gerah ", kata Vero sambil beranjak dari tempat tidurnya.


" Ya sudah kamu pakai air hangatnya aja ya ?"


Vero mengangguk dan segera masuk kamar mandi.


Selesai mandi Vero langsung keluar dengan rambutnya yang masih basah dan dililit dengan handuk.


Kemudian duduk di kursi sebelah Bima yang sedang asyik dengan hpnya.


" Udah sayang mandinya ?"


" Udah Bim ".


Kemudian Bima bangun dan mengambil sisir dari atas meja.


Dibukanya gulungan handuk di kepala Ve, kemudian Bima menyisir rambut Vero.


" Rambutmu sangat indah Ve, aku ingin sampai tua nanti bisa nemenin kamu seperti ini terus, selalu dekat kamu ".


Setelah selesai menyisir, Bima membalikan tubuh Vero menghadap dirinya.


Dilihatnya wajah Vero begitu pucat, namun tidak bisa menutupi kecantikan yang dimilikinya.


Diusapnya pipi Vero dengan lembut.


" Ve kamu cantik sekali, walaupun tidak ada make up yang menghiasi wajahmu, pantas saja aku jatuh cinta padamu ".


Vero hanya tersenyum menanggapi pujian Bima.


" Sini Ve, tidurlah di pangkuanku ", kata Bima sambil menarik tubuh Vero untuk tidur di pangkuannya.


Di belainya rambut Vero yang masih basah.


" Nyaman sekali aku Ve berada di samping kamu ", bisik Bima.

__ADS_1


Bima terus menemani Vero di kamarnya, hingga malam hari.


Setelah Vero terlelap di kasurnya, Bima membaringkan diri di sofa panjang tidak jauh dari ranjang Vero, dan sesaat kemudian mereka dibuai oleh sepinya malam, yang terdengar hanya suara jangkring di kejauhan sana.


__ADS_2