Lelaki Imamku

Lelaki Imamku
Di rumah Vero


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Vero tiba di kampung halamannya. Dia disambut oleh ibu dan adik semata wayangnya. Setelah mengobrol sebentar Vero masuk ke dalam kamarnya, kamar yang dulu ditempatinya. Posisinya masih sama dan belum berubah. Dilihatnya sebuah foto di atas meja, foto dia bersama Bima. Foto tersebut dipasangnya beberapa tahun lalu. Diambillah foto itu, lalu kemudian dipandanginya beberapa saat, setelah itu dimasukkan ke dalam laci mejanya dan dikuncinya rapat.


Direbahkan tubuhnya di atas kasur. Rasa lelah setelah perjalanan jauh mulai menderanya. Tak lama kemudian diapun mulai terlelap.


Sementara itu ibu Vero sibuk di dapur, dia sengaja belum mau membicarakan masalah Bima dulu, dan membiarkan Vero beristirahat untuk menghilangkan lelahnya. Jika waktunya tepat pasti Vero yang akan memulai pembicaraan begitu bathinnya.


Sementara itu Bima sedang berada di dalam kamarnya seorang diri. Dipandanginya foto dia bersama Vero yang ada di tangannya.


" Ve aku sangat menyesal sudah menyakitimu, aku baru menyadari setelah kehilanganmu. Benar kata ibuku, Anya cuma membawa keburukan dalam hidupku. Ve, aku akan selalu mencintaimu, selalu. Aku nggak tau harus dengan apa menebus semua kesalahanku padamu."


Kemudian Bima membawa foto itu ke dalam dekapannya, seolah tidak ingin jauh dari sosok bayangan Vero.


Sudah 5 hari Vero berada di rumahnya, dan ini merupakan tangal 21, tanggal yang dulu sudah direncanakan untuk mengadakan acara pertunangan antara Ve dan Bima, namun ternyata rencana itu menguap begitu saja.


Vero mengurung diri di dalam kamarnya, dilihatnya kalender yang ada di meja kamarnya.


" Hari ini harusnya aku dan Bima sedang bertunangan, harusnya rumah ini ramai dengan sanak keluarganya menyambut kedatangan keluarga Bima, namun ternyata kenyataannya sebaliknya, rumah ini begitu sepi ". Kata Vero dalam hati.


Vero mengambil kalender yang ada di depannya, kemudian disobek sobeknya kalender itu dan dilemparkanya hingga menghantam pintu kamarnya, Vero menangis sekeras kerasnya di atas bantalnya.


Tak lamu ibu Vero masuk ke dalam kamar, karena terkejut dengan suara dari dalam kamar Vero, akibat kalender yang dilemparkan Vero tadi.


Saat masuk, ibu Vero langsung melihat anaknya yang sedang menangis di atas kasur, dan sebuah kalender yang disobek sobek Vero tadi berserakan di bawah lantai.


" Nduk...kamu baik baik saja kan?" Tanya ibu Vero sambil membelai rambut anak perempuannya itu.


Vero diam saja dan terus menangis.


" Sabar ya, ibu tau perasaan kamu pasti sedih sekali. Tapi kamu harus menerima semua takdir yang diberikan sama Alloh, mungkin ini adalah jalan yang terbaik buat kamu, kamu beruntung mengetahuinya sekarang, daripada besok sesudah kalian menikah, apakah tidak lebih menyakitkan? Sabar ya nduk ibu yakin suatu hari nanti kamu akan mendapatkan laki laki yang lebih baik dan lebih mencintaimu daripada Bima."


Vero langsung memeluk ibunya dan terisak di dadanya.


" Bu maafin Vero udah buat ibu sedih, Vero belum bisa melupakan sakit hati Vero."


" Belajarlah ikhlas nduk! Pasti kamu lambat laun akan melupakannya, jangan kau pelihara rasa benci kamu sama dia, karena itu akan menjadi penyakit dalam hati kamu, dan itu tidak baik nduk."


" Tapi bagaimana caranya bu?"


" Berserah diri sama yang di atas, semua ini sudah ketentuannya, pasti ada sebuah rencana yang lebih baik ke depannya buat kamu ya."


" Iya bu."


" Udah jangan sedih lagi, jangan nangis nangis lagi, anak ibu itu pasti kuat ya!"


Kemudian Vero mengecup pipi ibunya.


" Makasih ya bu udah menguatkan Vero?"


" Iya nduk ", kata ibu Vero sambil tersenyum.


" Ya udah makan yuk, dari tadi kamu belum makan."

__ADS_1


Kemudian Vero mengikuti ibunya menuju ruang makan.


Sementara itu Bima sedang berada di rumah sakit, dia termenung menatap layar hpnya. Kebetulan hari ini pasien sedang sepi.


" Hari ini tanggal 21, tanggal yang aku dan Ve rencanakan untuk melangsungkan pertunangan kami. Sedang apa Ve? Apakah dia masih ingat dengan tanggal ini?" tanya Bima dalam hati.


Bima ingin sekali menelfon Vero, hp sudah dipegangnya dari tadi, tapi takut kalau kalau Ve tidak akan mau mengangkat telfon darinya. Ada keragu raguan dalam hatinya. Namun kemudian dia memberanikan diri untuk menelfon nomor Vero.


Vero saat itu sedang makan dan ditemani ibunya.


" Ayo Ve makanlah yang banyak lihat badanmu kurus sekali, bukankah sop daging ini kegemaranmu? ibu sudah membuatkan khusus untukmu."


" Iya bu jawab ", jawab Vero singkat


Memang semenjak putus dengan Bima, nafsu makan Vero berkurang, pikirannya terkuras dengan masalahnya itu, sehingga otomatis berat badan Vero turun drastis. Saat sedang makan tiba tiba hp Vero berbunyi, dilihatnya Bima yang menelfonnya. Vero memandang ibunya.


" Siapa nduk?"


" Bima bu."


" Angkatlah nduk! ingat bersikap biasa jangan utamakan emosi ya."


Vero menurut, kemudian mengangkat hpnya.


" Hallo Ve ", kata Bima di seberang sana.


Vero menarik nafasnya sesaat sembari mengatur perasaannya yang campur aduk.


" Hallo Bim ", katanya setenang mungkin.


" Baik, kamu?"


" Aku baik Ve."


" Ada apa menelfonku Bim?"


" Aku hanya ingin mendengar suaramu Ve, sudah 2 minggu ini aku tidak pernah lagi menelfonmu."


" Ooh ", kataku singkat.


" Ve kamu masih di kantor?"


" Nggak Bim, aku sedang di rumah ibuku."


" Kamu jadi pulang Ve?"


" Iya Bim karena aku sudah terlanjur mengambil jatah cuti."


" Maaf ya harusnya semua itu nggak terjadi, dan harusnya hari ini kamu resmi jadi calon istriku."


" Sudahlah Bim, jangan terus terusan menyesalinya, aku sudah memaafkanmu. Mungkin kita berdua belum berjodoh, dan ini sudah jalan yang diberikan sama Alloh buat kita berdua."

__ADS_1


" Ve harusnya aku menyadari dari awal bahwa kamu itu lebih baik daripada Anya."


" Tapi kamu sudah memilihnya Bim sebagai pengisi hatimu, dan bukan aku."


" Tidak Ve aku sudah meninggalkannya."


Vero sedikit terkejut.


" Kenapa Bim?"


" Karena aku tidak bisa melupakanmu saat bersamanya, dan itu sangat menyakitkan buatku."


" Ve bisakah kita kembali seperti dulu lagi?"


" Maaf Bim walaupun kamu sudah meninggalkan Anya, tapi aku nggak bisa kembali sama kamu."


" Kenapa Ve? bukankah kita bisa memulainya dari awal lagi?"


" Nggak Bim hatiku masih sakit, dan aku butuh waktu untuk melupakan itu semua. Seandainya kita memang berjodoh, pasti Tuhan tau caranya untuk mempersatukan kita kembali."


" Mungkin benar katamu Ve, memang kesalahanku sangat besar sama kamu, dan sangat tidak mudah buatmu melupakannya Ve."


" Ve...bisakah aku berbicara dengan ibumu?"


" Ada perlu apa Bim?"


" Aku ingin minta maaf sama beliau."


Kemudian Vero memberikan hpnya pada ibunya.


" Iya nak Bima."


" Bu...ibu sehat?"


" Alhamdulillah nak ibu sehat."


" Bu Bima minta maaf ya sama ibu, sudah mengecewakan ibu, Bima tidak bisa menjaga amanah ibu."


" Sudahlah nak Bima, jangan diperpanjang lagi, ibu dan Ve sudah memaafkanmu kok."


" Bu bolehkah Bima tetap menelfon ibu jika Bima rindu?"


" Silahkan, walaupun kamu dan Vero sudah putus tapi bukan berarti silaturahmi kita putus nak, telfonlah ibu kapanpun kamu mau, jadikan semua pelajaran terbaik, agar kamu bisa lebih berpikir ulang jika ingin berbuat sesuatu ya nak."


" Iya bu terimakasih ya bu."


Kemudian hp diberikan kepada Vero lagi.


" Bim udah dulu ya, ini aku mau nerusin makan dulu."


" Ya udah Ve jaga diri kamu baik baik ya?"

__ADS_1


" Iya Bim kamu juga ", kemudian Bima menutup telfonnya.


Ada sebuah air mata di sudut mata Ve, namun berusaha ditahannya, dan ibunya tau itu, maka dipeluklah anak perempuannya itu, dan berusaha menguatkannya


__ADS_2