
Pagi ini aku siap siap berangkat kerja, tiba tiba telfonku berbunyi.
" Hallo Bim ada apa pagi pagi telfon ?"
" Ve...kamu udah mau berangkat kerja ?"
" Belum Bim ada apa ?"
" Aku jemput ya ?"
" Jemput ?"
" Iya...kok kaget sih ?"
" Ya enggak, biasanya kan nggak pernah ".
" Aku bilang kan kemarin kangen sama kamu, kalau nunggu nanti malem bisa mati aku ".
" Hahaha kamu tuh, ya udah aku tungguin ya ".
" Ya udah ya sayang tunggu, bentar lagi aku otw ".
" Iya hati hati ya ".
" Ini aneh asli aneh pasti ada yang nggak beres, apa ada hubungannya dengan Anya yah, apakah dulu sebenernya dia pacaran sama aku karena cuma berusaha buat lupain Anya makanya dia kasar sama aku ? ahhh udah ah Anya cuma masalalu Bima ".
Tak lama kemudian Bima sudah sampai di depan kosku.
" Din aku berangkat duluan ya ?"
" Iya Ve hati hati ", teriak Dinda di dalam kamarnya.
" Hai sayang cantik banget sih ", kata Bima saat aku naik di dalam mobilnya.
" iiiihhhh ngerayu ya ".
" Iya siapa tau khilaf hehehe ".
" Ye dasar genit ", kataku sambil menarik hidung mancungnya.
Kemudian Bima menjalankan mobilnya ke arah tempat kerjaku.
" Kok pacarannya udah lama nganterin kerjanya baru sekarang ?"
" Iya kan udah mau jadi istriku, jadi harus dijaga baik baik hehe ".
" Yang bener nih, berarti dulu masih jadi pacar nggak perlu dijaga ?"
" Ya sebenernya nggak gitu juga sih Ve, kan tau sendiri aku pulangnnya nggak tentu, kalau kamu nggak bawa kendaraan sendiri terus aku ada operasi kamu pulangnya naik apa ?"
Aku tersenyum menanggapi omongannya.
Tak lama kamipun sampai di tempat kerjaku.
" Nanti dijemput jam berapa Ve ?"
" Jam 3 lebih aja ya Bim ".
" Ok sampai nanti ya Ve ".
Aku mengangguk kemudian hendak membuka pintu mobil Bima menarik tanganku dan kemudian memelukku erat.
Dia tidak berkata apa apa dan kemudian melepaskan pelukkkannya sambil tersenyum manis.
" Aku sayang banget sama kamu ".
" Iya aku juga Bim ", kataku.
" Ya udah masuk sana ".
" Iya kamu hati hati ya ", kataku.
" Iya sayang "
Kemudian aku turun dan Bima pergi.
" Ya Alloh semoga dia tetap seperti ini agar aku bisa mencintainya dengan tulus, dan melupakan Elmo ", kataku dalam hati ".
Kemudian aku masuk ke dalam kantorku dengan lebih bersemangat.
###########
" Udah nungguin dari tadi Bim ?"
" Enggak baru aja nyampe ", kata Bima.
" Langsung pulang ?"
" Iya langsung pulang aja ".
" Nanti kita makan di luar ya Ve ?"
" Dimana Bim ?"
" Kamu pengennya dimana ?"
" Dimana yaaa ?"
__ADS_1
" Terserah deh "
" Ya udah kalau terserah aku, nggak boleh protes lho ya ".
Tak lama kami sudah sampai di kos.
" Ve langsung mandi aja, habis ini ke rumahku dulu, aku mau mandi juga ".
" Oh ya udah aku mau mandi dulu ya, tunggu ya ".
" Iya ", jawab Bima.
Setelah selesai mandi aku berganti pakaian, menggunakan rok selutut dan atasan kaus lengan pendek, tak lupa kubawa tas yang berisi dompet dan hp.
" Udah yuk Bim ?"
" Hmmmm cantik banget kamu Ve, kayak anak kuliahan kalau kayak gitu ".
" Mirip abg dong...abg yang dicariin om om lho, bukan mas mas kayak kamu Bim ".
" Hahaha kamu tuh sambil memeluk pundakku dan kami berjalan menuju mobil ".
Kami menuju ke rumah Bima, letaknya lumayan jauh dari tempat kosku.
Tak lama mobil sudah masuk ke halaman rumah Bima.
Bima tinggal dengan seorang asisten rumah tangga, tapi dia pulang sore hari dan berangkat pagi hari.
Bima membuka kunci rumahnya.
" Masuk Ve...." kata Bima dan tetap membiarkan pintu terbuka.
Kemudian aku masuk ke rumah Bima, mungkin aku baru 3 kali ini semenjak pacaran sama Bima ke rumah ini, dan itu dulu sekali saat kami baru pertama pacaran. Biasanya Bimalah yang selalu datang ke tempat kosku.
" Duduk dulu Ve tunggu disini ya ".
" Aku mengangguk ".
Kulihat sekelilingku rumahnya cukup rapi, dan di dinding ada sebuah foto keluarga Besar Bima, foto yang sama dengan di rumah orang tua Bima.
Beruntung sekali Bima, di usia muda sudah mapan, memiliki rumah pribadi yang lumayan bagus, karier yang cemerlang.
" Ve aku mandi dulu ya ", kata Bima sambil membawa handuk ke belakang.
" Lho di kamarmu ngga ada kamar mandi Bim ?"
" Ada sih cuma kran airnya masih rusak belum sempat kudandani belum ada waktu ".
" Ooh kataku ".
" Tolong bikinin aku susu dong Ve, tuh kompornya di belakang ". Kata Bima.
" Ya kan sekarang ada calon istri hehehe ".
" Kemudian aku beranjak dari dudukku dan Bima mengikutiku dari belakang ".
" Cariin sendiri ya pancinya aku mau mandi dulu ".
Tak lama kemudian terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Aku celingak celinguk mencari cari letak panci buat memasak air.
" Itu dia ", bathinku, kuambil sebuah panci bergagang panjang biasa untuk memasak air.
Kemudian kuhidupkan kompor dan kuletakkan panci itu di atasnya.
Kuambil gelas di dalam rak piring dan kuberi susu bubuk coklat kesukaan Bima, sambil menunggu air mendidih.
Tiba tiba Bima memelukku dari belakang badannya masih terasa basah.
" Udah jadi belum? lama banget sih ".
" Sabar bentar lagi sayang ", kataku.
" Enak ya kayak gini pulang kerja ada yang buatin minuman ".
" Enaklah Bim tinggal minum nggak usah buat ".
sahutku.
Kemudian Bima membalikkan tubuhku menghadap dia.
" Mati aku !! kenapa dia cuma pakai handuk dan belum berpakaian. Ya Alloh tolong jaga akal sehat saya, jangan biarkan saya khilaf melihat dada penuh bulu ini ", bathinku. Dan aku baru tau Bima memiliki tubuh yang berotot.
Tiba tiba jantungku berdetak kuat.
" Ehhhh kenapa kok bengong ? mikir jorok ya ?"
Kata Bima sambil menarik hidungku, sedangkan tangan yang satunya masih memeluk pinggangku.
Aku langsung memejamkan mata.
" Kok malah merem sih ?"
" Eh anu itu Bim takut nafsu aku lihat badan kamu ", kataku jujur.
" Kalau nafsu emang kenapa ?"
__ADS_1
" Aduuuhhh mati aku kok malah dia menggoda aku ", bathinku.
" Aduhhh Bim pleas deh jangan mancing aku, ntar aku nggak kuat iman lho ", kataku.
Bima tertawa.
" Hahaha emang aku sengaja kok mancing kamu Ve ?"
" Pleas deh Bim sana pakai baju deh ", dan aku langsung menutup rapat wajahku dengan kedua tanganku.
" Sssstttt dengar sini aku bahkan baru aja mikir kalau kita sama sama khilaf, kamu nggak bakalan punya alasan lagi buat ngundur ngundur pernikahan kita sayang ", sambil menarik kedua tanganku.
" Iiihhhh jangan gitu dong, aku kan pengen dilamar yang kayak di tv tv itu Bim ".
" Ya udah aku lamar sekarang ya ".
Kemudian Bima tiba tiba jongkok di depanku dan memegang kedua tanganku.
" Vero maukah kamu menikah denganku ?"
Aku tertawa melihat tingkah Bima.
Dan kemudian menganggukan kepalaku.
Tiba tiba Bima berdiri dan mengangkat tubuhku mendudukan di atas meja besar di sampingnya, dan tangannya memeluk leherku
" Vero berjanjilah padaku, kamu akan selalu mencintaiku dengan kekurangan dan kelebihanku sayang ".
Aku tidak menjawab dan hanya menatap kedua matanya yang posisinya semakin mendekat ke wajahku, akhirnya hidung kami saling menempel dan bibirnya mulai melumat bibirku, aku hanya mampu memejamkan mataku sambil memeluk tubuhnya yang sedikit basah entah oleh air mandi atau air keringat akupun tak tau.
Entah berapa lama kami berciuman, seingatku ciumannya mulai liar dan hampir turun ke leherku, tapi tiba tiba saja aku terkejut dan tersadar, langsung kutarik wajahku menjauh.
Nafasku turun naik.
" Stop Bim..."
" Kenapa Ve ?"
Tanya Bima, kuatur deru nafasku....
" Bahaya nanti kalau keterusan ", kataku kemudian aku turun dan mematikan kompor.
" Bahaya apanya sih sayang ", sambil memelukku lagi dari belakang.
" Bahaya ini lihat airnya hampir habis untung ketahuan Bim ".
" Hahaha....kamu tuh ngeles aja ".
" Ihhhh udah sana pakai baju belum sholat ashar kan kamu ", sambil mendorong tubuhnya.
Bima tersenyum dan melepas pelukannya, kemudian mengecup pipiku.
" Ya udah aku ganti baju dulu ya sayang, mau ikut nggak ?", bisiknya di telingaku.
" Iiihhhh udah sana sana .....", sambil mendorong tubuhnya.
" Ehhhh ehhhh handukku melorot nih ", kata Bima sambil memegangi handuknya.
" Hahaha..." aku tertawa terbahak bahak.
" Eh nggak kramas dulu ", teriakku sambil tertawa.
" Gimana mau kramas, tanggung gitu !!!"
" Hahaha..." akupun tertawa.
" Hhhhhhh aku menarik nafas panjang Ya Alloh hampir saja aku khilaf ", kemudian kugigit bibirku, sedikit perih.
" Mungkin Bima tadi yang melukainya ", bathinku. Aku tersenyum sendiri dan kemudian meninggalkan dapur sambil membawa segelas susu panas buat bima.
Selesai sholat ashar Bima keluar dari kamarnya dan duduk di sampingku.
" Nah gitu kan ganteng Bim ".
" Gantengan mana sama yang tadi ", sambil mengerlingkan matanya nakal.
" Ihhhhh jangan mulai lagi yaaa ".
" Hehehe kamu bilang katanya aku gampang terangsang nggak taunya yang ngomong sendiri ".
" Ihhhh ya kan kamu godain ".
Kemudian Bima menyeruput minuman yang baru saja aku buat.
" Ve nanti kalau kita menikah kita tinggal disini mau kan ?"
" Ya maulah Bim masak nggak mau ".
" Ya siapa tau kan kamu nggak cocok terus pengen nyari lokasi yang lebih nyaman lagi ".
" Terus kalau nggak cocok emang mau pindah ?"
" Iyalah Ve rumah ini dikontrakin aja terus kita nyari tempat yang lebih cocok buat kita ".
" Hhhmmm baik banget sih pacarku ini ", kataku sambil menggelayut di pundaknya manja.
" Hayoooo.....mau mulai lagi ???"
__ADS_1
" Hehehe enggak deh ampunnn pak dokter ".
Diapun tersenyum manis dan kami melanjutkan ngobrol sambil menunggu adzan magrib