
Vero saat ini berada di sebuah taksi dan tidak tau akan kemana, yang Vero tau air matanya tidak bisa berhenti membasahi pipinya.
" Mbak mau kemana ini?" Vero terkejut.
" Oh ehm berhenti depan saja pak ", kata Vero.
Setelah membayar sejumlah uang, Vero berjalan lunglai. Dia tidak perduli keadaanya saat ini, yang jelas hatinya begitu sakit.
Vero terus berjalan tanpa tujuan, kemudian dia berhenti dan duduk di atas pagar pendek di dekat trotoar. Kakinya terasa lelah berjalan, namun perasaanya lebih lelah, dan air matanya masih terus mengalir, dia masih saja terngiang kata kata Bima dan Anya di belakangnya tadi.
" Kamu jahat Bima aku benci kamu!! Aku benci kamu."
Hari semakin larut, namun Vero masih saja berjalan tanpa tujuan, hingga sampai di alun alun. Kemudian dia melangkahkan kakinya ke rerumputan di tengah alun alun, dia duduk sendirian di situ, dan kembali meratapi nasibnya.
Sementara itu Bima mencari carinya di kos.
" Ve...Vero tolong bukain pintu Ve."
Dinda keluar dari kamarnya.
" Ada apa lagi Bim? kalian bertengkar? Vero belum pulang."
" Iya Din, ini salah aku Din, salah aku ", kata Bima panik.
" Tenang Bim, tenang, ceritakanlah ada apa sebenarnya?"
Kemudian Bima menceritakan semuanya pada Dinda, Dinda mendengarkan dengan serius.
" Ini fatal sekali Bim, dan aku jamin kali ini Vero nggak akan mungkin memaafkan kamu. Kamu benar-benar keterlauan Bim, padahal dia sudah amat percaya dengan kamu."
" Iya Din, aku tau aku salah, tolong bantu aku Din, tolong, kata Bima memohon."
" Maaf Bim aku nggak bisa berjanji ", kata Dinda kemudian.
Akhirnya Bima meninggalkan Kos Vero dengan langkah lunglai.
Bima terus saja mencari Vero dengan menyusuri jalan, dan mengamati setiap orang yang ada di kanan kirinya jika mungkin saja itu adalah Vero.
" Sementara itu Dinda menelfon Elmo."
" Hallo Din, ada apa?"
" El, kamu harus mencari Vero sekarang."
" Ada apa Din? Apa yang terjadi dengannya? Apa mereka bertengkar lagi?"
" Ya El tapi kali ini lebih fatal, Vero memergoki Bima dan Anya makan berdua."
Elmo menarik nafas panjang.
" Akhirnya kamu mengetahui sendiri Vero, aku harus cepat mencarinya ", kata Elmo, kemudian menutup telfonnya, dan segera beranjak mengambil kunci mobil yang ada di dekatnya.
" Kemana kamu Vero? Semoga nggak terjadi apa apa sama kamu ", bisik Elmo.
Elmo terus mencari Vero, dia sudah memutar berkali kali tapi Vero tetap tidak ditemukannya.
" Ah bodohnya aku, kenapa aku tidak mencarinya di alun-alun bukankah dia senang ke tempat itu ", kata Elmo pada diri sendiri.
Lalu Elmo segera memacu mobilnya, dilihatnya jam di arlojinya sudah menunjukkan pukul 01.20. Benar saja, baru saja akan memasuki kawasan alun-alun, dilihatnya Vero sedang berjalan lunglai di pinggir trotoar.
" Vero...ya ampun itu Vero."
Kemudian Elmo menghentikan mobilnya dan segera menghampiri Vero.
" Vero...", panggilnya.
__ADS_1
Vero terus saja berjalan lunglai tidak mendengar panggilan Elmo.
" Vero...kamu mau kemana?"
Vero tetap berjalan tidak perduli dengan apapun di sekitarnya.
Lalu Elmo menyentuh bahu Vero dan menghentikan langkahnya.
" Vero kamu mau kemana?"
Vero melihatnya dengan tatapan yang kosong.
" Ya ampun Vero...kamu kenapa bisa seperti ini?"
Vero langsung memeluk Elmo dan menangis di dadanya.
" Ssstttt tenang Ve, ada aku di samping kamu, ayo masuk ke mobil!!" Kata Elmo sambil merangkul pundak Vero.
Vero tetap diam saja di dalam mobil dan hanya menatap kosong pemandangan dari luar jendelanya.
" Kita duduk di sini dulu ya Ve." Kata Elmo sambil menggandeng tangan Vero di sebuah kursi depan Milioboro.
" Kamu mau aku belikan teh hangat Ve?"
Vero mengangguk, kemudian Elmo memanggil seorang pedagang minuman yang berjalan di depannya.
" Teh panas satu, sama kopinya satu ya pak."
" Nggih mas."
Kemudian penjual itu sibuk membuatkan pesanan Elmo, setelah selesai dia menyerahkannya kepada Elmo, dan Elmo memberikan sejumlah uang.
" Diminum dulu Ve, biar kamu bisa lebih tenang."
" Ve kamu harus sabar ya, semuanya lambat laut pasti akan berlalu, kamu harus kuat ya ", kata Elmo sambil menyentuh pundak Bima.
" El...dulu aku sempat ingin memutuskan Bima, dulu aku sempat ingin lepas dari Bima, namun kemudian semuanya berubah, sifatnya mendadak baik, mendadak manis, dan aku kembali jatuh cinta padanya, tapi aku tidak pernah menyangka dia justru menghianatiku."
" El kamu tau rasanya aku sekarang? sakit El sakit banget kata Vero terisak."
" Jika itu kusadari dari awal, mungkin tak akan sesakit ini El."
" Sssttt udah Ve jangan nangis lagi ya, kamu nggak pantas menangisi laki-laki bejat seperti Bima."
Vero terus menangis di pundak Bima.
Mereka terus duduk di situ hingga adzan subuh menggema.
" Sholat dulu yuk Ve, biar hati kamu tenang!!"
Vero mengangguk. Kemudia Elmo mencari masjid terdekat untuk menjalankan sholat subuh.
Selesai sholat subuh Vero dan Elmo berjalan keluar masjid.
" Kamu mau pulang atau mau kemana Ve?"
Aku nggak mau pulang El, pasti Bima mencariku di kos.
" Lalu kamu mau kemana?"
" Aku pengen tidur aja di dalam mobil kamu dulu, boleh?"
" Boleh Ve ", kemudian Elmo menghidupkan mesin mobilnya dan menekan tombol ac.
" Nah kamu tidur aja sekarang ya."
__ADS_1
Elmo terus memandangi wajah polos Vero yang tidur di kursi sampingnya.
" Kasihan sekali kamu Ve! Semoga semuanya segera berlalu ", kata Elmo dalam hati, kemudian Elmopun ikut tertidur.
Pagi harinya jam 6 Bima sudah datang ke kos Vero, semalaman dia tidak tidur memikirkan keberadaan Vero, hpnya pun dari semalaman masih belum aktif.
" Ve...Ve....", panggil Bima sambil mengetuk kamar Vero.
Dinda mendengar dari samping kamarnya, kemudian Dinda keluar menemui Bima.
" Vero belum pulang Bim ", kata Dinda.
" Ya ampun dimana kamu Ve?" kata Bima.
" Aku pulang dulu Din, kalau Vero datang tolong hubungi aku ya?"
" Iya Bim."
Kemudian Bima pergi.
Sebenarnya Dinda tau dimana Vero berada, karena dari semalam dia terus berkomunikasi dengan Elmo, dan Dinda merasa lega setelah Elmo berhasil menemukannya, sehingga Dinda bisa tidur dengan nyenyak.
Jam 9 pagi Elmo membangunkan Vero.
" Ve bangun yuk udah siang ", kata Elmo.
" Jam berapa ini El?"
" Jam 9 Ve ". Kemudian Vero bangun.
" Antar aku pulang ya El."
" Kita sarapan dulu ya Ve?"
" Nggak El aku malas makan ", kata Dinda.
Elmo menuruti kemauan Vero, namun di tengah jalan Elmo menghentikan mobilnya di sebuah warung bubur kacang hijau, dan memesan beberapa bungkus.
" Ini nanti kamu makan ya di kos, nggak baik kalau kamu membiarkan perut kosong, nanti kamu bisa sakit."
" Iya El makasih."
Saat tiba di kos dan baru saja turun dari mobil, ternyata Bima juga datang kembali ke kos Vero. Kedatangan Bima hampir berbarengan dengan kedatangan Elmo.
" Itu Bima Ve, aku akan kasih pelajaran Buat dia."
" El jangan El...", teriak Vero namun tak didengarkan oleh Elmo.
Elmo langsung buru-buru turun, dan menghampiri Bima. Tanpa basa basi dia langsung menghajar Bima habis habisan.
" *** kamu ya!! Belum puas kamu sakitin hati Vero? Mau apa lagi kamu kesini?"
" El jangan El...", teriak Vero sambil menghalangi tubuh Bima yang wajahnya penuh darah yang keluar dari hidung dan bibirnya.
" Dengar kamu Bim!!j Jangan pernah gangu Vero lagi!! Kalau tidak aku bunuh kamu !!!"
Elmo terlihat emosi. Vero terus menangis dan membersihkan darah yang mengalir dari wajah Bima.
" Ve maafkan aku, aku mohon!!" Kata Bima sambil berlutut di depan Vero.
" Sini Ve...jangan pernah kasih kesempatan lagi laki- laki penghianat ini!!" Kata Elmo sambil menarik tangan Vero.
" Bim pulanglah, anggap saja kita tidak pernah saling mengenal, dan lupakanlah aku." Kata Vero.
Kemudian Elmo menarik tangan Vero untuk masuk ke dalam kosnya. Kemudian Bima segera pergi meninggalkan kos Vero dengan langkah lunglai.
__ADS_1