
Pagi-pagi sekali sebelum berangkat kerja mama Bima menelfon Vero.
" Kenapa mama Bima menelfon sepagi ini? Apakah Bima sudah memberitahu kalau kita putus?" tanya Vero di dalam hati.
Kemudian Vero mengangkat telfon di hadapannya.
" Assalamualaikum Mah."
" Wa'alaikum salam Vero, bagaimana kabarmu? Sehat?"
" Alhamdulillah mah Vero sehat."
" Kamu berangkat kerja jam berapa nak?"
" Jam 07.30 mah, ada apa mah?"
" Oh tidak, mamah cuma ingin membicarakan sedikit hal dengan kamu."
" Tentang apa ma?"
" Tentang Bima nak."
" Benar dugaanku ", kata Vero dalam hati.
" Ve....mamah dengar dari Bima kalian putus ya?"
" Iya mah ", jawab Ve pelan.
" Bagaimana kejadiannya? ceritakanlah dengan mama."
Kemudian Vero menceritakan semua kejadian, mulai dari awal pertemuan Bima dengan Anya, hingga di suatu malam Ve memergoki Bima dengan Anya sedang berduaan di sebuah restoran.
" Keterlaluan sekali Bima, kenapa anak itu tidak bisa melupakan Anya ", kata mama Bima.
" Wajar mah karena mungkin Anya cinta pertama Bima ", kata Vero.
" Iya mama tau, tapi Anya itu sudah membuat hidup Bima hancur Ve, dia sudah mengkhianati Bima, bahkan gara-gara Anya juga, Bima pindah ke Yogya, baru kemudian dengan kamulah Bima bisa berubah ceria lagi."
" Mama salah, dia berubah ceria baru-baru ini saja. Karena sebelumnya dia merupakan sosok yang menakutkan buatku, mungkin karena masih belum bisa melupakan Anya, makanya dia amat kasar padaku ", bathin Vero.
" Mah maafin Ve ya? Ve nggak bisa melanjutkan hubungan Ve dengan Bima."
" Ve, padahal mama berharap dengan mama telfon kamu ini, bisa merubah keputusan kamu nak, karena kemarin sepertinya Bima sudah sangat menyesal telah menyakitimu."
" Tapi Ve yakin mah, Bima itu belum benar-benar melupakan Anya, sebelum dia itu benar-benar sadar dan membuka mata hatinya, wanita seperti apa sebenarnya Anya itu buatnya, yang sesungguhya hanya ingin mengisi kekosongan hatinya saja karena telah bercerai dengan suaminya mah, Vero yakin itu."
" Jadi keputusan kamu sudah bulat nak, yakin kamu tidak menyesal?"
" Insyaalloh mah, Ve nggak mau masalah ini berkepanjangan, dan bisa jadi boomerang dalam rumah tangga Ve dan Bima jika kita menikah nanti."
" Sayang sekali Ve, padahal mama sudah sayang sekali dan mengharapkan kamu itu bisa jadi menantu mamah."
" Ve juga sayang dengan mama, dengan papa, dengan adik adik. Tapi Ve terlalu sakit untuk menerima Bima kembali. Mah, Ve yakin seandainya Bima dan Ve itu jodoh, pasti Alloh akan menyatukan kami dengan caraNya, Ve yakin itu."
" Ya udah Ve kalau itu sudah keputusanmu, mama tidak bisa memaksa hanya bisa menasehati, karena nanti kalianlah yang akan menjalaninya. Semoga kamu bahagia ya walaupun ada dan tanpa Bima."
" Iya mah doakan Ve ya, dan ijinkan Ve tetap memanggil mama dengan sebutan seperti ini, walaupun Ve tidak jadi menikah dengan Bima ya?"
" Iya Ve silahkan, dan kamu boleh menelfon mama kapan saja kamu mau dan kapan saja kamu butuh mama ya nak."
" Iya mah makasih banyak, maafin Ve ya, Ve sayang banget sama mama ", kata Ve sambil terisak.
__ADS_1
" Iya sayang mama juga sayang kamu. Kamu jangan nangis lagi ya, jalani harimu seperti biasanya, mama nggak mau mendengar kamu terpuruk karena masalah ini, seperti Bima terpuruk dulu."
" Iya mah Ve pasti ingat pesan mama."
Kemudian Vero menutup telfonnya, dia menarik nafas panjang dan menghapus air matanya yang berjatuhan semenjak tadi.
Kemudian Vero langsung mandi dan siap-siap berangkat kerja. Saat dia membuka pintu ternyata Elmo telah ada di depan kamarnya dan sedang duduk sambil main mengotak atik hpnya.
" Elmo ngapain kamu di sini?"
" Jemput kamu berangkat kerja."
" Ihhh ngapain nggak ngetuk pintu dari tadi?"
" Nggak, soalnya yang punya kamar lagi nelfon serius, mana pakai adegan nangis-nangis lagi, kenapa lagi mau belajar acting?"
" Iiihhh dodol..."
" Enak dong dodol, mana emang ada?"
" Isshhh....", kata Vero sambil manyun.
" Berarti kamu udah di sini dari tadi ya?"
" Iya dong dari jam 7 tadi, ga denger semuanya sih, tapi denger kamu nangis-nangis tadi."
" Kenapa nggak ngetuk pintuku?"
" Ya nggaklah, yang punya kamar lagi nangis ntar aku ganggu lagi, kan nggak enak kamu nangisnya serius dan menghayati banget."
" Emang ada nangis yang nggak serius?"
" Ada tuh nangis di senetron, cuma bohong bohongan, tapi enak di senetron ada yang bayar, giliran kamu, boro-boro dibayar, ngabisin tisu sama buang-buang energi iya Ve."
" Nggak mau dong kalau aku suruh ngerasain."
" Ya makanya nggak mau kan? Gitu becadain aku melulu."
" Aku kan cuma mau bikin kamu ketawa Ve."
" Ketawa ya...makasihhhh ". jawab Vero sambil cemberut.
" Udah yuk berangkat, nanti kamu telat lagi Ve."
" Iya aku kunci kamar dulu ". Setelah mengunci kamar kemudian merekapun pergi.
" Dinnn....aku berangkat duluan ya." Teriak Vero dari luar kamarnya.
" Iya Ve hati hati ", jawab Dinda.
" Tadi siapa Ve yang telfon? kok kamu sampai nangis- nangis lagi ".
" Mamanya Bima El."
" Memang ngomong apa?"
" Ya mama minta aku balikan lagi sama Bima."
" Pasti Bima yang nyuruh."
" Mungkin...tapi mama Bima emang sayang beneran sama aku, makanya beliau nggak pengen aku putus sama anaknya."
__ADS_1
" Tapi anaknya **** sihhh..."
" Beliau udah tau kok El, Bima sendiri malahan yang cerita duluan."
" Lalu kamu luluh lagi gitu?"
" Ya enggaklah El, hatiku itu udah cukup sakit, ngapain aku harus balikan lagi sama Bima? Emangnya mau bikin aku makan ati terus, males amat."
" Hahaha bagus anak pinter, gitu dong nggak percuma kamu masuk UGM."
" Apa hubungannya coba?"
" Adalah Ve, berarti kamu bisa berpikir lebih baik dengan akal sehat kamu, nggak cuma pakai perasaan aja, kadang-kadang perasaan kan sering salah Ve."
" Kamu ya sok bijaksana."
" Kamu udah sarapan belum Ve?"
" Belumlah, tau sendiri tadi mama Bima nelfon nyampe jam berapa?"
" Emang kamu udah?"
" Belum juga, sebenernya tadi aku pagi-pagi jemput kamu biar bisa ngajak sarapan bareng, eh nggak taunya yang mau diajak sarapan bareng udah kenyang duluan sama air mata, nggak jadi deh...."
" Ya udah nggak papa El, nanti gampang aku minta tolong aja OB di kantor beliin sarapan buat aku."
" Ve...kamu tuh dari dulu nggak berubah ya, masih aja polos, kenapa sih Ve?"
" Kenapa? maksudnya?"
" Emang kamu nggak pengen ya tampil seperti perempuan-perempuan lain, misalnya cara berpakaiannya, cara berhiasnya."
" Nggak El, buat apa? Aku mending tampil apa adanya tapi disukai banyak orang, bicara apa adanya nggak dibuat buat. Jadi diri sendiri itu lebih baik daripada harus pakai topeng untuk menyenangkan orang lain, padahal kita itu nggak mungkin bisa membuat semua orang itu menyukai kita. Yang penting lakukan yang menurut kita itu baik."
" Buktinya waktu aku ketemu kamu pertamakali di pesta itu, tampilan kamu gelamor Ve."
" Itu kan karena tuntutan dari Bima, aku harus tampil cantik. Tapi aku nggak nyaman, perasaan aku lihat di cermin mukaku malah kaya pemain lenong gitu, pakai merah merah nggak jelas, padahal aku begini aja udah cantik kan? Ya nggak?"
" Hahaha iya bener Ve, kamu tuh bangun tidur sama habis nangis aja kemarin cantik banget kayak bidadari."
" Bidadari apaan?"
" Bidadari habis patah hati Ve."
" Huuu sialan."
" Tapi bener kok Ve pemikiran kamu itu. Kalau mau nyari orang yang cantik jaman sekarang itu paling gampang, apalagi perempuan perempuan sekarang itu udah banyak yang palsu. Mukanya banyak dempulan, giliran dempulnya dihapus, remuk abis kayak habis digebukin orang sekampung. Mendingan kamu ya Ve bukan cuma cantik wajahnya aja, tapi cantik hatinya juga, pantesan aku suka."
" Suka apaan El?"
" Suka godain kamu hehehe."
" Ihhh Elmo, aku kira kamu suka beneran sama aku, udah deg degan gini taunya kamu cuma becandain aku ", kata Vero dalam hati.
" Nanti aku jemput pulangnya ya? Kayak biasanya kan Ve?"
" Iya El, makasih ya hati hati di jalan."
" Ok nona manis ", kemudian Elmo segera meninggalkan Vero diiringi senyum Vero yang mengembang di sudut bibirnya.
Sementara itu sepasang mata sedang memperhatikan gerak gerik Vero dan Elmo sedari tadi, di atas sebuah mobil.
__ADS_1
Sepasang mata Bima yang dibakar api cemburu dan juga rasa rindu yang menyatu dalam hatinya.
" Ve...aku kangen banget sama kamu. Apakah kamu sudah benar-benar melupakanku? dan menghadirkan laki laki itu dalam hidup kamu? Ve semoga kau benar- benar bahagia bersama Elmo, aku tidak punya hak atas kamu lagi, walaupun aku sangat sakit melihatmu berdua dengan laki-laki itu ", bisik Bima.