Lelaki Imamku

Lelaki Imamku
Di Malioboro


__ADS_3

Hari Sabtu merupakan hari libur, pagi ini aku bermalas malasan di atas tempat tidurku.


" Heiiii cewek jorok ".


Dinda tiba tiba saja masuk ke dalam kamarku.


" Udah mandi belum ?"


" Belum ".


" Tuh kan bener jorok banget sih kamu ".


" Biarin tapi kan udah cantikk yeee ".


" Cantik tapi bau ketek ".


" Mauu ???"


Sembari mendekati Dinda.


" Ihhhh sana sana jauhan aku udah mandi ntar ketularan bau lagi ".


" Ve main yuk...?"


" Kemana ?"


" Ke mall yuk ?"


" Ngapain ?"


" Jalan jalan aja, cuci mata siapa tau ada cowok ganteng, tajir, terus khilaf nembak kita jadi pacarnya hehe ".


" Yeee dasar matre ".


" Matre juga kalau sama cowok kaya Bima aku mah ogah walaupun dikasih duit tiap hari, bisa mati berdiri aku ".


" Heeee kamu pikir aku matrein dia ???"


" Hahaha aku kenal kamu Ve, pasti dulu otakmu ditutupin ama hidungnya yang mancung itu makanya mau sama dia ".


" Sialan kamu ".


" Ya udah aku ganti baju dulu ya ".


" Ngga usah gitu aja, biar disangka emak emak pakai daster gitu ".


" Hhhhmmm sory ya ", sahut Dinda sambil keluar kamarku.


Kemudian aku masuk ke kamar mandi.


" Ve udah siap belum ?"


" Iya udah....", sahutku sambil keluar kamar.


" Idih pake ijo ijo, digondol Nyi Roro Kidul baru tau rasa ". kataku mengomentari baju yang dipakai Dinda.


" Nyi Roro Kidul punya anak sekeren Elmo nggak, kalau ada mau donnngg ".


" Ihhh kayak udah tau Elmo aja ".


" Bayangin aja, secara Bima aja kamu bilang masih kalah macho sama Elmo, pasti Elmo seganteng Arjuna ya Ve ?"


" Udah deh ngaco aja, ayo berangkat ".


Kemudian aku mengeluarkan motor dari dalam garasi, baru saja hendak menghidupkannya sebuah mobil berhenti di depan pintu pagar kos kami.


" Sssst Ve itu Bima datang ". Bisik Dinda.


" Hhhhhhhh.....mau ngapain dia kesini ? jangan jangan mau cari ribut lagi ", bathinku.


Kemudian Bima turun dari kemudinya, dan perlahan mendekati kami berdua.


" Mau kemana Ve ?"


Tanya Bima.


" Aku mau main sama Dinda, bete di kos ", sahutku rada ketus.


" Aku pengen ngomong Ve ".


" Udah deh Bim, aku males ribut lagi sama kamu ".


" Nggak Din aku nggak mau ngajak ribut ".


" Ve aku masuk kamar aja ya, kamu ngobrol dulu dengan Bima ".


Akupun mengangguk, kemudian menyetandarkan motorku, dan berjalan menuju kursi yang ada di depan kamarku.


" Mau ngomong apa Bim ?"


" Aku minta maaf Ve kejadian kemarin ".


" Maaf...???"


" Tumben ", bathinku... selama pacaran baru kali ini dia minta maaf padaku, biasanya aku duluanlah yang meminta maaf dengannya


" Apa dia sudah sadar ? Tapi mustahil rasanya ".


" Tumben kamu minta maaf ?"


" Ayolah Ve, jangan perpanjang masalah ini dong...aku kan udah minta maaf, dimaafin ya ?", katanya merajuk.


Akupun mengangguk.


" Ahhhh kenapa aku lemah begini, kenapa aku nggak sok jual mahal " bathinku.


" Biar saja aku cuma ingin kasih kesempatan lagi buat dia untuk merubah sikapnya".


" Makasih ya sayang ?" Sembari memegang tanganku.


" Ve tau nggak ?"


" Apa ?"


" Kemarin aku dipanggil pimpinan, aku direkomendasikan untuk jadi wakil pimpinan, itu berarti aku akan naik pangkat Ve ", katanya gembira sekali.


" Ooohhhhh pantesan....hari ini dia berubah, ternyata dia sedang gembira ".


" Hhhhhh sudah kutebak, mustahil rasanya dalam tempo singkat sikapnya berbalik 180 ° ", bathinku.


" Ve kamu diem aja ? kamu nggak seneng ?"


" Eh ehm enggak Bim aku seneng kok ", sembari tersenyum tipis.


Kemudian Bima terlihat senyum senyum sendiri, sembari membuang pandangannya seolah sedang membayangkan sesuatu yang indah.


" Hmmm pasti dia sedang membayangkan bakal duduk di kursi bergengsi dan semakin dihormati oleh rekan rekannya, sebentar lagi dia pasti akan semakin besar kepala ", bathinku.


" Ve jalan jalan yuk ".


" Kemana ?"

__ADS_1


" Terserah kamu deh aku ikut, mumpung hatiku lagi seneng nih ".


" Ya udah beneran ya, nurut aku ?"


" Iya beneran ".


" Ok ayo jalan ".


Sambil beranjak dari tempat dudukku.


" Din aku pergi dulu ya ", teriakku berpamitan dengan Dinda.


Kemudian Dinda keluar dari kamarnya.


" Kemana Ve ?"


" Ini Bima ngajak jalan ".


" Ya udah hati hati ya ".


" Sorry ya kita nggak jadi pergi berdua "


" Udah nyantai aja ", kata Dinda.


" Din berangkat dulu ya ?" kata Bima.


" Iya Bim, jagain tuh temenku jangan dibuat nangis lagi ".


" Hehehe iya tenang aja ".


Kemudian aku dan Bima langsung menuju mobil.


" Kemana ini Ve ?"


" Jalan aja ke arah Malioboro ", kataku.


" Ok siap ".


Kemudian Bima menjalankan mobilnya, sedikit pelan tidak seperti biasanya, apalagi kalau keadaan sedang macet, pasti dia bakalan marah marah sendiri nggak jelas, bikin kupingku panas.


" Berhenti dimana kita ?"


" Udah jalan terus dulu pelan pelan aja ", kataku sambil menengok ke kanan dan ke kiri.


" Tuh ada parkiran kosong Bim, kita parkir di situ aja ".


Kemudian bima menghentikan mobilnya di parkiran kosong itu.


" Yuk !!!" kataku.


Kemudian Bima jalan di sampingku, sembari menggandeng tanganku. Banyak orang orang melihat ke arah kami.


Mungkin mereka takjub dengan kegantengan Bima.


" Biar saja toh wajahku juga cukup menarik jika berada di samping Bima dan tidak terlalu mengenaskan jika orang melihatnya ", bathinku.


" Kita kemana sih Ve jauh banget jalannya ?" Bima mulai kelelahan.


" Katanya ngikut aja ".


Kemudian aku berhenti di depan Benteng Vredeburg, kulihat ada tempat duduk kosong di sana ".


" Duduk di situ ya, asyik nih disini masih pagi belum panas ", kataku.


" Terus ngapain Ve di sini ?"


" Nah itulah, kamu belum pernah kan nongkrong di sini ?"


" Kenapa Ve ?"


" Perhatikan ".


" Kamu akan bisa lihat berbagai macam orang di sini, ada yang yang naik mobil mewah, ada yang jalan kaki, ada yang bajunya bagus, ada yang tidak....Dengan begitu kita bisa tau Bim banyak orang yang lebih kaya dari kita, bahkan ada yang lebih susah dari kita ".


" Maksudmu ?"


" Dengan begitu kita itu malu Bim kalau mau sombong dengan apa yang kita punya, ternyata masih banyak yang ada di atas kita, sebaliknya kita juga malu kalau mengeluh terus, ternyata banyak yang jauh di bawah kita ".


" Ah Ve kamu terlalu berlebihan ".


" Bukan berlebihan Bim, ini realita. Selama ini kamu ngajak aku nongkrong cuma ke kafe kalau nggak di restoran, di situ tempatnya orang orang berduit Bim, kamu nggak akan bisa lihat pemandangan seperti ini kalau cuma di tempat seperti itu ".


" Ah sudahlah Ve, sukses dan tidaknya seseorang kan tergantung usaha sendiri, kalau kita pemalas ya pasti sampai kapanpun jadi orang susah ".


" Susah Bim ngasih masukan sama kamu !!!" gerutuku.


" Udahlah ayo kita pindah ke tempat lain, kata Bima ".


" Kemana Bim ? Ini masih pagi mana ada kafe yang buka sepagi ini ", kataku.


" Ya kalau belum ada yang buka kita cari tempat lain aja yang lebih enak buat ngobrol ". Seraya menarik tanganku mengikuti jalannya.


" Tuh lihat benar kataku kan ? ini masih terlalu pagi Bim nyari kafe yang buka, udah muter berapa kali kita coba ?" kataku sambil merengut kesal di dalam mobil.


" hmmmm kita pulang aja deh ", sahut Bima.


" Ihhhh menyebalkan nih cowok ".


Akhirnya Bima membelokkan mobilnya ke jalan menuju arah kosku.


" Lho kalian kok udah pulang ?" kata Dinda saat kami sudah sampai kos.


" Bima nih !!!"


" Masak Vero tadi ngajak aku nongkrong di depan Benteng Vredeburg Din, ngapain coba ? cuma melototin orang lewat doang, membosankan, mana banyak debunya lagi ".


" Kamunya aja yang nggak punya jiwa sederhana, pengennya kalau nggak ke cafe kalau nggak ke restoran mahal, mana mau kamu nongkrong di tempat gituan, maunya cuma bergaul sama golongan atas doang "


" Hei hei kok pulang pulang malah ribut sih kalian ini !"


" Iya Din nyebelin banget dia ".


" Ya udah deh aku pulang dulu ".


" Pulang aja aku mau nongkrong sama Dinda ".


" Ya udah terserah kamu !"


" Aku pulang dulu ya ".


Aku diam saja tidak menjawab kata kata Bima.


" Din pulang dulu ya, tuh Vero ngajak jalan, hati hati ya ".


" Siapppp bos ".


" Ayo jadi jalan nggak ?" kata Dinda setelah Bima pergi.


" Ya jadilah, udah ganti baju dulu sana, emang perginya mau pake celana kolor kayak gitu ?"


" Hehehe siap nona manis nggak usah emosi gitu, hati boleh marah tapi kepala tetap dingin coy ".

__ADS_1


" Ihhhh sana buruan !!!" sambil mendorong tubuh Dinda, Dinda tertawa cekikikan.


" Ayo berangkat udah siap nih ".


" Jadi ke mall kan ?"


" Jadilah ", kataku.


Baru saja kita hendak berangkat tiba tiba hpku berbunyi.


" Bentar Din hpku bunyi ", sembari mengambilnya di dalam tasku.


" Hallo El ".


" Hallo Ve, lagi ngapain ?"


" Ini lagi mau jalan sama Dinda ".


" Dinda ?"


" Iya temen satu kosku ".


" Ooohhh, kemana ?"


" Nggak tau nih anak katanya lagi bete, dia ngajak ke mall gitu ".


" Masih pagi begini apa udah buka mallnya ?"


" Belum sih, tapi kan bisa nongkrong nongkrong dulu cuci mata ".


" Oh ya udah aku ntar nyusul kesana boleh ?"


" Boleh aja, ini kami baru mau berangkat ".


" Ok tunggu ya ?" Lalu Elmo segera menutup telfonnya.


" Elmo mau nyusul Din, kamu nggak keberatan kan ?"


" Nggak papa Ve, sekalian aku pengen kenalan sama dia ".


" Eitss jangan macam macam tapi ya ?"


" Yeee nggak mungkinlah Ve aku mau nikung kamu, kecuali lagi khilaf hehehe ".


Kemudian kami langsung pergi meninggakan kos kosan.


" Duduk di sini aja dulu Ve agak sepi ".


Kami memilih sebuah kursi kosong dekat pohon tidak jauh dari lokasi mall.


" Heran, Bima kok bisa ya nggak suka sama tempat seperti ini, padahal asyik lho ". Kata Dinda.


" Hhhhhh aku aja bingung sama jalan pikiran dia itu ".


Tiba tiba Hpku berdering.


" Ve aku udah nyampe, kamu dimana ?"


" Aku duduk di kursi deket lokasi lesehan Bim, sini aja ".


Tak lama kemudian kulihat sesosok laki laki memakai kaus warna biru, dan celana jeans warna hitam seperti sesosok Elmo, dan sedang kebingungan mencariku. Aku telfon hpnya.


" El sini ", jalan terus aja, aku di depanmu.


Elmo kemudian mengalihkan pandangannya, dan kulambaikan tangan padanya.


" Kayak orang hilang kamu tadi celingak celinguk di sana ", kataku sambil tersenyum geli.


" Biarin aja daripada kayak orang gila hehe ".


" Eh kenalin El, ini Dinda temen satu kosku ".


Kemudian Dinda dan Elmo saling bersalaman.


" Bener Ve lebih macho dari Bima ", bisik Dinda.


" Ihhhhh ", aku cubit pinggangnya.


" hayooo ngomongin aku ya ?", kata Elmo.


" Dinda nih nggak bisa kayaknya ngeliat cowok keren dikit ".


" Hahaha berarti normal dia Ve ?"


" Kok pagi pagi udah nongkrong di sini sih ?"


tanya Elmo.


" Iya nih menghibur seseorang yang pagi pagi habis berantem lagi sama cowoknya ", kata Dinda tiba tiba.


" Husssss ", kataku sambil melotot ke arah Dinda.


" Hihihi...!!" Dinda tertawa cekikikan.


" Ohhhh ada yang berantem lagi to ? hmmmm kayaknya hobby ya ?" Kata Elmo.


" Udah deh jangan pada ngeledek ", kataku.


" Kamu temen sekolah Vero ya El ?" kata Dinda basa basi.


" Iya kok tau ? cerita apa aja Vero ke kamu ?"


" Hmmmm banyakkk banget, pokoknya seru !!"


" Dinda....ember kamu ya !!!" Kata Vero.


" Hehehe enggak El, dia cuma cerita standar aja sih nggak aneh aneh kok ".


" Aneh aneh juga nggak papa kok Din nggak ngerugiin ini ".


Kemudian kami melanjutkan ngobrol, sambil memperhatikan orang yang berlalu lalang di depan kami.


" Katanya kalian mau ke mall, udah buka tuh ".


" Eh iya jadi kan Ve ?"


" Ya terserah, kan tadi kamu yang pengen ke mall ", kataku.


" Udah sana aku pulang dulu ya ?"


" Kamu nggak ikut El ?" Tanya Dinda.


" Nggak ah nggak enak, tar kalian mau beli underwear malu lagi sama aku ", sahutnya sambil tertawa.


" Ya kamu ikutan beli biar nggak malu El ", kataku bercanda.


" Hahaha bisa aja ", jawab Elmo tertawa.


" Udah deh nggak papa sana, biar aku pulang aja ".


" Beneran nih nggak ikut ?", kata Dinda lagi.

__ADS_1


Elmo menggeleng. Kemudian kamipun berpisah, Elmo berjalan pulang, sedangkan aku dan Dinda masuk ke dalam mall.


__ADS_2