
Hari ini sepulang kerja Vero terkejut sekali, karena dilihatnya Elmo dan Dinda sedang duduk berduaan di depan kamar Dinda. Dan terlihat mereka sedang bercanda berdua sambil tertawa tawa.
Ada sedikit perasaan cemburu di hati Vero melihat keakraban mereka berdua.
" Kenapa Elmo ada di sini tanpa mengabariku? Dan kenapa dia sepertinya terlihat ceria sekali bercanda dengan Dinda? Sebenarnya ada hubungan apa diantara mereka?" Tanya Vero dalam hati.
" Ve, barusan pulang?" sapa Dinda.
" Iya Din. Kok kamu ada di sini El? " selidik Vero.
" Iya Ve, ini ada perlu sama Dinda."
" Ohhh ya udah aku masuk ya ", kata Vero kemudian.
" Lho kok nggak iku ngobrol di sini Ve?" tanya Dinda.
" Nggak ah aku capek, pengen istirahat ", kemudian Vero langsung masuk ke kamarnya tanpa berbasa basi lagi.
Dinda dan Elmo saling bertatap tatapan.
" Kayaknya dia marah El."
" Masak sih Din?"
" Iya beneran."
" Ya udah aku mending pulang aja ya?"
" Iya El, nanti aku kabari aja gimana selanjutnya."
" Ya udah Din."
Kemudian Elmo segera pergi dari kos Vero. Vero sama sekali tidak keluar dari kamarnya sampai malam hari. Dia kesal sekali dengan Dinda, mungkin dia cemburu, karena tiba-tiba sahabatnya itu dekat dengan Elmo. Bahkan akhir-akhir ini setiap Elmo datang ke kosnya, Dinda selalu menemani Elmo ngobrol, dan itu bukan hal yang biasa dilakukan Dinda.
" Ve....." panggil Dinda di suatu malam.
" Masuk Din, nggak dikunci."
Kemudian Dinda masuk ke kamar Vero, dilihatnya sahabatnya itu sedang tiduran dan asyik mengotak atik androidnya. Kemudian Dinda ikut berbaring di samping Vero.
__ADS_1
" Kok sering ngurung diri di kamar sih sekarang? kayak anak perawan lagi dipingit aja."
" Lage males aja di luar."
" Kok males sih? biasanya ke kamarku ngobrol."
Ve diam saja tidak menjawab perkataan Dinda. Tapi sebenarnya Dinda tau bahwa Ve sedang marah padanya, namun Dinda memang sengaja membiarkan sahabatnya itu dan pura-pura tidak tau.
" Ya udah Ve kalau gitu aku ke kamar dulu."
" Iya." Ve cuma menjawab singkat, seolah tidak perduli dengan kehadiran Dinda.
Vero hanya bertanya dalam hati, apakah Dinda benar- benar memiliki hubungan dengan Elmo tanpa sepengetahuannnya. Tapi bukankah Dinda tau Vero memiliki rasa dengan Elmo, walaupun sebenarnya Elmo mungkin tidak pernah sekalipun menyukainya. Vero hanya tidak ingin melihat kedekatan mereka di depan mata Dinda, seperti Diaz sahabatnya dulu.
Tingkah Dinda semakin menjadi jadi. Bahkan Vero pernah melihat Dinda pergi diam-diam tanpa berpamitan dengannya, dan pulang malam hari dengan diantar Elmo. Hati Vero hancur untuk kedua kalinya. Belum juga luka yang dibuat Bima mengering, sudah ditambah dengan Vero harus melihat sahabatnya sendiri dekat dengan orang yang selama ini dia sukai.
Vero semakin jauh dari Dinda. Sudah satu minggu ini Vero tidak pernah ngobrol bersama Dinda.
Sementara itu Bima dan Anya juga semakin akrab. Bima belum bisa melupakan Vero, tapi pesona Anya tetap tidak bisa ditolaknya.
Bima semakin dikendalikan oleh Anya, setiap saat Anya selalu meminta Bima menemaninya kemana saja dia mau.
" Iya ".
" Aku tuh bahagia banget lho bisa dekat lagi sama kamu, aku janji kita akan terus bersama Bim. Bim apakah kamu juga bahagia sepertiku ?" Tanya Anya saat berada di mobil bersama Bima.
Bima hanya tersenyum saja, tidak mengiyakan pertanyaan Anya, karena diapun saat ini sedang bingung dengan perasaannya sendiri.
" Bim, kapan kita ke Surabaya?"
" Ke Surabaya? ngapain Nya?"
" Ke rumahmu Bim, aku ingin silaturahmi sama keluargamu. Bukankah sudah lama sekali aku tidak bertemu mereka setelah kita putus dulu?"
Bima sedikit gelisah dengan pertanyaan Anya, karena dia tau keluarga besarnya tidak akan mungkin mau menerima kehadiran Anya di tengah-tengah mereka, karena Anya pernah membuatnya hancur.
" Bim, kenapa diam?"
" Ohh iya Nya, nanti kalau waktunya sudah tepat ya?"
__ADS_1
Jawab Bima mencoba menenangkan hati Anya.
" Oh ya Bim, besok siang aku anterin ke salon ya? udah lama semenjak di sini aku belum pernah ke salon."
" Kamu kan bisa naik taksi Nya, besok aku harus kerja kan?"
" Ihhhh Bima, aku kan nggak tau salon yang bagus di sini. Lagian kan waktu jam istirahat kamu bisa keluar sebentar ", sahut Anya manja.
" Nya...jarak hotelmu dengan rumah sakitku itu jauh, kalau aku harus menjemputmu, lalu mengantarmu lagi, aku bisa terlambat masuk. Kamu kan tau waktu istirahatku cuma 1 jam."
" Waktu itu juga kamu bisa kok dateng ke hotelku lebih dari 1 jam saat jam istirahat, kenapa sekarang nggak bisa?" Sahut Anya sedikit ketus.
" Ya itu kan waktu belum ada pasien, besok itu aku nggak tau setelah jam istirahat masih ada pasien atau tidak."
" Pokoknya aku nggak mau tau, kamu harus anterin aku titik."
Bima menarik nafas panjang, saat seperti inilah Bima ingat Vero. Vero sosok yang amat mandiri, tidak pernah Vero merepotkannya hanya untuk minta diantar kemana mana. Vero juga bukan type perempuan yang suka keluar masuk salon, apalagi berlama lama hanya untuk memanjakan tubuhnya. Vero perempuan yang sederhana dan apa adanya, namun itu tidak mengurangi kecantikan wajahnya yang alami. Dia hanya memakai sedikit lipstik dan bedak tipis, beda sekali dengan Anya yang selalu memakai riasan tebal di wajahnya, cantik sih walaupun sebenarnya itu sangat merepotkan, dan terkadang membuat Bima sering sebal jika menunggu Anya lama hanya untuk memoles wajahnya.
" Bim makan dimana kita?"
Tiba-tiba Bima rindu sekali dengan Vero
Biasanya Vero paling suka makan di pinggir-pinggir lesehan, di tempat yang terbuka, dimana mereka bisa makan sambil menikmati suasana malam, dan pemandangan orang-orang yang berseliweran di depan mereka.
Vero suka alam, suka tempat yang alami, suka tempat yang jauh dari hingar bingar, dan semua ini berbanding terbalik dengan Anya yang lebih suka pergi ke tempat-tempat modern, cafe, restoran mahal, party-party, dan inilah yang dulu membuat Bima sempat ingin menghadirkan bayangan Anya dalam diri Vero. Bima selalu memaksa Vero membawanya ke tempat-tempat yang dulu sangat digemari Anya, memaksa Vero berpenampilan seperti Anya, bahkan Bima sendiri berubah menjadi pribadi yang sombong, karena dia merasa sakit hati ditinggalkan Anya hanya demi laki-laki lain yang lebih sukses, dibanding Bima. Itulah sebabnya dia merasa termotivasi untuk menjadi orang hebat seperti yang Anya inginkan, bahkan Bima lupa bahwa lama kelamaan obsesinya itu merubahnya menjadi sosok yang angkuh dan sombong.
" Bim...kok melamun sih ditanyain makan dimana?"
" Ehhmmm bagaimana kalau di lesehan Nya? tuh di pinggir-pinggir itu, pasti seru ", jawa Bima.
" Apa Bim? di pinggiran kayak gitu? ihhhh enggak ahh, jijik aku!! Itu kan nggak sehat, mana banyak debu lagi, pasti banyak kumannya!" Kata Anya sambil bergidik.
" Nggak Nya, tuh buktinya yang makan di situ sehat- sehat semua ".
" Yukk coba sekali-sekali dong."
" Nggak...!! Kalau kamu mau makan di situ makan aja sendiri!! Aku pulang aja!!" Sahut Anya ketus.
" Hhhhhh.....", Bima menarik nafas panjang, rasanya sebal sekali melihat perilaku Anya ini. Mungkin dulu seperti inilah yang dirasakan Vero saat Bima menolaknya mengajak makan di tempat itu.
__ADS_1
Akhirnya Bima mengalah dan mengikuti kemauan Anya untuk makan di sebuah restoran sesuai dengan keinginan Anya