Lelaki Imamku

Lelaki Imamku
Bima dan Anya bertengkar


__ADS_3

Malam ini Elmo menelfon Vero.


" Hallo Ve?"


" Ada apa El, tumben telfon?"


" Ihhh kok jutek gitu sih kayaknya."


" Ahhh perasaan kamu aja mungkin."


" Gimana besok? Jadi ke Bandungnya?"


" Hhhhhh kenapa dia baru tanya sekarang tentang rencana itu, aku pikir dia tidak jadi ikut karena terlalu asyik dengan Dinda, sehingga aku membatalkannya dan memutuskan untuk pulang saja ke tempat tinggalku." Kata Vero dalam hati.


" Bagaimana Ve? jadi ngga?" Tanya Elmo kembali.


" Nggak El nggak jadi."


" Lho kenapa?"


" Nggak papa, aku mau pulang ke Sumatra aja ketemu ibuku."


" Lho padahal kan kamu sudah berencana ke Bandung denganku Ve?"


" Sorry El lain waktu aja ya, ya udah aku mau istirahat dulu nih ", kata Vero mencoba mengakhiri telfon dari Elmo.


" Oh ya udah Ve, sorry udah ganggu kamu."


Vero tidak menjawab, tapi langsung menutup telfonnya.


Elmo tersenyum sendiri melihat Vero sebegitu juteknya sama dia.


" Vero Vero kamu tuh memang benar benar polos dan tidak bisa menutupi perasaan kamu sendiri ".


###########


Hari Jumat sore Vero pulang lebih awal, karena jam keberangkatan Bus ke Sumatra adalah tepat pukul 3, maka jam 2 siang dia sudah pulang lebih dulu.


Sesampainya di kos, Vero langsung mandi dan kemudian berganti pakaian, lalu mengemasi semua barang bawaanny. Satu buah koper besar berisi pakaian pribadinya, dan juga 1 kardus besar berisi oleh oleh untuk keluarganya.


Setelah taksi yang dipesannya datang, dia langsung menuju ke terminal.


Pukul 3 sore tepat bus berangkat. Vero menaiki bus itu, dia membuang pandangannya ke arah jendela. Dia mengingat kembali semua kejadian yang lalu, sebuah kesalahan yang membuat dia berada di dalam angkutan umum yang dinaikinya saat ini. Seharusnya hari ini Vero berada di dalam sebuah pesawat yang akan dipesankan oleh Bima, dan bukan di dalam sebuah bus. Seharusnya kepergian dia hari ini membawa sebuah kebahagian dan rencana besar yang disusunnya bersama Bima ke depannya, bukannya sebuah kesedihan seperti sekarang ini. Tiba tiba air mata Vero jatuh, dan dia menghapus dengan telapak tangannya.


Tiba tiba hpnya berbunyi, Elmo yang menelfonnya.


" Ve kamu dimana? Apa masih di tempat kerjamu? kamu jadi pulang hari ini?"


" Aku sudah di bus El, sudah berangkat 1/2 jam yang lalu."


" Lho kenapa kamu nggak kabari aku? Aku kan bisa mengantarmu ke terminal."


" Ngga usak El, makasih nanti merepotkanmu, lagian aku udah biasa kemana mana sendiri kok."


" Oh ya udah Ve hati hati di jalan, salam buat keluargamu. Besok kalau mau pulang ke Yogya kabari aku ya, biar aku jemput di terminal."


" Iya El makasih."


Kemudian Vero menutup telfonnya.


" Elmo aku tau perhatian kamu hanya sebatas kasihan padaku karena masalah yang sedang aku hadapi, tapi buat apa kamu mengasihani aku kalau ternyata kamu ternyata menusukku dari belakang dengan kedekatan kamu bersama Dinda. Kamu memang nggak salah Elmo, aku yang salah nggak bisa melupakan kamu dan berharap terlalu berlebihan sama kamu." Kata Vero di dalam hati.

__ADS_1


Bus terus melaju membawa kepingan hati Vero yang terluka, dan berharap di tempatnya nanti dia bisa menghibur sedikit rasa sakitnya itu.


Sementara itu Elmo menelfon Dinda.


" Hallo El ada apa?"


" Din...Vero udah berangkat ke Sumatra baru aja."


" Masak sih? Kok dia nggak pamitan aku?"


" Lho aku kira kamu tau rencana kepulangan dia?"


" Ahhh aku nggak tau kok, malahan aku baru tau dari kamu."


" Jadi dia nggak jadi pergi sama kamu ke Bandung?"


" Ya enggaklah Din."


" Waduhhh anak itu ya kalau lagi ngambek, nyusahin banget."


Kata Vero.


" Ya udah Din, aku mau ngabarin aja, takutnya nanti kamu nyariin dia lagi di kos."


" Oh iya El, makasih ya."


" Sama sama Din ", kemudian telfon ditutup.


Sementara itu Anya sedang marah-marah di dalam kamar hotelnya, karena sepertinya Bima mulai menghindarinya. Janji Bima yang katanya akan mengantarnya ke salon tidak ditepati, bahkan sudah dua hari ini hp Bima mati. Anya seperti kebakaran jenggot. Anya marah sekali, dia merasa seperti dipermainkan Bima.


" Bim kemana sih kamu? Udah dua hari ini hpmu mati, bahkan janji kamu mau nganter aku ke salon juga nggak ditepati, brengsek...!! Mana aku nggak tau rumah Bima lagi ", umpatnya pada diri sendiri.


Kemudian Anya segera berganti pakaian dan merias wajahnya, setelah itu turun dan menghentikan sebuah taksi di depan.


" Ke PKU ya pak ", katanya pada supir taksi.


" Baik mbak!!"


Anya sudah sangat tidak sabar untuk bertemu Bima, kedekatan dia dengan Bima selama 2 minggu terakhir ini, membuat Anya sangat bergantung pada Bima seperti dulu lagi. Setiap saat selalu ingin ditemani dan diperhatikan oleh Bima.


" Stop depan ya pak."


Taksi yang ditumpangi Anya berhenti tepat di depan rumah sakit dimana Bima bekerja.


Diliriknya arloji di tangannya.


" Hmmmm mudah mudahan Bima belum pulang ", gumamnya.


Lalu Anya berjalan ke ruangan Bima, Anya sudah tau letak ruangan Bima, karena sebelumnya Anya pernah kesana.


Dilihatnya ruangan Bima pintunya tertutup.


Ada seorang suster jaga yang menunggu di depan.


" Suster apa dokter Bima ada di dalam?"


" Oh ada bu, tapi beliau sedang memeriksa pasien terakhir, ada apa bu?"


" Saya sedang ada perlu dengan dia."


" Ooohhh silahkan ibu tunggu dulu di sini, setelah pasien keluar baru saya panggilkan dokter Bima, apakah bersedia atau tidak bertemu dengan anda."

__ADS_1


" Dia pasti bersedia sus, karena saya pacar Dokter Bima." Katanya sedikit ketus.


" Ohhh anda pacar Dokter Bima? Maaf saya tidak tau, kalau begitu anda tunggu dulu saja bu di sini."


Kata suster tersebut, kemudian masuk ke dalam ruangan Bima untuk memberitahukan perihal kedatangannya. Tak lama kemudian suster itu kembali lagi.


" Nanti setelah pasien keluar, ibu boleh masuk ke ruangan Dokter Bima." Kata suster tersebut.


" Terimakasih Sus."


" Sama sama bu."


Anya menunggu amat gelisah di luar ruangan Bima, tak sabar rasanya untuk segera mengetahui alasan Bima mematikan hpnya.


Tak lama kemudian pasien yang ada di ruangan Bima keluar. Anya segera beranjak dari duduknya menuju ruangan Bima tanpa basa basi dengan suster yang ada di depannya. Anya berjalan dengan angkuh.


Setelah ada di dalam ruangan Bima, Anya langsung menyerbu Bima dengan berbagai pertanyaan yang membuat Bima amat pusing.


" Bim...kamu tuh kenapa sih? Udah 2 hari ini hpmu mati, waktu kamu aku suruh nganterin ke salonpun kamu nggak dateng, apa sih mau kamu? kamu mau mempermainkan aku?"


" Kamu tuh apa apaan sih Nya dateng-dateng langsung teriak-teriak nggak jelas kayak gini?"


" Kamu yang nggak jelas!! Nggak usah pura-pura nggak tau Bim, kamu udah nggak mau bersamaku lagi? atau jangan-jangan kamu mau menghindariku? jawab Bim! Jawab! Kamu tuh pengecut!!"


" Stop Nya stop...!!" Kata Bima sambil menggebrak meja di depannya.


Anya kaget baru kali ini seumur umur Anya melihat Bima semarah ini dengan dia. Padahal dulu apapun mau Anya selalu dituruti oleh Bima. Kemanapun Anya ingin pergi selalu diantarkan oleh Bima.


" Heiii kamu berani membentak aku!!"


" Aku capek Nya melayani semua kemauan kamu! kamu pikir aku ini apamu? Semua keinginanmu minta dituruti!"


" Bim, kenapa kamu berubah?"


" Aku nggak pernah berubah Nya! Hanya saja aku ini terlalu bodoh, aku baru menyadari bahwa kehadiran kamu ini hanya sebuah parasit dalam hidupku!"


" Apa kamu bilang? Parasit?"


" Ya parasit! Kamu membawa pengaruh buruk buat aku, seharusnya 1 minggu lagi aku akan bertunangan dengan Vero, seharusnya hari ini aku sedang berkumpul dengan keluargaku untuk mempersiapkan semuanya, bukan malah berdebat bersama kamu."


" Kamu menyalahkan aku Bim? bukankah kamu juga menikmati kebersamaan kita?"


" Itu dulu sebelum aku menyadari semuanya, tapi sekarang semuanya terlambat setelah aku kehilangan calon istriku. Calon istriku yang begitu baik, yang begitu sabar menghadapi sikap burukku beberapa tahun yang lalu, calon istriku yang aku sakiti karena kehadiran kamu. Harusnya kusadari itu jauh-jauh hari dan bukan sekarang!!"


" Kurang ajar kamu Bim!! Bisa bisanya kamu bicara seperti itu padaku?"


" Mulai hari ini jangan pernah ganggu aku lagi Nya! Pergilah jauh dari hidup aku, kembalilah ke negaramu! Karena mulai detik ini aku nggak akan pernah mau menemuimu lagi ", kata Bima kemudian segera pergi meninggalkan Anya sendiri.


" Bim...Bimm tunggu aku...maafin aku Bim, maafin keegoisan aku, aku janji akan berubah ".


" Maaf Nya, walau kamu berusaha berubah sekalipun, aku tetap tidak bisa bersama kamu. Hatiku sudah bukan milikmu lagi, dan aku tidak bisa melupakan Vero. Lebih baik kamu pergi sebelum kita saling menyakiti Nya."


" Bim ayolahhh kita mulai semuanya dari awal sayang ", kata Anya lembut sambil memegang lengan Bima, berusaha merayu Bima dengan taktik yang selalu dia lakukan sehingga membuat Bima langsung luluh.


" Nya keputusanku sudah bulat. Tolong pergi dari hadapanku sekarang juga! Sebelum aku hilang kesabaran ", kata Bima sambil menatap tajam ke arah Anya.


Anya bergidik ngeri melihat sikap Bima, dia beringsut mundur.


Lalu Bima meninggalkannya.


" Bangsattt kamu Bimaaaaa ", teriak Anya sepeninggal Bima.

__ADS_1


__ADS_2