Lelaki Imamku

Lelaki Imamku
Tiba di rumah orang tua Bima


__ADS_3

" Ve bangun Ve..."


Bima membangunkan tidurku.


" Ehhhhmmm udah nyampe Bim ?"


" Belum Din, kita sholat dulu terus makan ya ?"


Aku melirik arloji di tanganku pukul 12.30 pantes perutku sudah lapar bathinku.


" Ayo turun Ve kok bengong ".


" Eh iya Bim ".


Kemudian aku keluar dari mobil mengikuti Bima yang berjalan di depanku, kulihat sekeliling lokasi tempat makan di depanku.


" Hmmm lumayan nyaman ".


" Sebuah rumah makan yang unik , lebih menyerupai kafe dan bangunnya berbentuk rumah tradisional Jawa ".


"Ayooo...masih ngantuk ya ? nanti cuci muka dulu aja ya ". Katanya sambil menggandeng tanganku.


Tamu sedikit ramai banyak mata memperhatikan kedatangan kami, apalagi banyak abg yang aku lihat sedang berbisik bisik kemudian tertawa cekikikan melihat kami.


Kemudian kulirik Bima yang masih belum melepas kacamata hitamnya.


" Hhhmmm pantesan, Bima kelihatan ganteng banget, mirip sama bintang film bintang film Hollywood pasti abg abg itu lagi ngomongin kegantengan Bima " , bathinku.


Bima mengajakku duduk di dekat jendela sambil menikmati pemandangan di luar restoran ini.


" Kamu makan apa Ve ?"


" Terserah deh aku ikut ".


" Kemudian Bima memanggil seorang pelayan perempuan, dan memesan makanan padanya ".


" Bim, aku sholat dulu ya ?"


" Ya udah sana nanti gantian, tasmu taruh sini aja aku tungguin ".


" Kemudian aku menyerahkan tasku pada Bima ".


Aku berjalan menuju mushola yang letaknya agak ke belakang.


Selesai sholat aku keluar lagi dan ganti giliran Bima, sementara itu aku menunggu pesanan makanan kami datang.


Tiba tiba aku ngerasa ada seseorang yang sedang memperhatikanku. kulihat seorang cowok tampan duduk sendirian di sudut sana sedang memperhatikanku, tiba tiba dia tersenyum padaku.


Akupun membalas senyumannya.


Tak lama Bimapun datang.


" Belum siap Ve ?"


" Belum Bim, ramai sih ".


" Kamu tadi tidurnya enak banget sih, aku dicuekin sendirian ".


" Iya aku ngantuk banget ".


" Emang semalem tidur jam berapa ?"


" Jam 11an, aku kan harus beres beres dulu dibantuin Dinda, sambil ngobrol eh nggak taunya udah jam 11 ".


" Hhhhh dibilangin jangan tidur malam malam bandel sih ".


Aku diam saja dan hpku kemudian berbunyi, sepertinya ada pesa WA masuk.


" Waduhh Elmo ". Aku langsung balas pesannya aku bilang sedang bersama Bima dan dia mungkin tau makanya tidak membalasnya lagi.


" Siapa Ve ?" selidik Bima ingin tahu.


" Ohh temen kantorku ngomongin masalah kerjaan di kantor ", sahutku berbohong.


Kalau dia tau dari Elmo pasti ngamuk dia di sini.

__ADS_1


" Ve kamu lihat cowok di sudut kirimu yang menghadap ke pintu keluar ".


" Kenapa Bim ?"


" Dia dari tadi ngeliatin kamu terus ".


Aku diam saja dan tidak melihat ke arah yang ditunjukkan Bima, karena aku memang sudah tau


dari tadi.


" Kamu pindah duduk di sini ".


" Ihhh kenapa sih Bim, biarin aja lho dia kan cuma ngeliatin ".


" Tapi aku nggak suka Ve, sini buruan aku pindah ke situ ".


Kemudian aku nurut saja dan pindah duduk di kursi Bima.


" Iiih ribet amat cuma dilihatin aja nggak ngerugiin ini bathinku ".


Setelah selesai makan kamipun melanjutkan perjalanan, dan masuk kembali ke area jalan tol.


" Masih lama Ya Bim ?"


" Ya sekitar 3 jam lagi sih..."


" Hhhhhh...lama banget, sahutku menggerutu ".


" Kenapa capek ya ".


" Iya capek banget ".


" Mungkin kalau perginya sama Elmo nggak bakalan sebete ini aku, iiihhhh kok jadi kepikiran Elmo sih ".


" Tadinya aku pengen ngajak kamu naik pesawat Ve biar kamu nggak capek, tapi kita kan nggak pernah naik mobil perjalanan jauh begini, jadi aku putusin bawa mobil aja ".


Kemudian aku memilih lebih banyak diam menikmati pemandangan di kanan kiri jalan yang menurutku amat membosankan, namun aku rasa lebih baik daripada mengobrol dengan Bima, pasti ujung ujungnya berdebat.


Setelah perjalanan yang melelahkan akhirnya sampai juga aku di rumah Bima.


Di sana berjajar 4 mobil pribadi tak kalah mahal dari milik Bima.


" Ayo turun Ve, jangan takut orang tuaku baik kok ".


Ada sedikit ragu di hatiku, keluarganya sekaya ini amat berbanding terbalik dengan kondisi orang tuaku di rumah. Ibuku yang hanya seorang guru SD, sedangkan ayahku sudah lama meninggal semenjak aku duduk di kelas 2 SMA.


" Ayo Ve....sambil menarik tanganku ".


Kami melewati sebuah pintu depan berukir warna kuning emas, dan perlahan berjalan memasuki ruang tamu yang dihiasi oleh sofa sofa cantik dan beragam furniture lainnya yang tak kalah mewah.


" Assalamualaikum ".


Bima mengucapkan salam, masih sambil menggandeng tanganku, dia terus berjalan memasuki ruangan lain di rumah ini yang tak kalah besar.


Pemandangan pertama yang aku lihat adalah sebuah lukisan keluarga yang cukup besar menempel di dinding. Dan di bawahnya ada sebuah TV layar datar yang tak kalah besar, juga lengkap dengan sound systemnya di samping kanan kirinya.


" Hhhmmmm aku terpaku melihat pemandangan dalam rumah ini ".


" Wa' alaikumsalam ".


Seorang wanita cantik berjilbab menutupi sebagian tubuhnya, dan dibalut dengan gamis panjang warna biru muda, sangat cantik dan anggun.


" Bima...udah nyampe nak ".


" Ma...sehat ?"


" Alhamdulillah nak, kamu sehat kan sayang ".


" Iya ma Bima sehat ", sembari mencium tangan wanita itu dan kemudian memeluknya.


" Kamu jarang banget pulang ?"


" Maaf ma Bima sibuk banget ".


" Oh iya ma kenalin ini Vero yang aku ceritain di telfon itu ".

__ADS_1


" Oh iya Vero...cantik banget kamu ? pantes Bima jatuh cinta sama kamu sayang ".


" Terimakasih tante ", kemudian mencium tangannya.


" Shania...Helena...sini sayang ini kakakmu datang ".


Tak lama kemudian 2 orang adik perempuan Bima datang. Dua orang gadis cantik tak kalah cantik dari mamah Bima yang berdarah Arab.


" Eh kak Bima capek ya kak ?" tanya salah seorang adiknya.


Sembari menyalami tangan Bima


" Capeklah nanti pijitin ya ?"


" Hiiii ogah tapi kalau dikasih uang mau donggg ".


" Yeeee mata duitan ", kata Bima.


" Kenalin nih calon kakak ipar kalian, namanya Ve ".


" Hah cantik banget kak, kok mau dia jadi pacar kakak ? kakak kan cowok yang menyebalkan ".


Aku hanya tertawa melihat gurauan adik Bima.


" Emang iya ", bathinku.


" Hai kak namaku Shania ", adik Bima yang usianya lebih muda.


" Kalau aku Helena kak ", gadis cantik berlesung pipit dan merupakan adik Bima nomor dua.


" Ayo sayang bawa Ve masuk ke kamar kalian, kalian tidur bertiga ya, biar bisa cerita cerita ".


" Iya ma...."


Kemudian 2 adik Bima menggandeng tanganku masuk ke kamar mereka.


"Anak anak yang baik beda sama kakaknya ", bathinku.


Aku memasuki kamar yang amat besar. Sebuah tempat tidur berukuran kingbad menjadi pemandangan pertama saat aku mulai melewati pintu masuknya.


Dua lemari besar menghiasi kiri kamar ruangan ini.


" Kak sini, tas kakak aku taruh di lemariku ya ".


Aku hanya mengangguk.


Kemudian aku duduk di kursi belajar yang ada di kamar ini, sementara Shania dan Helena duduk di atas kasur mereka.


" Nggak usah canggung kak sama kami, kami tuh nggak segalak Kak Bima, ya Sha ?" Sembari menoleh ke Shania yang duduk di sampingnya ".


" Iya kak, kalau Kak Bima sih kayak singa, galaknya minta ampun ".


" Paling kalian bandel ?"


" Ihhh enggak kok, Kak Bima tuh nggak bisa tersinggung dikit, langsung deh marah ".


" Iya Shania heran kok kakak bisa betah sih sama Kak Bima ? jangan jangan kakak tertekan ya ".


" Hahaha....", mereka tertawa bersama.


Sedangkan aku hanya tersenyum kecil menanggapi curhatan kakak beradik itu.


" Kakak udah lama pacaran sama Kak Bima ?"


" Lumayan Lama sih, dari semenjak kakak kuliah ".


" Dan sekarang kakak udah kerja ?" tanya Helena.


" Iya di Bank BUMN ".


" Eh ngobrol melulu, kakak pasti gerah ya itu kamar mandinya di sebelah situ, kakak mandi dulu aja, kami tunggu di belakang ya di depan kolam renang ".


" Aku mengangguk ".


Kemudian mereka berdua hilang di balik pintu, sementara aku bersiap siap untuk mandi ".

__ADS_1


__ADS_2