
Sudah 2 hari semenjak pertengkaran kemarin, Ve tidak mau mengangkat telfon dari Bima. Bima merasa rindu sekali dengan Vero, maka malam ini Bima memberanikan diri datang ke kos Ve untuk menemuinya.
Sampai di kos Vero, Bima hanya mengetuk pintu kamarnya, dan tidak memanggil seperti biasanya, karena takut jika Ve tau dia yang datang, maka Ve tidak akan mau membukakan pintu untuknya.
" Tok tok tok."
" Siapa ya?"
Namun tidak ada jawaban.
" Tok, tok , tok."
" Hei...siapa sih? jangan ngerjain ya Din....udah masuk aja nggak dikunci!"
Vero menyangka bahwa yang mengetuk pintunya adalah Dinda.
Namun ternyata pintunya masih saja diketuk dari luar.
" Iiihhh kamu tuh usil ba.....!!" kata Vero sambil membuka pintu kamarnya.
Vero terkejut sekali saat dia tau ternyata yang mengetuk pintu kamarnya itu adalah Bima dan bukan Dinda. Kemudian Vero buru buru menutupnya lagi.
" Tunggu Ve....tunggu...." Kata Bima mencoba menghalangi Vero dengan menahan handle pintu tersebut, agar tidak tertutup kembali.
" Mau apa lagi kamu kemari Bim? Nggak ada lagi yang harus diomongin, kita udah selesai, aku udah nggak mau lihat muka kamu di sini, pergilah....!!!!"
" Iya Ve aku akan pergi, tapi tolong kasih kesempatan aku untuk bicara dengan kamu sebentar aja, ok Ve? sebentar saja, aku mohon."
" Mau bicara apalagi? Mau jelasin yang kemarin? nggak perlu Bim semuanya udah cukup jelas!"
" Ve...pleas aku janji ini untuk yang terakhir kali ", kata Bima memohon.
Perlahan Ve mulai luluh, kemudian dia menghentikan menutup pintunya dan mau keluar dari kamarnya.
" Kamu mau bicara apa? Apa kamu ingin meminta aku memaafkan kamu tentang masalah itu lagi?"
" Aku tau aku salah Ve, tapi asal kamu tau aku masih sangat mencintaimu."
__ADS_1
" Ve bisakah kamu kasih kesempatan aku satu kali lagi? Aku akan perbaiki semuanya Ve?"
" Bim...Bukankah aku sudah pernah kasih kamu kesempatan? Apakah kamu lupa? Aku tidak bisa melupakan semua kejadian kemarin, lebih baik kamu kembali pada Anya, dan tinggalkan aku."
" Tapi aku memilih kamu Ve?"
" Maaf Bim, aku rasa itu hanya emosional sesaat Bim. Kata katamu kemarin tidak menunjukkan bahwa kamu memilihku, justru kamu ragu dengan keputusanmu sendiri Bim."
" Ve saat itu aku sedang bingung."
" Itulah Bim, seandainya kamu sudah mantap denganku, seharusnya kamu tidak perlu bingung dan bisa mengatakan lebih tegas dengan Anya, bukan malah memberi harapan padanya dan membohongiku. Untuk apa kamu bertunangan denganku kalau masih ada Anya di hatimu? Sudahlah Bim kembalilah pada dia, aku tidak akan menghalangimu, sudah cukup buatku untuk menjalani hubungan yang penuh kebohongan ini."
" Kebohongan bagaimana Ve?"
" Kamu tidak usah berpura pura Bim, mungkin selama ini aku tidak sepintar dan sepengalaman Anya dalam sebuah percintaaan, tapi kamu jangan lupa, aku juga tidak terlalu bodoh untuk bisa memahami bahwa kamu selama ini begitu terobsesi dengan Anya, sehingga kau berusaha menghadirkan bayangan Anya dalam diriku Bim."
" Maksudmu Ve?"
" Sudahlah Bim, jangan buang-buang energi untuk mempertahankan hubungan kita. Keputusanku sudah bulat, lebih baik kita berpisah untuk kebaikan kita bersama, aku tidak mau jika hubungan ini dilanjutkan kita nantinya akan sama sama tersakiti."
" Ve....???"
" Ve.....asal kamu tau, aku sangat mencintaimu."
" Bim...mungkin ini pertemuan terakhir kita. Kembalilah dengan Anya, jangan pernah menduakan hatimu lagi saat bersamanya, cukup aku yang merasakannya, semoga ini bisa menjadi pelajaran terbaik buat kamu."
" Ve maafin aku."
" Aku sudah memaafkanmu Bim, aku ikhlas semoga kamu dan Anya berbahagia. Sampaikan permintaan maafku untuk keluargamu, maaf karena aku tidak bisa mempertahankan hubungan ini."
Bima hanya mengangguk lemah.
" Aku pulang Ve."
Kemudian Bima berjalan lunglai meninggalkan Ve, membawa sekeping hatinya yang hilang.
" Ve kenapa aku tidak pernah menyadari hatimu amat tulus kau begitu baik? Maafin aku Ve, aku telah mengecewakanmu ", Kata Bima dalam hati.
__ADS_1
Dilihatnya pintu kamar Ve yang tertutup rapat untuk terakhir kalinya.
" Selamat tinggal Ve ", bisik Bima lalu segera meluncur bersama mobilnya.
Sementara itu air mata Vero kembali tumpah di atas bantal tidurnya.
Hatinya begitu hancur saat menyadari dia telah benar-benar kehilangan Bima.
" Bima aku juga mencintaimu, tapi aku tidak sanggup menjalani jika hatimu terbagi untuk Anya. Semoga kau mendapatkan kebahagiaanmu yang selama ini kamu inginkan Bim." Vero kembali terisak.
Tiba tiba dia ingat boneka yang diberikan oleh Elmo.a
Diambilnya boneka itu, ditekannya tombol yang ada di belakangnya, kemudian boneka itu menari dengan lucunya. Ve hanya tersenyum melihat boneka itu, namun tetap tidak bisa mengobati hatinya yang luka.
######
Saat masih di atas mobil hp Bima berbunyi, kemudian diambilnya hp itu dari kursi sebelahnya.
" Anya...kenapa lagi dia? Sepertinya dia memang sengaja ingin mengusikku terus ", kata Bima pada diri sendiri.
" Iya Nya ada apa?"
" Kamu kemana sih Bim? Seharian aku telfonin kamu tapi tidak pernah kau angkat. Kamu sengaja tidak mau mengangkatnya hahe?"
" Hei kenapa kamu tiba tiba marah? Apa hak kamu marah denganku?"
" Bim? kamu?"
" Aku sedang pusing Nya, jangan ganggu aku dulu!! Gara-gara kamu aku dan Vero putus."
" Hei kenapa kamu menyalahkanku? Bukankah kau sendiri mau pergi denganku? Nggak usah munafik Bim!! Kamu mencari kambing hitam atas putusnya kamu dan Vero kan?"
" Shitttt.....umpat Bima ", kemudian dia langsung mematikan hpnya.
" Sialannnn....!! Kenapa urusannya bisa serunyam ini?" Teriak Bima di dalam mobilnya.
" Kurang ajar kamu Bim....!!!!!" teriak Anya sambil melempar hpnya.
__ADS_1
" Lihat saja aku tidak akan mungkin melepaskan kamu dari genggamanku!! Akan kubuat kamu kembali mengemis ngemis cintaku Bima ", bisik Anya sambil mengepalkan kedua tangannya.
Sementara itu Vero masih saja terus memperhatikan boneka itu menari, namun dengan tatapan matanya yang kosong, ingatannya melayang saat dia masih bersama Bima. Beberapa kenangan indah yang mungkin akan sulit dilupakan bersama Bima terus menari nari di pelupuk matanya, dan air matanyapun kembali mengalir deras entah untuk yang keberapa kalinya.