
Nama ku Elis Stania Yulianti, orang tua ku biasa memanggil ku Elis. Kisah ku ku awali setelah lulus SMA Negeri di kota ku tinggal.
Satu minggu yang lalu, aku selesai mengikuti ujian UN, hanya tinggal menunggu kelulusan, hanya saja sekarang aku masih bingung mau lanjut di Universitas mana nantinya.
Ibu ku ingin aku masuk di Universitas ternama di Jakarta, tapi Ayah ku ingin aku ikut bersamanya tinggal di Singapura dan melanjutkan kuliah ku disana. Tidak ada masalah dalam keluarga ku, kami baik-baik saja, hanya saja Ayah berkerja di Singapura menjadi sopir Duta Besar Indonesia untuk Singapura. Penawaran Ayah, aku akan mempertimbangkan dengan ibu...
"Bu, bagaimana menurut ibu?" Aku bertanya pada Ibu setelah selesai makan.
"Ibu terserah kamu nak" jawaban ibu terdengar berat.
Aku tau Ibu pasti berat melepaskan ku, tentu saja berat, aku anak satu-satunya di keluarga ku, ayah pernah kecelakaan dan kata ibu punyanya ayah tergores sampai setengah putus, ayah sampai koma saat itu, setelah ayah sembuh, dokter memvonis ayah tidak bisa lagi membuahi. Ibu hanya pasrah tapi ibu tidak pernah mau meninggalkan ayah. Katanya...
"Ibu sudah berjanji, apapun yang terjadi ibu akan selalu ada di samping ayah mu" Mengingat itu aku menjadi sedih karena takan pernah punya saudara kandung, aku hanya akan menjadi anak tunggal dalam keluarga ku.
"Tapi aku mau Ibu ikut ke Singapura" aku merengek pada Ibu yang sibuk membereskan sisa makanan.
"Kalau Ibu ikut, siapa nanti yang akan merawat Oppa mu" mata ku langsung beralih ke pintu samping, itu kamar Oppa, Oppa sudah sakit-sakitan sejak lama, lumpuh total, hanya saja masih dapat berbicara walau tak begitu jelas.
Aku tak berkata apa-apa lagi,setelah selesai mencuci piring kotor aku langsung masuk kekamar, mengambil ponsel ku, mencari nama yang paling aku butuhkan, Diana, aku langsung menekan tombol call.
__ADS_1
###
Diana
"Hay Na" aku langsung menyapa saat Diana mengangkat telepon ku.
"Hay sayang, kenapa Lo, kangen??" Aku tersenyum setelah mendengar suara Diana yang khas, dan langsung menuduh ku gitu aja.
"Boro-boro kengen Lo, kepikiran aja ngga" ku jawab sekenanya.
"Hahahahaha" Diana tiba-tiba ketawa lepas, malah aku jadi yang bingung sendiri.
"Kenapa? Ada yang salah?" Tanya ku semakin bingung.
"Hehehe, iya gue lupa" jawab ku membenarkan pernyataan Diana dan Diana masih tertawa sampai berhenti pun karena di tahan.
"Eh udah ah, perut gue sampe mules" suara Diana masih tertahan.
"Ngga ada yang nyuruh Lo buat ketawa juga Na" tambah ku mulai kesel.
__ADS_1
" Iya, ya ma'af. Trus ada apa El?".
"Gue mau kuliah ke Singapura" jawab ku santai tanpa basa basi, biar Diana ngga kaget.
"Apa?? Lo yakin, serius?? Lo cuma bercanda kan El??" Tapi ternyata Diana tetap saja kaget.
"Iya, kita kan udah pernah bahas ini, aku terlalu rindu ayah ku Na, aku akan tinggal di sana" kata-kata ku langsung berubah aku, memakai kata lo gue hanya sekilas saat kita bercanda.
"Bagaimana ibu mu El?" Pertanyaan Diana membuat aku langsung terpikirkan ibu.
"Ibu ku terserah aku Na, aku tau dia berat melepaskan, tapi aku sudah terlalu rindu Ayah ku Na, aku sudah menahannya tiga tahun ini" Tak ada lagi yang aku sembunyikan dari Diana, dia satu-satunya sahabat ku sejak pertama masuk SMA.
" Iya aku tau, jika itu pilihan mu bicaralah biak-baik dengan Ibu mu".
"Akan aku lakukan".
Praaaaaaang!!! Seperti suara piring pecah.
"Udah dulu ya Na, kapan-kapan kita sambung lagi".
__ADS_1
"Okkee" aku langsung menutup telpon dan cepat-cepat pergi ketempat suara tadi.
Next....