
Aku remang-remang melihat atap, ada yang asing di penglihatan ku. Aku mencoba bangun karena ada cahaya masuk keruangan yang menyilaukan mata.
Dengan setengah sadar aku mencoba duduk, memegangi kepala ku yang sedikit masih pusing. Dan saat itu aku melihat sosok yang sudah tak asing lagi, bedanya dia sedang tidak menggunakan baju.
"Reyhan"
Aku memanggil namanya. Tapi dia hanya tersenyum.
"Aku ada dimana?" Aku bertanya pada Reyhan, tapi dia hanya menatapku dengan senyuman yang menjengkelkan.
"Selamat pagi rubah kecil" Dia malah menyapa ku. Dan ini benar-benar sudah pagi.
Ketika kesadaran ku mulai berangsur-angsur membaik, aku merasakan ada sesuatu yang aneh disaat aku bangun. Aku membuka selimut yang menutupi tubuhku.
"Reyhan! Apa yang sudah kau lakukan padaku?" Aku terkejut bukan main. Aku sedang tidak menggunakan sehelai pun baju yang menutupi tubuhku, hanya selimut ini yang menyelamatkan ku.
"Aku tidak melakukan apapun, aku hanya mengantar mu tidur di hotel yang sudah kau pesan" Penjelasan Reyhan rasanya membuat aku ingin mual.
"Rubah bedebah! Kenapa kau melakukan ini padaku Rey, apa salah ku?" Aku ingin menjerit, tapi suara ini seperti sedang tercekik, aku ingin menghantam wajah yang sangat kubenci itu, tapi tubuh ku masih lemah.
__ADS_1
Diruangan yang begitu asing, dengan rasa entah sudah seperti apa jika semua rasa yang dimiliki tercampur menjadi satu, yang jelas aku hanya mampu meneteskan air mata.
"Apa salah mu? Apa perlu aku menjabarkannya satu persatu?" Reyhan malah bertanya balik padaku dengan ketus.
"Sepandan kah apa yang aku lakukan, dengan kau melakukan ini pada ku?" Aku bertanya, tapi pertanyaan ku hanya ingin meminta penjelasan.
"Hahaha, kau bertanya itu padaku? Nyawamu masih melekat di tubuh mu itu kau masih beruntung!" Dia malah membentak ku, seharusnya akulah yang membentaknya, akulah yang memerahinya, akulah yang seharusnya menghajar dia habis-habisan.
"Kalau begitu kenapa kau tidak membunuh ku saja?" Kataku.
Aku ingin pertanyaan ini ku keluarkan dengan suara yang lantang, tapi entah kenapa walaupun aku sudah sepenuhnya sadar, tubuhku masih lemas seperti orang sakit.
"Karena ada seseorang yang dengan suka rela menukarkan nyawanya untuk mu rubah kecil yang manis" Reyhan tersenyum, tapi jawaban Reyhan lebih membuat aku semakin kehilangan kesadaran ku lagi.
"Siapa lagi kalau bukan..." Jawabnya menggantung, dia sengaja membuat aku menunggu dengan terus memandangi ku.
"Siapa?" Tubuhku benar-benar bergetar.
"Tentu saja dia ayahmu, siapa lagi hah"
__ADS_1
Aku langsung mengangkat kepalaku, memandangi wajahnya dengan meminta kejelasan lebih, berharap apa yang aku dengar adalah salah. Tapi Reyhan hanya diam, menikmati ekspresi kebingungan ku, menikmati kemarahan ku, menikmati kesedihan yang ku lampiaskan dengan tetesan air mata.
"Kenapa? Kenapa harus ayahku" aku bertanya, tapi entah apa yang aku inginkan dari jawabannya.
Aku mengumpulkan tenaga, mencoba turun dari kasur mewah ini, aku tau aku tidak memakai sehelaipun kain baju, tapi aku tetap turun. Aku terjatuh, tidak ada tenaga untuk mengangkat tubuh ku.
"Aku mohon" aku terus berjalan menggunakan lutut ku menuju Reyhan, berjalan seperti suster ngengsot. Entahlah, rasa maluku seperti hancur seketika.
"Jangan ayahku, aku mohon, kembalikan dia" Air mata ku terus membasahi lantai dan tubuhku. Dengan sekuat tenaga aku terus berjalan kearah Reyhan.
Saat aku berhenti untuk menarik nafas, aku memandang Reyhan tapi dia membelakangi ku. Tidak sedikit pun melihat perjuangan ku yang berjalan tertatih-tatih kearahnya.
"Aku mohon tuan, jangan ayahku, kau boleh melakukan apapun padaku, kau boleh lakukan sesuka hatimu, aku tidak akan lagi memberontak, aku tidak akan lagi melawan, aku akan patuh, aku akan patuh, aku, aku" Aku kehabisan kata, aku kehabisan tenaga.
Reyhan tidak sedikitpun menghadap ku, dia terus membelakangi ku. Aku melanjutkan jalanku kearahnya, sebisa mungkin, sebisa yang aku bisa aku terus berjalan, bahkan seekor siputpun lebih cepat jalannya dari pada aku.
"Kembalikan dia, dia ayahku satu-satunya, ku mohon kembalikan dia tuan" Aku memeluk kakinya dengan erat.
"Berhentilah memohon!" Dia malah membentak ku.
__ADS_1
"Tidak, aku mohon kembalikan..." Suaraku melemah, tubuhku bergetar dalam pelukan kakinya. Aku tidak mau menyerah tapi tenaga ku habis tak tersisa. Sekali lagi kesadaran ku hilang.
Next....