
"Aku ingin bertemu dengan Diana" Kataku pada Reyhan setelah selesai makan. Reyhan terdiam.
"Boleh" katanya singkat.
"Dimana dia?"
"Mana aku tahu, mungkin dirumahnya"
"Baaaaang" Wajahku merengut, kalau Diana dirumahnya aku pasti tidak akan bertanya dimana dia.
"Beri aku kecupan, lalu aku akan beri tahu" Aku mendekat, selalu tidak ada pilihan lain. 'Cup'.
"Dia ada di kamar sebelah"
"Dia dihotel ini juga?"
"Yah, kau bisa temui dia disaat aku tidak ada"
"Oke makasih bang" kataku sedikit tersenyum padanya. Setidaknya aku akan tahu Diana baik-baik saja.
Tiba-tiba ponsel yang tadi sore di lempar Reyhan berbunyi lagi. lagu 'Kaulah yang terakhir bagiku' kembali terlantun.
Dengarkan aku wahai sayangku
Dengarkanlah isi hati ku
Hanya kamu semangat hidupku...
Hanya kamu
Satu pintaku pada dirimu
Tempatkanlah indah namaku
Di hati mu sebagai kekasihmu
Yang tak pernah sirna
Tak ada sungguh Tak ada
seseorang yang bisa menggantikanmu
Sampai kapanpun tak ada
Kaulah yang terakhir bagiku
Engkaulah hidup dan matiku
"Kau memang wanita penggoda ya" Reyhan mengambil ponselnya, dan mematikannya sebelum lagu itu selesai.
"Apa maksud mu?"
"Kau membuat laki-laki tidak biasa banyak menginginkan mu, dan yang ini lagi dia sudah tahu kau sedang hamil, sekarang sudah tahu kalau ada suaminya, tapi tetap saja mau mengejar mu"
"Stiven hanya tidak tahu kebenarannya, dia hanya mengira aku dicampakan oleh mu?"
"Benarkah? Tapi dia pengusaha tekstil yang sukses, dia bisa memilih wanita lain, kenapa harus dirimu? Karena kau menggodanyakan?"
"Tidak! Kenapa kau selalu menuduhku?"
"Atau dia juga tahu, kalau kau keturunan kerajaan Nusantara"
"Apa hubungannya dengan itu?"
"Kau hanya belum tahu kekayaan yang seharusnya kau dapatkan, jika kau tahu tentu tidak akan heran kalau banyak laki-laki menginginkan mu"
"Termasuk abang?"
"Kalau aku mau aku bisa dapatkan harta itu tanpa harus berurusan dengan rubah kecil sepertimu" Reyhan menciumiku. Membuat aku kehilangan nafas beberapa detik.
"hah,hah,hah" Nafasku terengah-engah.
"Itu hukuman untukmu karena sudah menyamakan aku dengan laki-laki lain"
"Lalu?"
"Cari tahu tentang perusahaan itu, aku akan percaya kau tidak menggodanya"
"Tapi aku memang tidak menggodanya, mengapa kau mengalihkan pembicaraan kita"
"Sssstt" Reyhan menutup mulutku.
__ADS_1
"Kau hanya perlu lakukan"
"Tapi..."
"Tidak ada kata tapi, lakukan!"
"Aku tidak boleh terlalu lelah, kandunganku lemah"
"Aku tidak memerintahkan mu untuk bekerja, kau boleh berteman dengannya, selama yang kau cari adalah informasi"
"Maksudmu aku mendekatinya hanya untuk mencari tahu tentang perusahaan tekstil itu?"
"Tepat"
"Tapi bang"
"Aku bilang tidak ada kata tapi, dan aku tidak mau dia terus mengejarmu seperti kesetanan, jadi kau boleh berteman, bukankah aku baik?"
"Baik ada maunya" kataku pelan.
"Apa?"
"Ah tidak bang, akan aku lakukan"
"Bagus rubah kecil, dan kau harus tahu satu hal ini, aku mencium shadow economy ditubuhnya"
"Hah"
"Tugasmu yang kedua"
"Baaaaang"
"Hahahaha, selamat menjalankan rubah kecil sayang, ingat! Kau memang tidak boleh terlalu lelah, jadi kau bisa santai, tapi cepat lebih baik" Setelah Reyhan memberikan perintah seenaknya, dia pergi begitu saja entah kemana.
"Bang Reyhan pergi, ini kesempatan ku untuk bertemu Diana" kataku pada diri sendiri.
Aku cepat-cepat keluar, mencari kamar yang sudah diberi tahu Reyhan.
"Diana, apa kau didalam?"
"Siapa?" Itu memang suara Diana.
"Ini aku" Diana membuka pintunya.
"Gila ya Lo, punya suami tapi kaya monster, dia rajanya monster tahu El, melebihi Bang Stiven sadisnya, dia mbius gue, ngurung gue, ngga boleh pergi kemana-mana, 24 jam diawasin sama bodyguardnya yang gila juga, gue lama-lama bisa stres tahu" Diana tiba-tiba marah-marah. Tapi dengan kata Lo gue. Aku tahu ini cuma sesaat.
"Hahaha, Lo baru tahu, belum juga sehari" Aku membalasnya dengan tertawa.
"Ko Lo bisa betah si sama dia, gue saranin mending Lo pisah aja deh sama tuh monster"
"Terus bayi gue nanti gimana"
"Ah Bang Stiven juga mau kok jadi ayahnya, Lo tinggal bilang aja"
"Gue ngga bisa"
"Kenapa El, daripada Lo hidup sama monster gila itu, hari ini mungkin Lo masih sanggup bertahan, tapi kita ngga tahu nantinya, udah mending Lo sama Bang Stiven aja El" Rayu Diana, dia ngga tahu kalau Reyhan sampai mendengar apa yang barusan dia katakan, aku pasti sampai tidak tahu harus berbuat apa.
"Gue ngga bisa Naaa"
"Kenapa?" Tanya Diana dengan muka serius.
"Yah karena gue ngga suka sama Bang Stiven" Jawabku.
"Jadi..."
"Entahlah, aku masih bingung, Aku juga belum percaya apa yang ku rasakan, kenapa tiba-tiba aku begitu menginginkan ayah bayi ini, aku ingin hanya dia yang menjadi ayahnya, aku tidak ingin monster lain Naaa"
"Lo ngga ikut-ikutan gilakan El?" Diana memegang jidatku.
"Panasnya masih standar" Tambahnya. Aku menampik tangan Diana.
"Gue baik-baik aja. Kau sudah makan Na?"
"Sudah, yaa walaupun monster Lo itu gila tapi dia baik juga, mau nganterin makanan kesini dua kali, enak-enak lagi"
"Bagus dong, bisa buat perbaikan gizi Lo, hahaha"
"Enak aja emangnya gue kekurangan gizi"
"Ya mungkin, Lo kan kurus cungkring gitu"
__ADS_1
"Eh ini bukan kurus cungkring, namanya LANGSING" Diana menggoyangkan pinggulnya.
"Hahaha" Aku hanya tertawa.
"Eh ko Lo bisa datang kesini El?" Tanya Diana yang baru nyadar.
"Gimana ngga bisa datang, kamarnya aja tetanggahan" Kataku menunjuk kamar sebelah.
"Jadi Reyhan ngurung Lo juga dihotel ini"
"Yaaah, begitulah"
"Bilangin kedia dong El, tolong lepasin gue, gue harus kuliah, harus ketemu pacar gue, dia pasti nyariin gue, gue ngga mau disini terus" Diana merajuk.
"Nanti aku coba Naa" Aku menenangkan Diana.
"Makasih cinta"
"Sama-sama Rindu"
"Hahaha, kita kaya orang pacaran aja" Aku senang melihat tawa Diana. Rasa khawatir saat melihat dia tidak sadarkan diri seketika mulai hilang.
"Na, kalau kau sudah menikah dengan orang lain, kita pasti akan lebih sulit seperti ini" Kataku.
"Kata siapa, kau sudah menikah saja kita masih bisa seperti ini"
"Ya itu beda, nanti kalau kau sudah sama orang lain waktu kita pasti tidak akan panjang"
"Ya tinggal dipanjangin aja, hahaha"
"Ah kau ini" Diana masih tidak berhenti dengan tawanya.
'Ceklek' pintu depan tiba-tiba terbuka. Spontan kami langsung menengok bersamaan.
"Baru ditinggal sebentar aja sudah menghilang. Kemari kau rubah kecil!" Reyhan tiba-tiba muncul. Tawa Diana langsung sirna, ada raut wajah ketakutan disana.
"Kau tenang saja Na" Aku mendekati Reyhan.
"Bang aku minta tolong kau lepaskan Diana, dia mau kuliah, dan ada banyak lagi yang ingin dia urus" Aku meminta pelan-pelan.
"Tidak!" Reyhan menatapku dengan tajam.
"Kau tidak perlu mengurungnya disini, aku mohon lepaskan dia bang"
"Tidak. Tidak sampai aku menikahinya" Kata-kata Reyhan membuat aku terkejut setengah mati.
"Apa?"
"Apa?" Aku dan Diana beriringan mengatakan apa. Aku tahu Diana pasti lebih terkejut mendengar ini.
"Kau jangan main-main bang, Diana tidak ada hubungannya dengan masalah ini, dan dia sudah punya kekasih"
"Dia sudah berani membantu mu menghilang dariku, kau bilang masalah ini tidak ada hubungan dengannya, aku akan menghukumnya dengan menikahinya"
"Dia tidak membantu ku bang, aku yang datang padanya"
"Aku tidak peduli, yang jelas aku tidak akan melepaskannya sampai dia menikah dengan ku, aku sedang mempersiapkannya, kau hanya perlu menunggu satu Minggu lagi"
Reyhan mengacungkan jarinya pada Diana.
"Jika kau berani pergi dari sini, kau akan melihat orang pertama kali berkorban untukmu adalah Kekasih mu yang bernama Roy itu, akan aku bawa kepalanya dihadapan mu" setelah Reyhan mengancam Diana, dia pergi begitu saja, meninggalkan kami dalam kebingungan.
Aku melihat kearah Diana, wajah yang ketakutan itu hanya mampu menggelengkan kepala, aku tahu itu sebagai tanda penolakannya, hanya saja dia tidak berani mengatakan.
Aku juga masih bingung dengan semua ini, keputusan Reyhan untuk menikahi sahabatku satu-satunya, aku tidak menyangka kemarahan Reyhan akan menjadi seperti ini.
"El" Suara Diana tertahan, dia terus menangis. Aku mencoba mendekatinya.
"Ma'af Na"
"Dia ngga serius kan El? dia cuma bercandakan? Jawab aku El" Diana terus menangis.
"Ma'af Na"
"Bantu aku pergi dari sini El, aku mohon, aku ngga mau ada diantara kalian, aku mohon El" Diana berlutut dikakiku, aku juga hanya bisa menangis. Aku memeluk Diana dengan kuat.
"Ma'af Na" hanya itu yang mampu aku katakan. Diana semakin kencang tangisannya.
Ada rasa sakit menusuk hatiku. tapi aku tidak tahu datang darimana, mendengar keputusan Reyhan disaat aku mulai menerima dia, hatiku sakit, aku melihat pertama kalinya Diana menangis sesenggukan seperti ini, hatiku juga sakit.
Tuhan, sekenario apalagi yang harus aku perankan, kenapa harus sahabat ku, aku tidak mau dia juga merasakan menikah karena terpaksa, aku ingin dia bersama orang yang dicintainya.
__ADS_1
Tuhan, aku memohon padamu, kuatkan kami menjalani peran ini.
Next....