
Reyhan langsung menghampiri ku, setelah aku mengatakan keberatan ku.
"Apa yang kau lakukan, jangan buat ribut! Acaranya akan segera di mulai!" Reyhan menggenggam tanganku dengan erat.
"Aku ingin minta penjelasan dulu, baru kita lanjutkan acara ini" Kataku dengan menunduk.
"Baik, tapi apapun faktanya nanti, kau tidak boleh membatalkan acara ini atau kau akan tahu akibatnya" kata Reyhan mulai mengancam ku.
"Baik"
"Saudara-saudara, tamu undangan sekalian, izinkan kami menunda acara ini untuk 10 menit mendatang, dan saya meminta ma'af karena membuat semuanya menunggu, kami pamit dahulu, permisi"
Setelah Reyhan mengatakan itu, dia menarik ku untuk mengikutinya keluar dari aula pernikahan.
"Apa yang kau inginkan!" Reyhan sedikit mendorong ku, aku tahu dia sedang diambang emosi.
"Aku ingin penjelasan" kataku pelan, tidak berani menatapnya.
"Aku sudah katakan, aku tidak akan memberi tahu sebelum kau benar-benar menjadi milikku"
"Kalau begitu jangan berharap aku akan menikah dengan mu"
"Ooh, kau seberapa berani menantang ku? Apa dengan ini kau tetap mau menantang ku?" Seketika cayaha merah kecil berjalan-jalan di tubuhku, aku tahu itu adalah cahaya laser dari senjata sniper.
"Aku hanya ingin kejelasan, apa aku salah?" Hatiku langsung berdebar kencang.
"Salah! Kau tahu sejak awal, jangan pernah membuat aku menunggu! Dan jangan membuat aku marah! Aku sudah katakan aku akan menjelaskannya nanti, apa kau tetap mau melawan ku?" Reyhan terdiam sejenak, dan aku hanya menunduk ketakutan.
"Arahkan sasaran!" Aku tidak tahu apa yang dikatakan Reyhan, dia hanya menarikku, berdiri di dinding kaca yang sedikit bisa melihat ke aula pernikahan.
"Lihat baik-baik belakang ibu mu!" Reyhan memegangi kepalaku, aku mengamati ibu.
"Ya Tuhan! Aku mohon jangan lakukan itu Rey" aku masih memperhatikan laser merah itu tepat dibelakang kepala ibu, itu membuat aku benar-benar sangat ketakutan. Lagi-lagi dan lagi, aku tidak pernah punya pilihan.
"Masih mau penjelasan?" Reyhan berbisik di telinga ku.
__ADS_1
"Tidak! Aku mohon jauhkan sniper itu dari ibuku" aku berlutut di hadapan Reyhan.
"Itu tergantung sikap mu, sayang. Bangunlah! jangan membuat para tamu undangan menunggu terlalu lama"
Reyhan meninggalkan ku, kemudian datang beberapa pelayan membantu ku berdiri, menuntunku kembali ke singgasana.
"Bagaimana saksi, sah?"
"Sah" hampir semua menjawab pertanyaan dari penghulu.
Acara pernikahan berlangsung, selesai dengan senyuman bahagia para tamu, memberikan selamat kepadaku dan juga Reyhan. Sampai tibanya Yacob berada di urutan para tamu, bersalaman dengan ku, memberi ucapan selamat, tapi satu yang mengganggu dari ucapannya.
"Kalau kau tidak bahagia, kau bisa katakan padaku, akan ku kabulkan apa yang kau inginkan" kata Yacob berbisik di telingaku saat cipika cipiki, dia tersenyum, aku tidak mengerti apa yang dia katakan, tapi ada isyarat mata disana.
"Terimakasih" kataku kembali menyambut tamu, melupakan sejenak apa yang Yacob katakan.
Acara pernikahan yang sangat mewah bagiku ini seperti hanya mimpi saat engkau terbangun dari tidur mu dipagi hari. Semuanya seperti tidak nyata, tapi aku benar-benar mengalaminya.
"Ayah dan ibu akan pulang dulu nak, ku baik-baiklah, sekarang kau sudah menjadi seorang istri, apapun yang terjadi dia tetap suamimu" Ayah dan ibu memeluk ku erat, air mata ibu tidak berhenti mengalir saat berpisah dari anak satu-satunya.
"Ayah ibu tenang saja, jika apa yang akan Elis hadapi adalah sebuah penderitaan, Elis akan berusaha ikhlas menerimanya, tapi jika apa yang akan Elis hadapi adalah sebuah kebahagiaan, Elis akan senantiasa bersyukur, Karen itu semua juga tidak luput dari do'a ayah dan ibu"
Ayah dan ibu menaiki helikopter milik Reyhan, sedangkan aku harus tinggal di hotel ini karena permintaan Reyhan.
"Ah sekarang dia adalah suamiku" Ada sedikit miris di hati saat mengatakan Reyhan adalah suamiku.
"Masuklah!" Tiba-tiba Reyhan sudah berdiri di belakang ku. Aku mengikuti langkahnya dari belakang, dia tidak sedikitpun melihat ku yang kesusahan karena masih menggunakan gaun panjang ini.
"Aku harus kuat, aku harus bisa mandiri" Kataku pelan.
Semua tamu undangan sudah pergi, kecuali satu sahabat baik ku, dia masih menunggu di meja tamu, dan berdiri saat melihat aku masuk kedalam aula.
"Aaan" Aku memanggil Diana, tapi dia hanya diam. Aku menghampirinya.
"El" Diana memeluk ku, lagi-lagi aku harus melihat orang-orang yang dekat dengan ku harus menangis karena aku.
__ADS_1
"Kau harus kuat, aku yakin kamu bisa"
"Terimakasih Na"
"Jangan pernah lupa, ada aku yang siap mendengarkan dan siap menghibur mu kapan saja" Diana melepas pelukannya. Aku tidak mampu menjawab, hanya anggukan sebagai gantinya.
"Ma'af aku tidak bisa mengantar kepulangan mu nanti Na" Kataku karena Reyhan bahkan menyita ponsel ku.
"Tak apa, aku tahu, sekarang situasinya tidaklah sama" gantian aku yang mulai nangis.
"Simpan air matamu El, berjanjilah ini terakhir kau akan menangis, kau sudah jalan lika-likunya, kau tidak perlu menangis, kau hanya perlu menyelesaikan masalahnya"
"Aaan" aku kembali memeluk Diana dengan lebih erat.
"Pangeran mu sudah terlalu cemburu milahat kau terus memeluk ku" Aku langsung melepas pelukan ku, melihat kebelakang, dan benar Reyhan sudah menyatukan tangannya dengan terus menatapku.
"Aku pulang dulu yah, Kau harus baik-baik El"
"Kau juga"
"Siap komandan, aku akan selalu baik" Aku tersenyum ditengah-tengah isak tangis saat melihat kembali Diana yang sangat suka memberi hormat.
"Kemari!" Perintah Reyhan. Aku berjalan mendekatinya. Berdiri dengan jarak lima langkah.
"Kalau aku bilang kemari! Kau harus berdiri tepat didepan ku!" Suara Singanya membahana di ruang aula hotel ini. Aku mulai maju selangkah demi selangkah sampai tidak ada lagi langkah yang bisa ku pijak.
"Kau masih ingin melawan!" Aku hanya menggeleng.
"Masih mau memberontak!" Aku hanya menggeleng.
Dia sekarang suamiku, aku bisa apa. Reyhan terdiam tapi matanya terus meneliti setiap inci tubuhku.
"Aku ingin kau!" katanya setelah tiba-tiba menggendongku. Aku hanya diam dalam pelukan tubuhnya yang terus membawaku, dengan jantung terus berdetak lebih kencang, menyusuri lorong sampai tiba dikamar VVIP yang tidak asing lagi.
Ayah, ibu, Diana, mereka sudah pergi, kini hanya ada aku yang akan menjalani jalan ku sendiri, bersama laki-laki misterius yang mungkin akan terungkap sebentar lagi siapa dia sebenarnya, tapi hanya untuk mengetahui siapa dia, kini harus ada yang aku bayar untuk itu semua.
__ADS_1
Next....