Lelaki Misterius

Lelaki Misterius
Malam Perayaan


__ADS_3

Rumah ku masih terbilang sederhana, hanya memakai pintu dengan satu bukaan, kau akan langsung melihat ruang tamu saat pertama kali masuk ke rumahku.


"Hay, sini masuk" ibu menyuruh seseorang masuk setelah mendengar suara ketukan, ah ternyata dia sahabat ku.


Diana melambaikan tangannya, aku masih sibuk menyiapkan makanan, tapi aku menyempatkan membalas lambaiannya tentu saja, dengan kedua tangan ku.


"Hahaha, sepertinya ada yang ingin balas dendam" Diana mulai mendekat ke meja makan.


"Hahaha" aku tertawa kerana Diana tahu apa maksud kedua lambain tanganku.


Aku menyambut Diana dengan pelukan kecil, ada yang ingin aku ceritakan padanya, tapi ah mungkin nanti saja.


Meja bundar depan kami sudah siap dengan berbagai macam makanan dan minuman, ibu bahkan membeli sebuah kue untuk perayaan malam ini.


"Selamat perayaan kelulusan sayang ku, ibu sangat bangga pada mu nak" ibu memberi ucapan dan memelukku, Diana menatap kami.

__ADS_1


"Bu sepertinya ada yang iri ingin di peluk juga" aku melirik Diana, Diana tersenyum, ibu melepas pelukan ku dan beralih pada Diana.


"Selamat untuk mu juga sayang, terimakasih sudah menjadi teman baik Elis" aku melihat Diana sangat senang mendapat pelukan dari ibu.


"Aku yang berterimakasih Bu, sudah diizinkan hadir di keluarga ini"


Diana Larasati, biasa dipanggil Diana, dia hanya tinggal bersama neneknya, orang tuanya mengalami kecelakaan saat Diana baru di bangku sekolah dasar, tepatnya dua belas tahun yang lalu. Dia juga seperti ku hanya anak tunggal dalam keluarga, itulah kenapa saat pertama kali perkenalan kami langsung begitu akrab dan sampai sekarang hubungan semakin baik.


"Kau akan lanjut kuliah dimana Na?" ibu bertanya disela-sela kami makan.


"Besok" ibu baru menjawab setelah beberapa detik terdiam. Diana kaget tapi ekspresi ku melebihi dia, aku langsung berdiri meminta penjelasan ibu.


"Apa maksudnya bu?" Tubuhku masih tegang dalam posisi berdiri.


"Ayah tadi siang menelpon, meminta mu untuk berangkat besok, Universitas yang ada di Singapura akan di tutup dalam dua Minggu lagi" ibu memberi penjelasan dengan tenang, tapi aku tahu ada rasa sedih di sana.

__ADS_1


Amarah ku sebenarnya masih memuncak, ibu bilang siang tadi tidak ada panggilan masuk, tapi ternyata ayah menepati janjinya, hal yang ingin aku katakan setelah perayaan malam ini adalah, aku tidak akan berangkat ke Singapura, karena aku mengira ayah yang berjanji menelpon siang tadi saja tidak bisa menepati janji, bagaimana nanti kalau aku sudah disana. Tapi ternyata aku salah, justru ibu yang sudah berbohong padaku.


"Kenapa bu, kenapa ibu tidak mau berbicara yang sebenarnya, ibu tau aku sudah menunggu sekian lama untuk panggilan ayah, bahkan suaranya aku sangat merindukannya bu, tapi ibu tega menutupinya dari ku" suara ku meninggi, ada emosi tertahan dalam hati ku, aku tau itu hanya sebatas telepon, tapi bagiku itu telepon yang paling aku dambakan, aku bahkan sampai lupa seharusnya ini malam yang membahagiakan bagi kami, tapi aku terlalu kecewa pada ibu.


Diana menarik lengan ku, aku meliriknya sekilas, dia menyuruh ku untuk duduk.


"Kau tidak boleh seperti itu Elis, kau tidak boleh berbicara seperti itu pada ibu mu" Diana mencoba memperingatkan ku, yah aku tahu, aku tak sepantasnya seperti ini, apalagi sampai berkata dengan nada tinggi pada ibuku.


"Ma'af bu" Hanya itu yang dapat aku katakan dengan emosi yang masih tertahan dalam hati.


"Ibu yang minta ma'af, ibu terlalu egois, ibu ingin menahan mu untuk tidak pergi, tapi ibu sudah berjanji pada almahrum Nenek ayah mu, akan melepaskan mu bersama ayah jika itu yang kau inginkan, ibu sudah memikirkannya sejak tadi, kau boleh pergi nak" penjelasan ibu mulai dapat ku terima. Yah sekarang aku mulai mengerti maksud ibu.


Ibu mana yang mau di pisahkan dengan anaknya, apalagi aku hanya anak tunggal. kepergian ku memang tidak hanya sebentar, tapi sampai bertahun-tahun sampai studi ku selesai. Aku berlari ketempat ibu, memeluk erat tubuh kecil itu, air mata ku mulai pecah menembus baju yang ibu pakai, begitupun ibu dalam dekapan ku.


"Ma'af kan anak mu ini bu" kembali ku peluk erat tubuh ibu.

__ADS_1


__ADS_2