Lelaki Misterius

Lelaki Misterius
Dysautonomia


__ADS_3

"Dari hasil pemeriksaan diagnosa awal, pasien seperti terkena penyakit dysautonomia" Tiba-tiba dokter muncul dan membacakan hasil pemeriksaan Ita.


Reyhan yang melihat ku sedang berdiri kebingungan setelah mendengar hasil dari dokter langsung menarik ku keluar dari klinik itu.


"Apa yang kau lakukan, aku belum selesai dengan dokter tadi" Reyhan terus membawaku tanpa mendengar dulu menjelaskan ku.


"Aku harus menjaga te..."


"Diamlah! Aku yang akan mengurus mu" Tatapan mata Reyhan benar-benar menakutkan dari sebelumnya.


Aku tidak mau melawan lagi, aku tidak mau membuat keributan kedua kalinya di kampus ini. Aku hanya mampu menurut. Tapi ada dua yang menjadi pertanyaan ku dalam hati.


"Kapan Reyhan kembali? Dan kenapa dia bisa tahu aku ada di klinik?" Aku terus mengikutinya sampai di parkiran, dan disana sudah berjejer para pengawal Reyhan dengan 8 mobil kurang lebih.


"Masuk!" Aku masuk ke mobil Lamborghininya.


Aku yang sejak berangkat mati-matian untuk tampil biasa didepan orang, aku yang tidak ingin terlihat mencolok didepan umum karena turun dari mobil BMW i8 itu, kini hanya menjadi sia-sia usahaku. Sejak pertama keluar dari klinik itu semua orang seperti berderet menyambut kami. Ah, malunya aku seperti menjadi tontonan sirkus.


"Kau tahukan aku sedang sibuk, kenapa sejak dulu kau suka sekali mencari perhatian ku? Kau tahu betapa kau sangat membuat aku marah?" Reyhan langsung meledak-ledak setelah masuk mobil.


Aku hanya diam, dan Reyhan menjalankan mobilnya setelah dia selesai dengan kemarahannya. Tapi hati ku tidak berhenti terus menjawab perkataan Reyhan barusan.


"Dia pikir aku juga tidak sibuk? Dari pada aku mencari perhatiannya labih aku mencari King Kong dihutan, lagian siapa juga yang mau diperhatikan sama laki-laki paranoid seperti dia, aku bahkan 100 kali lipat lebih marah karena kau, dasar rubah bedebah" Tapi semua kata-kata itu hanya mampu ku ucapkan dalam hati. Sedih. :(


"Boleh aku kembali kekampus" Aku memohon pada Reyhan, aku sangat khawatir pada Ita, pikiran ku terus tertuju padanya.


"Tidak!" Reyhan menjawab dengan tegas, artinya aku tidak perlu repot-repot mengulang keinginan ku untuk kembali kekampus, karena dia pasti akan lebih mengeluarkan suara Singanya.


"Kita mau kemana?" Aku bertanya pada Reyhan, karena jalan yang ku lihat bukanlah arah jalan pulang.


"Kepenjara" Aku melirik sekilas pada Reyhan.


"Untuk apa kepenjara?" Aku bertanya dengan polosnya.


"Ya kerumah sakitlah, kau tidak tahu apa penjelasan dokter tadi" katanya.


"Kita akan menjenguk seseorang?" Aku masih terus bertanya karena kebingungan ku, 'apa hubungannya dengan penjelasan Dokter Size Yang Li'? jangan-jangan?.


"Tunggu, tunggu! Apa kau mengira aku sakit?" Reyhan langsung mengerem mendadak mobilnya.


"Kau tidak sakit?" Dia malah bertanya balik padaku.


"Aku baik, penjelasan dokter itu untuk temanku, aku sedang menunggunya karena dia tiba-tiba pingsan di kelas" Reyhan terdiam mendengar penjelasan ku.


"Berani sekali kau mempermainkan aku!" Dia malah membentak ku.


"A,aku tidak bermaksud begitu, kau yang tidak bertanya dulu pada..."


"Diam!, Siapa kau berani berkata bahwa aku yang salah, aku peringatkan sekali lagi bahwa aku tidak pernah salah!" Dia kembali marah-marah. Kalau sudah begini aku hanya mampu untuk diam.

__ADS_1


"Dia melakukan kesalahan yang aku tahu saja, dia tetap tidak mau mengakui kalau dia yang salah, lalu apa gunanya kalau aku mengumpulkan bukti-bukti bahwa aku tidak bersalah" Aku memikirkan nasib masa depanku akan seperti apa jika terus seperti ini.


"Tas ku masih tertinggal di kampus, bisakah kita kembali" aku memintanya pelan-pelan. Tapi pintu mobil itu malah terbuka.


"Pergilah sendiri!" Reyhan mengusirku dari mobilnya.


Bagaimana bisa dia sendiri yang buat salah, aku yang disalahkan, aku juga yang kena imbasnya. :(


"Baiklah, terimakasih" Aku langsung turun dari mobilnya, Reyhan benar-benar pergi begitu saja dengan semua pangawalnya.


Aku bingung harus menunggu dimana, ini pertama kalinya aku keluar dari area kampus sendirian, tiba-tiba ada mobil Fortuner berhenti tepat disamping ku.


"Hay Elis, kau sedang apa?" Ternyata itu Yacob.


"Aku, aku sedang menunggu taksi, tapi belum ada yang lewat" kataku mencari alasan yang tepat.


"Kau mau kemana?, biar ku antar" kata Yacob menawari untuk mengantarku.


"Aku mu kekampus"


"Wah kebetulan, aku juga ada jam kuliah siang ini, ayo masuklah" Yacob membukakan pintu mobil dari dalam.


"Thanks Yacob"


"You're welcome" Dia tersenyum padaku. Ini pertama aku duduk di sampingnya.


"Apa yang kau lakukan disana?"


"Kenapa kau kembali kekampus?" Yacob tidak lagi berbicara formal padaku.


"Ada yang tertinggal disana"


"Ooh"


"Yacob, kau tahu jenis penyakit dysautonomia?" Aku mencari topik pembicaraan, agar Yacob tidak terus bertanya tentang aku.


"Dysautonomia?, yah aku sedikit tahu, ibuku pernah menangani pasien yang memiliki penyakit itu" katanya.


"Ibu mu seorang dokter?"


"Yah"


"Tapi kenapa kau bekerja sebagai grab car?" Tanyaku heran, gajih seorang dokter pasti lumayan cukup untuk membiayai anaknya kuliah bukan?


"Oh itu, aku sedang di hukum ayahku, aku melakukan sebuah kesalahan, ayah menyita semua kartu depit, dan tidak mengizinkan ibu untuk memberi uang padaku, dan saat itu aku harus mencari uang sendiri untuk makan dan keperluan yang lain dan pekerjaan yang paling menyenangkan adalah sebagai supir online" Yacob bercerita dengan sangat santai, seperti masalah itu bukan beban yang berarti.


"Apa pekerjaan ayahmu?"


"Ayah hanya sebagai pengabdi negara"

__ADS_1


"Oh iya, bisa kau jelaskan penyakit itu?" Aku kembali ke topik tentang penyakit dysautonomia yang kata dokter di miliki oleh Ita.


"Seinget ku, penyakit itu merupakan sistem saraf otonom yang tidak berfungsi sebagai mana mestinya" Yacob mulai menjelaskan tentang penyakit itu.


"Jika mempunyai penyakit itu dapat mempengaruhi fungsi jantung, bahkan jantung bisa berdetak tidak beraturan walaupun dalam posisi tertidur"


"Contoh sistem saraf otonom saat tidak berfungsi sebagai mana mestinya seperti apa?" Aku meminta penjelasan lebih.


"Contohnya seperti saat seseorang tidur dan tempat tidurnya agak di tinggikan, maka detak jantung dan tekanan darah akan naik sedikit, kalau untuk ukuran orang biasa itu akan menjadikan tubuh memiliki posisi lebih nyaman, tapi untuk orang yang memiliki penyakit dysautonomia organ vitalnya justru akan drop dan efek samping lainnya dia akan pingsan"


Yacob menjelaskan tentang penyakit itu panjang lebar, tapi aku sangat senang, aku jadi tahu tentang penyakit itu.


"Siapa yang terkena penyakit ini?" Pertanyaan Yacob membuat aku teringat Ita.


"Dia teman baruku, tiba-tiba dia pingsan di kelas, dan kata dokter, diagnosa awal dia memiliki penyakit dysautonomia"


"Penyakit ini hampir 80% memang menyerang wanita muda, tapi memiliki tingkatan 1 dari 100 orang" Kata Yacob, dan Ita menjadi 1 dari 100 orang itu.


"Apakah masih bisa diobati?"


"Untuk sementara kata ibu ku, ini belum ada obatnya" Aku terkejut dengan jawaban Yacob.


"Benarkah?" Aku mulai mengkhawatirkan Ita.


"Ya untuk sementara ini, memang itu kenyataannya" Yacob memarkirkan mobilnya. Dia turun dan membukakan pintu untuk ku.


"Seharusnya aku bisa sendiri" kataku melihat apa yang dilakukan Yacob.


"Khusus untuk tamu agung" katanya padaku. Aku hanya tersenyum.


Setelah Yacob menutup pintu, tiba-tiba seseorang membalikkan tubuh ku dan "plak", suara benturan antara tangan dan pipiku terdengar begitu ngilu.


"Hay, kenapa kau menamparnya!" Yacob langsung maju di depan ku. Aku masih kaget dengan apa terjadi barusan.


"She is a prostitute, she wants to snatch you from me" Aku langsung menyingkirkan Yacob dari depanku,aku ingin melihat siapa orang yang sudah menamparku dan mengatakan aku sebagai pelacur. Dan saat aku melihat orangnya, ternyata dia adalah Shinta, orang yang sudah seenaknya menyerangku.


"Hay, What did I do wrong?" Aku bertanya apa salahku, tapi dia tidak menjawab dan mau menamparku lagi, aku dengan cepat memegang tangannya, ku dorong dia sekuat tenaga, Shinta menabrak mobil dibelakangnya dan terjatuh.


"How dare you push me! you're not who I am?" Dia mengatakan 'berani sekali kamu mendorong ku, kau tidak tahu siapa aku'.


"I never care who you're, I can do more than this, if you don't want to stop bothering me" kataku 'aku tidak pernah peduli siapa dirimu, aku bisa melakukan lebih dari ini, jika kamu tidak mau berhenti mengganggu ku'.


Setelah aku mengatakan itu pada Shinta aku langsung pergi menuju klinik kampus. Ternyata Ita sudah di jemput orang tuanya seperempat jam yang lalu, aku hanya mengambil tasku, dan siap-siap pulang.


Selama perjalanan aku terus memikirkan kejadian demi kejadian.


"Ya Tuhan, ini baru hari pertama aku masuk kuliah, rasanya sudah seperti bertahun-tahun aku menghadapi masalah yang engkau berikan. Ayah engkau dimana? Aku merindukan mu, aku butuh ayah sebagai penghibur lelahku" Hatiku terus berkata, ia kini kembali ditemani tetesan air mata. Aku sampai tidak memperhatikan jalan karena masalah yang aku pikirkan. Sampai terakhir suara klakson yang ku dengar.


"Jedaarrrr!, jedaarrr!" setelah mobil itu menabrak ku, aku tidak tahu dia menabrak apa lagi. Saat itu yang ku rasakan hanyalah seperti tertidur begitu lelap.

__ADS_1


Next....


__ADS_2