
"Kita sudah sampai nona, bangunan sebelah kiri itu adalah gedung kedutaan, rumah Duta Besar dari Indonesia dibelakangnya, hanya berjarak 300 meter, dan ma'af kita hanya bisa mengantar mu sampai disini" Tuan Richard menjelaskan.
"Baik, terimakasih tuan" Aku membuka pintu mobil, berdiri disampingnya, menunggu mobil Tuan Richard pergi. Tapi dia malah keluar menghampiriku.
"Selama ponsel mu disita oleh Tuan Muda Reyhan, kau disuruh menggunakan ponsel ini" Tuan Richard memberikan ponselnya.
"Bagaimana ponselku tuan?" Aku bertanya ponselku yang sejak di pelabuhan tidak pernah lagi terlihat. Satu-satunya ponsel yang aku punya, hasil tabungan yang aku kumpulkan sedikit demi sedikit, bahkan di akhir aku membongkar celengan masih harus di tambah uang ibu seratus ribu. Dan masih teringat dengan pesan ibu.
"Kau harus bisa menjaga barang yang sudah kau perjuangkan dengan sebaik mungkin". Kata ibu kala itu.
"Iya bu pasti, aku tidak akan menggantikan ponsel dengan ponsel secanggih dan sebagus apapun nanti" jawab ku saat itu penuh semangat, karena masih senang-senangnya memegang ponsel baru. Tapi lihatlah apa yang sekarang ada di tanganku. Sebuah ponsel dengan gambar apel yang sudah di gigit. Kini menggantikan ponsel kesayangan ku.
__ADS_1
"Ma'af Nona, kau bisa tanyakan sendiri pada Bigg Bos kami" Tuan Richard langsung membungkuk tanda untuk pamit pergi.
Aku mulai berjalan memasuki gedung kedutaan, ada tulisan besar terbentang di antara dua tugu "EMBASSY OF INDONESIA TO SINGAPORE" (kedutaan besar Indonesia untuk Singapura). Setelah itu memasuki halaman yang begitu bersih dan indah dengan hiasan kolam berada di tengahnya, ada tiyang putih menjulang tinggi berada di pojok tengahnya kolam, dan di atasnya berkibarlah bendera kebanggaan. Sang Merah Putih. Aku tersenyum, tersentuh hati ini melihat bendera Indonesia berkibar di negara tetangga dengan gagahnya.
"Ma'af nona, ada keperluan apa anda datang kesini" Dua orang menggunakan seragam hitam menghampiriku.
"Aku ingin ketempat Bapak Duta Besar, apakah jalannya hanya bisa di lewati melalui gedung ini?" Aku menjawab sekaligus bertanya.
"Iya memang benar, apakah nona sudah membuat janji?" Tanyanya lagi.
"Aku tidak berbohong, kalian bisa mengawasi ku selama perjalanan" tegasku
__ADS_1
"Baik, kami akan mengikuti mu nona. Kalau terbukti berbohong, kami akan langsung membawa mu kepengadilan karena telah menyusup ketempat ini" salah satu dari penjaga ini mengancamku.
"Baik, terimakasih" Kedua orang itu langsung mengikuti ku memasuki gedung kedutaan. Di halaman pertama pada gedung memiliki bangunan yang tidak asing bagiku, halaman pertama yang cukup luas itu berbentuk seperti padepokan.
Tapi disaat aku memasuki belakang halaman pertama, berdirilah bangunan besar dan tinggi yang memiliki sekitar 17 lantai dengan dinding kaca dan marmer. Ah, ada sedikit kekaguman di hati,"bangunan yang indah".
Setelah berjalan kurang lebih 300 meter, ada dua rumah besar bertingkat tapi sangat sepi. Dan disana aku melihat seseorang yang sedang membersihkan mobil, dengan poster tubuh yang tak asing lagi, bentuk wajah yang membuat aku juga memiliki salah satu bentuknya. Seseorang yang telah lama aku rindukan.
"Ayaaaah" aku bertriak memanggil orang itu, dialah ayahku, ayah yang sangat aku rindukan, yang sangat aku dambakan. Setelah tiga tahun sudah berpisah. Kini aku kembali menatap wajah ayah yang menyejukkan. Ayah membalikkan tubuhnya, mengamati seseorang yang bertriak memanggil ayah.
Ayah langsung berlari menuju pintu pagar, membuka dan langsung memelukku dengan erat. Aku pun membalasnya lebih erat.
__ADS_1
"Ayah" kataku memanggil ayah dengan suara pelan.
Next....