Lelaki Misterius

Lelaki Misterius
Terlepas


__ADS_3

"Kalau kau tidak bisa membuktikannya, jangan berharap kau bisa lagi tidur senyeyak ini" Suara Tuan Reyhan membangunkan ku. Ah aku memang tertidur. Aku langsung terbangun saat aku tahu pistol itu sudah menancap di keningku. "Kenapa dia selalu membawa pistol itu kemana-mana" batinku mulai kesal.


"Ma'af aku katiduran" Suara ku melemah, sejak tiba di pelabuhan, perut ini belum tersentuh makanan, hanya sedikit minuman yang aku beli di toko.


Ketika badan ini masih berusaha berdiri, Reyhan menarik paksa tangan ku untuk ikut dengannya.


"Aku tidak suka orang lemah, jika kau tetap tidak mau berjalan, aku akan menyeret mu dengan paksa!" Tuan Reyhan terus menarik tanganku.


"Apa yang kamu lakukan?" Dengan sekuat tenaga aku berusaha berjalan mengikuti langkah laki-laki ini. Tubuhku benar-benar sangat lemas, aku tidak kuat lagi untuk berjalan. Tuan Reyhan ikut berhenti karena aku tersungkur kelantai. Dia mengangkat tubuhku, memaksa ku untuk bisa berdiri, aku kira dia akan membantu ku, tapi dia malah mendorong ku sampai tubuhku menabrak dinding, aku terpojok.


"Aku tidak kuat" hanya itu yang mampu aku katakan, dia terdiam, hanya menatap wajahku. Tiba-tiba nafas itu begitu dekat sampai aku bisa merasakannya. Aku ingin memberontak tapi tubuhku lemas tak bertenaga, aku ingin mengatakan sesuatu tapi mulut ku terkunci, terkunci oleh mulutnya yang memiliki rasa.

__ADS_1


"Jangan, aku mohon" aku berusaha mendorong tubuhnya saat wajahnya mau mendekat lagi. Dia hanya terdiam menatapku.


"Jika kau tidak mau kejadian ini terulang, teruslah untuk jalan, jangan membuat aku menunggu dan jangan membuat aku marah! Atau kau akan merasakan lebih dari ini" Ancaman Tuan Reyhan membuat aku merinding, aku berusaha mengumpulkan tenaga, membayangkan yang barusan saja terjadi, masih sangat menakutkan.


Dia nyeret ku ketempat ruang tengah kapal. Sebenarnya tempat itu sangat indah, sebuah kapal pesiar yang sangat besar, dengan tatanan didalamnya seperti rumah mewah kelas bangsawan, tapi aku tidak pernah menikmati pemandangan ini, karena rasa takut ku mengalahkan semua keindahan yang ada.


"Richard!!! Bawa dia turun, awasi setiap langkahnya. Aku tidak mau waktuku terbuang untuk mencari rubah kecil ini lagi" Suara Tuan Reyhan membahana, dia menyuruh Tuan Richard untuk membawa ku pergi.


"Menuju kemana tuan (bahasa inggris)?" Sopir itu bertanya pada Tuan Richard.


"Rumah Duta Besar Indonesia (bahasa inggris)" Jawaban Tuan Richard membuat aku tercengang, benarkah aku akan di antarkan kesana. Aku langsung teringat akan wajah ayah. "Ayah, ayah, ayah", batinku terus memanggil mu.

__ADS_1


Aku menengok kebelakang, laki-laki itu menaiki mobil paling mewah diantara kelima mobil ini, sekelas Lamborghini, dengan para pengawal yang mengikuti menggunakan mobil sisanya. Siapa dia sebenarnya? Apa hubungannya dengan ku? Satu tahun yang lalu? Benarkah aku yang melakukannya? Apakah aku terkena amnesia? Ah, dengan tubuh yang masih lemas, pertanyaan-pertanyaan itu hanya sekilas pertanyaan yang tidak bisa aku jawab.


"Silahkan nona" Tuan Richard memberikan minuman dan roti seperti pizza kepada ku, aku tidak menolak, karena aku memang membutuhkan dua benda itu.


"Terimakasih" Kataku pada Tuan Richard.


Kalau di lihat dari wajah Tuan Richard, dia tidak seperti bosnya yang arogan, Tuan Richard lebih memiliki wajah yang sejuk dengan tubuh yang tidak kalah gagah dengan para pengawal lainnya, hanya saja dia terlihat lebih tua dan dia terkadang lebih mudah untuk tersenyum. Aku ingin menanyakan banyak hal, tapi aku lebih memilih menghabiskan makanan ku.


Tiba-tiba aku teringat kejadian sebelum aku turun dari kapal itu. Bagaimana dia dengan mudahnya mencium ku begitu saja bahkan disaat aku lemas tak berdaya, aku sangat yakin dia orang sangat menakutkan.


"Ma'af bu, aku tidak bisa menjaga diri" Disaat aku teringat ibu, batinku terasa sakit.

__ADS_1


Next...


__ADS_2