
"Aaah" Reyhan melemparku dikasur dengan kasar. Dia pergi menutup pintu, 'ceklek' pintu itu terkunci. Aku tahu dia takut aku akan kabur. Reyhan bahkan buang kuncinya kekamar mandi dengan kesal.
"Sekarang katakan, kau minta hukuman apa?"
Aku hanya diam, tidak berani menatap wajahnya, tapi aku tidak takut dia menghukumku, aku hanya takut dia melukai bayiku.
"Katakan!" Suara Singanya mulai menusuk ditelinga ku.
"Ma, ma'af"
"Apa?"
"Aku minta ma'af Rey" Bibirku bergetar.
"Tidak ada hukuman ma'af! Kau memanggil laki-laki lain abang! Kau panggil aku hanya namanya saja!" Bentaknya, ada sedikit nada cemburu disana.
"Panggilan Abang disini sama seperti Kaka laki-laki Rey, aku tidak ada hubungan apapun dengan dia, aku mohon kau jangan salah paham"
"Bohong!"
Reyhan mengambil salah satu vas bunga dan melemparnya Kedinding. Praang!. Pecahannya berhamburan kemanapun.
"Hukuman yang pantas untukmu. Akan aku hancurkan bayi mu seperti vas itu!" Katanya dengan suara lantang.
Spontan membuat aku terkejut, rasa takut amat sangat mulai merasuki.
"Jangan! a,a,aku minta ma'af, kau boleh, kau boleh menghukumku apapun, tapi jangan anak ini, aku mohon ampuni dia Rey"
Aku bersimpuh dikakinya, berharap dia cabut kembali ancamannya, takutku berhasil membuat air mataku mulai menetes deras.
"Apapun?"
"Apapun, apapun Rey, lakukanlah, tapi aku mohon ampuni bayi ini, dia tidak bersalah" Aku menangis ketakutan.
"Aku mau kau!" Kata Reyhan.
Saat kita menangis, pikiran kita memang tidak bisa berfikir normal, seperti aku, semuanya kacau dalam ketakutan. Aku tersengguk menahan untuk tidak menangis terlalu keras, mulai mencerna apa yang diinginkan Reyhan.
"Apa?" Aku bertanya ulang, belum maksud apa yang barusan Reyhan katakan.
"Aku tidak suka mengulang kedua kalinya!"
Reyhan berjongkok, memegang pundakku dengan keras, menarikku untuk berdiri dihadapannya, aku menunduk.
"Lihat aku!" Jantungku terpompa. Sungguh tidak berani menatapnya.
"Kau bisa menatap laki-laki lain, kenapa tidak bisa menatap ku! Aku bilang lihat aku!"
Tidak ada pilihan lain, melawannya hanya akan menambah volume kemarahannya. Pelan-pelan ku tenggakan kepalaku, mengumpulkan keberanian untuk menatap wajahnya.
"Panggil aku abang!" Perintahnya. Aku masih diam.
"Panggil aku abang! Kau dengar tidak!"
"A,a,abang"
Sebenarnya tidak begitu sulit memanggilnya abang, hanya saja rasa takutku yang amat sangat membuat semuanya seperti lumpuh, kau bisa bayangkan saat pertama kali melihat hantu, dan hantu itu tepat dihadapan mu, kau ingin lari tapi kau terkunci, kau ingin berteriak tapi suara mu tersendat. Dan begitulah sekarang aku dihadapan sesosok Reyhan Anggara.
"Kenapa begitu sulit memanggilku abang?"
Reyhan menggendongku lagi, menjatuhkan ku diatas kasur. Dia bertanya tapi tidak ingin Jawabanku.
"Kau mau apa Rey?" Tanyaku, melihat Reyhan mulai melucuti bajunya sendiri.
"Panggil aku abang!" Katanya dengan marah.
"Kau mau apa abang?"
"Menjalankan hukuman mu, dan hukuman mu adalah aku ingin kau!"
"Tapi aku sedang hamil"
"Apa hubungannya denganku?"
"Aku mohon abang, dia masih belum kuat, aku mohon untuk..."
Reyhan tidak mau mendengar kata-kata ku lagi, dia membungkam mulutku dengan mulutnya, melahapnya dengan kasar.
"Abang, aku mohon"
Aku mendorongnya, tapi Reyhan semakin menekan. Aku merasakan mulutnya mulai menjalar ke tubuh ku, disaat itulah rasa takutku meningkat 100%. Perutku tertekan, aku takut dengan bayiku, aku takut dia tidak kuat dengan goncangan ayahnya nanti.
"Abang, aku mohon hentikan, dia anakmu juga bang" Kataku, memohon diantara rintihan dan entah rasa apa mulai merasuki ku.
Tapi Reyhan semakin ganas dibawah sana, rasa yang hilang selama lima bulan ini mulai merasuk kembali dalam tubuhku, rasa yang selalu tidak bisa aku gambarkan. Rasa yang entah kenapa muncul tiba-tiba bahkan disaat aku ketakutan.
"Aku tidak akan melukainya, aku akan melakukannya pelan-pelan" Katanya lirih disela-sela kesibukannya merangsang ku.
Kami mulai melakukan ritual suami istri, aku tidak mungkin menolaknya karena ini kewajiban ku juga, semarah apapun, sekecewa apapun, setakut apapun, itu tidak akan merubah tugasku yang sudah di ajarkan agama.
Selama dia belum menyakiti ku secara fisik, selama dia belum menyakiti orang-orang yang aku sayang, selama dia tidak melakukan hal buruk pada bayiku, aku akan patuh, akan aku lakukan keinginannya dengan suka rela.
__ADS_1
"Siapa dia?" Reyhan bertanya setelah kami selesai.
"Siapa?"
"Orang yang berani kau panggil abang"
"Dia Kakak dari pacarnya Diana" kataku pelan. berusaha supaya tidak memancing emosinya.
"Aku tahu itu! Siapa dia dalam pekerjaannya?"
"Dia, dia direktur utama perusahaan tekstil di Kota Jakarta"
"Lalu?"
"Hanya itu yang aku tahu" Aku bukannya tidak tahu siapa Bang Stiven, tapi aku memang tidak ingin tahu tentang dia, dan ini bisa menyelamatkan ku dari kecemburuan Reyhan.
"Tidak terlalu berat"
"Apanya?" Tanyaku bingung.
"Saingan ku itu"
"Saingan?"
"Tapi kalau berani memilihnya, aku tidak akan segan-segan menghancurkan perusahaannya, dia berani mendekati mu karena dia berlagak mampu"
"Tapi aku tidak ada hubungan apapun dengan dia bang, kau tidak boleh melakukan hal buruk padanya"
"Aku tahu, dan itu semua tergantung tingkah lakunya"
Reyhan mulai memakai pakaiannya kembali, menyiris rambutnya yang sedikit berantakan, sebelum dia keluar dia menghampiriku mencium keningku selama beberapa detik.
"Dan aku izinkan kau melahirkan bayi ini, tapi aku tidak izinkan kau merawatnya sampai kau lulus kuliah mu, titik. Tidak kata tapi" Reyhan membungkam mulutku. Setelah mengatakan itu dia pergi entah kemana, benar-benar tidak memberiku sedikit penjelasan.
Sore harinya aku baru teringat Diana, terakhir aku lihat dia masih pingsan didalam mobil yang memang sudah dibius salah satu pengawal suruhan Reyhan. Sekarang aku harus mencarinya, aku tidak ingin terjadi apa-apa pada Diana.
"Anda mau kemana nona?"
"Tuan Richard"
"Anda tidak boleh pergi tanpa izin Bigg Bos"
"Tapi tuan..."
"Nona"
"Aku ingin mencari Diana""
"Tapi Tuan Richard"
"Nona, saya mohon, Bigg Bos baru saja reda dari kemarahannya, saya mohon nona tolong mengerti kami juga, kami sudah menjadi bahan pelampiasan kemarahan Bigg Bos berbulan-bulan sejak dia tahu kepergian nona, saya mohon nona"
"Sejak kapan Reyhan tahu tuan?" Aku ingin dengar penjelasan Tuan Richard, kini aku menurut untuk sementara waktu menunggu.
"1 bulan setelah kepergian nona"
"1 bulan? Bukankah Reyhan punya waktu minimal 3 bulan untuk menyelesaikan Mega proyeknya"
"Benar, tapi Bigg Bos menginginkan nona, dia pulang hanya ingin bertemu dengan nona, tapi setelah tahu nona tidak ada di apartemen, Bigg Bos pergi keapartemen ayah dan ibu nona, tapi ternyata mereka juga sudah pergi tanpa sepengetahuan ku, Bigg Bos marah besar dia membanting semua perabotan, menendang pengawal 11 sampai 20 yang dikhususkan menjaga nona, dan Bigg Bos menghukum mereka dengan mencabut semua gaji mereka"
"Ma'afkan aku tuan"
"Tidak apa, ini salahku juga nona, tapi mereka semua sekarang sangat senang, gaji mereka sudah dikembalikan oleh Bigg Bos setelah salah satu pengawal mendapatkan informasi keberadaan nona"
"Jadi..."
"Yah, Bigg Bos mengarahkan semua pengawalnya hanya untuk mencari nona, setelah tahu nona ada di Jakarta, Bigg Bos menyuruh untuk membuat taman hiburan, memodali semua penjual yang ada, tujuannya hanyalah satu, untuk memancing nona keluar dari rumah"
"Kenapa?"
"Karena pengawal itu hanya melihat nona sekali dan kehilangan jejak saat terus mengikuti nona, pengawal itu tidak tahu dimana nona tinggal, dan nona juga tidak pernah kelihatan keluar dimana-mana, Bigg Bos geram dia berinsiatif membuat taman hiburan itu, karena dia tahu orang Jakarta sangat suka kalau ada acara-acara yang menarik"
"Hanya untuk memancingku keluar?"
"Yah, walaupun memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit tapi itu berhasil, dan pertama kali melihat nona Bigg Bos sangat senang tapi berubah geram karena melihat nona bersama laki-laki lain, tapi kami semua bahagia, akhirnya kami bisa keluar dari penderitaan ini setelah menemukan mu nona"
"Dan sekarang penderitaan itu berbalik kearah ku tuan"
"Ah tidak begitu nona, Bigg Bos hanya terlalu sayang pada nona, dia tidak sedikitpun ingin menyakiti mu"
"Tapi dia ingin menyakiti anak ku, itu artinya dia akan menyakitiku tuan"
"Lima bulan yang lalu mungkin iya nona, tapi tidak sekarang, setelah kejadian penculikan itu, Bigg Bos masih terngiang kata-kata Jeck yang menodai kesucian nona, dia berfikir bayi yang nona kandung bukanlah anaknya, tapi setelah Bigg Bos paham dengan umur kandungan nona, dia sepertinya sedikit yakin kalau bayi itu adalah anaknya, hanya saja dia terlalu takut kalau bayi itu bukan anaknya, jadi dia mengizinkan nona untuk melahirkan, dan akan di tes DNA nantinya"
"Lalu bagaimana kabar ayah dan ibu ku tuan?"
"Kami masih dalam pencarian nona, nona tidak perlu khawatir mereka pasti baik-baik saja, mungkin untuk melindungi mu dari kejaran Bigg Bos, mereka memilih pergi juga"
"Selamatkan mereka tuan"
"Nona tenang saja"
__ADS_1
Disaat aku sedang mengobrol dengan Tuan Ricada suara lagu dari ponsel entah milik siapa berbunyi.
Dengan lirik lagu 'Kaulah yang terakhir bagiku'.
Dengarkan aku wahai sayangku
Dengarkanlah isi hati ku
Hanya kamu semangat hidupku...
Hanya kamu
Satu pintaku pada dirimu
Tempatkanlah indah namaku
Di hati mu sebagai kekasihmu
Yang tak pernah sirna
Tak ada sungguh
Tak ada seseorang yang bisa menggantikanmu
Sampai kapanpun tak ada
Kaulah yang terakhir bagiku
Engkaulah hidup dan matiku
Jiwa dan ragaku untukmu
Aku sangat menyayangimu
Izinkan aku memelukmu
Aku takut kehilanganmu
Tak bisa hidupku tanpamu
Karna kaulah terang dalam gelapku.
"Siapa tuan"
"Ini ponsel anda nona, Bigg Bos menggantinya"
"Ponselku yang lama?"
"Jangan tanya saya nona" Tuan Richard tersenyum.
"Reyhan! Kenapa dia selalu senaknya sendiri mengganti-ganti ponselku"
Aku menerima ponsel dari Tuan Richard, hanya ada nomer, tidak ada nama.
"Hello"
"Hello Elis, kau baik? Aku sangat khawatir pada mu? Kau sekarang dimana? Aku akan menjemputmu?" Kata seorang laki-laki entah siapa.
"Hello ini..."
Aku belum selesi menanyai orang itu, tapi seseorang sudah merebut ponselku dan 'praaang' ponsel itu berhasil memecahkan kaca lemari yang berukuran besar.
"Jangan mengangkat telepon darinya!" Ternyata Reyhan yang merebut ponselnya dan melemparnya begitu saja. Yang aku bingunkan, kapan dia datang?.
"Abang, apa yang kau lakukan?"
"Sekali kau berani berbicara lagi dengannya, akan aku hancurkan perusahaan tekstilnya itu" katanya menggebu-gebu, aku bahkan belum tahu siapa dia. Dan Reyhan sudah mengira itu Stiven.
"Baik" kataku, percuma juga menjawab singa yang sedang mengamuk.
"Aku ingin kau!"
"Hah?"
"Aku ingin kau! Apa harus aku ulang?!"
"Tidak maksudku..."
Gerakan Reyhan sangat cepat, kini aku sudah dalam gendongannya. Kalau sudah seperti ini, aku hanya bisa pasrah.
"Paman, belikan makanan, aku ingin nanti malam sudah siap!"
"Baik Bigg Bos"
Dibelakang, Tuan Richard menyatukan kedua tangannya, dan bibirnya seperti mengatakan "ma'af nona" dan aku hanya membalasnya dengan senyuman miris.
Untuk selanjutnya kalian pasti tahu apa yang akan kami lakukan, sekali lagi aku tidak bisa mengatakannya, menggambarkannya, ataupun mendeskripsikannya.
Ini sesuatu yang terlalu intim.
Next....
__ADS_1