
Aku membuka mataku yang sembab, sebab semalaman tidak tidur, aku mengadu kepada Sang Pemberi Pertolongan. Meminta untuk selalu melindungi ayah, ibu dan orang-orang yang ku sayang.
Aku berusaha melihat jam yang terus berdetak, ternyata sudah pukul 9 pagi. Aku bangun dan membersihkan tubuhku. Setiap langkah yang ku pijak, aku selalu menguatkan hatiku, terus meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Silahkan Nona, makanan sudah siap" Seorang wanita berparas masih lumayan muda menyapa ku, saat aku turun dari kamar lantai 2.
"Anda siapa?" Tanya ku kepada wanita itu.
"Nama saya Agatha nona, Saya pelayan yang akan membantu anda di apartemen ini" Katanya memperkenalkan diri sebagai pelayan.
"Berapa umur anda?" Aku bertanya setelah aku duduk kursi makan.
"35 tahun Nona" Kata wanita bernama Agatha ini.
"35? Tapi anda masih kelihatan muda untuk seumuran itu?" Aku terheran karena dia memang masih kelihatan sekitar umur 21 nan.
"Kami memang di latih dengan khusus nona, salah satunya dalam hal penampilan, dan anda tidak perlu berbicara formal pada saya" katanya sambil menuangkan minuman untukku.
"Boleh aku memanggil bibi?"
"Anda tahu sebutan bibi Nona, bukankah itu hanya ada di Indonesia?" Tanyanya heran padaku.
"Karena aku memang orang Indonesia" Jawabku.
"Benarkah? Saya seorang TKI (Tenaga Kerja Indonesia) Nona, dan saya sudah bekerja di negara ini hampir 15 tahun" Penjelasan Bibi Agatha membuat hati ku sangat senang.
"Bibi dari Indonesia? Senang sekali bisa bertemu dengan bibi" Aku langsung berdiri dan memeluk orang yang sekarang aku panggil Bibi Agatha.
"Senang juga bertemu dengan mu Nona"
Katanya menerima pelukan ku.
"Bibi tidak perlu memanggil ku nona, bibi bisa panggil aku Elis" kataku.
__ADS_1
"Itu adalah kode etik kami sebagai pelayan, kami harus memanggil majikan kami dengan sebutan, nona, tuan muda, nyonya atau tuan. Jadi saya akan tetap memanggil dengan sebutan nona untuk anda" katanya menjelaskan.
"Baiklah, tapi aku sangat senang bisa bertemu dengan bibi, kita sama-sama orang Indonesia itu yang membuat hatiku gembira bi" Aku terus memeluk Bibi Agatha.
"Bukankah nona sudah bahagia? Nona bahkan tinggal di apartemen yang paling mahal yang ada di Singapura" kata bibi, karena hanya melihat dari tempat yang aku tinggali.
"Ah, ini bukan milik ku bi, aku bahkan hanya sebagai tahanan disini" Aku terus berusaha tersenyum.
"Bagaimana nona bisa berkata seperti itu, saya bahkan di utus oleh orang paling berpengaruh di negara ini" perkataan bibi membuat aku mulai melepas pelukan ku.
"Apa bibi mengenalnya?" Tanyaku mulai penasaran.
"Sedikit nona, dia Tuan Reyhan Anggara, putra tunggal dari Tuan Besar Diwirya Anggara Ningrat" kata Bibi Agatha mulai menjelaskan tentang Reyhan.
"Yah, aku pernah dengar dia menyebutkan nama ayahnya saat kami ada di kapal pesiar" kataku mengingat kejadian di kapal pesiar itu.
"Akan terkuak siapa laki-laki itu sebentar lagi" Batinku sangat senang.
"Lalu bi?" Tanyaku mulai penasaran kelanjutan informasi dari bibi.
"Ah, benar sekali bi, kemaren Mr. Lee juga memanggilnya Mr. Lion" Kataku tak kalah semangat bercerita.
"Siapa nama panjang dari panggilan Mr. Lion itu bi?" Tanyaku lagi tidak sabar.
"Sebenarnya ada nona, tapi hanya kalangan atas yang tahu" Sedikit membuat kecewa. Tapi aku masih bersemangat bertanya.
"Lalu bi?" Tanyaku meminta penjelasan labih.
"Dia terkenal sebagai pengusaha sukses, bahkan orang-orang yang sudah tinggal di negara ini cukup lama, pasti akan tahu tentang Tuan Reyhan ini" kata Bibi Agatha lagi.
"Bapak Duta Besar juga pernah mengatakan seperti itu bi" kataku. Mengingat saat di kujungi Bapak Duta Besar di rumah sakit. Hampir semua informasi bibi sudah banyak yang aku tahu, aku terus bertanya, ingin meminta lebih dari penjelasan bibi.
"Terus bi, terus?" Tanyaku penuh semangat.
__ADS_1
"Terus apa non?" Bibi Agatha malah bertanya balik padaku.
"Ya tentang Tuan Reyhan itu" kataku.
"Udah non, bibi hanya tahu itu saja" katanya dengan polos.
"Bibiiiiiiiii" kataku dengan kesal, karena merasa yakin akan mendapatkan informasi lebih tentang laki-laki misterius itu. Tapi bibi hanya tertawa pelan mendengar aku memanggilnya dengan manja.
"Tapi non, bibi yakin ada seseorang yang tahu banyak tentang Tuan Reyhan itu" Katanya, membuat aku semangat lagi untuk bertanya.
"Siapa bi?"
"Yah itu, seseorang yang bernama Mr. Lee" katanya.
"Apa bibi mengenalnya?" Tanyaku lagi.
"Bibi pernah bekerja dengannya, hanya sekitar 3 bulan" Jawaban bibi membuat aku kembali senang.
"Jadi bibi tahu dimana dia tinggal?"
Tanyaku lagi mulai mencari tahu tentang Mr. Lee.
"Tahu non"
"Ada lagi yang bibi tahu?"
.
"Tidak non, bibi hanya tahu tempat tinggalnya"
"Okkee ngga papa bi, makasih infonya" Aku berterimakasih pada bibi, pertama Karena dia sudah hadir di kehidupan aku sekarang, aku tidak lagi merasa kesepian. Kedua karena informasi dari bibi akan sangat membantu aku memulai penyelidikan.
"Reyhan Anggara! tunggu aku membuktikan bahwa aku Elis Stania Yulianti, tidak pernah melakukan hal kotor seperti yang kau tuduhkan, aku akan mulai mencari bukti-bukti itu!" Kataku dalam hati penuh semangat, setelah semalaman air mata ku seperti terkuras habis.
__ADS_1
Next....