
Hari ini adalah hari yang paling bahagia untuk ku, aku bersama ibu berdiri didepan ribuan siswa dan orang tua mereka, aku menjadi lulusan terbaik di sekolah, dengan nilai tertinggi bahkan paling tinggi di seluruh sekolah di kota ku.
Air mata ini tak dapat terbendung lagi, begitu juga ibu ku, dia memeluk ku begitu erat.
"Selamat Nak" kata ibu dengan mata terus menetes. Aku tak dapat berkata-kata lagi, hanya memeluk ibu dengan lebih erat.
Aku mendapat penghargaan, uang tunai dari sekolah dan juga dari Bapak Bupati yang telah hadir, total semua Rp.7.000.000, saat itu aku hanya bisa berucap dalam hati.
"ayah, tunggu aku".
Setelah turun dari panggung, aku mengucapkan terimakasih pada guru-guru ku, bersalaman, mencium satu persatu tangan mereka, setiap guru mengucapkan selamat pada ku. Aku langsung berpamitan pulang tak bisa mengikuti acara sampai selesai, karena ibu benar-benar tak mau meninggalkan pekerjaannya, aku hanya bisa menurut, karena Ayah juga sudah janji akan telepon siang ini.
Belum sampai aku keluar dari ruangan guru, seseorang sudah menghadang ku depan pintu, aku tak bisa membaca ekspresinya, ia tersenyum tapi matanya berkaca-kaca. Aku langsung berlari menuju pintu, memeluk dia sekuat mungkin...
"Terimakasih sobat, aku takan bisa seperti ini tanpa mu Na" menetes sudah air mata yang tertahan ini, kami berdua menangis, menangis bahagia.
__ADS_1
"Kamu pantas mendapatkannya El" Diana melepas pelukanku.
"Kapan kau berangkat ke Singapura? Lanjutnya dengan pertanyaan.
"Hey, gue baru dapat surat kelulusan,Lo udah ngusir gue aja" aku langsung memalingkan pertanyaan Diana, aku ngga mau langsung ada kata perpisahan.
"Hahaha, kalau gue bisa, gue malah suka masukin Lo ke penjara dari pada masukin Lo ke mulut Patung Singa Putih itu" tangis Diana seketika berubah tawa.
"Patung Merlion magsud Lo?" Tanya aku, kerena perkataan Diana yang selalu sesuka hati.
"Ialah, Patung Singa mana lagi yang terkenal itu" jawabnya sudah mulai santai.
"Siap berangkat boss" tak ketinggalan tangan itu terangkat memberi hormat.
"Sudah ah, aku pulang Na, kau tau ibu ku kan, dia tak pernah mau ninggalkan pekerjaannya".
__ADS_1
"Iya aku tau, hati-hati di jalan".
"Ayo Na,jangan lupa nanti malam mampir ke rumah yah" ibu mengajak Diana sebelum kami pamit pulang.
"Iya Tante, aku pasti datang".
Aku melambaikan tangan pada Diana, tapi dia malah membalas dengan dua lambaian, dua lambaian tangan menurut kami artinya jangan pernah kembali.
"Ah sialan kau Na" Batin ku berkata, tapi aku hanya membalas dengan tawa tak terdengar, Karena posisi kita yang semakin menjauh.
Diana kau satu-satunya sahabat ku sekarang dan tanpa mu, aku takan meraih semua ini, kembali ingatan ku tiga tahun yang lalu, ku ceritakan kepergian Ayah yang bekerja di Singapura, saat itu aku masih menangis dalam pelukan mu, aku hanya bertekad, aku akan menyusul Ayah saat sudah lulus nanti. Saat itu kau juga menggebu-gebu menyemangati ku untuk bisa menjadi yang terbaik, kau pernah bilang.
"Jangan sampai kau bertemu Ayahmu, tidak ada yang kau banggakan, lebih giatlah mulai sekarang, aku akan membantu mu"
Ah, perkataan mu itu Na, entah dari mana seperti minuman memabukkan bagi ku. aku di buat terbayang-bayang akan kepergian wajah Ayah. semangat ku membara, aku mulai giat dalam belajar, tidak pernah sedikitpun waktu yang ku buang sia-sia.
__ADS_1
Hasil tidak pernah menyakiti usaha, aku selalu menjadi peringkat satu di sekolah bahkan menjadi yang paralel, dan Diana, dia guru ku, tapi rengkingnya hanya mengikuti ku dari belakang, peringkat dua paralel.
Yah, kami berjuang bersama untuk mempertahankan peringkat kami, hingga tibalah kelulusan ini. Aku dan Diana tetap menjadi murid kebanggaan di sekolah.