
Reyhan terus menggendongku sampai keluar dari rumah sakit, didepan pintu gerbang utama rumah sakit ini, sudah terlihat berderet sekitar 10 mobil lengkap dengan para pengawalnya.
"Kau mau membawa aku kemana? Aku ingin pulang?" Aku bertanya sepelan mungkin, berharap tidak memancing emosinya.
"Kau akan pulang, jadi kau diam saja" katanya tanpa sedikitpun melihat ku.
"Tapi aku ingin pulang dengan ayah" Reyhan hanya diam dengan terus menggendongku menuju mobil Lamborghininya.
Aku sangat mengkuatirkan keadaan ayah, sebelum aku masuk kedalam mobil, dibelakang aku mendengar suara ribut-ribut, Reyhan membalikkan badannya sehingga aku juga tahu apa yang sedang terjadi.
"Ayah" aku memanggil ayah yang sedang menjadi salah orang yang membuat keributan. Para penjaga rumah sakit itu sedang berkelahi dengan para pengawalnya Reyhan. Reyhan hanya berdiri dengan terus melihat keributan itu.
"Itu anak ku" kata ayah berkata kepada para penjaga rumah sakit. Penjaga rumah sakit seketika langsung menghambur keluar menghampiri aku dan Reyhan, tapi para pengawal Reyhan yang sedang berdiri dimasing-masing mobilnya langsung datang dan berjaga-jaga didepan kami.
"Lepaskan anakku" kata ayah dengan suara menggebu-gebu. Ayah memerintahkan para penjaga rumah sakit untuk maju, tapi mereka tidak maju karena melihat banyaknya pengawal Reyhan yang menghadang.
__ADS_1
"Bawa laki-laki itu" Reyhan memerintahkan pengawalnya untuk membawa ayah.
"Jangan lukai ayah ku" aku memohon pada Reyhan, tapi dia hanya diam dan memasukan ku ke mobil. Dan seketika itu aku melihat ayah dipukul dari belakang hingga pingsan.
"Ayah, Reyhan aku mohon jangan sakiti dia, aku mohon lepaskan ayahku, jangan lukai dia" Reyhan tidak sedikitpun mendengarkan permintaan ku, Dia malah berbicara pada Tuan Richard. Aku mlihat ayah dibawa kesalah satu mobil yang ada.
"Laporkan rincian tentang rumah sakit ini" perintah Reyhan pada Tuan Richard.
"Baik Bigg Bos" Tuan Richard membuka ponselnya, dan langsung menjelaskan tentang rumah sakit tadi.
"Lebih rinci lagi" perintah Reyhan dengan nada sedikit tinggi.
"Dalam berkomitmen memberikan kesehatan kepada pasien sangat baik dan memiliki jangkauan layanan yang berkualitas bahkan rumah sakit ini telah dianugerahi ISO 14001 dan OHAS 18001. Serta memiliki akreditasi bergengsi dari Joint Commission Internasional (JCI)" kata Tuan Richard melanjutkan rincian rumah sakit itu.
Dan aku, aku hanya diam, walaupun mendengarkan apa yang mereka bicarakan, tapi pikiranku tetap kepada keadaan ayah.
__ADS_1
"Siapkan uang US$100 juta, buat surat permintaan kerjasama dengan rumah sakit itu, dan aku ingin para penjaga yang tadi semuanya dipecat, gantikan para bodyguard mu" Perintah Reyhan yang saat itu membuat aku langsung memandanginya.
"Tidak salahkah apa yang aku dengar? Dia langsung mau bekerjasama dengan rumah sakit itu dengan investasi US$100 juta, itu setara 1 triliun 450 milyar, dan dia seenaknya mau memecat para penjaga rumah sakit yang tadi mau menolong aku dan ayah ku, laki-laki macam apa dia ini" batinku terus menggurutu.
"Baik Bigg Bos. Sekarang kita menuju kemana?" Tanya Tuan Richard setelah mengiyakan perintah sebelumnya.
Reyhan tiba-tiba menatapku sambil menjawab pertanyaan Tuan Richard.
"Apartemen" Aku langsung kaget setengah mati, aku baru pulih dari rumah sakit tapi dia sengaja mengatakan tempat itu untuk melihat ekspresi ku yang mulai ketakutan. Masih troma dengan kejadian di hotel tadi pagi, kini aku akan berhadapan lagi di sebuah apartemen?.
"Apa lagi yang ingin dia perbuat?" Hatiku penuh tanya.
Pesan Author: Selamat membaca, jangan lupa like jika anda suka, terimakasih.
Next...
__ADS_1