
Mataku masih terpejam, tapi aku mendengar suara tangisan. Tangisan seseorang yang selalu membuat aku tenang. Ingin sekali aku melihat rupanya, tapi mata ini belum mau sepenuhnya melihat.
"Panggilkan dokter" kata ayah.
"Ayah" aku berguman lirih setelah mendengar ayah berteriak untuk memanggil dokter.
"Aku mendengar suara ibu" Kataku pelan. Tapi aku sayup-sayup belum melihat wajahnya.
"Iya nak, ibu disini" Tentram sekali hati ini merasakan genggaman tangan ibu.
"Ibu baik?" Tanyaku berusaha mengeluarkan suara sekeras mungkin, tapi tetap saja ibu harus mendekatkan telinganya di mulutku.
Ibu diam, air matanya terus mengalir. Sebelum ibu menjawab pertanyaan ku, ibu malah berkata dengan ayah.
"Lihatlah yah, disaat dia sudah terbaring tak berdaya, dia masih sempat menanyakan kabar orang lain" Ibu memelukku dengan hangat, aku juga ingin menemani ibu menangis, tapi aku tidak punya tenaga untuk itu.
"Cepatlah sembuh nak, ibu baik jika kau sudah memelukku" Katanya. Ah ingin sekali tangan ini terangkat untuk memelukmu bu.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Ayah bertanya setelah dokter selesai memeriksa ku.
"Ini perkembangan yang cukup bagus, bisa melewati koma selama 2 Minggu, artinya hanya menunggu pemulihan" Aku mendengar penjelasan dokter.
Ternyata Tuhan benar-benar memberikan aku kesempatan untuk istirahat setelah melewati masalah yang membuat aku lelah.
"Syukurlah, terimakasih dok" ayah dan ibu hampir bersamaan mengucapkan terimakasih pada dokter itu.
"Senang sekali bisa melihat mereka berdua bisa berkumpul lagi. Terimakasih Tuhan, Engkau Maha Tahu apa yang aku butuhkan, setidaknya untuk saat ini" Aku hanya mampu tersenyum untuk menunjukkan betapa bahagianya aku.
"Kapan ibu datang kesini?" Tanyaku Setelah beberapa hari masa pemulihan.
"Satu hari setelah kau mengalami tragedi itu nak, ayah mu mengabari ibu, malamnya ibu langsung menyelesaikan semua cucian tetangga, malam itu juga ibu antarkan, dan mengatakan kepada mereka ibu sudah tidak lagi bekerja, hampir semua memberikan tips lebih pada ibu, tapi ternyata uang itu masih kurang cukup" kata ibu.
"Kurang cukup apa bu?" Aku penasaran, bukankah ibu juga punya tabungan ayah?
"Kau bisa pulang nanti sore nak" Kata ayah setelah bertanya pada dokter, aku memang sudah hampir pulih setelah menginap beberapa minggu di rumah sakit ini. Aku mengalami cidera tangan dan kepalaku yang katanya terbentur kaca mobil.
__ADS_1
"Syukurlah, Elis tidak sabar menunggu nanti sore yah" Kataku senang mendengar kabar itu, tapi raut muka ayah sedikit berubah dan melihat kearah ibu setelah aku mengatakan hal itu.
"Ada apa yah?" Tanyaku ikut bingung.
"Tidak apa nak, hanya saja biayanya kurang sedikit, tapi ayah akan tetap usahakan sore ini kita bisa pulang, kau tidak perlu memikirkannya"
Inikah yang ibu katakan bahwa uang ibu kurang cukup, ternyata kurang cukup untuk biaya berobat ku.
"Memangnya berapa bu?"
"Satu malamnya $500 dolar hanya untuk kamarnya, untuk biaya berobat dan operasi $15.000 dolar, tapi kau tidak perlu memikirkan itu nak, ayah pasti bisa melunasinya" Setelah ayah yang menjawab pertanyaan ku, ayah langsung pergi entah kemana.
"Siapa yang membawa aku kerumah sakit ini bu? Rumah sakit ini terlalu mahal" kataku, permalamnya US$500 x 35 hari selama aku di rumah sakit US$17.500 x Rp.14.500 satu dolarnya, kurang lebih 253.750.000 itu hanya biaya penginapan, belum biaya pengobatan dan operasi.
"Ibu tidak tahu nak, saat ibu datang kesini banyak orang menggunakan seragam hitam-hitam berjaga-jaga di depan kamar mu, ibu tanya sama ayah, ayah tidak mau bercerita apapun, tapi katanya salah satu dari mereka yang membawamu kerumah sakit ini" dari penjelasan ibu, aku tahu siapa yang membawaku.
"Ma'af ya bu, sudah merepotkan ayah dan ibu, menghabiskan tabungan kalian" Ibu hanya tersenyum.
"Kau tidak perlu minta ma'af nak, ini sudah kewajiban kami" Ibu memelukku erat, aku membalasnya lebih erat.
"Ya Tuhan, mahal sekali yang harus dibayar hanya agar kami bisa berkumpul bersama" Antara bahagia dan sedih, tapi melihat tempatku dirawat, harga itu memang pantas untuk fasilitas yang tidak kalah dengan sebuah hotel.
"Syukurlah" kata ibu.
"Tapi kenapa ayah kelihatan sangat buru-buru" Aku bingung melihat ayah dengan cepat membereskan semua barang yang ada.
"Kita memang harus cepat sebelum siluman rubah itu datang" Kata ayah tanpa memberi penjelasan.
"Apa maksud mu suamiku, siluman apa?" Ibu sangat bingung melihat tingkah ayah. Sampai aku sendiri baru tersadar maksud ayah menyuruh kita cepat, aku juga tidak mau hal itu akan terulang lagi.
"Sudahlah bu, kita menurut saja sama ayah bu, nanti akan aku jelaskan" Aku langsung turun dari kasur, ikut membereskan barang-barang.
Saat semuanya sudah selesai, kami langsung bersiap-siap untuk keluar, sampai disini semuanya masih baik, tapi sebelum ayah sampai di pintu, langkah ayah tercegah oleh seseorang.
"Ooh, ternyata kalian sudah siap semuanya" Suara siluman rubah itu lebih cepat dari langkah kami.
__ADS_1
"Siapa mereka suamiku?" Ibu bertanya pada ayah, tapi ayah maupun aku yang tahu siapa mereka hanya diam, kami menunggu.
"Aku tidak suka pembohong" Reyhan mulai berbicara, dan perkataan itu di tunjukkan untuk ayah.
"Ikut denganku" Reyhan melirik padaku, tapi sebelum langkahnya tepat di depan ku, ayah mencegahnya dengan tangan.
"Jangan ingkari janji sendiri" Kata Reyhan kepada ayah.
Janji? Janji apa yang ayah buat dengan Reyhan. Tapi setelah Reyhan mengatakan itu pada ayah, ayah melepas tangannya, dan Reyhan terus maju sampai berdiri dihadapan aku dan ibu.
"Selama datang, ibu" Reyhan mengucapkan selamat pada ibu dan mencium tangannya.
"Kau siapa nak?" tanya ibu.
"Calon menantu mu bu" Jawaban Reyhan membuat aku ingin sekali memukulnya.
"Berani sekali dia mempermainkan ibu" batinku.
Setelah Reyhan mengatakan itu, dia menghadap ku. Dan tak berfikir panjang dia menggendong ku begitu saja di depan ibu.
"Jangan pisahkan aku dengan ibu dan ayah, aku mohon Rey" Reyhan hanya tersenyum mendengar keinginan ku.
"Bawa semua barang mereka!" perintah Reyhan pada semua pengawalnya.
"Baik Bigg Bos" Para pengawal Reyhan langsung mengambil tas yang ayah dan ibu pegang.
"Kalian mau bawa kemana putri kami?" Ibu terus bertanya pada Reyhan, tapi Reyhan hanya diam dan terus membawaku keluar.
"Sudahlah bu, kita ikut saja dengan mereka" Kata ayah pasrah dengan kejadian ini. Ayah tahu sebagaimana aku, melawan hanyalah akan membuat semuanya semakin rumit.
Kami semua pergi dari rumah sakit ini, ayah dan ibu juga ikut disalah satu mobil milik Reyhan. Setelah aku masuk ke mobil. Aku baru tahu nama rumah sakit itu.
MOUNT ELIZABETH HOSPITALS SINGAPURE
__ADS_1
Fasilitas Kamar Rumah Sakit