Lelaki Misterius

Lelaki Misterius
Misi


__ADS_3

"Kau sudah Saip?" Reyhan sudah berada di belakang ku.


"Sedikit lagi, hanya membereskan buku-buku yang ingin aku bawa"


"Cepetlah, aku menunggu di halaman belakang"


"Okke"


Aku langsung cepat-cepat membereskan semua barang-barang, hari ini sudah berlalu dari 2 Minggu yang lalu, Kurang lebih lima bulan aku menjalani kehidupan yang tidak pernah terbayangkan di negara singa putih ini.


Bahkan aku juga tidak pernah membayangkan, aku akan melakukan perjalanan lagi ke Amerika, untuk melakukan sebuah misi pertama, misi yang tidak pernah ada dalam daftar hidupku, misi yang aku sendiri belum tahu bagaimana menjalaninya apalagi menyelesaikannya.


"Adalagi nona?" Pengawal 5 membawakan tas ku ke halaman belakang, halaman yang sudah terparkir helikopter milik Reyhan.


"Tidak ada, hanya itu" kataku sambil berjalan kehalaman belakang.


Reyhan sudah duduk di kursi tengah helikopter, memegang tablet android yang jarang lepas dari tangannya.


"Naiklah" kata Reyhan dengan menarik tanganku.


"Misi kita harus selesai dalam jangka 1 Minggu 24 jam" Kata Reyhan mulai menjelaskan tentang misi itu.


"Apa di hitung dari sekarang?" Tanyaku, Reyhan malah tersenyum mendengar pertanyaan ku.


"Terhitung saat kita sudah sampai di bandara Washington DC, ini rute yang harus kau ambil, dan kau hanya akan terbantu oleh lima bodyguard, satu diantaranya adalah sniper, jadi hanya empat yang akan selalu ada di sampingmu"


Aku mengamati rute perjalananku selama di Washington DC, disana bahkan tertulis sangat detail jam berapa aku harus sudah sampai dan jam berapa lagi aku harus beraksi.


"Ingat! Satu menit sangat berharga, lebih cepat lebih baik, mereka selalu memasang bom dengan waktu kurang lebih 15 menit, dan jika dipercepat, bom-bom yang mereka pasang akan meledak dalam waktu 8 menit"


Selama perjalanan menaiki helikopter aku hanya membahas apa yang harus dilakukan selama di Washington DC nanti.


"Apa tidurku juga sudah terjadwal?" Tanyaku melihat jam yang sudah ditepatkan.


"Yah kurang lebih seperti itu, atau bahkan kau akan kehilangan masa tidurmu, setelah sampai di markas nanti, kau punya waktu istirahat sampai jam 5 pagi, sarapan setengah jam, jam 6 sudah mulai latihan, dan kau punya latihan selama 3 hari"


"Latihan? Latihan apa?" Tidak ada pembahasan apapun selama 2 Minggu sebelumnya, Tuan Richard hanya menyuruhku untuk cuti selama 1 Minggu lebih dari kampus. Jadi aku benar-benar tidak tahu untuk apa aku pergi ke Amerika, dan hanya dua kata pernah Reyhan katakan, 'menjalankan misi'.


"Latihan fisik, latihan menggunakan belati, cara menembak, menghindari tembakan, mematikan bom. Kau sudah ada bela diri yang bagus, jadi nanti hanya perlu peningkatan sedikit" katanya seolah-olah itu semua hal yang mudah untuk dipelajari.


Aku menelan ludah, menatap Reyhan, berharap apa yang di katakan hanyalah bercanda, tapi ternyata itu adalah sebuah keseriusan.


"3 hari?" Aku sampai menunjukan tiga jariku pada Reyhan, menunjukkan bahwa itu adalah hal yang sangat mustahil untukku.

__ADS_1


"Yah" katanya dengan terus melihat kearah tablet Androidnya.


"Aku berlatih bela diri saja memerlukan waktu 3 tahun dari pertama masuk SMA sampai aku lulus, dan ini hanya 3 hari untuk aku belajar menebak, menghindarinya dan apa sebagainya itu?"


"Yah" lagi jawaban sangat singkat, membuat hatiku mulai geram.


"Aku tidak akan bisa kalau hanya 3 hari, aku pasti gagal" kataku sedikit dengan nada kesal.


"Hanya orang-orang yang penuh putus asa saat dia belum mencoba tapi sudah mengatakan gagal" katanya dengan enteng.


"Tapiii"


"Tidak ada kata tapi, tidak ada waktu banyak untuk menyelesaikan misi ini" kata Reyhan ada sedikit emosi dinada suaranya.


"Sebenarnya kita akan menyelesaikan misi apa? Bukankah seharusnya aku harus tahu dasarnya dulu?" Reyhan terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaanku.


"Ada seseorang yang akan melakukan transaksi senjata ilegal, pusatnya ada di Amerika, sasaran mereka adalah Negara Asia, dan yang memesan ternyata kebanyakan dari para pemberontak pemerintah, salah satunya juga Indonesia".


"Memangnya kenapa dengan Indonesia? Negara ku aman-aman saja" kataku mengatakan keadaan negeriku sekarang baik-baik saja.


"Apakah kau tidak terlalu suka politik?" Ah, pertanyaan Reyhan sangat tepat dihatiku.


"Sebenarnya suka, tapi tidak terlalu" kataku.


"Itulah sebabnya kau tidak tahu keadaan negara mu yang akan datang, karena kau tidak suka politik, jadi kau hanya tahu dari luarnya saja, mungkin saat kebanyakan orang menyalahkan pemerintah atas apa yang akan terjadi, kau juga akan menjadi salah satu bagian dari mereka"


"Akan ada demo besar-besaran di negara mu nanti, itu momen yang akan di jadikan target pertama para pemberontak pemerintah, saat pemberontak menebak para demonstran, semuanya akan menyalahkan aparat pemerintahan"


"Jadi kita melakukan misi ini untuk menggagalkan kejadian itu, supaya tidak ada korban?"


"Misi ini bukan untuk menggagalkan supaya tidak ada korban, karena korban itu akan tetap ada"


"Jadi kita menyelesaikan misi inipun tiada arti" Setelah aku mengatakan itu, Reyhan malah memukul jidatku dengan jarinya. 'Cetak'.


"Aduh! Sakit"


"Makanya punya otak cerdas tuh, jangan suka menebak seenak dengkul"


Aku menetap Reyhan dengan kesal, ah perjalanan pesawat ini jadi terasa sangat lama. Tuan Richard hanya tersenyum melihat tingkah laku kami.


"Misi ini memang tidak bisa menggagalkan korban yang akan berjatuhan saat demo berlangsung, tapi setidaknya kita bisa mencegah korban ini lebih menggunung" kata Reyhan.


"Kenapa terlihat lebih mengerikan" kataku, bulu kudukku merinding membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi.

__ADS_1


"Berapa banyak senjata ilegal itu akan di kirim?" Tanyaku.


"Menurut informasi ada sekitar 50.000 senjata, 5000 diantaranya adalah senjata sniper atau senjata berlaras panjang"


"Wah jika itu sampai ke Asia, berapa kerugian masing-masing negara yang mendapat penggelapan senjata itu?" Aku bertanya pada diri sendiri, tapi Reyhan menanggapi pertanyaanku.


"Kurang lebih bisa mencapai 10 triliun pernegara, dan tidak sampai itu saja, kerugian negara akan lebih terasa saat senjata-senjata itu sudah di gunakan, bukan hanya soal uang tapi nyawapun menjadi taruhannya" kata Reyhan.


"Benarkah? Itu jumlah yang sangat besar. Apa aku bisa?" Tanyaku tidak yakin bisa menyelesaikan misi besar ini.


"kalau kau tidak bisa sebelum mencoba, maka aku akan mengirim ayah mu untuk menggantikannya" Reyhan selalu dengan ancamannya yang sama, agar aku tidak pernah punya pilihan lain.


"Ayahku bahkan tidak bisa bela diri, bagaimana dia bisa menyelesaikan hal konyol itu dalam waktu 1 Minggu" kataku.


"Hahahaha, aku pikir sepertinya kau bukan anaknya, kau bahkan tidak tahu kemampuan hebat yang miliki ayahmu sendiri? Apa kau pikir semua pengetahuan yang ayah ajarkan padamu hanya sebatas pengetahuan pikiran dia saja?" Aku tercengang atas penjelasan Reyhan tentang ayahku.


"Lalu?"


"Kau tanyakan sendiri saja pada ayah mu" katanya. Reyhan memang sangat suka membuat aku penasaran.


"Sebentar lagi kita sampai Bigg Bos" kata pilot Helikopter ini.


"Hemm"


Kami turun dibandara Changi airport, langsung menuju salah satu pesawat yang ada, saat masuk kedalam pesawat, tidak ada penumpang lain disana. Hanya aku, Reyhan dan para pengawal yang masuk. Lima menit setelahnya pesawat ini langsung bersiap-siap terbang.


"Apa tidak ada penumpang lain yang naik? Ku kira bandara ini tidak pernah berhenti transaksi walau hanya satu menit?" Tanyaku heran setelah pesawat ini akan terbang. Tapi Reyhan hanya diam, tidak sedikitpun menanggapi pertanyaan ku.


"Tidak ada nona, pesawat ini milik Bigg Bos pribadi" Kata Tuan Richard.


Ah, pantas saja tidak ada penumpang lain, pesawat sekelas bisnis ini memang sangat mewah dan nyaman.


"Kita akan transit di hotel Hilton San Francisco Union Square untuk sementara, kau bisa istirahat disana sebelum kita mulai latihannya"


"Apa tidak bisa besoknya lagi kita mulai latihan?" kataku mengeluh dengan jam istirahat yang sangat sedikit.


"Tidak bisa! Aku sudah katakan, satu menit sangat berharga dimisi ini, kalau kita sampai telat apalagi gagal, senjata itu akan masuk dulu ke masing-masing negara, dan saat senjata itu sudah terbagi, maka tidak ada kesempatan untuk mencegahnya kembali"


"Bukankah akan ada pemeriksaan terlebih dahulu sebelum senjata itu masuk? pasti akan ada yang mencegah dari polisi atau aparat lainnyakan?"


"Apa kau lupa, siapa pelaku shadow economy itu sendiri?" Wajah Reyhan sangat serius saat menanyakan hal itu.


"Tapi Tuan Ricard bilang, tidak semua rakyat dan aparat yang melakukan shadow economy itu" kataku.

__ADS_1


"Yah memang benar, tapi sayangnya oknum itu masih manjadi penguasa di tempatnya, tidak akan ada yang mencegahnya selagi mereka masih disana, dan ingat! kau jangan hanya membayangkan ini untuk negara mu saja, ini untuk semua negara Asia" Aku diam saat Reyhan mengatakan itu, hanya bisa menerka-nerka apa yang akan aku alami selama di Washington DC.


Next.....


__ADS_2