
"Ma'afkan ayah nak, ayah belum bisa memberi mu yang terbaik" Ayah memelukku dari belakang.
"Selamanya ayah adalah yang terbaik, walaupun hidup punya pilihan, tapi pilihan kita juga terbatas atas kehendak Yang Kuasa, ayah yang selalu mengajari Elis tentang itu"
"Kau masih muda, seharusnya kau punya pilihan jalan mu sendiri" Seorang laki-laki kalau menangis memang seperti setengah-setengah.
"Aku akan selalu berusaha mencari yang terbaik, ayah tidak perlu khawatir"
"Nona, Tuan Reyhan sudah siap menunggu, silahkan menuju halaman belakang" kata dua pengawal Reyhan.
"Baik" kataku pelan.
"Ayo yah, ibu dimana yah?" Ibu tidak kelihatan sejak sore tadi.
"Ada di kamar, tadi masih di riyas" Aku keluar kamar, mencari ibu dikamar sebelah.
"Nak" ibu memanggil ku setelah tahu siapa yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.
"Ibu harus bahagia, agar Elis juga bisa bahagia" Aku memeluk ibu, berharap ibu tidak menangis dihadapan ku.
"ibu hanya bisa mendo'akan mu nak" kata ibu.
"Itu sudah cukup bu, terimakasih" Aku melepas pelukan ibu. Menuntunnya untuk sama-sama pergi ke halaman belakang.
"Kau cantik sekali nak" Ibu memuji riasan dan gaun pengantin yang aku pakai. Aku hanya tersenyum.
Setelah sampai di halaman belakang, tidak ada apa-apa disana, hanya sebuah dekorasi bunga-bunga kecil.
"Apa para tamu undangan tidak ada yang hadir?" Aku bertanya kepada para pengawal yang ada, karena tidak satupun aku melihat orang-orang yang seharusnya menghadiri acara malam ini.
"Silahkan nona, kami akan mengantar anda, tuan dan nyonya dengan ini" pengawal itu menunjuk helikopter milik Reyhan.
"Acaranya bukan disini?" Tanya ibu.
"Bukan nyonya, silahkan untuk naik, Tuan Muda Reyhan sudah menunggu" pengawal itu menuntut ibu, ayah dan aku menaiki helikopter tipe Sikorsky S-76C ini.
Ibu sekilas melihat pemandangan dibawah, tapi aku sangat yakin mereka tidak menikmati perjalanan atau pemandangan seindah apapun, hati mereka mengkhawatirkan ku, mengkhawatirkan anak satu-satunya ini akan menikah dengan terpaksa.
Para pengawal membukakan pintu untuk kami, saat aku turun, saat itulah aku melihat satu pemandangan yang tidak asing lagi. Pemandangan dari danau hotel Marina Bay Sands Singapore.
"Ayah, ibu, kemarilah" Aku mengajak ayah dan ibu untuk melihat pemandangan danau yang mampu membuat hati menjadi tenteram.
"Indah buka bu?, Elis pernah kesini bu, saat itu Elis juga merasakan hati yang terus ketakutan, hati yang gelisah. Tapi saat Elis Milihat pemandangan danau menawan ini, hati Elis kembali biasa, damai, bahkan lebih damai dari sebelumnya"
Ayah dan ibu melihat keindahan danau yang terpantul cayaha dari atas hotel Marina Bay Sands Singapore. Mereka tersenyum.
"Indah nak, benar-benar pemandangan yang menyejukkan" kata ibu.
"Benar bu"
"Apa pemandangan danau itu lebih penting dari acar pernikahan ini?" Reyhan tiba-tiba datang, dan dia sudah berdiri menunggu kami.
"Silahkan nona" Ada sekitar 20 pelayan yang mengiring kami, dua diantaranya memegangi gaun pengantin ku yang panjang.
"Mari Bigg Bos" Tuan Richard mempersilahkan Reyhan untuk ikut kebawah juga, tapi dia hanya mematung dengan terus melihat ku.
__ADS_1
"Beautiful" kata Reyhan walaupun dengan suara sangat kecil, tetapi aku tetap mendengar apa yang dia ucapkan. Aku hanya menunduk, tidak berani menatapnya. Tuan Richard menatap Reyhan dan dia tersenyum setelah melihat ku.
"Mari nona, acaranya akan segera dimulai" Aku mulai berjalan setelah Tuan Richard mempersilahkan.
"Silahkan menggandeng tangan Tuan Muda Reyhan" Perintah Tuan Richard.
Aku ragu-ragu untuk melakukan apa yang diperintahkan Tuan Richard, tapi Reyhan menarikku, menempatkan tanganku di tangannya yang setengah melingkar.
Kami mulai berjalan, manaiki lift, turun di lantai 8, sampai di aula pernikahan, sebuah lagu yang tidak asing berasal dari Indonesia, dinyanyikan untuk menyambut kami. Dan aku tahu sedikit lagu itu, salah satu karya romantis dari Yovie Widianto berjudul Janji Suci.
Dengarkanlah
Wanita pujaanku
Malam ini akan
Kusampaikan
Hasrat suci
Kepadamu dewiku
Dengarkanlah
Kesungguhan ini
Aku ingin
Mempersuntingmu
Dan terakhir
Jangan kau tolak
Dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang
Tuk meminta
Satu keyakinan
Hatiku ini
Akulah yang terbaik
Untukmu
Dengarkanlah
Wanita impianku
Malam ini akan
Kusampaikan
__ADS_1
Janji suci satu
Untuk selamanya
Dengarkanlah
Kesungguhan ini
Lagu itu terus dinyanyikan mengiringi jalan kami menuju mimbar pernikahan, di aula utama hotel ini, sebuah singgasana megah terpajang didepan mata, singgasana yang belum pernah aku lihat selama aku menghadiri acara pernikahan. Kira-kira memiliki panjang 20 meter dan lebar hampir 15 meter. Dengan hiasan yang elegan dan menawan.
"Prosesi pernikahan akan segera di mulai" Pembawa acara memulai membacakan susunan acara.
Tepuk tangan yang meriah dari para hadirin terdengar memenuhi aula besar ini. Di aula utama, ada banyak sekali tamu undangan yang hadir, bahkan aku melihat banyak orang-orang penting yang juga hadir, diantaranya Bapak Presiden RI, Bapak Duta Besar Indonesia untuk Singapura, para mentri, orang-orang yang terkenal di Singapura ini, para atlit dan sahabat terbaik ku Diana.
Melihat banyaknya tamu dari kalangan atas, membuat aku semakin penasaran tentang siapa Reyhan sebenarnya. Dan aku juga melihat teman pertama ku di negara ini, Yacob.
"Yang itu adalah presiden Singapura, Bapak Halimah Yacob" Kata Reyhan menunjuk seorang laki-laki setengah baya yang duduk di samping Yacob.
"Laki-laki yang ada disampingnya apakah itu putranya?" Aku bertanya tentang Yacob.
"Tepat" kata Reyhan singkat.
"Oh Ya Tuhan, ternyata dia putra presiden" kataku pelan, tapi Reyhan mendengar apa yang aku katakan.
"Ada apa?" tanya Reyhan, tapi dengan wajah menghadap kedepan.
"Tidak ada apa-apa, dia hanya pernah bercerita kalau ayahnya seorang pengabdi negara"
"Cukup rendah hati" Kata Reyhan memuji Yacob secara tidak langsung.
"Acara pernikahan Tuan Muda Lion Raffles atau dikenal juga Tuan Muda Reyhan Anggara, putra pertama dari Tuan Besar Diwirya Anggara Ningrat, merupakan keturunan dari pendiri Negara Singapura Modern Tuan Agung Thomas Stamford Raffles"
Satu fakta mengejutkan yang aku dengar saat pembawa acara menyebutkan deretan keturunan dari Reyhan. Reyhan adalah keturunan pendiri Singapura Modern.
"Dengan saudari Elis Stania Yulianti, putri tunggal dari Bapak Dapunta Hyang Sri Jayanaga, merupakan seseorang yang memiliki silsilah keturunan dari salah satu kerajaan di Negara Nusantara yakni Indonesia"
Dan fakta yang lebih mengejutkan datang dari ayahku sendiri. Keturunan kerajaan? Ayah maupun ibu tidak pernah bercerita apapun. Aku semakin bingung dengan semua informasi yang ada.
"Itulah salah satu obsesi ku memiliki mu" Kata Reyhan berbisik di telinga ku.
"Aku tidak tahu maksud semua ini, saat fakta siapa kamu terungkap, justru banyak yang tidak aku ketahui dari diriku sendiri" Kataku masih dengan kebingungan yang ada.
"Lalu maksud kamu dari setahun lalu aku menjebak mu?, Apa maksud dari semua itu?" Aku meminta penjelasan dari Reyhan, menatapnya dengan lekat-lekat. Tapo Reyhan hanya tersenyum.
"Kau akan tahu semuanya, tapi setelah acara ini selesai, dan setelah kau benar-benar menjadi milikku" kata Reyhan, dengan senyuman penuh tanda tanya.
"Aku ingin sekarang!" Aku sedikit membentak Reyhan. Tapi dia lagi-lagi hanya membalas dengan senyuman.
"Silahkan Tuan Muda Lion Raffles atau Tuan Muda Reyhan Anggara, untuk melaksanakan resepsi pernikahan yang pertama" Kata pembawa acara.
"Kau akan tahu semuanya setelah ini" Reyhan baru berjalan menuju tempat ijab qobul setelah mengatakan itu padaku.
Setelah semuanya siap, entah mengapa hatiku ingin memberontak, aku ingin mengetahui semuanya sebelum terlambat, aku ingin tahu tentang semua kebenarannya, dan entah dari mana muncul keberanianku ingin memberontak.
"Tunggu! Saya masih keberangkatan dengan pernikahan ini!" Semua orang melihat kearah ku, dengan raut wajah kebingungan. Begitu juga dengan Reyhan.
__ADS_1
Next...