Lelaki Misterius

Lelaki Misterius
Masa Lalu


__ADS_3

Pintu depan tiba-tiba terbuka, pintu yang hanya bisa di buka oleh aku dan Reyhan. Reyhan berjalan masuk, mengambil posisi duduk di shofa tengah.


"Rey"


"Hemm"


"Boleh aku bertanya?"


"Kemarilah!" Perintahnya, aku mendekat, jarak satu langkah, tanganku ditarik sehingga aku terjatuh dalam pangakuannya. Aku ingin berdiri dan duduk disebelahnya saja, tapi Reyhan menahan ku dengan kuat.


"Duduk saja disini" katanya.


"Bibi, siapkan minum" perintah Reyhan pada Bibi Agatha.


"Baik taun" Kami menunggu Bibi Agatha mengambilkan minum.


"Kau ingin bertanya apa?" Tanya Reyhan. Aku ragu-ragu ingin menanyakannya tapi aku harus berani.


"Apa orang tua mu sudah meninggal?" Aku bertanya sepelan mungkin. Agar tidak menyinggung perasaan Reyhan.


"Dari mana kau tahu?, tidak ada yang boleh memberi tahu identitas ku terkecuali satu orang" katanya.


"Silahkan tuan, nyonya" Bibi Agatha menaruh dua minuman jus jeruk. Setelah Bibi Agatha pergi kebelakang lagi, aku baru menjawab pertanyaan Reyhan.


"Adik mu?" Reyhan langsung menatapku sangat dalam.


"Kau sudah berjumpa dengan dia?" Tanyanya.


"Aku berkawan dengan dia di kampus, kami satu kelas, aku rasa dia tidak akan menyukaiku"


"Kau berkawan, tapi kau menilainya seperti itu?" Wajah Reyhan memperlihatkan dia sangat heran dengan pernyataanku.


"Aku tidak menilainya, dia sendiri yang mengatakan" kataku membela diri.


"Dia hanya masih kecil belum tahu mana yang terbaik. Kau tidak perlu diambil hati. Dia adalah satu-satunya keluarga kandung ku sekarang" kata Reyhan seperti mengingat beberapa kejadian yang sudah berlalu.


"Hemm baiklah, jika ancamannya tidak serius, aku akan berusaha biasa saja. Apa kedua orang tuamu meninggal saat usai kau masih kecil?" Reyhan menatapku dengan tajam. Aku hanya menunduk melihat kearah kaki ku.


"Sepertinya kau sudah akrab dengannya?" Kata Reyhan menebak kedekatan antara aku dan Ita.


"Lalu siapa Tuan Besar Diwirya Anggara Ningrat itu? Bukankah semua orang mengenalnya dia ayah mu?"


"Dia ayah angkat ku. Ita mengalami kecelakaan bersama ayah dan ibu, sebelum mobil terbakar, kedua orang tuaku mengeluarkan Ita agar dia tetap selamat, Ita berhasil di keluarkan, tapi mereka berdua terjepit depan mobil yang hancur, saat orang-orangku melihat Ita keluar dari mobil itu, mereka langsung mengambil Ita, Ita menangis penuh darah, dan mobil yang ditumpanginya meledak dengan dahsyat" Reyhan terdiam, wajahnya berganti seperti punya penyesalan.


"Kau ada dimana saat itu?"

__ADS_1


"Aku persis di belakang mereka, melihat detik-detik sebuah truk besar yang seperti sengaja menabrakan dirinya kearah mobil yang di tumpangi ayah dan ibu. Saat itu aku ingin keluar, menyelamatkan mereka semua, tapi Richard menahan ku, dia bilang"


*Percakapan flashback. Reyhan*


"Jangan den itu sangat berbahaya" Paman menahan ku dengan kuat.


"Lepaskan aku paman! Aku ingin menyelamatkan mereka, aku ingin menyelamatkan ayah, ibu dan adikku" aku memberontak.


"Tidak boleh! biarkan para pengawal yang menyelamatkannya" Paman terus menahku dengan kuat.


"Aku ingin menyelamatkan mereka paman, aku mohon lepaskan aku" tapi saat itu usiaku masih 8 tahun, kalah kuat dengan paman yang memiliki badan kekar dengan usia 25 tahun.


Aku menangis seperti anak yang tidak pernah dikasih mainan, aku meronta seperti cacing kepanasan, aku melihat adikku keluar dari mobil itu sendiri.


"Lihatlah den, adikmu sudah keluar, cepat selamatkan Nona Siyin!" Perintah Paman pada para pengawal. Adikku berhasil dibawa, aku langsung keluar diikuti Paman.


"Kakak, ayah dan ibu masih disana" hatiku bergetar melihat adikku yang baru berusia 3 tahun megelimang darah di wajahnya.


"Kakak akan menyelamatkan ayah dan ibu, adik tunggu sini sama paman ya" Tapi aku kalah cepet dengan paman, dia berhasil menangkapku.


"Jangan den, itu berbahaya, lihatlah sudah ada para pengawal yang sedang menyelamatkan mereka"


"Tidak paman, mereka tidak becus, aku sendiri yang akan menyelematkan mereka" aku terus melawan paman dengan sekuat tenaga. Sampai tiba-tiba 'Duaaarr' bunyi suara yang sangat dahsyat datang dari mobil ayah dan ibu. Aku melihat para pengawal yang sedang menyelamatkan mereka terpental. Pandangan mengerikan langsung ada dihadapan ku. Satu diantara empat pengawal wajahnya hancur dan mati seketika, tiga lainnya memiliki luka bakar yang serius, satu diantaranya kehilangan semua jari-jari tangannya.


Aku menghampiri adikku. Dia terus menangisi ayah dan ibu, apalagi saat mobil itu meledak, tangisan Siyin pun lebih dahsyat dari sebelumnya.


"Ayaaaah"


"Ibuuuuu" aku hanya mampu memeluk Siyin lebih erat.


"Sabarlah nona, sabarlah den" mulai saat itu, aku sangat membenci pamanku yang melarang ku menyelematkan kedua orang tua ku. Dan saat itu aku tidak pernah lagi memanggilnya paman.


Setelah kejadian kecelakaan mengerikan itu, paman menitipkan aku pada ayah Diwirya Anggara Ningrat, dan mengganti namaku menjadi Reyhan Anggara, dan adikku Siyin menjadi Novita Putri. Sejak itu kami di kenal keturunan Ningrat, nama ayah dan ibu ku sudah tidak boleh lagi disebut, karena itu bisa mengancam keselamatan aku dan adikku kata paman.


Aku tidak tahu maksud paman apa, setelah aku dewasa paman baru menceritakan semuanya, bahwa kecelakaan ayah dan ibu, bukan murni kecelakaan, tapi memang ada yang menginginkan kematian mereka. Dan semua ini karena shadow economy.


Ayahku adalah pemberantasan Shadow economy terbesar di dunia, sehingga semua orang yang melakukan shadow economy menginginkan mereka mati. Tapi setelah aku dewasa aku ingin membalas semua perbuatan mereka.


####


"Apa kau akan membunuh satu persatu nyawa mereka?" Tanyaku mengingat diakhir cerita Reyhan ingin balas dendam.


"Jika mereka mati, itu akan terlalu mudah. Aku akan membantu mereka meningkatkan shadow economy mereka, setelah mereka di ambang langit, akan aku jatuhkan seketika" Reyhan tersenyum tapi wajahnya penuh amarah.


"Itu sebabnya kau menginginkan aku tahu tentang shadow economy?"

__ADS_1


"Tentu, bukan hanya itu, kau akan terjun langsung berhadapan dengan suatu hari nanti, kecerdasan mu, aku tidak akan menyia-nyiakannya"


Itu artinya nyawaku hanya tinggal menunggu kapan waktunya tiba, ada kekecewaan dalam hati, tapi jika ini sudah takdirnya, aku akan menjalinya dengan kuat.


"Apa kau masih membenci Tuan Richard?" Tanyaku pada Reyhan untuk mengalihkan pembicaraan sebelumnya.


"Dulu aku membencinya setengah mati, tapi Richard terus memberikan perhatiannya dengan membimbing kami berdua, memberikan kasih sayang lebih pada Ita, itu yang membuat aku lama-lamaan bisa menerimanya kembali" Kata Reyhan sedikit mengungkapkan rasa hatinya tentang Tuan Richard.


"Tapi kenapa kau masih memanggil Tuan Richard hanya namanya?" Tanyaku.


"Bagaimana dengan dirimu?" Reyhan malah bertanya balik padaku.


"Aku? Apa hubungannya dengan ku?"


"Kau juga hanya memanggilku dengan namanya saja, kau bahkan lebih suka memanggil tuan kepada Richard daripada kepadaku, kenapa?" Pertanyaan Reyhan membuat aku membisu.


"Aku, aku, karena dulu aku sangat membenci mu" kataku, yah aku memanggilnya hanya namanya saja karena dulu aku sangat membencinya.


"Itulah Jawabku juga" katanya.


"Tapi alasan kau membencinya itu bukan kesalahannya, menurut ku justru Tuan Ricard yang menolong mu, kalau tidak, kau mungkin sudah ikut salah satu korban ledakan itu" kataku mencoba membuka hati Reyhan.


"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Reyhan menantang, dan menunggu jawabanku.


"Kau harus kembali memanggilnya paman, Tuan Richard tidak sepenuhnya bersalah" kataku.


"Baik, aku akan memanggilnya paman, tapi setelah kau memanggilku Abang" katanya dengan tersenyum licik.


"Kalau aku bedalah, kau memang salah" aku membela diri. Kata Abang disini, seperti panggilan sayang.


"Kalau begitu jangan menyuruhku untuk memanggil Richard dengan sebutan paman"


Aku diam, mempertimbangkan keinginan Reyhan. Bagaimanapun dia sekarang suamiku, aku ingin hubungan antara ponakan dan paman kembali sebagaimana harusnya.


"A, Abang" Panggil ku malu-malu.


"Apa? Aku tidak dengar" katanya, Reyhan sengaja meledek ku.


"Abang" aku memanggilnya pelan.


Reyhan menarik wajahku, merasakan kembali mulutnya yang memiliki rasa, aku tersenyum, akankah kehidupan seterusnya akan tetap tenang seperti ini, atau rintangan yang sangat dahsyat sudah menanti didepan.????????


Next....


Don't forget to like and comment, criticism and suggestions really help the writer to continue this story. Thank you very much. 🤗

__ADS_1


__ADS_2