Lelaki Misterius

Lelaki Misterius
Suara Diana


__ADS_3

"Hello Na" aku langsung menyapa Diana, saat dia sudah mengangkat panggilanku. Tapi Diana hanya diam.


"Na" aku memanggilnya lagi.


"Ma'af siapa ini?" Aku tahu itu suara Diana.


"Naaa" aku memanggilnya lagi dengan gemas.


"Ma'af, bisa sebutkan nama?" Dia terus seperti itu sampai sedikit membuat aku kesal.


"Ma'af mungkin aku salah sambung, akan segera ku matikan" kataku dengan nada ketus.


"Hahaha, oke-oke, gimana rasanya di cuekin? Enak hah?" Diana sudah tidak lagi main-main.


"Hahaha, ma'af, aku..." aku belum selesai bicara tapi Diana langsung memotongnya.


"Eh tunggu-tunggu, sebelum Lo ngejelasin semuanya, gue tetep mau marahin Lo dulu" kata Diana. Aku hanya tersenyum, dia emang gitu kalau punya marah, katanya harus dilampiaskan biar hati lega.


"Gue dengerin" kataku. Tapi sebelum aku dengerin omelan Diana, aku kecilkan dulu volume teleponnya. Hehe.


"sowak bener Lo baru tiga hari di negara tetangga udah langsung ngelupain gue, ketemu sama pangeran mana Lo, langsung mengabaikan semua masengger gue hah, jawab gue, kalau ngga, gue putusin beneran Lo" Diana dengan suara khasnya, benar-benar marahin aku, tapi dengan sebutan Lo gue itu tandanya dia ngga serius.


"Lo marahin gue apa marahin pacar Lo?" Tanyaku setengah menahan tawa.


"Lo lah, gue kan masih pacaran sama Lo" katanya lagi.


"Hahaha, enak aja, gue masih normal" seketika tawa Diana juga pecah.


"Udah marahinnya?" Tanya ku.


"Udah, kan udah diganti tawa, hahaha" katanya masih dengan sisa-sisa ketawanya.


"Kamu baik na?"


"Aku selalu baik"


"Syukurlah" Diana terdiam sejenak.


"Kamu yang sabar ya El, aku yakin kamu kuat, kamu satu-satunya temanku yang paling kuat kalau berhadapan dengan masalah seberat apapun" ternyata Diana sudah tahu masalah ku.


"Itu artinya ibu juga sudah tahu na?" Aku bertanya, filing kalau ayah menelpon ibu, dan ibu tidak ada teman untuk curhat selain sahabatku yang satu ini.


"Iya El, aku tahu dari ibu, dia terus menangis mendengar kabar seperti itu dari ayah mu, dia ingin kau pulang, tapi kata ayahmu masalah ini tidak semudah hanya kau meninggalkan Singapura, sebesar itukah El?" Tanya Diana dengan khawatir.


"Aku juga tidak tahu na, tujuanku hanya ingin bertemu ayah, hanya ingin melanjukan studi, tapi ternyata aku menemukan labih dari itu" kataku dengan suara pelan.

__ADS_1


"Apa ibu baik?" Tanyaku pada Diana.


"Ibu baik, tapi kalau aku datang, ibu selalu membicarakan keadaan mu dengan menangis, 'ibu rindu kamu El', itu yang selalu dikatakannya"


"Aku juga rindu ibu" Ah hatiku benar-benar merindukan mu bu, aku ingin menangis karena mengingat ibu, tapi tidak jadi karena Diana kembali menghiburku.


"Apa kau melupakan sahabat mu" tanya Diana tiba-tiba.


"Apa maksud mu Na?" Tanyaku bingung.


"Kau hanya merindukan ibu mu, kau tidak merindukan aku?" Kata Diana dengan nada ketus.


"Oh, hahaha, aku tidak akan kuat menanggung dua rindu Na, jadi aku akan menjadikan kau dan ibu menjadi satu"


"Dan setelah itu dikasih tepung, habis itu di goreng" kata Diana.


"Hahaha, aku tidak tega menggorengnya" kataku.


"Lalu?".


"Akan langsung ku makan".


"Dasar kanibal" seketika aku dan Diana tertawa lepas.


El, aku pastikan sekuat tenaga membantu mu" katanya dengan suara penuh penyesalan.


"Do'akan saja, itu sudah cukup untukku" kataku berusaha biasa dengan masalah yang akan ku hadapi nanti.


"El"


"Hemm"


"Dia cakep ngga?" Tanya Diana tiba-tiba.


"Siapa?" Tanyaku bingung.


"Laki-laki yang gangguin Lo itu?" Diana pake kata Lo, kayanya dia mau tanya serius, tapi takut akunya ngga suka.


"Kenapa? Lo mau?" Aku mananggapi pertanyaan Diana.


"Iya ngga gitu El, coba deh Lo bayangin, Lo udah dikejar-kejar sama dia, udah dibikin menderita, eh orangnya yang ngejar-ngejar Lo ternyata jelek, item, rambutnya kriting, pendek, cacingen, hidup lagi" katanya dengan asal.


"Hahahaha, terus kalau dia ngga kaya gitu, gue harus bilang kalau gue masih beruntung, gitu?" Diana memang selalu ngomong asal, tapi justru itu yang selalu membuat kehangatan dihubungan kami.


"Harus dong, kalau benar tuh laki-laki kembalikan semua yang gue sebutin. Biar gue aja yang ngadepin" katanya, seolah-olah dia ngadepin masalah cowok yang masih bau kencur.

__ADS_1


"Hahaha, jangan"


"Kenapa?" Tanya Diana


"Kamu ngga akan kuat" kataku


"Biar kamu aja?"


"Hahaha, kalau aku kuat, aku juga ngga akan masuk rumah sakit" Diana tertawa lepas, hatiku benar-benar senang mendengar suara Diana, dan untuk sejenak melupakan masalah dengan laki-laki arogan itu.


"Nak, bersiap-siaplah, dokter sudah mengizinkan kita untuk pulang" Ayah langsung membereskan baju-baju ku kedalam tas.


"Na, sudah dulu yah, aku mau siap-siap pulang, salam untuk ibu, salam rindu ku yang paling dalam".


"Oke, siap komandan" Aku tersenyum, teringat selalu ketika Diana mengucapkan 'siap' pasti tangannya akan ikut terangkat memberi hormat.


"Hati-hati nak" ayah menuntun ku turun dari kasur.


Tiba-tiba tubuhku langsung lemas seketika, mataku melihat sosok yang telah aku bicarakan dengan Diana. Dia hanya berdiri di depan pintu, aku kira itu hanya halusinasi, tapi matanya terus memandangiku, dengan cepat jantungku berdetak kencang.


"Reyhan" aku memanggilnya dengan suara sangat lirih.


"Ada apa nak?" Tanya ayah karena melihat kebingungan ku.


"Dia yah" aku tidak menyebutkan namanya, hanya memberi kode bahwa ada seseorang dibelakang ayah. Ayah menengok.


"Ma'af anda siapa?" Ayah bertanya pada Reyhan, karena belum pernah bertemu dengannya, tapi dia tidak menjawab, hanya diam dengan terus memandangi kami.


Tiba-tiba sekelompok orang yang aku tahu adalah para pengawalnya masuk, mereka melewati Reyhan dan langsung menyergap ayah.


"Apa yang kalian lakukan?" Ayah terus memberontak, dengan sesekali bertanya siapa dan apa yang mereka mau lakukan.


Aku hanya diam, tubuhku bergetar, rasa takut mulai ku rasakan, tubuhku belum pulih, sekalipun aku melawan aku akan tetap kalah. Reyhan masuk setelah para pengawalnya menahan ayah. Dan dia berdiri tepat di depanku.


"Kau harus ikut denganku" perintahnya dengan nada dingin. Aku berpegangan apa pagar kasur, aku tidak berani berkata, hanya gelengan kepala sebagai jawabannya.


"Kau tidak boleh membawanya" Ayah dengan suara lantang, membentak Reyhan. Reyhan langsung menatap ayah dengan sinis.


"Pukuli dia!" perintah Reyhan kepada para pengawalnya, membuat aku langsung menatap wajahnya dengan kesal. Aku tidak punya pilihan lain.


"Aku akan ikut, aku mohon lepaskan ayahku" para pengawalnya tidak jadi memukuli ayah. Reyhan menatapku kembali, aku menunduk, tubuhku akan bergetar lebih hebat jika bertatapan mata dengannya. Tiba-tiba dia langsung menggendong ku kelaur dari kamar rumah sakit. Aku hanya mendengar ayah terus memanggil ku.


"Elis, Elis, Kalian tidak boleh membawanya, dia anakku!" Aku masih mendengar suara ayah. Tapi ayah tidak mengejar ku karena terus disekap para pengawal Reyhan.


Next...

__ADS_1


__ADS_2