Lelaki Misterius

Lelaki Misterius
Ayah


__ADS_3

"Akhirnya kau datang nak" Ayah menangis, melepas pelukannya.


"Iya yah, Elis datang" Aku menatap wajah ayah, ah wajah yang sangat aku rindukan, air mata ku mulai menetes, aku menangis bahagia,


"Ma'af ayah tidak jadi menjemput mu, Bapak Duta Besar itu bilang, ada sebuah pesan bahwa ada seseorang yang akan mengantarkan mu kesini nak, dimana orang itu?" aku terdiam mendengar penjelasan ayah. Jadi saat laki-laki arogan itu mengatakan bahwa ayah tidak akan datang, dia sudah merencanakan semua ini. hati ku kembali mulai takut, terbayang akan kejadian di kapal pesiar itu.


"Elis, Elis kau tidak apa-apa?" Pegangan ayah di bahuku membuat aku tersadar.


"Ah, tidak apa-apa ayah" aku menjawab pertanyaan ayah dengan sedikit kesadaran ku.


"Dimana orang yang mengantarkan mu nak?" Ayah kembali mengulang pertanyaannya.


"Dia sudah pergi yah, dia hanya mengantar ku sampai depan gedung kedutaan" jelasku.


"Benarkah? Ayah ingin mengucapkan terimakasih." Kata ayah, ayah terdiam sejenak.


"Ah, ya sudah, yang penting kau memang sudah sampai nak, ayah tidak lagi merasa khawatir, ayo kita masuk dulu" Ayah membawa tas koperku, dan menggandeng ku dengan tangan yang satunya.


Kedua orang yang mengantar ku berpamitan untuk kembali lagi ke halaman utama, setelah memastikan bahwa aku memang tidak berbohong.


Selama perjalanan memasuki dua rumah besar itu, aku terus memikirkan kejadian yang aku alami bersama laki-laki yang bernama Reyhan itu, ingin sekali aku menceritakan semuanya pada ayah, tapi masih takut akan ancamannya yang selalu terngiang di pikiranku.


"Kau pasti sangat lelah nak, duduklah, ayah akan mengambil makanan dan minuman untukmu" Ayah pergi setelah memindahkan tas koperku di kamar. Rumah tinggal ayah tidaklah besar hanya seperti rumah yang ada di perumahan dengan ruang tamu ukuran sedang, memiliki dua kamar, satu kamar mandi dan dapur.

__ADS_1


Aku masih menunggu ayah, dengan hati yang terus mengeluarkan dua pilihan untukku, menceritakan semua kejadian yang ku alami atau hanya diam.


"Minumanlah dulu, hanya ada es jeruk dan ini, ayah sudah menyiapkan untuk mu, sop daging sapi berserta sambel kecap kesukaan mu" Ayah menata semua makanan yang ada di karpet. Perutku seketika langsung menjerit, meronta-ronta meminta makanan yang ada didepan mata segera di masukan.


"Biar aku yang mengambilkan nasinya untuk ayah" Aku segera mengambil piring, menaruh beberapa centong nasi untuk ayah dan satu piring lagi untukku sendiri.


"Kau makanlah yang banyak nak" Melihat senyum ayah, aku jadi memilih untuk pilihan yang kedua, sementara ini aku hanya akan diam.


"Oh ya, kata Bapak Duta Besar, ada berkas-berkas dari Indonesia yang sampai di kedutaan, ayah kira itu pasti berkas-berkas ijazah mu" Kata ayah, menjelaskan tapi dengan mulut masih terisi makanan, kebiasaan buruk ayah yang belum berubah.


"Habiskan dululah yah" kataku memperingatkan saat makan.


"Haha, iya baiklah" Ayah tertawa, tau kalau aku tidak suka saat masih makan terlalu banyak mengobrol.


"Kau mau mendaftar di universitas mana nak?" Tanya ayah setelah aku selesai membereskan semua sisa-sisa makanan. Ah, pertanyaan ayah membuat aku kembali teringat perintah laki-laki itu melalui ponsel "kau harus kuliah di Nanyang Technological university". "Aku tidak suka penolakan!" Suaranya yang mampu membuat nyaliku menciut, suaranya yang mampu membuat hati ku bergetar 100 kali lipat. Sekarang aku benar-benar di hantui olehnya.


"Universitas teknologi??, Oh Nanyang Technological University, itu salah satu universitas terbaik yang di Singapura nak, kau berniat mau mendaftar kesana?" Tanya ayah lagi, tanpa ada kecurigaan sedikitpun.


"Boleh ayah, dua hari lagi kita lihat dulu ya yah" kataku. ketika aku dan ayah sedang santai menikmati kerinduan kami, ada sebuah lagu berbunyi dari ponsel.


Mari kita rakyat Singapura


Bangun dengan bersatu bersama-sama

__ADS_1


Rukon damai dan bantu membantu


Supaya kita sama-sama maju


Kito hidup aman dan sentosa


Kerja sama menuju bahagia


Chita-chita kita yang mulia


Berjaya Singapura!


"Kau tau lagu apa itu Elis?" Tanya ayah setelah aku mematikan ponselnya.


"Lagu apa itu ayah?" Tanyaku balik pada ayah.


"Itu lagu kebangsaan Singapura nak, bagaimana kau punya lagu itu, apa kau mulai menyukai Singapura, atau ada seseorang yang membuat mu menyukai negara singa putih ini?" Ayah mulai menggoda ku.


"Tidak ayah, aku...." Belum sempat aku bercerita, ponsel itu berbunyi lagi. Dengan lagu yang sama, kebangsaan Singapura. Aku melihat dilayar ponsel.


Panggilan masuk 'Bigg Bos'.


Kembali jantungku langsung terpompa hanya dengan melihat nama panggilan itu.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan?" Dengan masih menatap layar ponsel.


Next...


__ADS_2